Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Rahasia Raha-Sia

Ketika rahasia hanya menjadi milik berdua

“Huh, masih sekolah sudah hamil duluan. Nafsu diumbar, aurat dipajang dimana-mana. Gak malu apa?”

“Kau banyak dosa. Mungkin kamu akan membusuk di neraka. Cepatlah tobat!”

“Kamunya kali yang gatel, suka godain cowok-cowok di sekolah!”

“Buat apa sih pakai jilbab, kalau kelakuan kamu kayak setan.”

Tanpa melihat wajah-wajah mereka, aku mendengar kalimat-kalimat itu bertubi-tubi masuk dalam gendang telinga. Jelas dan berdengung kecil di sana. Aku merunduk menahan malu sembari meremas-remas ujung baju seragam putih abu-abuku. Setengah terisak, aku mendapati sebuah tangan menarik bagian atas jilbab dan berhasil melepasnya secara kasar. Aku merasa beberapa helai rambutku ikut tercerabut bersamaan dengan jilbab yang sudah terlempar dan terhempas di atas lantai ruang kelas. Mereka terbahak penuh kemenangan, sementara aku meraung dalam tangis kecil penuh kepedihan.

Sehina itukah diriku, Tuhan?

Puas melakukan bullying, mereka mulai berhamburan keluar kelas dengan iringan gelak tawa bahagia. Dengan lunglai dan tergopoh-gopoh, aku mengambil jilbab di atas lantai yang sudah berdebu dengan perasaan perih. Saat akan memakainya, sebuah tangan kekar ikut membantu membenarkan tali karet jilbab ke bagian belakang kepalaku. Aku mendongak ke atas, mendapati sesosok wajah yang sangat meneduhkan di sana. Rahadian.

“Alisia, perut kamu sudah membesar. Apa sebaiknya kamu mengikuti saran kepala sekolah agar berhenti belajar sampai tiba saatnya kamu melahirkan nanti,” ujar lelaki itu menuntunku duduk di atas bangku. Wangi tubuhnya meruap di seantero ruangan yang mulai pengap.

“Tidak, aku masih ingin belajar. Aku masih ingin merajut masa depan, meski aku akui hidupku sekarang kacau balau,” ujarku pelan, menahan rasa sakit tak terperi di dalam perut. Beberapa kali aku menarik-hembuskan nafas agar rasa sakit itu bisa segera berkurang.

Rahadian terdiam. Merasa ikut merasakan rasa perih yang aku rasakan.

Lelaki itu menatapku lekat, aku balas menatapnya tajam. Tatapan kamu seolah bermuara pada satu masa yang sama. Masa dimana semua kekisruhan hidupku bermulai. Delapan bulan yang lalu, tepatnya.

**

“Raha, Sia, jadi ini rahasia kita kan?” bisikku mengadukan jari kelingking dengan kelingking lelaki di depanku, layaknya bocah SD baikan setelah berkelahi.

“Maksudnya?” lelaki itu mengernyitkan dahi. Tak faham. Atau mungkin faham, hanya ia ingin mengulur-ulur waktu kebersamaannya denganku.

“Nama kamu kan Rahadian, tapi aku lebih suka panggil kamu Raha. Sementara namaku Alisia dan kamu bilang lebih suka menyebut namaku dengan Sia. Unik ya nama panggilan kita?”

“Jadi, hubungan asmara kita ini rahasia?”

Aku mengangguk. Bahagia, sekaligus takut. Aku ingat, ayah tiriku sudah mewanti-wanti agar aku tidak pacaran dulu sebelum lulus sekolah. Aku melanggar, meski aku tahu konsekuensinya seperti apa. Si pemarah berkumis tebal yang sering sekali melakukan kekerasan tak hanya pada ibuku, namun juga padaku. Setiap hal kecil yang tak disukainya di rumah, selalu diluapkannya secara membabi buta. Biru-biru dan bengkak di beberapa bagian tubuhku adalah bukti kebrutalannya. Entah, apa yang membuat ibuku tertarik menerimanya sebagai suami setelah kepergian ayah kandungku ke hadapan Yang Maha Kuasa. Faktor ekonomi? Ah, tak penting membahas itu! Aku lebih senang makan dengan ikan asin daripada makan enak tapi memiliki ayah tiri berperangai buruk sepertinya.

“Raha?”

“Sia?”

“Aku mencintaimu”

“Aku juga, Sayang!”

BRAKK!!

Dan semua awal kekisruhan itu pun terjadi sejak kami mengikrarkan ‘rahasia’ berdua.

**

Sebuah bantingan pintu kelas membuyarkan lamunan. Sepuluh siswa dan siswi bergerombol masuk ke dalam kelas. Posisi Rahadian yang berada di depanku membuat mereka berfikiran macam-macam. Sialnya, aku baru saja membetulkan posisi jilbabku yang setengah terbuka.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Woy, ini ruang untuk belajar, bukan tempat maksiat. Belum tobat juga?” salah satu siswi berteriak lantang. Remasan tissu bekas usapan keringatnya ia hempaskan tepat mengenai wajahku.

Rahadian menghela nafas panjang. Diam selama beberapa menit, sebelum akhirnya bangkit dan berdiri berhadapan dengan siswa-siswi yang semakin membludak. Si introvert itu lama menatap wajah-wajah penuh amarah di depannya. Amarah melawan amarah. Hilang sudah kesabarannya yang selama ini ia pendam lama.

“Semakin lama dibiarkan, kalian semakin menindas. Kalian menghakimi tanpa pernah tahu akar permasalahannya seperti apa. Ingat, apa yang kalian lakukan itu jahat dan tak berperasaan,” ucap Raha tiba-tiba terdengar di seantero ruangan kelas. Aku terkejut, lelaki pendiam itu bisa juga berbicara dengan suara lantang. Kasak-kusuk suara terdengar bersahutan di depannya, entah membicarakan apa, tak menarik minatku untuk memperhatikannya.

“Terus lo mau kita ngaminin perbuatan bejat kalian berdua? Hamil di luar nikah itu bukan sebuah kebanggan, tau?”

“Iya, kamu tahu itu. Tapi, bukan berarti kalian bebas melakukan perundungan kepada kami dengan menyebut kami tak beradab. Lihat Alisia, apa selama ini ia membalas semua perbuatan jahat yang kalian lakukan? Selama berbulan-bulan, Alisia tak hanya menderita karena beban kehamilannya, tapi juga karena sikap dan perbuatan kalian. Belum lagi kesedihannya reda saat ayah tirinya meninggal dua bulan yang lalu. Meski ditindas dan dibully habis-habisan, Alisia tetap berbuat baik kepada kalian dan malah membuat mentalnya menjadi kuat. Coba jika kalian yang berada di posisi Alisia, apa kalian bisa sebaik dan sekuat Alisia?” panjang lebar Rahadian menjelaskan dengan bibir bergetar.

Seisi ruangan mulai bungkam. Entah terkejut karena si pendiam marah, atau merasa tersentuh dengan kata-kata yang keluar dari mulut Rahadian.

Saat Rahadian bersemangat berbicara di depan sana, aku malah merasa limbung. Pandanganku mulai samar, berganti dengan warna hitam yang menakutkan. Kesadaranku seketika hilang. Aku merasa seperti akan mati. Tolong aku, Tuhan!

“Alisiaa!!”

**

Di dalam ruangan kecil UKS, aku siuman. Seorang petugas PMR dengan topi dan syal serta badge palang merah berwarna kuning hilir mudik membawa obat-obatan. Ah, Rahadian. Aku baru menyadari bahwa Rahadian merupakan anggota PMR paling aktif di sekolah. Gelar Jumbara yang sempat digondol sekolah ini pun tak akan bisa didapatkan tanpa kehadirannya.

Saat aku berdehem kecil, lelaki itu menoleh. Menyunggingkan senyum khasnya yang aduhai.

“Sia, syukurlah kamu sudah sadar. Aku khawatir sekali,” ujar Rahadian membawakan obat pereda nyeri dan segelas air putih hangat.

“Raha, aku ingin menyampaikan sebuah rahasia lagi,” ucapku mengalihkan pembicaraan, tiba-tiba.

“Tentang?”

“Tentang kehamilanku ini.”

“Meski aku ini kekasihmu, kau pasti tahu kan bukan aku pelakunya. Dan aku sama sekali tak berminat mengetahuinya.”

“Kamu harus tahu.”

“Siapa?”

“Sesaat setelah kita mengikrarkan cinta delapan bulan yang lalu, aku......”

Kalimatku tercekat di tenggorokan. Malah berganti dengan isak yang menyedihkan.

“Kenapa, Sia?”

“Aku diperkosa. Oleh ayah tiriku sendiri!” lanjutku dengan isak yang terus mendesak.

Seketika, ruangan menjadi hening.***

 

Serang-Banten, 29 April 2018

Baca Juga: [CERPEN-AN] Apa yang Orang Lain Katakan

Iip Afifullah Photo Verified Writer Iip Afifullah

Someone

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

JADWAL SALAT & IMSAK

26
MEI
2019
21 Ramadan 1440 H
Imsak

04.26

Subuh

04.36

Zuhur

11.53

Asar

15.14

Magrib

17.47

Isya

19.00

Just For You