Comscore Tracker

[CERPEN] Andai Aku Cinderella

Nyatanya aku tak seberuntung Upik Abu

Begitu kedua kaki ini mengambil langkah, sudah kupastikan semua harap terbenam. Keyakinan itu semakin besar tatkala diriku telah menginjakkan kaki di istana megahmu. Aku bukan cemburu dengan para tamu dan dress code glamor mereka. Hanya saja...ada rasa takut kau tak menganggapku ada.

Semakin aku melangkah, jantung ini kian berdegup saja. Surat-surat yang kupikir akan terbang menuju rembulan, ternyata mendarat padamu. Entah kau memang ditujukan bagiku atau tidak, tapi yang pasti, aku akan menjumpai orang yang tak pernah membalas pesan-pesanku.

Tak kusangka akan segugup ini. Padahal, kita sudah pernah bertemu sebelumnya; bukan hanya melalui perantara kata-kata, tapi juga di dunia nyata.

Hari itu, hari yang cerah untuk berjalan-jalan ke pusat kota. Namun, aku malah mampir ke sebuah kedai kopi dan menemukanmu. Sebenarnya, aku tidak yakin kalau itu memang dirimu. Tapi seperti yang pernah kau jelaskan di balasanmu, sepertinya memang betul.

"Pria modis yang memang tahu cara bergaya," batinku.

Terlebih lagi, kau pernah katakan kalau melukis seolah menjadi pengungkap rasa. Kuas laksana lisanmu yang berbicara. Dan lewat deskripsi itu, semakin mantap hatiku meyakini bahwa kaulah pria itu.

Boleh kukatakan, kau tak salah memilih tempat. Kedai kopi dengan pemandangan laut birunya: sebuah kombinasi yang begitu apik.

“Hei, Tuan! Apakah aku sebaiknya tidak berada di sini? Sepertinya diriku hanya akan merusak pemandangan yang sedang kau lukis," teriakku memecah kesunyian.

“Nona! Kau sama sekali tak merusak gambarku. Sebaliknya, dirimu justru memperindahnya,” balasmu kala itu.

Bahkan momen yang sedetik itu sudah mampu buatku luluh. Bagaimana dengan sekarang?

Memang sudah kukatakan kalau aku tak mau berharap banyak. Namun, tak bisa kunafikan bahwa ada keinginan untuk melewati malam yang syahdu ini seperti Cinderella: berdansa dalam alunan melodi romansa. Mungkin terdengar menggelikan, tapi itulah adanya.

Tiba-tiba bunyi terompet menggema.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Semua tamu, termasuk aku, sudah berkumpul di ballroom yang megah. Bersamaan dengan itu, ada kamu, dalam kostum layaknya pangeran, yang muncul dalam pandangan.

Perlahan tapi pasti, dirimu menuruni tangga. Kerumunan mulai bersuara, terutama kaum hawa yang takjub dengan visual luar biasa. Sungguh aku begitu gembira. Akan tetapi, ada rasa yang seolah buatku ingin mundur langkah.

Wanita-wanita di sana kemudian tertawa. Sengaja mengalihkan perhatian. Dengan sombongnya, mereka pamerkan lekuk tubuhnya yang membahana. Tak lupa juga lengkungan senyum dengan bibir merah merona. Layaknya penyihir, mereka taburkan mantra ke penjuru istana.

Aku jadi makin gelisah. Hatiku lantas bertanya-tanya, "Apakah kau mengingat semuanya?" Atau lebih tepatnya, di antara lautan manusia ini, akankah kau menemukanku yang tampak biasa saja?

"Tak apa jika kita saling sapa. Sekadar dirimu melihatku saja, sudah cukup bagiku," pinta hatiku.

Dirimu pun sudah sampai di tengah ruangan. Bisa kulihat jelas wajahmu yang rupawan. Semakin kupandang, kau tampak seperti pria yang kuinginkan. Namun, kau nyatanya lebih mirip dengan pria idaman yang tak akan pernah kudapatkan.

Naifnya diriku datang ke sini. Lantas, kedua kaki ini perlahan membawaku pergi dari istanamu. Tak tahu apakah diriku memicu kegaduhan. Yang pasti, aku tak sanggup lagi berbalik badan. Tangisku bercucuran seraya terus berlari. Padahal, sudah kupastikan semua harapku terbenam bahkan sebelum aku datang.

Ternyata, aku tak seberuntung Upik Abu. Dirinya bahkan masih mampu bertemu dengan pujaan hatinya. Bahkan, berdansa menanti malam kian larutnya. Akan tetapi, aku tak seberani itu.

Sesak di dada, perih menyungkup sukma. Awan-awan malam sudah tak larat. Hujan lantas turun dan langit seolah-olah ikut menangis. Cahaya terang rembulan pun tertutupi oleh kesedihan awan.

Ini bukan salahmu. Memang sudah saatnya bagiku, Si Punuk, untuk tidak lagi merindukan bulan. Di bawah tetesan hujan, kulayangkan surat ini menuju Sang Purnama. Sebuah tulisan yang sebenarnya ingin kutujukan kepadamu, sang pujaan hati yang tak akan bisa kuberi pelukan hangat.

[BGM: YOASOBI - ROMANCE]

Baca Juga: [CERPEN] Tak Lagi Menunggu Purnama

E N C E K U B I N A Photo Verified Writer E N C E K U B I N A

"Maju tak gentar, raibkan geletar" | #SAVELOONA

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Chalimatus Sa'diyah

Berita Terkini Lainnya