Comscore Tracker

[CERPEN] Rahim Sungai dan Malaikat yang Tersesat

Ayah dan ibuku memberiku nama Maharani

Seperti Nabi Musa, aku juga diambil dari sungai. Pada suatu sore ketika jembatan
penghubung desa mulai ramai dilintasi orang-orang pulang kerja, seorang warga melihat peti mengapung di sungai yang mengalir membelah desaku. Oh, kuralat. Jadi lebih tepat aku seperti Adipati Karna sebab yang mengambilku dari air bukan keluarga bangsawan, tetapi rakyat biasa meski bukan kusir kereta seperti Adirata yang mengambil Karna, tetapi sama jelatanya. Sudra yang tak memiliki siapa pun selain istri dengan rahim belum pernah dihuni janin barang sekali. Katanya, rahim istrinya dipinjam sungai.


Ibuku bilang aku dilahirkan oleh rahim sungai yang dibuahi Malaikat yang tersesat. Ya
sudah. Aku menerima cerita itu dengan gembira ketika di hadapan ayah, ibuku menuturkannya. Setelah dewasa, cerita ibuku tak berubah. Ia tetap menganggap bahwa rahimnya dipinjam sungai, lalu ia dibuahi malaikat yang tersesat lalu lahirlah aku.
Aku tertawa dengan cerita tak masuk akal itu. Tetapi aku tak mau membuat matanya
berduka dengan bantah yang hanya akan membuat hatinya bernanah. Jadi biar saja ia hidup, maksudku kami, hidup dengan cerita yang tekun dipeliharanya sampai aku mengetahui tentang tubuh manusia dan segala seluk beluknya.


Ayah dan ibuku memberiku nama Maharani setelah satu jam aku diangkat dari air.
Keputusan gegabah, tetapi aku juga enggan membantah saat mereka berdua percaya bahwa aku bukan anak sembarangan mengingat eloknya parasku.

“Mengapa ayah dan ibu mempunyai keyakinan seperti itu?”

“Nabi Musa itu keturunan rakyat bukan siapa-siapa lalu dihanyutkan ke sungai dan
ditemukan lalu dirawat oleh keluarga ningrat, bangsawan berkuasa. Sebaliknya Adipati Karna itu keturunan perempuan terpelajar, kasta tinggi dan ditemukan oleh jelata seperti kami.”

“Jadi karena ayah dan ibu adalah jelata, maka disimpulkan bahwa saya keturunan
bangsawan sehingga ayah dan ibu menamai saya Maharani?” ayah mengangguk tetapi ibu buru- buru menggeleng. Aku tertawa tertpingkal-pingkal.

“Kamu bukan keduanya karena kamu lahir dari rahimku yang dipinjam sungai. Suatu hari
ada Malaikat penjaga malam yang tersesat karena lelah, ia tidur di tepi sungai. Ketika terjaga pada tengah malam, ia melihat sungai begitu cantik oleh cahaya bulan. Berkilau-kilau seperti wajahmu itu. Malaikat itu jatuh cinta pada sungai kita yang bersih dan indah itu. Dan lahirlah kamu, cantik indah seperti sungai.” Aku terkekeh, ibu juga. Tetapi ayah diam saja.

“Lihat saja, wajahmu ayu, kulitmu kuning langsat, rambutmu indah tergerai dan itu, jari-
jarimu lentik sangat ningrat.” Ibu memujiku setinggi langit.

Aku tak pernah merasa dibohongi ibu dengan cerita itu. Bahkan sampai sekarang aku
tidak dihantui rasa penasaran tentang siapa sesungguhnya perempuan yang melahirkan aku. Aku juga tidak memiliki benci apalagi dendam pada perempuan entah siapa itu yang telah menghanyutkanku ke sungai duapuluh tahun lalu (kata ayah), karena pasti perempuan itu punya alasan kuat saat mengambil keputusan menghanyutkanku ke sungai. Aku tak memikirkan siapa pun laki-laki yang membuat ibuku hamil. Tetapi aku selalu berdoa untuk ibuku di mana pun berada, agar ia selalu sehat sentausa.

Doa yang tak lupa aku panjatkan terutama ketika aku berdiri di depan cermin, menatap
pantulan wajahku di sana. Usiaku duapuluh tahun dan sudah mahasiswi dengan biaya dari ayah dan ibu yang mempunyai toko kelontong kecil di desa kami. Aku kuliah di jurusan ilmu politik dan menyukai bacaan-bacaan tentang perjalanan tokoh-tokoh dunia. Termasuk tokoh-tokoh pendiri bangsa ini. Aku membaca semua peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini termasuk duapuluh satu tahun lalu pada bulan Mei 1998.

Darahku berdesir-desir jika membayangkan peristiwa itu. Tentu saja aku belum lahir.
Aku baru ditemukan oleh ayah dan ibu setahun setelah peristiwa itu berlalu. Jangan-jangan……

Kata “jangan-jangan” itu terpatri kuat dalam pikiranku seperti tato warna biru hitam di
betis kiriku. Mengingat itu, semakin kuat aku memahami andai kata ada seorang perempuan entah siapa itu, menghanyutkan bayinya di sungai. Seperti ibu Nabi Musa yang melabuh bayinya untuk menghindarkan dari incaran kematian, atau Kunti yang melarung karena percaya bayinya punya takdir sendiri.

Ah, sehat sentausalah engkau perempuan yang telah menghanyutkan aku ke sungai.
Diberkatilah ayah dan ibu yang telah mengangkatku dari arus deras itu. Tetapi kata “jangan-jangan” itu seperti alarm dalam pikiranku. Ketika aku berangkat kuliah kemudian bertemu dengan lelaki setengah baya yang menatapku sedikit lama, pikiranku
berkata: “jangan-jangan” laki-laki itu adalah salah satu dari sekian banyak laki-laki yang
merobek jiwa ibuku. Pikiran itu semakin menjadi-jadi. Aku membuat benteng ketika bertemu dengan dosen, pekerja kantor pos, petugas kantor pajak, peniup peluit yang memberangkatkan kereta api, atau bahkan ayahnya kawanku.

“Mengapa kamu tiba-tiba tampak tegang saat menjawab pertanyaan papaku, Ran?” tanya
Sintia ketika ia mengajakku ke rumahnya.

“Sin, usia berapa ayahmu sekarang ini?”

“Apakah usia seseorang akan menentukan gugup dan tidaknya ketika kamu berhadapan
dengannya?”

“Aku hanya ingin tahu, usia berapa ayahmu pada duapuluh satu tahun lalu?”

“Nanti kuhitung dulu,” jawab Sintia waktu itu. Aneh, aku tak bisa tertawa jika berurusan
dengan kalimat “duapuluh satu tahun lalu”.

Itu juga yang aku tanyakan ketika Yolanda memintaku singgah di rumahnya yang besar
dan megah. Ia anak pengusaha kaya, tetapi sepertinya miskin waktu buat anaknya.

“Yo, berapa tahun papa dan mamamu merintis perusahaannya.”

“Aku tak tahu, Ran. Karena perusahaan papa itu warisan.”

“Jadi apa yang dilakukan papamu duapuluh satu tahun lalu? maksudku papamu anak
baik-baik atau manja atau… maaf, macam berandalan urakan tukang hura-hura habiskan uang keluarga?”

“Ha ha ha..” Yolanda terbahak. Aku mati gaya karena merasa keliru menanyakan soal itu.

“Iya, ya.. waktu itu papaku kayak apa ya?” Yolanda garuk-garuk kepala.

“Ntar deh.. aku tanyakan papa kalau dia punya waktu buat ngobrol meski sebentar. Tetapi
kurasa dia dididik opaku menjadi pekerja keras. Kalau tidak tak mungkin akan seperti sekarang ini. Emm.. jadi kupikir dia masih dalam kontrol lah...” Yolanda berkata ringan.

Begitulah, setiap aku bertemu dengan ayahnya siapa pun, aku selalu bertanya-tanya
seperti apa lelaki setengah baya itu duapuluh satu tahun lalu. Sampai suatu ketika aku jatuh cinta pada mahasiswa Sastra yang sok intelek di universitas tempat aku kuliah. Ia ke mana-mana membawa buku dan membacanya dengan gaya setengah pamer. Selain sifatnya itu, aku merasa ia baik dan menaruh hormat pada perempuan. Rupanya dia juga naksir aku dan ia menyandingkan aku seperti tokoh-tokoh dalam novelnya Jane Austen. Suka-suka dialah, pikirku.

Sampai suatu ketika pikiran “jangan-jangan” itu muncul lagi dan itu membuatku takut. Aku ngeri jika apa yang aku takutkan terjadi, bahwa ayahnya adalah salah satu berandalan yang duapuluh satu tahun lalu turut merobek jiwa ibuku. Berhari bahkan berminggu kemudian berbulan aku tak mau ditemuinya. Rupanya itu membuat dia senewen dan nekat menunggu di kostku sampai aku pulang malam itu. Dia protes dan memaksaku bicara mengapa sikapku berubah. Aku rasanya seperti Nabi Musa yang tengah negosiasi dengan Firaun sekaligus merasa seperti Adipati Karna si anak terbuang yang ingin merebut masa depan. Tetapi aku tetap tak menyalahkan perempuan yang menghanyutkanku ke sungai, ketika aku menjelaskan mengapa sikapku berubah akhir-kahir ini.

“Baik, Rani. Terima kasih penjelasanmu. Itu membuatku kaget, tetapi tak menyurutkan
niatku. Kamu adalah kamu. Atau jangan-jangan kamu ini Dewi Gangga?” kata Nikolas menggoda ingin menyingkirkan kabut di mataku yang tiba-tiba datang oleh rasa takut
menghadapi penolakan dari keluarganya Nikolas meski aku sudah dilatih menghadapi penolakan sejak dalam kandungan.

“Apa maksudmu, Nik?”

“Dewi Gangga si penguasa sungai,” katanya tersenyum yang kuanggap tak perlu.

“Sorry, Ran. Aku tahu ini persoalan serius dan aku memahami perasaanmu.” Ia menghela
napas. “Jadi, rupanya kamu takut kalau ayahku adalah juga ayahmu?” aku menunduk.

“Terima kasih atas kejujuranmu. Kupikir, mulai sekarang aku akan mengajakmu menyelidiki ayahku, agar tenang hatimu,” kata Nikolas menggenggam tanganku.

“Kalau ternyata ayahku baik-baik saja, kamu harus berjanji melupakan semua yang
menghantui pikiranmu.” Aku menggeleng. Nikolas kaget.

“Belum selesai,” kataku.

“Apalagi?”

“Ayahmu dan ibumu harus tahu. Ibuku adalah sungai, tetapi aku tak sepakat dengan ayah
dan ibu angkat bahwa ayahku adalah malaikat yang tersesat.”

“Rani, kita sudah terlanjur lahir. Dan sekarang yang aku lihat adalah kamu, Maharani. Aku mencintaimu.”

“Sekali pun aku diambil dari sungai?”

“Ya, tentu. Sebab kamu adalah Musa sekaligus Karna.”

“Bukan Dewi Gangga,” ucapku disaksikan purnama. []

Baca Juga: [CERPEN] Penyesalan Marsani

Indah Darmastuti Photo Community Writer Indah Darmastuti

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You