Comscore Tracker

[CERPEN] Gubuk di Perkemahan

Nada itu mematikan.

Angin malam berdesir begitu kencang, ditambah lagi terdengar suara-suara misterius di perkemahan. Udara terasa begitu dingin dan menusuk kulit. Semua orang terlelap dan hanyut dalam mimpi mereka. Namun, masih ada seorang perempuan yang masih belum tertidur. Sorot matanya terus meneliti setiap inci wilayah perkemahan di dalam hutan. Dia itu Diana, seorang gadis yang sangat menyukai hal-hal mistis. Diana berharap bisa melihat makhluk tak kasat mata.

Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar bunyi biola yang begitu merdu. Tanpa rasa takut, Diana mengikuti arah suara itu. Tak lama kemudian, dia sampai di sebuah gubuk. Suara biola itu kini semakin nyaring terdengar.

Tok-tok-tok

“Permisi.”

Namun, tidak ada yang membuka pintu. Anehnya, bunyi biola juga menghilang setelah Diana mengetuk pintu. Angin kembali bertiup kencang. Tiba-tiba, turun hujan begitu deras dan mengguyur gubuk. Bunyi biola kembali terdengar. Diana semakin merasakan keanehan. Seluruh bulu kuduk meremang.

“Aneh. Emang ada orang yang main biola di malam hari? Bukannya itu pamali, ya?” pikir Diana.

Kini rasa penasaran Diana semakin memuncak. Tangannya sudah memegang gagang pintu dan bersiap untuk membuka pintu gubuk itu. Pintu terbuka, ternyata gubuk itu tidak dikunci oleh sang pemilik rumah. Suara biola itu menghilang lagi. Diana menginjakkan kaki masuk ke dalam gubuk itu.  Banyak barang-barang antik, salah satunya wayang dengan wajah menyeramkan.

Mata Diana kini tertuju pada foto yang terletak di sebelah televisi yang ada di atas meja. Diana segera berjalan ke sana dan mengambil foto itu. Diana penasaran dengan foto itu dan segera mengusapnya dengan tangan. Setelah dibersihkan, akhirnya tampaklah seorang wanita memakai gaun putih sedang tersenyum sambil memegang sebuah biola.

“Cantik. Siapa wanita itu, ya?” tanya Diana.

Diana terdiam dan masih terpaku pada sosok wanita yang ada di dalam foto itu. Selang beberapa detik kemudian, sebuah barang terjatuh dari atas.

Thump!

Diana sontak terkejut dan mengelus dadanya. Setelah sedikit lebih tenang, dia pun berjalan mendekati benda itu. Ternyata itu hanya sebuah kotak kuno. Diana berjongkok dan mengambil kotak kuno itu.

“Kotak kuno. Kira-kira isinya apa, ya?” tanya Diana.

Diana penasaran dengan isi kotak kuno itu. Dia kemudian mencoba untuk membuka kotak itu, tetapi kotak itu terkunci. Diana terdiam dan matanya masih tertuju pada kotak kuno itu. Dia memikirkan cara untuk membuka kotak itu.

Detik berikutnya, bunyi biola itu kembali terdengar. Entah kenapa Diana merasa merinding. Diana langsung mengikuti asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari sebuah kamar di dalam gubuk itu.

***

Setelah sampai di sana, Diana langsung memegang gagang pintu dan membukanya. Pintu terbuka dan Diana langsung menyosor masuk ke dalam kamar. Semua benda tertata dengan rapi. Ada sebuah meja rias dengan beberapa alat kosmetik di atas meja. Diana juga melihat ada sebuah gaun tergantung di kamar itu.

“Kamar wanita? Di mana orangnya, ya?”

Diana terus melihat-lihat benda-benda yang ada di dalam kamar itu. Kali ini dia menemukan sebuah biola yang bagus dengan kayu yang mengkilap. Diana langsung berjalan ke sana untuk melihat biola itu. Saat Diana hendak menyentuh biola itu, tiba-tiba  terdengar suara seseorang yang meminta dirinya tidak menyentuh biola itu.

“Jangan sentuh biolaku!” Suara seseorang terdengar serak. Itu suara wanita.

Diana langsung menarik tangannya dan melihat setiap sudut kamar itu. Namun, dia tidak menemukan siapa-siapa di sana.

“Aneh. Nggak ada siapa-siapa di sini. Tadi siapa yang bicara denganku, ya?” tanya Diana.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Beberapa menit berlalu, Diana masih diam dan memperhatikan kamar itu. Tetap saja Diana tidak melihat ada seorang pun di sana. Kemudian, Diana mencoba untuk menyentuh biola itu lagi.

“Jangan sentuh biolaku!” Pinta seseorang dengan suara yang keras.

“Em ... Si—siapa kamu?” Diana mulai ketakutan.

Kemudian, suara wanita itu tidak terdengar lagi. Diana masih merinding dan menatap setiap sudut kamar. Dia sampai sekarang masih tidak melihat siapa-siapa.

“Aneh. Apa cuma perasaanku aja, ya?” Diana memegang pundaknya yang mulai pegal.

Selang beberapa saat kemudian, Diana kembali menelusuri kamar itu. Kali ini dia mencoba untuk membuka kotak yang ada di meja perhiasan. Diana mulai menyentuh kotak itu. Namun, tiba-tiba saja ...

“Argh ... Jangan sentuh barang-barangku! Keluar kamu!” Suara itu kembali berteriak, tetapi terdengar begitu marah. Diana menelan ludah dan memberanikan diri bertanya.

“Si—siapa kamu? Ayo tunjukkan dirimu!”

Angin langsung bertiup begitu kencang dan membuat semua jendela terbuka. Suasana berubah menjadi begitu mencekam. Mulai terdengar suara-suara menyeramkan.

Diana semakin ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran keluar. Tiba-tiba, muncul sosok wanita yang sangat menyeramkan dengan gigi yang tajam dan mukanya pucat berdarah. Sosok menyeramkan itu persis dengan wanita yang ada di dalam foto itu.

“Argh ...” teriak Diana.

“Haha.” Hantu itu tertawa melihat Diana yang ketakutan.

Kemudian, dia mulai memainkan biolanya. Nadanya terdengar seram. Hingga Diana berteriak semakin ketakutan. Darah segarnya mulai bercucuran dari telinganya karena mendengar nada yang dimainkan oleh hantu itu. Ternyata nada seram itu adalah nada yang bisa mematikan.

“Tolong! Tolong aku!” teriak Diana.

“TIDAK ADA YANG AKAN MEMBANTUMU,” ujar hantu itu.

Hantu itu kini berhenti memainkan biolanya dan mulai berjalan mendekati Diana. Diana semakin ketakutan dan terduduk sambil memeluk kedua lututnya.

“Kumohon, jangan sakiti aku!” pinta Diana dengan suara yang agak memelas.

“KAMU HARUS MATI!” teriak hantu itu.

“Tidak! Jangan! Jangan bunuh aku!”

Kini hantu itu ada dihadapan Diana. Hantu itu tersenyum licik, dia mengeluarkan sebuah pisau dan tanpa rasa manusiawi menusuk tubuh Diana.

SRAT!

Darah segar bercucuran dari tubuh Diana. Tubuh Diana telah dipenuhi oleh darah segar. Napasnya terengah-engah dan akhirnya Diana tewas. Hantu itu tertawa licik melihat Diana tewas di tangannya.***

Baca Juga: [CERPEN] Umpatan-umpatan Doa

Felly Octaviani Photo Writer Felly Octaviani

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya