Comscore Tracker

[CERPEN] Pelukis Tua dan Primata

Sebuah kisah dari kerajaan tropis

Gubuk kayu yang nyaman tersembunyi dalam rimbunnya kedamaian hutan tropis. Nyala lampu minyak parafin berdenyar temaram melalui lubang-lubang kecil dan satu pintu yang terbuka lebar. Kesunyian hutan malam itu diiringi oleh dengkuran unggas dan serangga.

Di dalam gubuk, lukisan-lukisan palet berjejer tersandar di dinding kayu pohon ceri. Beberapa lainnya hanya berkanvas tanpa bingkai teronggok dalam tumpukan di pojok ruangan. Seorang pelukis yang sudah beruban mengulas warna nilakandi di atas kanvasnya.

Tiba-tiba dari arah hutan terdengar suara tembakan yang keras hingga melesetkan tumpuan tangannya. Dia hendak bangkit tepat ketika sesuatu melesat menubruk steger lukisan yang sedang ia kerjakan.

Sesuatu itu adalah makhluk berambut cokelat kemerahan, seekor orangutan.

“Tenanglah, tenanglah. Kau aman.” Pelukis Tua kemudian menutup pintu gubuknya.

Orangutan itu kesakitan, lengannya tergores oleh peluru seorang pemburu. Pelukis Tua memutuskan untuk merawat orang utan tersebut hingga sembuh. Bahkan ia menamai orang utan itu Kadru sesuai dengan warna rambutnya.

Kadru sangat merasa aman berada di gubuk Pelukis Tua. Sering kali ia keluar sebentar saja jika mencari makan dan lekas kembali seraya menunggui Pelukis Tua melukis sesuatu yang tidak dia mengerti.

Semburat cahaya purnama mengisi kegelapan dalam hutan tropis. Malam itu seseorang dari istana datang mengunjungi Pelukis Tua. Dia meminta Pelukis Tua bersedia untuk melukis Raja sekaligus menjadi pengajar lukis di kelas Istana.

“Lihatlah, lukisan-lukisanmu adalah yang terbaik di negeri ini.” kata Duta Istana diikuti anggukan dari dua ajudannya. “Kau boleh mengajak si manis itu ikut. Ada kebun luas di Istana untuk tempat tinggalnya.” Tunjuknya pada Kadru yang memeluk kaki Pelukis Tua dengan takut-takut.

Esoknya setelah Pelukis Tua lelah membujuk Kadru agar kembali ke hutan, Kadru justru memilih ikut Pelukis Tua pergi ke Istana Kerajaan. Akhirnya Pelukis Tua setuju asalkan Kadru tetap merasa bebas nanti ketika berada di Istana.

Tepat saat bayangan menyamai ukuran pemiliknya, Pelukis Tua dan Kadru sampai di halaman Istana. Langit yang sedikit berawan mempercantik taman depan Istana. Berbagai macam bunga segar menyambut kedatangan mereka. Di sisi sebelah kiri tampak Puteri sedang berjongkok menatap bunga sedap malam dengan kepala berpangku kedua telapak tangan.

Puteri yang melihat mereka berdua pun menghampiri dengan tergesa. “Makhluk manis apa ini? Kenapa wajahnya mirip manusia?”

Kadru mengajaknya bersalaman. “Ini orangutan, Puteri. Primata mirip manusia yang tinggal di hutan tropis.” jawab Pelukis Tua.

Puteri mengajak Kadru bermain di kebun Istana setelah bertukar sapa dengan Pelukis Tua. Sementara Pelukis Tua melanjutkan perjalanannya menghadap Raja di ruang singgasana.

Raja tersenyum begitu mendengar permintaan Pelukis Tua, “Jadi kau ingin kembali segera setelah mengajar kelas Istana selama 10 hari?”

Pelukis Tua tidak bisa meninggalkan gubuknya begitu saja. Dia juga berharap orangutan yang dia bawa agar tinggal kembali ke habitat aslinya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Raja pun memberi titah supaya dia dilukis besok ketika Raja siap mengenakan baju kebesarannya. Dia juga menambahkan bahwa Pelukis Tua bisa pulang kapan saja dia ingin setelah menyelesaikan lukisan Raja.

Satu minggu akhirnya berlalu dengan hasil lukisan Raja seukuran sepertiga pintu kamar Raja yang tingginya hampir menggapai langit-langit. Pelukis tua mulai mengajar di kelas Istana sore harinya. Kelas berlangsung di taman belakang Istana yang memperlihatkan pemandangan Laut Ungu, laut yang airnya benar-benar berwarna ungu. Keindahan yang hanya dimiliki wilayah kerajaan tropis ini.

Suara hentakan kaki beberapa orang mengusik pendengaran Pelukis Tua usai dia membubarkan kelas lukisnya. Seseorang berpakaian bangsawan muncul di hadapan Pelukis Tua. Orang tersebut secara tidak sadar menghalangi pemandangan Laut Ungu yang akan dilukis.

Bangsawan itu melambaikan tangannya kepada dua pengawalnya untuk meninggalkannya bersama Pelukis Tua.

“Perkenalkan,” katanya dengan suara anggun kebangsawanan. “Pangeran Nusa, keturunan pertama dari Raja Bada.” Senyumnya ramah. “Apa kau bisa melukisku dengan latar belakang Laut Ungu yang indah itu?”

Pelukis Tua berdiri memberi salam kepada Pangeran. Dia mengulas kuasnya di atas kanvas yang masih kosong dengan senang hati. Citra Pangeran tentu menjadi lebih indah bersanding dengan Laut Ungu, kata Pelukis Tua dalam hati.

Dari kejauhan Puteri dan Kadru bergandengan tangan berjalan ke arah mereka. Pangeran seketika berjongkok untuk menyambut pelukan adiknya. Pelukis Tua ikut tersenyum melihat kedekatan kakak beradik tersebut sembari melambai pada Kadru yang nampak bahagia seharian bersama Puteri.

Pangeran kemudian menyadari kehadiran Kadru, “Seekor orangutan? Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Pangeran kepada adiknya sambil melambai agar Kadru mendekat.

Dengan enggan Kadru melangkahkan kakinya. Pangeran masih tersenyum lebar seraya meletakkan senapannya yang sejak tadi ada di balik pungung. Mendadak Kadru berhenti, dia berlari kembali ke pangkuan Pelukis Tua.

Tampaknya Pelukis Tua mengetahui maksud Kadru yang ketakutan itu. Dia pun bertanya perlahan, “Pangeran, apakah kau beberapa minggu yang lalu pergi ke hutan untuk berburu?”

Pangeran terkesiap mendengar pertanyaan itu. Dia mendadak menundukkan kepala seolah melakukan kesalahan. Beberapa saat kemudian dia mengaku bahwa sebelum dia pergi ke kerajaan seberang, dia memang berburu di wilayah hutan tropis.

Saat berburu dia ingin menembak rusa yang lama diincarnya, tetapi sesuatu menghalangi pandangan. Karena sejak siang yang terik ia tidak menemukan apa-apa, emosi pun menyulut. Hingga tanpa sadar dia menembak makhluk tak bersalah.

“Mungkinkah itu dirimu?” tanya Pangeran agak malu. Goresan di lengan kiri Kadru menjawab pertanyaan Pangeran.

Kadru masih memegang erat tangan Pelukis Tua. Sementara Puteri mengelus lembut kepala Kadru, “Tidak apa Kadru, Kakakku tidak sengaja. Ia tidak jahat, tenang saja. Kau bisa memaafkannya. Aku berjanji akan merawat lukamu sampai tidak berbekas.” Puteri membuka telapak tangannya untuk Kadru. Pula Kadru melepas genggamannya pada Pelukis Tua.

Perlahan dengan keraguan, Kadru mendekati Pangeran. Ia memandangnya penuh selidik. Mungkin dia bertanya-tanya apakah manusia ini tidak akan menyakitinya lagi.
“Aku sungguh-sungguh meminta maaf.” Pangeran mengatakannya sambil mengulurkan tangan. Kadru pun tersenyum menerima uluran tersebut.

Pelukis Tua ikut mengulas senyum bahagia, sementara tangannya dengan cepat menggambar sketsa dengan tinta hitam dua makhluk primata yang sedang berjabat tangan di hadapannya.***

Baca Juga: [CERPEN] Gubuk di Perkemahan

Jellosp. Photo Verified Writer Jellosp.

//The writer with flowers in her mind (✿^‿^)

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya