Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Tentang Dia

Mereka hanya perlu disadarkan!

Awal aku melihatnya ada terlintas dalam pikiranku, “Dia orangnya pasti tidak waras!” Penampilanya selalu terkesan beda dari yang lainnya. Kacamata bundar yang besar dengan rambut acak-acakan. Lengkap sudah dengan gayanya yang nyentrik dan kuno.

Di sekolah ia sering dijahili anak-anak lain, boleh dikatakan anak berandalan. Ia selalu diam, meski semua orang yang menyaksikan tahu ia memendam rasa sakit dan penderitaan batin yang teramat pedih. Tidak ada satupun yang bersimpati padanya, karena bagi mereka, tidak, namun juga bagiku tidak ada kewajiban yang tertulis untuk berempati kecuali menggenggam prestasi yang gemilang, itu yang kupelajari dari dinding-dinding bangunan tua ini. Meski itu hanya asumsiku saja.

Malah kadang-kadang mereka menambahkanya dengan sorakan dan lecehan. Meski ada yang bersimpati, tetapi mereka hanya diam menyaksikan ia sendiri. “Takut ketiban sial,” katanya. Karena itu jarang sekali ia bergaul. Bahkan tanpa ada apa pun ia tidak akan pernah berbaur.

Pernah waktu istirahat sekolah, aku melihat kantin penuh. Kecuali satu tempat, tempat yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun. Di samping dia. Mulanya aku merasa agak enggan. Takut ketularan sial, tapi berusaha kutepiskan keraguan itu. Toh, kesialan bukan bukan hal yang mesti menjangkit ke orang lain. Lagi pula tidak etis menyebutnya dengan kesialan, namun hanya ketidakberuntungan, atau apa pun itu tetap saja tidak membuat dia lebih baik.

“Eh.... Maaf, boleh duduk sini nggak?” Aku menunjuk pada sebuah bangku di sampingnya.

Ia hanya mengangguk, tatapanya tertuju ke arahku. Hanya tatapan kosong. Atau bisa saja ketidakmengertian, bahkan ketidakpercayaan, aku tak dapat menangkap isyarat itu dengan pasti.

Lina menatapku dari pintu masuk kantin, dari ekspresinya ada terlintas rasa jijik. Mungkin hal yang “luar biasa” bagi anak super gengsi bagi kami bersebelahan dengan dia.

“Eh, Lis kamu nggak takut ya, ketiban sial dekat tu orang?” tanya Lina kepadaku dengan nada mengejek selepas dari kantin sekolah.

“Ya, mau gimana lagi? Cuma itu bangku yang kosong!” jawabku agak membela diri.

“Ampun ya! Kalo aku, lebih baik nggak makan deh, ketimbang duduk dekat dia, bawa sial tau!” Lina dengan lancarnya bercelotos.

Aku merasa kata Lina itu teramat berlebihan. “Bawa sial? Maksud kamu apa sih?” Tanyaku tidak mengerti dengan jalan pikiranya. Lina mencibir.

Aku tahu yang Lina maksudkan itu. “Lina! Nggak ada yang namanya pembawa sial! Lagi pula kenapa sih orang nyebutnya bawa sial?” mataku tertuju pada Lina.

”Hei...! Kamu tahu sendirikan, gimana ia dikerjain terus sama Gusti?” Lina tetap tidak mau mengalah.

“Ya...! Itu Gustinya aja yang berandalan!” jawabku ngasal.

Lina masih saja ngotot, “Tetap! Pokoknya jangan deh, dekat sama dia!”

Terserahlah, lagi pula tidak ada untungnya berdebat dengan Lina. Apa lagi hanya untuk hal sepele, seperti dia. Meskipun ia bawa sial juga aku tidak peduli, asal jangan aku yang ketiban sial.

Setelah pertemuan di kantin itu, aku kembali bertemu dengan dia di perpustakaan. Ketika itu aku dan Lina sedang mencari buku untuk dijadikan referensi tugas Bahasa Indonesia. Lina yang kecentilan itu berjalan dengan gontainya membawa buku “Kesusastraan Indonesia”. Pandanganya disibukan ke arah cowok-cowok yang duduk di bangku dalam perpustakaan.

Lina terus menebar pesona hingga ia berteriak, “Aduh...!” Lina menabrak seorang lelaki di depanya.

“Ih...! Kamu? Ngapain sih?” Lina terkejut berada di depan lelaki itu, setelah tahu laki-laki itu adalah seseorang yang berkacamata tebal dengan rambut urakan berdiri tepat di hadapanya.

Aku menghampiri Lina, lalu membawanya duduk di bangku dekat rak-rak buku.

“Dasar cupu!” hardik Lina kepada laki-laki yang tanpa sengaja menabraknya tadi.

Aku masih memegang tubuh Lina dan mendudukkanya atas bangku agar tenang. “Udah dong, Lin! Nggak kenapa-kenapa juga kan?” bujukku pada Lina yang aku sadari mukanya  telah memerah.

“Aduh, Lis! Kamu gimana sih? Kamu itu kan sahabat aku, ya... belain aku dong!” Lina menggerutu.

Dia terpaku menatap ekspresi Lina yang dinilainya terlampau berlebihan. Bahkan sudah tampak sengaja dibuat berlebihan. Ada rasa bersalah dan tidak mengertian di benaknya. Semuanya bercampur aduk seperti gado-gado yang dijual di kantin sekolah. Memang ada kalanya rasa bersalah dan ketidakmengertian akan sesuatu sukar untuk dipilahkan.

Ketika lonceng pulang berbunyi, aku mendengar suara keributan di lapangan sekolah. keributan itu  berasal dari tepukan tangan, gelak tawa, dan juga sorakan yang berbunyi, “Wu..... Wu....” Semuanya bersatu padu membentuk simfoni yang membahagiakan hati. Tapi, bagiku agak miris dan menekan perasaan.

Aku melihat sebuah seragam sekolah bergelantungan dan berkibar dengan penuh wibawanya di atas tiang bendera. Dari sudut lapangan aku melihat dia berlarian ke tiang bendera. Hanya dengan celana pendek dan kaos dalam. Anak-anak semakin semarak bersorak. Hal yang mestinya menjadi ironi itu seketika itu juga berbelok haluan menjadi tontonan yang mengasyikkan. Sebuah drama komedi yang gelap. Semua tak ubahnya atraksi permainan sirkus yang menakjubkan. Sangat pantas menerima tepuk tangan dari penontonya. Tapi, ia bukan sedang beratraksi, bermain sirkus juga bukan.

Semuanya berhenti bersorak ketika kepala sekolah dan beberapa rekan guru masuk ke lapangan. Dengan lantangnya seperti pemimpin upacara pak kepala sekolah berteriak, “Berhenti....! Diam semuanya!” Keributan siang itu benar-benar telah membuat geram Pak Kepala Sekolah.

Aku melihat sendiri Pak Kepala Sekolah yang menurunkan pakaianya dari puncak tiang bendera. Kepala Sekolah sendiri yang menyerahkan seragam putih abu-abu itu kepada dia. Lalu cepat-cepat dia merampas seragam itu dan membaluti tubuhnya dari sengatan matahari yang sangat terik pada siang hari ini. Seragam itu memang cukup untuk menutupi badannya dari panasnya matahari. Tapi, apakah itu cukup untuk menutupi wajahnya yang malu sangat hari ini?

Terlihat dia seolah-olah ingin menangis tidak kuasa menanggung malu. Tetapi bukankah ia seorang lelaki? Seharusnya lelaki itu berjiwa keras. Kalaupun ia menangis, maka dia akan lebih mempermalukan dirinya lagi di hadapan anak-anak yang lain.

Tentang luka itu, kepahitan hati dan muka yang tercoreng karena malunya. Aku pikir biar dia sendirilah yang merasakan. Meski aku yakin tuhan lebih paham akan sakit dan luka itu, lebih dari apa pun dan siapa pun.

Dia dibawa ke kantor kepala sekolah. Tidak butuh waktu lama setelah kejadian siang itu, Gusti dan teman-temanya juga dipanggil ke kantor. Gusti? “Ah, pasti orang itu lagi yang menjadi biang keladi kejadian siang itu!” Tebakku.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Kadang aku berpikir, Apakah orang seperti Gusti itu masih punya rasa kemanusiaan? Paling tidak, apakah orang seperti Gusti masih punya rasa belas kasihan kepada orang lainya?

Aku tahu dan sadar Gusti dan anak-anak lain menganggap itu hanya sebagai gurauan. Tapi, apakah mereka tahu kebenaranya? Itu sangat berlebihan! Tidak pantas dijadikan gurauan, malahan itu lebih pantas disebut menyakitkan!

Hari tampak mendung di Kamis pagi, angin berarak pelan mendorong awan yang tampak seperti gerombolan domba yang bergumpal dan menghalangi sinar matahari jatuh ke bumi. Hari berjalan sesuai dengan kodrat-Nya. Lina yang berada di sampingku tetap berjalan kecentilan, seakan-akan seluruh mata hanya tertuju padanya. Biarlah, memang sudah seperti itu kelakuannya.

Sebenarnya tadi pagi ketika akan berangkat ke sekolah, aku ditelepon sebuah nomor yang belum aku kenal. Setalah bertanya, aku tahu dia yang menelepon. Syukurlah, tidak terjadi apa-apa denganya. “Hanya kamu yang tampak peduli denganku, Lisa!” katanya dari seberang. “Kebanyakan, mereka mengatakan aku aneh.” Desahnya lagi.

Aku senang ia berkata jujur padaku, “Mereka peduli, hanya saja perlu untuk disadarkan!”

“Mungkin kau benar!” Jawabnya sambil tertawa kecil. Setelah itu hening.

Namun, anehnya hari ini aku baru mendengar kabar Gusti yang dikeluarkan dari sekolah. Belum aku melihat dia hari ini. Ketika aku bertanya tentang keherananku pada Lina, dengan santai dan tanpa beban Lina menjawab, “Lisa kamu gila, kan? Bertanya tentang dia hari ini!”

Aku merasa heran. “Maksud kamu?” tanyaku lagi.

“Jadi, kamu benar-benar tidak tahu?” Lina benar-benar ingin menguji kesabaranku. “Dia meninggal! Bunuh diri kemaren!”

Aku tercekat, lalu tampak bingung Lina menambahkan “Aku juga barusan mendengar Gusti kecelakaan!”

Aku merasa dunia berputar, lalu dari belakangku seperti ada yang berbisik, “Mereka hanya perlu disadarkan untuk lebih peduli, termasuk kamu!”

***

Aku terbangun dengan keringat dingin. Kamarku yang didominasi warna abu-abu terasa pudar dengan ketakutan yang tiba-tiba saja menjalar ke hati hingga pada tubuhku. Aku menggigil. Memikirkan tentang dia dan bertanya-tanya apa yang dilakukanya pagi ini.

Matahari terik melewati ventilasi rumah dan menimpa wajahku. Sadar aku akan terlambat hari ini, maka aku cepat-cepat mandi. Membersihkan badan, menggosok gigi, dan menggunakan seragam sekolah. Lalu aku pun bergegas ke depan pintu gerbang sekolah dengan rambut yang kusut. Lina yang aku temui terperanjat melihat rambutku yang berantakan. Ia berteriak seolah-olah sedang melihat Nenek Lampir.

“Ya ampun, Lisa! Kamu dilanda tornado, ya ke sekolah?” Tanya Lina sambil merapikan rambutku.

Aku menepis tangan Lina. “Dia, di mana dia? Apa kamu melihat dia?”

Lina tercekat. “Dia, maksud kamu pembawa sial itu?” tanya Lina keheranan. Aku diam. Mataku tajam menatap ke arah Lina dan membuatnya sedikit takut.

“Dia ada kok. Di kelas mungkin, seperti biasanya.” Akhirnya Lina menjawab juga.

Aku berlari ke kelas. Benar saja, ia ada di sana. Sendiri sebagaimana biasanya. Tempat duduknya di pojok kanan menghadap jendela paling belakang. Kacamatanya yang tebal dilepaskan dan berada di atas meja. Lalu ketika dia mendengar suara langkahku, laki-laki itu memasang kacamatanya dan terkejut menemukan aku hadir di depanya. Tepat satu bangku di hadapanya.

“Hai,” sapaku ingin beramah tamah.

Laki-laki itu menunduk. Setelah itu kembali menatapku lagi dalam diam. Sedangkan di luar sana, Lina menatapku dengan jengkel. Sambil berjalan pelan ia mendekat dan menarik lenganku agar menjauhkan diri dari dia.

 “Lis, kamu waras, kan? Tidak sakit!” tanya Lina.

“Aku tidak tahu.” Jawabku yang tiba-tiba membuat Lina heran. “Apakah membiarkan orang lain menderita adalah sebuah kewarasan?” Tanyaku sambil melepaskan tangan dari Lina. Lina tidak menjawab. Hening. Hanya sepi dan napas kami yang menaungi ruangan kelas.

“Aku hanya ingin menjadi orang baik. Seorang teman yang baik.” Bisikku pada Lina. Kuharap temanku itu mengerti.

“Tapi, kan?” Lina kelihatan ragu.

“Lina, aku teman baikmu, kan?”

“Tentu saja.”

“Apa yang akan kamu lakukan jika aku dikerjai anak-anak seperti dia?” aku bertanya lagi. Masih dengan nada berbisik. Lina hanya menggeleng.

Aku tersenyum sambil beranjak pelan. Kembali berada di depan dia yang menatap kami keheranan dari tadi. Sedangkan Lina yang awalnya enggan akhirnya berjalan pelan. Mendekat ke arahku dan dia. Perempuan centil itu berusaha tersenyum kepada dia meskipun dengan cara yang dipaksa-paksakan. Tapi biarlah, memang perlu waktu untuk menjadi terbiasa.

***

Yogyakarta, 1 April 2019

Jailani Photo Community Writer Jailani

Belajar untuk berbagi

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

#MILLENNIALSMEMILIH

Versi: 26 Apr 2019 17:20:40

Progress: 312.552 dari 813.350 TPS (38.42774%)

Just For You