Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Racun Api

Memaafkan adalah cara terbaik!

“Besok, penderitaan ini akan berakhir, White.” Sesuatu dalam hatiku berbisik. Jemari tangan kananku tengah menjepit batang pengaduk memutarnya dalam cairan coklat pekat dalam gelas reaksi kecil.

“Tapi riwayatmu juga bisa jadi berakhir.” Suara batin lain menyahut. Sunyi terasa mengambang, hanya deru tipis AC yang meningkahi kamar kosku tengah malam itu. Mataku menatap kosong racikan mematikan dalam genggaman, sementara kepalaku mulai berdenyut nyeri. Luka melepuh di balik perban di pelipis kananku turut memerih. Aku tersengal. Autoplay kenangan tentang berbagai penderitaan itu berkelebat cepat menyiksaku dalam pusaran. Penderitaan itu begitu nyata semenjak aku masuk ke SMA itu, bahkan hingga hari ini.

Hari itu sepulang sekolah, sore yang membahagiakan. Sion, teman laki-laki yang aku suka ternyata juga menyukaiku. Dia, terang-terangan menyatakan perasaannya. Karena kegembiraan yang buncah, dan gugup luar biasa aku menerimanya begitu saja. Tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan ketika dua orang saling menyukai.

Dalam perjalanan menuju halte bus, seorang perempuan dengan seragam senada denganku menarik kasar tanganku, menggiringku ke sebuah lorong sempit di antara dua dinding rumah. Gadis itu tidak sendiri, ada tiga orang bersamanya, dan tanpa melihat wajah mereka, aku tahu mereka siapa. Mereka rombongan perempuan yang tidak ada puas-puasnya mengancam dan menjadikanku bahan celaan.

Tiba di lorong sempit antara dua rumah , Agni, gadis tinggi berambut ikal itu mendorongku ke dinding. Alisnya tertaut dengan mata melotot penuh kebencian. Sementara sisa geng itu menonton dengan melipat tangan di dada.  Aku meronta dalam gemetar, hingga akhirnya dia membungkamku telak. Ia meludah, tepat di wajahku. Aku benar-benar terkejut. Emosiku seketika terpancing, menimbulkan gejolak campur aduk yang meningkahi rasa takutku.

“Aku salah apa lagi ke kamu, Agni?” Ucapku pelan, rupanya kemarahanku tidak lebih besar dari rasa takut.

Seringai Agni meruncing, “Lo nantang gue! Sudah berapa kali gue peringatkan, hah?”

Aku menggeleng keras. Sion dan Agni tidak punya hubungan apa-apa. Sion bukan pacar Agni kan? Atau ada hal yang tidak aku ketahui? Seharusnya hal ini tidak menjadi masalah. Namun jika diingat lagi, mereka memang sudah tidak menyukaiku sejak awal kedatanganku. Sebenarnya apa salahku?

“Peringatan apa? Aku nggak ngerti?” Aku mencicit, kudengar suaraku sendiri tertahan serak.

“Nggak usah sok polos! Dasar sok cantik, murahan. Semua saja, cowok di sekolah lo goda!” Agni menyentak dengan jarak wajah yang tidak lebih dari dua jengkal dari wajahku.

Menurutku ini sama sekali tidak masuk akal. Siapa yang menggoda siapa? Yang ada para siswa di sekolah lah yang sering mendekatiku. Mendengar tuduhan itu, jelas aku tidak terima. Aku ingin sekali membantah, namun melihat posisiku yang tersudut dan kalah jumlah, aku tidak ingin menambah perkara. Aku hanya ingin bebas dari perempuan gila ini.

“Kalau yang kamu maksud adalah Sion, aku janji segera mengakhirinya.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Lo kira segampang itu? Lo sudah melanggar peringatan, dan kata-kata terbukti nggak mempan. Karena itu, gue punya pelajaran yang berharga agar lo tahu diri.”

Agni memberi isyarat kepada temannya. Satu botol air seukuran air mineral berisi seperempat cairan bening diserahkan kepada Agni. Aku tidak tahu apa gerangan benda itu, hingga beberapa saat kemudian tertumpah mendarat di kulit wajahku. Sejak kejadian sore itu, aku tahu kebencian Agni bukan semata karena aku mendekati pacarnya atau pacar temannya, ataupun gebetannya atau masalah cowok lainnya. Kebenciannya adalah rasa iri setinggi puncak gunung terhadap parasku yang cantik sekaligus menarik.  

Aku, sudah mencapai batas. Ketidakberdayaan, tangisan setiap malam, dan ketakutanku telah bertransformasi menjadi buncahan benci yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berjanji tidak akan pernah memafkan perempuan iblis ini. Jika dia terus hidup, aku akan terus dihantui oleh bayang-bayangnya. Maka, racun mematikan inilah yang kini ada dalam skenarioku sekarang.

Tidak apa-apa White, keputusanmu sudah benar.” Bisikan dalam hatiku menyahut lagi. Pergumulan di hati berakhir, keputusan ini sudah bulat.

Kulihat lagi cairan di dalam gelas reaksi, memastikannya sudah sempurna. Lantas kutuangkan cairan itu hati-hati ke dalam botol kaca berwarna cokelat. Sudah kurancang skenario cerita bagaimana aku akan mengakhiri penderitaanku besok. Senyumku tertarik, gembira dengan misi ini. Sebenarnya aku sadar sedang dikuasai kejahatan. Namun kebencian ini tidak kuasa dibiarkan berlarut. Dalihku, jika nanti aku masih bisa hidup normal, aku akan bertobat sungguhan.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah kusimpan semua peralatan dan ramuan dalam laci. Aku meraih handphoneku untuk memasang alarm pagi. Kulihat di pojok kiri atas, beberapa pemberitahuan pesan masuk menarik perhatianku. Ada ratusan pesan masuk, didominasi oleh grup kelas.

Mata dan perhatianku tercerap penuh pada deretan pesan itu. Napasku tertahan. Keributan di obrolan grup kelas itu tidak lain karena berita tentang Agni. Gadis itu ditemukan tewas karena bunuh diri di kamar apartemennya dengan meninggalkan sepucuk surat. Surat berisi ratapan tentang nasibnya yang malang. Tentang siksaan yang ia alami setiap hari dari keluarganya sendiri.

Aku terduduk di tepi ranjang, menatap kosong pada tembok polos di hadapan. Berusaha merunut emosi yang tidak terdefinisikan. Aku tidak pernah tahu, Agni punya masalah selain denganku. Mungkin saja, kebenciannya padaku juga dipengaruhi oleh rajutan kelindan pengalamannya yang suram. Kusentuh perban di pipiku. Saat hal itu kulakukan, biasanya aku akan otomatis tersulut kemarahan pada Agni. Namun sekarang berbeda. Tidak ada emosi apa pun di sana. Menguap demikian saja. Suara dalam hati kemudian meningkahi lagi.

“Kamu nggak tahu apa-apa kan? Balas dendam, hanya akan menimbulkan siklus baru. Kalah menjadi arang, menang menjadi abu. Bukankah memaafkan adalah cara yang terasa paling benar?”

Tanpa sadar, aku mengangguk. Aku terisak. Setetes air mata meleleh membasahi pipi.

***

Depok, 6 April 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Tentang Dia

Hanifah Nd Photo Community Writer Hanifah Nd

In the journey of finding Y

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You