Comscore Tracker

[CERPEN] Penjual Payung di Seberang Istana

Kota itu bukan lagi taman firdaus dengan surga di dalamnya
Maria telah lama berdiri di seberang istana, barangkali sepuluh tahun. Selama itu pula, ia memilih untuk berjualan payung. Setiap pertengahan minggu, ia menawarkan beberapa payung untuk turis-turis yang mengunjungi kotanya dan selalu habis. Maria paham betul cuaca yang melanda kotanya, panas dan kejam, terik dan menusuk, tak ada udara segar yang melebihi bau busuk pada selokan. Kota itu bukan lagi taman firdaus dengan surga di dalamnya, tapi lebih layak disebut tempat peraduan antar manusia. Baginya semakin maju peradaban manusia sama artinya dengan kemunduran di era kemanusiaan. Tetapi ia memilih untuk bertahan meskipun sekedar tertahan.

“Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuh-Mu Yesus. Santa Maria, Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.”

Entah berapa kali Maria mengucapkan kalimat doa itu, ia berdoa kepada Maria yang berada di sisi lain. Dalam genggamannya, rosario itu tidak dibiarkannya lepas dari tangannya. Juga doa itu tidak dibiarkannya hilang dari mulutnya. Malam itu, semua orang yang ia temui berperang dengan dirinya. Juga bayangan dirinya dalam pantulan jendela mobil. Air matanya kembali jatuh bersamaan dengan gas air mata yang dilemparkan militer kepada kerumunan mahasiswa. Suara tembakan menghujani hatinya, menciptakan rasa sakit yang tak bisa lagi dinamainya dengan kesakitan. Bau udara bercampur dengan darah, tapi yang ia hirup terasa seperti sayur asam dan empal yang tadi pagi ia masak untuk anaknya, Wawan.

Maria tahu bahwa akan terjadi penembakan kepada kerumunan mahasiswa, tapi ia paham dengan sifat anaknya. Wawan tidak mungkin membiarkan teman-temannya berjuang sedang dirinya berada di rumah. Hari itu Wawan tidak pulang, hari itu hari jumat dan ia benar-benar tidak pulang ke rumah. Sayur asam dengan empal telah jadi basi, bau darah, amis, bau gas, keringat, api, semua memenuhi pernafasan Maria, memenuhi Semanggi.

Ketakutannya telah jadi genap bahkan berlipat. Sore itu seorang pastur menelfonnya.

“Bu, Wawan ditembak. Mohon ke rumah sakit Jakarta segera.” Baru kali itu Maria mendengar warta yang buruk dari seorang Pastur, tak lagi kemuliaan yang didengarnya. Melainkan sangkakala yang ditiupkan dalam dirinya.

Maria berlari dengan timpang keluar mobil menuju gedung UGD. Semua orang berlari keluar masuk gedung, keluar satu lantas kembali dengan tubuh ganda. Maria berjalan menyusuri mayit-mayit­, tubuh-tubuh itu tergeletak dingin di lantai hanya dengan kain putih. Bahkan kematian pun tidak memberikan kenyamanan bagi mereka, bisiknya dalam hati. Maria menangis, air matanya satu persatu jatuh ke atas setiap mayit itu, setidaknya ada yang mengantar kematian mereka meskipun dengan kesedihan. Maria jatuh untuk pertama kali dalam hidupnya, di samping tubuh anaknya. Dibukanya kain kafan itu, dan dipegangi tubuh anaknya yang membiru.

“Ya Bunda.. Ya Maria...” Dipeganginya perut Wawan yang kurus dan kosong, ia belum makan, ia kelaparan, ia dingin. Wawan mati dengan kelaparan, sayur asem dan empal kesukannya tak ia makan. Hari itu Wawan tidak pulang – hari itu hari Jumat, dan Wawan benar-benar tidak pulang ke rumah.

Ia begitu sederhana dalam menanggapi kesedihan, beratapkan payung segala hitam menjadi satu dalam elegi. Ia menggenakan hitam di seluruh tubuhnya, hanya menyisahkan putih untuk rambut dan hidupnya. Selepas pertemuan terakhir dengan anaknya, Maria memutuskan untuk meninggalkan apa yang melekatkan hidupnya dengan pemerintah. Baginya negara harus bertanggung jawab terhadap kematian anaknya. Ada yang membuatnya bertahan meskipun sekedar tertahan.

Payung hitam masih saja digenggamnya. Siang itu panas tidak kunjung larut, istana di depannya terlihat seperti fatamorgana. Kadang dilihatnya bangunan yang kokoh itu seperti rumah kumuh yang ada di pesisir laut, kapan saja bisa tenggelam atau ditenggelamkan.

“Bu, berapa satu payungnya? ” Seorang anak kecil menanyainya.

Maria tersenyum menanggapinya. Ia mengambilkan sebuah untuk anak itu.

“Ini buat kamu nak.” Kemudian Maria teringat pertama kali anaknya minta untuk dibelikan mainan. Ia kembali tersenyum melihat tingkah anak kecil itu dengan angkuhnya bersusah payah membuka payung seorang diri.

Maria kembali menatap istana, barang ada 2 penjaga di sana atau 4 bahkan lebih. Pernah Maria memberanikan diri berjalan hingga tepat betul di depan istana, memberikan sebuah surat kepada penjaga itu untuk meneruskannya kepada presiden. Namun kesia-siaan yang didapat, entah kini zaman yang berkembang dengan teknologi hingga akhirnya presiden enggan membalas surat itu atau karena surat itu tidak pernah sampai pada presiden. Penjaga itu tertegun meski dipasangnya muka tegas dengan tubuhnya yang tegap. Negara boleh membuat seseorang begitu menjadi begitu keras, disiplin dan hanya patuh kepada perintah. Tapi tidak dengan nuraninya. Negara bisa saja memanipulasi logika namun tidak pada nurani.

“Bu, boleh pinjam satu payungnya?” Seorang wanita muda kembali mengaburkan pandangan Maria pada istana.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

“Pinjam sebentar bu, saya mau menjemput anak saya. Sekolahnya dekat dari sini tapi cuacanya begitu panas.” Wanita muda itu melanjutkan.

Maria kembali tersenyum menanggapinya. Wanita itu begitu muda, namun ke-ibu-annya mengalahkan usianya. Maria kembali terkenang ketika ia menjemput Wawan selepas pulang sekolah, ditungguinya Wawan di gerbang sekolah dengan payung yang mengembang pada atas kepalanya. Dalam payung itulah mereka berdua berjalan beriringan sepanjang jalan, begitu sederhana menemukan kebahagiaan yang seutuhnya meski hanya berada dalam sebuah payung.

“Ini ambil saja, tidak usah dikembalikan atau dibayar.” Maria mengambil sebuah lagi untuk wanita muda itu.

Payung itu masih digenggamnya dan ia masih setia berdiri di seberang istana. Tiada lagi ragu yang membelenggu dalam dirinya, ia begitu yakin apa yang dilakukannya kini merupakan suatu kebeneran yang mencari keadilan. Maria kembali memberanikan diri untuk berjalan menuju istana. Disebranginya dua jalan yang berbeda arah itu, begitu besar dan jauh. Kemudian Maria berhenti sejenak tepat di depan gerbang istana, ia tahu bahwa banyak mata yang mengamati dirinya, entah dari dalam maupun luar. Ia mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya kepada penjaga yang kebetulan berjaga di salah satu gerbang istana. Penjaga itu tampak begitu muda dan gagah, sayang ia hanya bekerja sesuai perintah.

“Ini surat untuk presiden. Tolong berikan kepadanya.” Maria tersenyum ramah kepada penjaga itu, dan tampak penjaga itu kembali tertegun dengan membalas senyumannya. Sayang penjaga itu hanya bekerja sesuai perintah.

Maria pun undur diri dari depan istana untuk kembali ke sebrang istana. Setidaknya setiap ia memberikan surat, ada perasaan lega dalam dirinya. Ia kembali menyebrangi dua jalan yang berbeda arah itu, namun dari jauh dia memandang ke sebrang istana. Tak ditemuinya payung-payung hitam yang akan ia jual. Maria memalingkan mukanya ke arah penjaga dan penjaga itu melihatnya, kemudian memalingkan kembali ke sebrang istana. Genggamannya pada payung semakin kuat, entah kesedihan atau kemarahan yang ia rasakan. Maria berlari dengan kuat menuju sebrang istana, tak dihiraukannya ramai jalanan pada kedua jalan tersebut yang ia pikirkan hanyalah payung-payung hitam tersebut. Ia bertanya kepada orang- orang di sepanjang jalan sebrang istana siapa yang mengambil payung-payung miliknya. Tetapi semua orang menjawab dengan jawaban serupa, tidak ada yang mengetahui kemana perginya payung-payung itu.

Sore itu hujan datang dengan cepat, langit berubah menjadi lebam dan kesedihan tetap saja datang tidak tepat waktu. Orang-orang berlarian mencari tempat berlindung, tapi tidak dengan Maria. Ia tetap berdiri dengan payung hitam dalam genggamannya, dilihatnya air yang mengaliri jalanan menuju kakinya, membasahi kaki kemudian tubuhnya. Tak lagi dapat dibedakannya air mata dengan air hujan, dirinya dengan kesedihan yang mendalam atau bumi yang sedang berduka. Maria mencoba menanggapi kesedihan dengan begitu sederhana, setidaknya kesedihan dan amarah membuatnya tetap bertahan.

Derasnya duka bumi membuat Maria tak dapat melihat keadilan yang ada di negri ini. Dari jauh dilihatnya seorang mahasiswa berlari menghampirinya, dengan basah disekujur tubuhnya Mahasiswa itu tetap berlari dengan tangan mencoba menangkal hujan tetapi tetap saja tak dapa dibendungnya.

“Maaf bu, apa payungnya masih ada?” Mahasiswa itu bertanya ramah meski basah sudah sekujur tubuhnya.

Maria melihat pemuda itu dan tersenyum kemudian memberikan payung dalam genggamannya kepada mahasiswa itu.

“Maaf nak sudah tidak ada, tapi ini pakai payung saya saja.” Maria memberikan payung hitamnya kepada mahasiswa itu. Payung hitam itu menaungi Maria dan pemuda tersebut. Pemuda tersebut enggan untuk pergi dan memilih untuk berteduh di bawah payung bersama Maria, berdiri di seberang istana. Juga dengan anak kecil yang memilih berteduh dengan payung hitam yang tidak jauh letaknya dari mereka. Serta wanita muda dengan anaknya yang berjalan di sepanjang jalan di bawah perlindungan payung hitam tersebut.

Baginya sendiri, keadilan di negeri ini berserakan di jalan- jalan, tidak dalam istana ataupun tempat pengadilan. Setiap orang memayungi dirinya sendiri dengan pilihan, berjuang untuk kehidupan, berjuang untuk keberanian, berjuangan untuk keadilan. Kehidupan adalah jalan menuju kematian, dan keadilan adalah cara untuk menemukan jalan tersebut .

(Terinspirasi dari Ibu Maria Catarina Sumarsih

 & Aksi Kamisan)

Panjang umur solidaritas

Gregorio Surya Abdi J. Photo Community Writer Gregorio Surya Abdi J.

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Community IDN Times

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You