Comscore Tracker

[Cerbung] Takdir (1)

Monolog kita

Saya Alan. Setelah lulus sekolah menengah atas, saya mendapat beasiswa belajar di luar negeri, mengambil jurusan bisnis. Mama yang seorang pengacara tak tahu bahwa saya mendaftar di jurusan lain dan bukan mengambil hukum. Awalnya dia kecewa, tapi dia tak menuntut untuk berhenti. Dia tetap menjadi pendukung nomor satuku.

*

Aku harus ke kota untuk mendapat pendidikan yang lebih baik. Di desa tak ada universitas yang menyediakan jurusan yang kuinginkan. Aku, sejak kecil, ingin menjadi seorang ahli hukum. Karena itu, aku selalu berusaha menjadi gadis yang adil dan bijaksana, meski kadang emosiku meluap-luap. Tapi, aku, Kina, akan berusaha menjadi lebih baik.

*

Saya pikir saat pertama kali menginjakkan kaki ke tanah orang lain, saya akan mengikuti apa yang mereka lakukan. Tapi sepertinya hatiku tak ingin seperti itu, ada rasa tentang kewajiban yang harus saya jaga, pasti untuk diri saya sendiri dan juga mungkin untuk orang lain.

Saya mengikuti kelas tanpa telat, meski sesekali harus membolos karena kerja paruh waktu yang diperkenalkan oleh teman sekelas yang lain. Tetap saya pastikan akan mendapat hasil yang terbaik.

*

Aku setiap hari tidur pukul sepuluh dan terbangun sendiri saat pukul dua, kugunakan untuk beribadah dan membaca buku hukum yang lebih tebal dari bantalku. Aku tak terlalu suka dengan keramaian, jadi saat tak ada kelas aku akan menghabiskan waktu di perpustakaan. Meski begitu aku punya teman yang selalu mendukungku. Hanya saja tak ada kata untuk menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Aku akan menunggu, bukan berhenti mencari, tapi kurasa dia semakin mendekat, meski aku tak tahu siapa dan di mana.

Beberapa semester ini, aku mendapat nilai sempurna, meski begitu aku masih merasa ada yang kurang. Kugunakan itu sebagai motivasi untuk belajar lebih giat lagi.

*

Tiga tahun berlalu, saya lulus dengan predikat cumlaude. Mulai mencari lowongan kerja di negara ini juga, London. Sedikit sulit, namun saya tidak pernah berhenti. Beberapa bulan kemudian, sebuah perusahaan dari Indonesia menawarkan posisi di perusahaan mereka. Saya lalu menjadi seorang pekerja tetap untuk perusahaan tersebut.

Saya tinggal bersama mama, menikmati masakannya, dan merasakan kehangatan dari papa. Tapi, yang tidak ditahunya kalau saya masih terdaftar sebagai mahasiswa tingkat akhir di jurusan arsitek. Mereka mungkin tak tahu, bahwa saya sangat suka mendesain. Akan saya ceritakan saat siap nanti.

*

Aku lulusan terbaik. Kupikir akan segera mencari pekerjaan, tapi aku ditawari beasiswa melanjutkan S2 di London. Aku berdiskusi dengan orang tuaku dan mereka memberi keputusan di tanganku. Aku tentu sangat menginginkannya. Bulan berikutnya aku telah di London.

Tak mudah bersosialisasi. Selalu kuusahakan berkomunikasi dengan mereka dan tetap tersenyum apa pun yang terjadi. Aku tak terlalu suka bermain, jadi kurasa bisa lulus dengan cepat, sesuai yang kutargetkan.

*

Saya telah mengatakannya pada mama-papa dan mereka menyetujuinya. Saya jelaskan pada mereka, saya telah menginginkan hal ini sejak lama. Akhirnya, akhir bulan saya kembali ke London.

Hari pertama, setibanya di sana, saya menghabiskan waktu di kedutaan. Ada acara yang diselenggarakan. Banyak mahasiswa yang hadir, beberapa di antaranya tidak kukenali. Mereka pasti mahasiswa baru. Saat itu, teman saya, Akim, menunjuk salah satu dari mereka, saya sedang berdiri di depan gedung, memandang. Katanya wanita itu bulan ini sudah lulus S2-nya di jurusan hukum. Karena Akim tak berhenti menceritakan kelebihan-kelebihannya, saya jadi memperhatikannya. Dia terlihat sangat manis, rambutnya panjang, bajunya tertutup, tak seperti wanita lain yang terlalu terbuka. Tiba-tiba saja, dia berbalik, segera kutarik pandanganku dan melihati langit yang cerah.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

*

Aku sebenarnya tak ingin datang ke acara ini, tapi Tia teman satu dormku memintaku menemaninya. Padahal aku ingin belajar, tapi tak enak juga menolaknya. Aku tak mengenal banyak dari mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sini, hanya beberapa yang biasanya berkumpul saat acara makan-makan. Kucoba berbincang tentang keadaan di Indonesia setelah setahun lebih tak pulang. Berikutnya, aku berbalik seperti seseorang sedang melihatiku di belakang. Kudapati seorang pria yang menengadah melihat langit, dengan gelas berisi air putih. Tak lama kembali kutundukkan kepalaku saat dia melihat ke arahku.

Aku sedikit deg-degan saat seseorang berjalan mendekat dan berhenti di depanku, kupikir pria itu, tapi dia Akim seorang senior di jurusan yang sama denganku. Aku tersenyum saat dia memujiku. Aku sebenarnya tak terlalu suka saat dia memperlihatkan perhatian yang terlalu berlebihan, tapi dia senior yang sangat baik, jadi kubiarkan saja.

*

Saya baru melihatnya, tapi kenapa saya merasa sedikit iri saat Akim berbicara dan tertawa bersamanya. Saya awalnya ingin bergabung, tapi tak enak hati menganggu mereka, nampaknya Akim menyukai wanita itu. Jadi kulangkahkan kakiku melewatinya.

Semuanya terasa memburuk saat makan bersama, dia duduk di sampingku. Mungkin tak ada tempat lain lagi dan membuatnya memilih kursi di dekatku. Saya bisa mencium aroma samponya saat angin bertiup. Kukatakan tadi memburuk, karena sepertinya saya sangat menyukai caranya berbicara, nada suaranya yang sopan, dan selalu diikuti dengan senyuman. Berikutnya saya memberanikan diri bertanya namanya, dia melihati saya sesaat dan kemudian menjawab. Namanya Kina. Hanya itu saja, karena berikutnya Akim datang dan menggeser posisiku.

*

Aku bisa mencium wangi cologne pria di sampingku. Hanya saja aku tak berani berbalik, mungkin terlalu malu, sedari tadi kuperhatikan sepertinya dia cukup popular di kalangan gadis-gadis. Dan tak kusangka dia menanyakan namaku. Aku hanya menjawab seperlunya dan tersenyum karena sebelum kutanyakan namanya, Akim muncul dan duduk di antara kami.

Sebelum malam aku dan Tia pamit pulang lebih dulu. Kuedarkan pandanganku mencari pria yang tadi, entah kenapa aku merasa harus tahu namanya. Tapi, sepertinya dia telah pulang. Mungkin aku memang tak harus tahu siapa dia.

Sebulan kemudian, aku siap kembali ke Indonesia. Aku sudah bertekad untuk menjadi hakim yang adil, memperbaiki negaraku. Tia mengantarku ke bandara saat melewati pintu masuk, aku berpapasan dengan pria itu. Dia berhenti. Aku berhenti. Dia tersenyum sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, seperti ingin mengatakan tentang sesuatu, tapi akhirnya bergumam tidak jelas. Katanya dia baru saja tiba dari Indonesia saat kuberanikan diri bertanya kenapa dia di sini. Setelah itu, aku melangkah menjauh saat seseorang di belakangku meminta untuk tidak berhenti di jalan. Aku tersenyum padanya dan sayangnya saat dia menjauh aku lupa lagi menanyakan namanya, padahal dia menyebut namaku tadi.

*

Tanpa terasa, saya tersenyum sangat lebar setelah memanggil gadis bernama Kina. Dia membalas senyumanku dengan sangat manis. Dia sepertinya sangat tahu tentang tata krama, dia bertanya padaku meski mungkin dia sudah lupa. Bahkan sepertinya dia belum tahu nama saya.

 

Saya kembali menjalani aktivitas, berusaha melupakan wanita yang baru dua kali saya temui, lagi pula dia sudah tidak di sini, pasti sangat sulit untuk bisa lagi bertemu dengannya. Tapi, mungkin saja saya akan bertemu dengannya, kalau saja dia jodohku. Saya tak boleh terlalu berharap. Wanita secantik dirinya pasti sudah memiliki kekasih, dia bahkan menolak Akim yang telah menyatakan perasaannya, pastinya karena seseorang telah memiliki hatinya.

*

Aku sudah sebulan bekerja di kantor kejaksaan, menjadi seorang junior yang baik. Saat aku sedang berisitirahat di apartemenku sepulang dari kantor, ibu yang betah di desa meski telah kubujuk untuk tinggal bersama menelponku. Ibu membicarakan hal yang aneh, atau hanya aku yang berfikir itu aneh. Seharusnya itu sama sekali berita yang menggembirakan kalau seorang telah melamarku. Kukatakan pada ibu, aku akan memikirkannya.

Seharusnya kuterima saja, toh aku tak punya seseorang yang sedang tertanam di hatiku, tapi seketika bayangan pria yang bahkan tak kuketahui namanya muncul di pikiranku. Aku lalu tersadar dari lamunan saat Tia yang masih berada di London menelponku di malam yang sudah sangat petang. Kusadari di sana matahari masih bersinar. Dia lalu bercerita tentang seseorang yang menanyakan keadaanku, saat ini Tia sedang di kantor kedutaan. Kutanya siapa orang itu dan dia menyebut nama Alan. Aku sama sekali tak mengenal pria itu. Panggilan berakhir setelah aku bercerita tentang lamaran yang dikatakan ibu.

*

Baca Juga: [Cerpen] Samsak Cinta

Jelsyah D. Photo Community Writer Jelsyah D.

@jelsyahd

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You