Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Waktu

Sesuatu yang coba kamu hargai.

Aku Lili, salah satu pemain di tim basket sekolahku. Awalnya, bersama seorang teman, karena memang sudah sejak sekolah dasar menyukai olahraga basket, maka kami sepakat untuk melanjutkan di SMP. Tapi teman yang kukatakan tadi tiba-tiba berhenti dari segala aktivitasnya, setelah setengah tahun berlatih bersama anak-anak tim basket lainnya.

Dan tak hanya itu, sampai sekarang, aku masih belum melihatnya di sekolah.
Baru kemarin, saat aku mendapati nama yang familiar, dan segera tahu kalau pemilik akun yang memberi banyak komentar merendahkan pada saudara kembarku, adalah teman yang telah kukenal bertahun-tahun. Bahkan tentunya mengenal Mimi. Dan aku berpikir, jika temanku itu, yang juga berteman dengan Mimi, telah melampiaskan kekesalannya pada orang yang salah.

Karena tahu, aku menjadi salah satu penyebab dia tak lagi ke sekolah, sampai dua bulan yang lalu saat pergantian semester, aku masih mengunjungi rumahnya. Meski dia sama sekali tidak ingin menemuiku. Bahkan orangtuanya, sepertinya tidak mempermasalahkan jika putri mereka mendapat pendidikan di rumah saja.

Dan hari ini, setelah masalah diet saudari kembarku selesai, aku telah berada di depan rumah Vena. Beberapa kali membunyikan bel, tapi tidak mendapat respon. Aku tahu kalau orangtua Vena biasanya tidak di rumah, meski akhir pekan. Sayang sekali, aku tidak berniat menyerah, aku harus bertemu dengannya. Jadi aku menunggu. Memberi jeda atau setidaknya menahan diri untuk tidak menekan bel berkali-kali, tidak ingin mengganggu tetangga.

Setelah berkali-kali duduk-berdiri-jongkok-menekan bel-diam, aku melihat gerakan di jendela. Akhirnya benar-benar yakin kalau Vena sejak tadi mengintipku dari dalam. Dan aku mulai berteriak, dengan suara yang menyiratkan aku berteman baik dengan si pemilik rumah, ”Vena, Vena, ayo kerja tugas bareng.”

Berkali-kali, sampai seorang tetangga muncul, memintaku menekan bel, takut kalau Vena sedang tidur siang dan tidak menyadari kedatanganku. Untungnya, kehadiran ibu tetangga sebelah, memancing kemunculan Vena.

Vena membuka pintu, tak lebar, hanya wajahnya yang terlihat dari luar. Aku benar-benar ingin melihatnya lebih jelas. Tapi sebelum lupa topik, aku segera mengeluarkan kalimatku, “Mimi bilang terima kasih karena udah ingatin dia berat badannya,” kataku, tentu saja bohong.

“Bohong.” Suaranya kecil, tapi cukup jelas di telingaku.

Aku hampir tertawa karena dia segera tahu. “Kalau begitu, langsung saja, aku nggak nyuruh kamu buat minta maaf, tapi setidaknya sebelum Mimi tahu tentang kamu adalah salah satu dari banyaknya pemberi komentar jahat ke dia, aku minta kamu berhenti.” Aku berdehem sebelum melanjutkan. “Soalnya dia masih mikir kamu adalah Vena teman kami yang dia kenal sejak SD.”

Tentu saja dia mendengus saat mendengar kata teman.

Aku menelan ludah, “kalau yang kamu benci adalah aku, kenapa nggak ngomong langsung padaku saja?”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Vena menghela nafas, keras. “Percuma ngomong sama kamu, soalnya respon kamu nggak bakalan seheboh orang lain.” Dia tertawa sinis. “Tapi saat keluarga kamu dilibatkan, kamu mulai kehilangan ketenanganmu.”

“Kamu teman baikku, Ven.” Aku tak berani berkoar, sudah kukatakan kalimat ini berkali-kali tapi dia sepertinya tak akan percaya, pada orang yang hanya melihati Vena saat dia sedang dilempari bola basket, dan parahnya sambil tertawa.

**
Tepatnya, satu tahun yang lalu saat kami pertama kali menginjakkan kaki di lapangan basket sekolah. Vena, salah satu dari siswi yang bermain baik di lapangan, dengan tubuh pendeknya yang lincah menggiring bola. Karena selalu bersama, aku bahkan tidak menyadari perbedaan tinggi badan kami, tapi sepertinya sangat menarik perhatian orang lain. Beberapa kali, Vena menolak untuk berada di sekitarku, dan bergabung dengan tim senior.

Puncaknya saat pelatih, bermaksud memainkan Vena dalam pertandingan antar sekolah. Aku berbahagia untuknya dan berusaha lebih keras saat melihat dia berlatih dua kali lipat dari orang lain. Meski hanya akan duduk di bangku cadangan, aku tetap giat berlatih bersama Vena dan senior lainnya.

Kakak-kakak kelas yang tergabung dalam tim sering membagi dua kelompok. Aku bahkan tertawa senang saat mendengar Vena terlihat seperti hamster, atau mendengar kalimat senior yang meneriakkan, “lucu banget si monyet mungil mau slam dunk.”

Atau tertawa saat wajah Vena terkena lemparan bola dan senior akan berkata, “aduh, adek kelasku ini mungil banget, coba pake high heels, biar setinggi sama Lili.” Dan bahkan setelah mendengar Vena telah keluar dari tim, aku masih sibuk dengan latihanku.

**
Aku masih berada di depan rumah Vena, tanpa dipersilakan untuk mendekati pintu tempat dia berdiri. Aku tidak pernah bisa mengatakan, coba saja waktu itu aku tahu, biar bagaimanapun aku tidak bisa mengulang. Kupikir dia tidak lagi memikirkan hal yang telah berlalu dan membuatku menyerah untuk mengajaknya kembali ke sekolah, karena merasa dia lebih nyaman belajar di rumah. Tapi mendapatinya, masih tetap berada di tempat yang sama, membuatku menyalahkan diri.

“Dulu, aku cuman bisa ketawa doang, Ven,” kataku setelah cukup lama diam, dan Vena telah menutup pintunya.

Tapi sebelum berlalu pergi, tidak kulupakan kalimat yang setidaknya bisa kupertanggungawabkan, “kamu datang ke sekolah, Vena. Dan kalau kamu senang, bersedih, atau ketakutan, aku akan ada selalu di sana. Karena bukan cuma waktu yang bergerak, tapi aku juga coba untuk melangkah, dan dari pergerakan ini, aku udah coba mengerti banyak hal.”

Dan sekarang, semua tergantung padanya.


***
Siwa, 9 April 2019

Jelsyah D. Photo Community Writer Jelsyah D.

@jelsyahd

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You