Comscore Tracker

[Cerpen] Misteri Dua Wanita Tak Kasat Mata

Siapa sebenarnya dua wanita itu?

Malam semakin larut, embusan angin malam semakin kencang. Daun-daun bergoyang seirama, terlihat begitu indah dalam keremangan. Tapi, kedua mata ini menangkap satu keganjilan yang tak pernah kutemui sebelumnya.

Aku melihat seorang wanita yang menggandeng anak kecil. Mereka mengenakan pakaian yang sama, putih nan lusuh.

Aku ingin berlari, tetapi kursi kayu ini seolah menahan tubuhku. Leherku menjadi kaku, dan terasa dingin seolah ada embusan nafas seseorang dari arah belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata, mendengar suara tangisan anak kecil yang merintih, meminta tolong entah pada siapa. 

Detik selanjutnya, aku mencium aroma busuk yang menyengat. Dan, tiba-tiba saja wajahku terkena percikan. Darah! Tubuhku menggigil saat menyadari bahwa wajahku terkena percikan darah. Aku ingin sekali memberontak, tetapi rasanya seperti ada yang mengikat tubuhku di kursi ini.

Embusan angin malam kembali terasa menusuk kulit. Pijar lampu di teras rumah meredup, tidak seperti biasanya. Daun-daun di pepohonan yang sebelumnya mengalun begitu indah berubah menjadi menyeramkan—seperti digoyang oleh kekuatan gaib.

Waktu seolah berjalan melambat. Hingga akhirnya, aku melihat rumah kosong di ujung komplek dengan sangat jelas. Rumah yang terlihat membesar, seperti ingin menelanku hidup-hidup.

Kini kursi yang kududuki pun berjalan terseret, membawaku ke dalam sebuah ruangan kecil berdebu—dan ini sangatlah aneh. Ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba dan jejak kaki yang berlumur darah.

Ini adalah rumah kosong yang terlihat begitu besar olehku, beberapa menit yang lalu. Dan, ternyata anak kecil itu berada dalam ruangan ini. Dia duduk di atas ranjang dengan posisi punggung yang membelakangiku–hanya berjarak 2 meter. Rambutnya terurai, menjuntai ke lantai. Tangannya memanjang, menggerayangi atap ruangan. 

Ruangan kecil seperti bekas terbakar dan rasanya sangat tidak asing bagiku. Hanya saja sekarang terasa berbeda, mungkin dikarenakan kondisi ruangan yang telah rusak parah.

Aku kesulitan mengambil napas, rasanya sangat pengap. Dan, bertambah semakin sulit saat kurasa ada sesuatu beda yang menyentuh ujung kakiku. 

Tangan anak kecil itu menggerayangi ujung kaki ini, sedangkan tubuhnya masih duduk di atas ranjang yang sama. Jemarinya perlahan menggerayangi lututku kemudian berpindah pada ulu hati. Jari-jarinya nampak kurus dan pucat, dengan kuku-kuku panjang yang hitam. Sepertinya tubuhku akan terkoyak saat ia berhasil menembus ulu hatiku dan merobeknya.

Suara gesekan antara pintu ruangan dengan lantai terdengar mengerikan, Pada waktu yang bersamaan, ada rasa sedih bercampur dengan ketakutan yang membuatku menjadi dilema. Rasanya, aku pernah hidup dalam ruangan ini untuk waktu yang lama. Tapi, aku sama sekali tidak mengingatnya. Kecelakaan dari dua tahun yang lalu telah membuatku kehilangan ingatan. 

Saat pikiranku sedang berusaha mengingat kenangan itu, datanglah seorang wanita yang mengenakan pakaian putih cantung berjalan ke arahku. Wajahnya terlihat tak asing bagiku. Usianya pun sepertinya terpaut tak jauh dari usiaku.

Wanita itu segera mendekat, menggenggam jemari anak kecil yang terletak pada ulu hatiku. Mereka menggesekkan kuku-kuku tajamnya pada pakaianku, hingga lepaslah satu persatu kancing bajuku. Dan kini tubuhku terasa sangat dingin, sebab jemari mereka sepenuhnya telah menyentuh kulitku. 

Dalam waktu yang bersamaan, tubuh anak kecil itu mendekatiku—tangannya memendek. Dia duduk di pangkuanku, dan menatapku dengan saksama. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya berwarna biru kehitaman—serupa dengan lingkaran kantung matanya.

Anak kecil itu mengalungkan kedua tangannya pada leherku, menyandarkan kepalanya pada dadaku. Dia memperlakukanku seolah aku ini adalah ayahnya. Aku yang benar-benar ketakutan pun tak kuasa untuk berbuat sesuatu. Kecuali, tetap menjaga kesadaranku sendiri. 

Saat aku mencoba untuk memahami semua kejadian ini. Tiba-tiba wanita paruh baya yang berdiri di hadapanku menatapku dengan penuh kesenduan. Dia melepaskan sentuhannya dari ulu hatiku, menyibukkan tangannya dengan merapikan rambutnya, dengan menggunakan sisir berwarna coklat.

Aku melihat dengan jelas potongan-potongan kulit kecil yang terkelupas, dan berwarna hitam saat ia menyisiri rambutnya. Ada gumpalan nanah pada wajah sebelah kanannya. Urat-urat tipis di wajahnya pun seolah berjalan, kemudian menembus gumpalan nanah itu.

Aroma amis bercampur busuk menyeruak ke dalam hidungku. Gumpalan nanah itu telah pecah. Wajah wanita itu semakin mengerikan. Seluruh kulitnya terkoyak, pori-pori pada wajahnya mengelurkan darah serta nanah. 

Tiba-tiba saja wanita itu menarik anak kecil yang berada di pangkuanku, dan membaringkannya di atas kasur. Wanita paruh baya itu berjalan dengan sangat kaku. Tangannya menunjuk ke arah wajahku, sembari mendekatkan wajahnya hingga akhirnya kami saling bertatapan.

Pupil matanya berlubang dan mengeluarkan ulat-ulat kecil yang terus saja berjatuhan. Kulihat bayang kesedihan dari kedua bola matanya yang berwarna putih. Wanita itu menganga dengan sangat lebar, memperlihatkan giginya yang hitam dan tajam. Lidahnya yang terkoyak menjulur meneteskan liur di kakiku.

Aku meneteskan air mata, seolah merasakan sebuah kesedihan yang dirasakannya. Anak kecil yang duduk di atas ranjang itu pun berjalan dan kembali mendekatiku. Dia memelukku dari arah belakang. Sedangkan wanita di hadapanku berusaha untuk membisikkan sesuatu padaku.

Rambutnya yang panjang terkesiap seketika. Memperlihatkan lehernya yang sudah membusuk. Kedua mataku pun tak sengaja menatap satu benda yang melekat pada lehernya. Dan, menjadikanku tidak peduli lagi pada apa yang akan terjadi padaku.

Ruangan ini begitu gelap. Namun aku dapat melihat dengan jelas benda itu pada lehernya. Seolah Tuhan sedang memberiku keajaiban. Aku sudah tidak peduli meski wanita itu terus menjilati leherku dengan lidahnya yang busuk lagi menjijikkan itu. 

Semua terasa begitu dekat denganku. Aku seperti mengenali semuanya. Apa yang pernah terjadi antara aku dan mereka? 

Kepalaku menjadi sangat berat. Sepertinya otakku sedang mengumpulkan puing-puing ingatan masa laluku sejak wanita itu membisikkan sesuatu–sesuatu yang tidak dapat kumengerti sama sekali.

Kalung. Aku pernah memakaikan kalung itu pada seorang wanita yang pernah kunikahi. Tatapi, tujuh tahun setelah kami bersama, aku meninggalkan istri dan anakku, sebab ada sebuah tugas yang harus kupertanggung jawabkan di luar kota. 

"Anak kecil ini?" Aku bertanya dalam batinku sendiri.

Air mata terurai begitu saja dari kedua sisi mataku. Kedua sosok menyeramkan itu pun dengan cepat berjalan menjauhiku. Mereka berdiri menghadapku, menyuguhkan senyuman yang begitu manis dan membersamainya dengan lambaian tangan.

Saat itu, mereka menunjukkan sebuah kaset dan radio kecil yang terletak di atas meja yang sudah tak utuh lagi. Tanpa pikir panjang, aku pun segera berdiri dan meraihnya. Hatiku yakin, bahwa ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan padaku melalui benda itu.

Dengan sigap, aku memutar rekaman pada kaset yang terletak dalam radio kecil itu. Mendengarkannya dengan saksama.

Aku mendengar suara jeritan dan juga benturan antar benda dalam sebuah ruangan. Mereka berteriak, meminta tolong pada seseorang untuk memadamkan api dan juga melepaskan ikatan pada tubuh mereka.

Tak lama dari permintaan itu, aku pun kembali mendengarkan sumpah serapah untuk seseorang yang membakar mereka. Sepertinya suara itu adalah suara istriku. Dia bersumpah akan memberikan hukuman yang setimpal pada mereka setelah berhasil memberitahuku.

Aku pun menangis penuh penyesalan setelah mendengarkan semuanya. Istri dan anakku telah mati. Mereka membunuh keluargaku.

Kupandangi kepergian kedua wanita terkasihku. Rasanya, aku tak layak lagi untuk hidup. Tapi, aku harus membalaskan dendam Ningsing, istriku. Pada mereka, pembunuh yang tidak pantas dibiarkan hidup dengan bahagia di atas penderitaan istri dan anakku.

Ningsih, aku akan membalaskan dendam keluarga kita!

Baca Juga: [CERPEN] Memoar Kematian

Kaila Photo Community Writer Kaila

Menyukai susunan kata

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You