Comscore Tracker

[CERPEN] Donat

Terima kasih untuk donatnya

“Apa aku melewatkan sesuatu?”

Aku sedang memperhatikan lenganku saat pria dewasa dalam setelan jas yang kelihatannya sangat mahal sambil membawa sekotak donat menghampiri meja besi yang aku tempati. Ya. Saat ini aku sedang berada di sebuah alun-alun desa yang juga berfungsi sebagai rest area, mencoba untuk menikmati jam makan siangku yang sangat singkat sebelum kembali ke pekerjaanku yang sangat membosankan.

Dan iya lagi karena aku tidak mengizinkan siapa pun duduk di mejaku. Atau sekedar meminjamkan tiga kursi kosong yang ada di hadapanku pada orang yang... dengan baik-baik meminta izin dariku terlebih dahulu. Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang sialan itu mengambil kursi kosong yang ada di mejaku. Tidak akan pernah.

“Itu”—pria dewasa itu menuding lenganku yang terbuka dengan dagunya—“kelihatannya sangat buruk.”

Aku buru-buru menurunkan lengan jaketku. “Tidak seburuk yang ada di dalam kepalamu, Sir,” komentarku dengan kejam. “Apa maumu?”

“Wow. Sepertinya kau tidak suka basa-basi, gadis muda. Bolehkah aku duduk di salah satu kursi kosong ini?” katanya tanpa melepaskan matanya dariku.

Sambil mengamatinya dengan cermat, aku mulai bertanya-taya apakah pira ini sedang berusaha menggodaku. Tidak. Itu tidak mungkin. Digoda adalah gagasan yang menarik, tapi orang seperti dia tidak akan pernah melakukan hal sehina itu. Jadi, ini bukan godaan.

Beda ceritanya jika pria ini adalah orang yang sedang melakukan eksperimen sosial. Kau tahu, mencari tahu apakah masih ada orang di luaran sana yang mau berbagi meja dengan orang asing. Tapi mereka memutuskan untuk memakaikan setelan mahal pada agen yang ini terlebih dahulu sebelum menggantinya dengan baju gembel. Ya. Itu terdengar sangat mengada-ngada.

“Duduklah,” kataku ragu-ragu, berusaha menambahkan rasa percaya diri ke dalam suaraku tapi gagal. “Dan, lakukan apa pun itu yang ingin kau lakukan.”

“Terima kasih.”

Aku tidak bisa untuk tidak memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan sangat detail. Mungkin karena aku tidak suka dengan caranya menaruh kotak persegi panjang berisi delapan buah donat dengan berbagai macam topping di atasnya. Mungkin juga karena ini pertama kalinya aku melihat orang yang memakai setelan lengkap secara langsung.

Mungkin saja karena aku tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal jahat tentang dia—soal dia seorang mafia yang sedang bersembunyi di sini atau gay yang baru saja putus dari pacarnya. Maksudku, lihat caranya bergerak dan berpakaian! Pria ini melakukannya ratusan kali lebih baik dari diriku sendiri.

“Sudah?”

Aku tidak bisa untuk tidak mengangkat sebelah alisku. “Maaf?”

Pria ini menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sebelum melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sepasang mata paling cokelat yang pernah aku lihat di balik kacamata berbingkai tebal menatapku sekarang. “Mengamatiku. Kau baru saja mengamatiku, Febrian.”

“Dari mana kau tahu namaku?” tuntutku.

“Dari mana kau mendapatkan luka-luka itu?” balasnya.

Baiklah. Apa pun itu yang sedang terjadi saat ini benar-benar membuatku merasa sangat tidak nyaman.

“Kau mau menceritakannya sendiri atau aku yang menceritakannya?”

“Aku benar-benar harus pergi,” kataku sambil mengambil tas gendongku yang aku kaitkan di sandaran kursi. “Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu, Sir.”

“Memangnya kau sepayah apa?” kata pria itu sambil tertawa. “Jika kau bisa menghabisi orang-orang yang bisanya hanya menyusahkanmu dan menghambat hidupmu tanpa tercium oleh siapa pun, kenapa kau tidak bisa menghadapi rasa sakit yang berasal dari luka di lenganmu?”

Dari mana... dari mana dia tahu kalau aku—

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

“Rasanya sangat memuaskan, bukan?”

“Entahlah,” kataku lalu mengedikkan bahu. “Aku hanya merasa tidak yakin apakah aku masih sanggup menyembunyikan luka-luka ini dari ibuku atau tidak.”

“Mungkin yang ingin kau katakan adalah menyembunyikan pekerjaanmu yang sebenarnya,” gumamnya.

Sekarang aku tidak bisa menyembunyikan senyumku lebih lama lagi. “Pekerjaan yang mana?”

Seperti seekor macan kumbang yang sedang menguntit mangsanya, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan membuka kotak donat yang sedari tadi menggodaku.

Itu memang donat yang sangat menggoda, ngomong-ngomong. Aku tidak tahu kalau saat ini orang-orang menggunakan ratusan potongan berlian mentah dan batu mulia lainnya yang berkilauan karena tertimpa cahaya matahari sebagai toping donat.

“Pekerjaanmu yang mengirimkan paket pada pembelinya.” Dia mengeluarkan sebuah ponsel pintar dari saku jasnya dan menaruhnya di samping kotak donat. “Alamatnya ada di dalam sana. Pastikan paketnya tiba sebelum daya baterai di ponsel sialan itu habis.”

43%. Ini lebih dari cukup. Aku memasukkan ponsel itu ke dalam saku jaketku. “Bagaimana dengan ongkos kirimnya?”

Pria itu menghela napas dengan dramatis. “Akan masuk ke rekeningmu sesaat setelah pelangganku mengirimkan testimoninya.”

“Bagaimana jika kau memalsukan kematianku dan memberiku identitas baru?”

“Apa?” tanyanya. “Bukankah itu keahlianmu?”

Aku tahu betul jawaban dari pertanyaannya. Tapi, tetap saja aku peras otakku untuk mencari informasi tambahan agar dia bersedia melakukan apa yang aku minta.

“Bukankah itu keahlianmu juga?”

Pria itu memainkan salah satu kancing di bagian lengan jasnya. Tidak lama kemudian, dia berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir. Membuat orang lain yang sedang menikmati makan siang mereka memperhatikannya.

“Apa kau mencoba lari dari kami, Febrian?” bisiknya.

Sialan. Aku lebih memilih untuk tidak merespon.

Salah satu tangannya bersandar di bahuku. Jari manisnya mulai membelai bagian belakang telingaku. Tempat di mana mereka menaruh alat pelacak di tubuhku. Tidak. Maksudku adalah tubuh kami yang bekerja sebagai kaki tangan mereka. Yang selain berfungsi sebagai alat pelacak, ternyata juga berfungsi untuk meledakkan seluruh kepala kami jika kamu meninggalkan kota tanpa misi. Menyebalkan.

“Kau milik kami. Ingat itu.”

Aku tidak bisa untuk tidak memutar mataku. “Tentu saja aku tidak akan lari dari kalian. Aku sudah begitu terikat dengan kalian. Aku hanya ingin memulai hidup baru, di mana aku bisa melakukan pekerjaan sialan ini dengan leluasa! Bukannya sembunyi-sembunyi!”

“Baiklah, kalau begitu, Febrian,” katanya tiba-tiba. “Aku harus mengucapkan selamat tinggal sekarang.”

“Tentu saja,” kataku bersemangat. “Terima kasih untuk donatnya.”

Baca Juga: [CERPEN] Pesuruh Pasar

Febby Arshani Photo Community Writer Febby Arshani

Akwoakwoakwoak

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You