Comscore Tracker

[CERPEN] Percakapan Terakhir antara Nona dan Putra

Bahkan jika ini bukan yang kau inginkan.

Setelah mendapatkan gelar masternya, Nona diterima sebagai dosen di universitas tempatnya melamar. Dia mendapat banyak pengalaman, kolega, mahasiswa, dan sahabat. Dia dan tiga temannya menjadi lebih dekat karena tinggal bersama di rumah kontrakan. Sebagai wanita, mereka punya banyak hal untuk dibagikan. Mereka berbicara tentang siswa yang mereka ajar, tempat untuk dikunjungi, dan seorang pria, tentu saja.

Itulah awal dari cerita antara Nona dan Putra. Setelah teman-temannya mengatakan kepada Nona bahwa Putra yang berbakti menyukainya sejak pertama dia melihatnya.

Hanya karena kata-kata temannya itu, Nona mulai selalu mengamati Putra, rekan kerja yang menjadi teman dekatnya. Dia 'menyalakan radarnya' ketika seseorang membicarakan Putra. Dia memperhatikan cara Putra berbicara. Tak sekali pun Nona melihat Putra berbicara kasar. Dan secara perlahan, dia menjadi lebih tertarik padanya.

Meskipun Nona seorang wanita, dia tidak ada niat untuk menyembunyikan perasaannya. Dia ingin Putra tahu bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Teman-temannya pun mendukung hubungan di antara mereka. Mereka selalu menemukan cara untuk membuat keduanya menjadi lebih dekat dan memberi mereka kesempatan untuk berbicara.

Kenyataan bahwa mereka saling menyukai tetapi tidak ada hubungan resmi menjadi perbincangan yang lebih serius di antara teman-temannya. Sebagai seorang wanita di usia tersebut, Nona telah diminta oleh orang tuanya untuk menemukan pria yang tepat yang bisa hidup bersama sebagai seorang suami. Jadi, ketika ibunya bertanya apakah dia punya pacar, dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia memberi tahu temannya tentang ini.

“Aku harus menerima yang lebih dulu datang,” katanya, tapi tidak menceritakan tentang lamaran yang diceritakan ibunya, karena datang terlalu cepat, tanpa dugaan.

Ketiga temannya saling lihat. Mereka tahu tentang situasi yang dimiliki Putra yang berbakti. Sebagai anak tertua, dia harus menjadi tulang punggung keluarga, dia mungkin tidak bisa menyanggupi untuk memulai kehidupan baru dengan kondisi keluarganya saat ini. Dan ketika mereka mengatakan akan bertanya bagaimana pendapat Putra, Nona merasa sedikit khawatir.

Jelas, Nona merasa takut, meski dia benar-benar berharap Putra akan datang sebelum semuanya ditentukan.

Sementara itu, Putra yang Berbakti pun masih berharap jika dia memiliki kesempatan untuk menikahi wanita yang dicintainya. Dia mengerti harus membuat keputusan sebelum semuanya terlambat. Lalu, dia mulai berdoa tiap malam, meminta petunjuk dari Tuhan tentang permasalahan yang dihadapinya, tentang jalan yang harus dia tempuh. Dia tahu jika dia masih punya banyak hal untuk diberikan pada keluarganya. Dan tentu saja dia tidak bisa meminjam uang hanya untuk membiayai pernikahan yang hanyalah akan menjadi langkah awal dari masa depannya. Dia merasa tiba-tiba saja seperti seorang pengecut.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Pada masa berpikirnya, datanglah sebuah kesempatan yang mengetuk harinya. Ketika Putra harus makan malam di luar karena kegiatannya yang terlalu sibuk hari itu, dia melihat Nona di sebuah tempat makan yang sama. Hanya saja bukannya menyapa, dia malah dengan terburu-buru menghabiskan makanannya. Dia jelas tidak ingin terlihat oleh Nona. Meski saat dia menyelesaikan pembayaran makanan, mata keduanya bertemu.

Wajah Nona terlihat pucat. Lalu berusaha keras membentuk senyum di wajahnya, berbeda dengan Putra yang dengan gerakan cepat meningggalkan lokasi. Dia menggigit bibir, menoleh, dan melihat pria di sebelahnya.

Tuan yang lebih dulu datang di rumah Nona adalah orang yang telah meminta izin dari kedua orangtua si gadis. Pria yang ingin mengenalnya lebih jauh. Meski pernikahan yang nantinya akan dia tempuh merupakah perjodohan dari ayah dan ibunya, tapi dia jelas menyukai penampilan, senyum, dan semua tentang Nona. Dan sekarang, tugasnya adalah mendapat perhatian dan kepercayaan Nona.

Setelah pertemuan tiba-tiba mereka, Nona mulai memberi jarak dengan Putra. Dan dari wajah tanpa senyumnya, Putra jelas tahu bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya, bahkan jika Nona akan memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Hanya saja, dia berpikir, hubungan antara rekan kerja atau pertemanan mereka tidak harusnya ikut berakhir. Jadi pada suatu malam, dia menelpon Nona.

Untuk beberapa waktu, Nona tidak mengatakan apa pun, bahkan saat Putra bertanya kenapa. Malah tiba-tiba saja air mata Nona terjatuh. Dia tidak pernah menyadari jika dia sangat mencintai Putra. Dan tidak berselang lama, dia mendengar suara tangis dari seberang telepon.

Sepertinya, meski Putra mengatakan pada dirinya untuk bersikap kuat, dia tidak bisa menahan lagi.

“Aku baik-baik saja,” kata Putra lembut, setelah cukup lama memberi jeda. “Kita masih berteman,” dia menambahkan.

“Aku tahu,” Nona menyetujui. Dia tahu perasaan Putra. Dia berharap Putra akan menemukan gadis yang dia cintai melebihi dirinya, gadis yang akan mencintainya sampai akhir.

Itu percakapan terakhir di antara mereka. Tak ada lagi kata. Mereka juga percaya bahwa jodoh sudah tertulis. Tidak ada yang akan mengambilnya atau tertukar secara tidak sengaja.

*

Jelsyah D. Photo Verified Writer Jelsyah D.

Kirim croissant mu di sini 👉 @jelsyahd

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Kalyana Dhisty

Berita Terkini Lainnya