Comscore Tracker

[CERPEN] Gadis Bergincu Merah Muda

Sesalnya adalah ketika mengetahui fakta soal Bapaknya

Syailla Agnia. Gadis berusia awal dua puluh tahun itu tidak pernah puas dengan segala macam pemberontakannya kepada sang Bapak. Ia kerap pulang larut malam, atau malah tidak pulang ke rumah. Tidak peduli pada hujan atau badai yang menerjang. Ya, begitulah prinsipnya. Tidak ada satu hal pun yang dipedulikannya, termasuk bapaknya. Asalkan ia puas dengan segala tuntutannya kepada duniawi, gadis bertubuh mungil itu tidak akan merasa menyesal atas apa yang telah dilakukannya.

Malam-malam berlalu, Agni masih sama seperti ia dari dua tahun yang lalu. Gadis berlesung pipi dan bermata belok itu memang sudah melakukan protesnya terhadap perceraian kedua orangtuanya sejak berusia delapan belas tahun.

Saat itu Agni masih tidak terlalu berani melakukan tindakan-tindakan yang mempertaruhkan masa depannya. Berbeda dengan sekarang, bahkan minuman beralkohol lagi memabukkan, atau tidur bersama banyak lelaki, ia tidak peduli. Semua dilakoninya asalkan dia bahagia. Baginya, tidak ada cinta yang tulus. Tidak pula dengan kasih sayang yang abadi. Semua hanya semu, tampak saat sedang dijalani, dan ketika telah berlalu, semua hanya menjadi masa lalu.

“Agni, Nduk… kamu mau ke mana lagi?” Tarno menyapa putrinya yang sedang mematung di depan cermin.

“Untuk apa Bapak masuk ke kamar Agni? Hanya mau bertanya seperti itu? Oh ayolah, Pak. Agni bukan anak kecil yang bisa dibodohi. Ini kehidupan yang Agni mau. Tentunya Bapak sudah tahu, kan, Agni mau ke mana?” Jawab Agni sambil memoleskan gincu merah jambu pada bibir mungilnya. Sesekali ia tampak menggerakkan bibirnya ke kanan-kiri, memeriksa apakah gincunya sudah menempel dengan sempurna.

“Bapak tahu, Nduk. Tapi kamu sudah berusia dua puluh tahun, masa depanmu harus mulai ditata dari sekarang.” Tarno masih saja gigih menasihati putrinya, meskipun keberdaannya selalu tidak dianggap. Sedangkan Agni hanya diam, sesekali mencuri pandang untuk menatap keberadaan Bapaknya melalui cermin yang ada di hadapannya.

“Bapak tidak perlu ikut campur dengan urusan Agni.”

Bagai tersayat sembilu, begitulah perasaan Tarno setiap malamnya. Pedih, tentu ia mendapatkan kepedihan yang bertubi-tubi. Bagaimana tidak, ketika ia berusaha untuk melindungi putrinya, bahkan gadisnya itu tidak pernah mau tahu atas apa yang dilakukannya.

**

“Hai, Sayang… sudah lama menunggu?” Sapa Agni pada seorang lelaki bertubuh gempal yang tengah duduk menikmati satu gelas kecil air berwarna keruh. “Kamu mau minum-minuman lagi?” Tambah Agni sambil mengerling jahil.

“Aku sudah lama menunggumu, mengapa bisa sampai terlambat? Apa mobil yang kubelikan sudah kau jual, Agni?” Lelaki berdasi biru muda itu segera merengkuh pinggang Agni, membawanya pada jalan yang telah ditentukannya.

“Kau tidak mau mendengarkan jawabanku dulu?”

“Tentu tidak, pasti soal Bapakmu yang pecundang itu, kan?”

Keduanya pun saling menatap, kemudian beringsut pergi meninggalkan bangunan yang dipenuhi pendosa itu.

Agni tidak sadar jika selama ini ada mata yang mengintainya. Mata yang selalu basah ketika melihat Agni digandeng oleh lelaki yang selalu berganti-ganti setiap malamnya. Perih itu pun muncul lagi jika situasinya sudah seperti ini, bahkan berkali-kali lipat.

“Sadarlah, Nduk… langkahmu sudah salah.” Seorang pengintai yang tak lain adalah Bapaknya itu selalu merapalkan kalimat yang sama. Ia sangat berharap putrinya tahu apa yang telah dilakukannya itu salah, apa pun alasannya.

Tarno segera men-starter motor bututnya. Ia harus segera membuntuti Agni bersama seorang lelaki berdasi itu. “Ke mana anakku akan dibawa?” Batin Tarno. Ia mulai cemas. Kali ini, dengan susah payah Tarno mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dan berharap perjalanannya akan baik-baik saja demi mengetahui akan di bawa ke mana Agni oleh laki-laki tak dikenalnya itu.

Lima puluh empat tahun, Tarno sudah merasa bahagia bisa hidup selama itu demi menyaksikan putri semata wayangnya tumbuh dewasa. Namun, apa yang pernah dikhayalkannya ternyata tidak berjalan mulus. Setelah perceraiannya dengan Kartina, kini ia harus susah payah untuk mencoba melindungi putrinya yang kini sikapnya bahkan tidak dikenalinya lagi.

**

Mobil berwarna hitam itu berhenti setelah menempuh perjalanan sekitar delapan puluh menit. Tarno pun ikut menghentikan laju motor bututnya. Kini ia harus fokus untuk mengamati gerak-gerik putrinya, meskipun hatinya perih. Ia tahu, harusnya yang dilakukannya adalah memanggil dan menyeret Agni untuk pulang. Sayangnya, itu akan percuma, karena Tarno pernah melakukannya dan malah berakhir dengan Agni yang masuk rumah sakit karena anak itu memilih berlari dan menabrakkan dirinya pada mobil yang tiba-tiba melintas di hadapannya. Untungnya Tuhan tidak mencabut nyawa Agni saat itu. sehingga sekarang Tarno masih bisa melihat wajah putrinya.

Tubuh Tarno sedikit menggigil terkena embusan angin malam. Ia pun hanya menatap punggung Agni dan lelaki berdasi itu kian menjauh. Di bawah pohon rimbun di seberang jalanlah Tarno kini berada. Memarkirkan motornya di dekat semak-semak, dan menyembunyikan tubuh rimpuhnya di belakang pohon. Sesekali ia mengintip, memastikan Agni masuk dengan selamat. Dan, berharap putrinya pun akan keluar dengan selamat pula, lantas segera pulang ke rumah.

Sayangnya, kali itu semua berjalan tidak seperti biasanya. Perasaan Tarno benar, sesuatu yang tidak diinginkan memang sedang terjadi di dalam. Rumah berlantai dua, dengan banyak lampu terang yang menyala itu hanya menjadi saksi. Ya, saksi atas penyesalan sekaligus sebuah kematian.

Tarno berlarian menuju pintu gerbang rumah mewah itu. Ia pun harus berjibaku dengan laki-laki berotot yang dibayar oleh sang empunya untuk menjaga rumah tersebut. Petir menyambar, hujan pun menyusul tidak lama kemudian. Lengkap sudah penderitaan Tarno. Di saat ia tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan tiga orang yang ada di hadapannya, suara jeritan yang meronta-ronta meminta tolong pun terdengar semakin keras.

Batin Tarno hancur. Ia tidak tahu apa yang sedang lelaki berdasi itu lakukan kepada putrinya. Namun, Tarno sempat melihat putrinya, Agni, keluar dengan baju yang sudah robek di sana-sini. Kedua tangan gadis itu berulang kali mengusap sudut bibirnya yang terlihat hitam dari kejauhan, dan sesekali menyentuh perutnya, seperti menahan kesakitan yang teramat.

Lalu, tidak lama setelah itu, Tarno hanya tersenyum. Hatinya lega, karena setidaknya putrinya bisa keluar dengan keadaan selamat. Meskipun entah kesakitan seperti apa yang sedang dirasakan oleh gadis bergincu merah jambu itu sekarng. Yang jelas, Tarno merasa lega dan tidak apa-apa jika ia harus memejamkan mata.

**

“Maafkan Agni, Pak. Sungguh! Kumohon, bangunlah….”

Agni menuntut pada Bapaknya yang selama ini tidak pernah ia anggap. Ia memang masih belum menyadari kesalahannya saat membawa lelaki yang dibencinya itu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sampai pada saat ia menemukan sebuah catatan kecil di saku jaket kulit yang Bapaknya kenakan.

“Hari ini, Agni, putriku sudah berusia dua puluh tahun. Aku bahagia karena dia sudah dewasa, mungkin dengan bertambahnya usia, dia akan menjadi lebih tahu mana hal yang salah dan benar. Semoga putriku bisa memilih jalannya dengan baik. Aku hanya bisa menahan perih setiap kali mengikuti kepergiannya, setiap malam, bersama lelaki yang berbeda. Meski aku hampir tidak sanggup menyaksikannya, tetapi aku harus mengawasi dan melindunginya, karena jika aku membawanya pulang, dia malah akan membunuh dirinya sendiri. Suatu saat ia harus tahu jika Ibunya-lah yang telah meninggalkan kami bersama lelaki lain. Ia harus mengerti, aku tidak pernah berselingkuh dan menceraikan ibunya.”

Air mata Agni menetes, dadanya terasa sangat sesak. Batinnya sangat perih. Ia telah salah menilai Bapaknya. Ia tidak tahu jika selama ini Bapaknya—yang dianggapnya pecundang dan jahat, selalu mengikuti kepergiannya. Dan, sekarang ia harus menunggu dokter keluar untuk mengatakan bahwa Bapaknya baik-baik saja.

Sayangnya, perempuan berjubah putih yang keluar dari ruangan Bapaknya itu berkata, “Mohon maaf… Ayah Anda tidak dapat diselamatkan dengan belasan luka tusuk yang sudah diterimanya.”

Agni menjerit histeris, ia tidak peduli dengan lukanya. Karena ia memang bukanlah seseorang yang memiliki kepedulian. Namun, malam ini ia peduli pada Bapaknya. Kepada lelaki yang telah meregang nyawa karena ingin melindunginya.***

Baca Juga: [CERPEN] Mantra-mantra dan Sepasang Sayap untuk Helena

Keza Felice Photo Verified Writer Keza Felice

Menyukai hal berbau horor.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya