Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Setan-Setan di Kepala Saya

Luka berteriak setiap detik tanpa ingin berhenti

Tidak pernah bisa saya percaya, bahwa saya masih hidup juga sampai sekarang. Segala cara telah saya lakukan agar mendekati kematian, dan semua percakapan dengan Tuhan sudah saya sampaikan dalam tenang maupun berontak. Mati, ternyata, lebih sulit ketimbang bertahan hidup tanpa gairah apa pun.

Saya terlahir sebagai anak yang biasa-biasa saja, tetapi punya sesuatu yang luar biasa sehingga dengan mudah membuat orang tua mengeluh setiap harinya. Maria, jangan tidur, cepat bantu ibumu memasak, masa anak perempuan tidak bisa memotong sayuran! Maria, apa-apaan kamu, kenapa bermain di tanah! Lihat bajumu, penuh kotoran! Maria, jangan ganggu bapakmu, kasihan baru pulang kerja! Maria, kenapa sih kamu tidak bisa sehebat anak tetangga kita? Lihat teman-temanmu, mereka pintar, dan membanggakan, tidak seperti kamu!

Satu-dua kali saya masih mengerti. Tiga-empat-lima kali saya mencoba menerima. Enam-tujuh-delapan kali saya terpaksa diam, karena orangtua saya tidak memperbolehkan saya membuka suara.

Saya tidak pernah mengeluh dengan keadaan orangtua saya, meski mereka memukul, dan melampiaskan kesusahannya pada saya. Namun dada saya tak pernah berhenti terbakar, ketika mereka membandingkan dan mengejek saya di depan orangtua lain, ketika mereka berkata bahwa anak-anak tetangga lebih baik ketimbang saya, di hadapan banyak orang.

Kepala saya sudah mirip tangki bensin yang siap meledak. Setiap saya bernapas, bahkan saya memikirkan orang tua saya. Kenapa saya harus begini, kenapa saya harus begitu, bagaimana saya mestinya begini, bagaimana saya mestinya begitu. Mereka berkata selalu membebaskan saya, namun yang mereka lakukan justru mengikat saya seolah tubuh saya adalah singa liar yang suatu waktu bisa menerkam siapa saja.

Saya mencoba lari dari rasa sakit yang saya rasakan. Saya pergi ke tempat-tempat orang baik berkumpul. Seperti komunitas, acara musik dan berbagi, sampai pelatihan-pelatihan yang harusnya bisa membentuk diri saya menjadi lebih baik. Namun, setiap kali kaki saya melangkah, orang tua saya selalu melarang. Mulai dari berkata buang-buang uang, sampai mereka bilang saya tidak peduli pada mereka, karena saya tidak berada di rumah.

Segala kitab telah saya baca, dan saya semakin bingung, bagaimana cara memuliakan orang tua saya. Tersenyum salah, menunduk salah, menjawab salah, tertidur berhari-hari semakin salah.

Mula-mula berdamai dalam kegelapan, perlahan-lahan saya menjadi setan.

Saya berdiri sebagai seorang anak yang tumbuh lambat. Sekuat tenaga mempelajari semuanya sendirian. Dalam diam saya menangis, memikirkan cara untuk mati. Tetapi takdir menggiring saya pada hal-hal yang lain. Pada awalnya saya dijauhi, lama-lama saya menarik diri. Kemarin saya dijahili, hari ini saya memukul teman sendiri.

Di rumah, saya sudah kenyang menjadi pecundang, nilai bagus tak dapat penghargaan, nilai buruk dicaci maki bertubi-tubi. Kebingungan terhadap orangtua saya sudah beribu-ribu tingkat, dan saya tak sanggup menguranginya, apalagi meyelesaikannya. Siang malam saya belajar, namun tak penting juga untuk apa, karena bagus buruk saya tetap jelek di mata mereka.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Orangtua saya hobinya marah-marah, dan sibuk mengurusi rumah tangga orang. Mereka kerap kali bertengkar karena urusan orang lain. Ketika tetangga sebelah menikahi anak mereka, orangtua saya berdebat, kenapa mereka bisa dapat menantu kaya, kenapa anak kita tidak bisa. Ketika tetangga depan berbagi rezeki, orangtua saya membenci, kenapa mereka punya banyak uang, kenapa kita malah disusahkan oleh anak satu-satunya.

Setiap kali saya mencoba bangkit, suara-suara dalam kepala saya tambah berisik. Saya gagal menjadi orang baik bagi diri sendiri. Saya justru berkali-kali menyiksa diri, hingga pada tahap yang paling menyebalkan, saya menyakiti orang lain.

Saya membenci diri saya, persis dengan semua yang orang tua saya katakan pada saya. Pertanyaan yang tak sanggup menjawab dirinya sendiri, semakin besar, dan melebar, menyentuh dasar pikiran orang lain, hingga mereka bertanya mengapa saya harus hidup terus menerus dalam keadaan yang berkali-kali tergerus.

Pada usia yang semakin dewasa, saya mencari-cari pergaulan yang bisa menerima saya sekaligus membawa saya lari dari rasa sakit selama ini. Namun, semakin saya berhasil lari dari rasa sakit, saya semakin melakukan hal-hal yang dibenci orang tua saya. Dan saya disebut anak tidak tahu diri, kendati bisa jadi sebetulnya saya hanya ingin mendapat perhatian mereka.

Melawan guru, membolos, merokok, semua sudah saya lakukan, dan saya masih ingin menjadi lebih merdeka. Saya ingin dianggap ada, dan semua yang saya lakukan berbuah kekaguman sekaligus ketakutan dari teman-teman saya. Tidak mau lagi saya disebut atau menyebut diri saya pecundang. Siapa yang melihat saya dengan tajam, suara-suara dalam kepala saya akan nyaring berbunyi lawan, pukul, habiskan! Dan siapa yang melihat saya dengan tatapan tunduk, suara-suara dalam kepala saya akan berteriak, penipu, munafik! Hantam! Permalukan!

Saya tidak ingin, tapi saya harus melakukannya. Saya tidak bisa menahan isi kepala saya yang terus-terusan menilai orang lain akan menjahati saya, membohongi saya, menyakiti saya dengan gerak tubuh dan kata-kata, seperti yang orang tua saya lakukan pada saya selama ini. Dan saya merasa lebih baik ketika rasa sakit yang bertubi-tubi itu pecah dalam pukulan. Saya merasa lebih baik ketika melihat orang-orang menangis, melotot takut, atau bahkan merasa diri mereka tidak berguna. Itu yang ingin saya lihat dari wajah orangtua saya ketika melihat saya. Meski tubuh saya semakin sakit, dan kepala saya semakin tak terkendali.

Dalam hati saya, hanya kasih sayang mereka yang saya inginkan, dan sekali saja mereka lihat saya sebagai seorang anak, atau setidaknya sebagai seorang manusia. Sebab percuma saya hidup dengan berlipat-lipat kesalahan, dan menerima kebencian yang tak habis-habis dari diri sendiri dan orang lain.

Saya akan cuma menyalahkan orangtua, dan orangtua menyalahkan guru-guru, sedangkan para guru menyalahkan saya, dan saya menyalahkan semua orang tanpa pernah bisa menerima diri saya sendiri. Padahal saya hanya ingin mencintai dan dicintai orangtua saya tanpa rasa takut dan bingung sedikit pun.***

Jakarta, 19 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Lebah-Lebah Perusak 

Jihan Suweleh Photo Community Writer Jihan Suweleh

Masih mencoba berpikir, kalimat apa yang cocok untuk dijadikan bio.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You