Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Jangan Panggil Aku Lemot

Aku hanya ingin dimengerti

“Dasar  bodoh!  Lemot!  ini tak bisa, itu tak bisa, jadi apa sih yang kamu bisa?”  hardik Vanya sambil melempar makalah kelompok yang ditugaskan padaku.

Aku pun terdiam tanpa kata sambil memunguti kertas yang berserakan di lantai sambil mengurut dada. Hanya  inilah yang bisa kulakukan karena ini  sudah menjadi makanan sehari-hariku di sekolah. Entah apa yang membuat Vanya begitu membenciku, aku lebih memilih diam, aku tak mau mencari ribut, hanya sabar dan terus bersabar yang bisa kulakukan meskipun hatiku begitu sedih.

Melihat kejadian yang demikian, teman dekatku yang  juga sebangku denganku lah yang selalu peduli padaku, dia selalu menghiburku dan mengerti kekuranganku dan aku juga tak lupa mengadu pada pemilik segala dan itulah yang membuatku tenang. Vanya memang anak yang pintar, cantik dan kaya, sayang hatinya tidak secantik parasnya, apa pun hal yang tidak disukainya akan selalu dia maki dengan nada yang ketus dan kasar tanpa memikirkan perasaan orang lain akan terluka.

Perkenalkan aku Mia, aku adalah penyandang disabilitas, orang-orang bilang aku seorang tunagrahita, lemot, idiot. Terserah  orang mau berkata apa, terserah apa  sebutan yang ingin diberikan padaku, toh aku tak mengerti juga semua tentang istilah yang  mereka lontarkan,  yang penting aku selalu berusaha bersyukur dalam hidupku.

Aku memang terlahir sebagai anak yang mempunyai IQ lemah dan ada gangguan pada motorik halus, cara berbicaraku sedikit gagap, mataku minus sehingga harus memakai kacamata yang tebal,  jari tanganku tak cukup kuat untuk menopang beban yang agak berat sehingga pekerjaan rumah yang membutuhkan kekuatan tangan tak bisa kulakukan, bahkan untuk memasukan benang dalam jarum pun aku merasa sangat kesulitan dan akhirnya memang tak bisa.

Ibuku pernah bercerita kalau dulu aku lahir prematur, hampir saja nyawaku tak tertolong karena kondisiku yang lemah, sehingga aku harus berada di inkubator selama berhari-hari, aku diharuskan mengonsumsi obat sampai usia balita agar aku bisa bertahan hidup, mungkin karena pengaruh itulah, fungsi  kerja otakku terganggu, dan aku sering sakit-sakitan hingga sekarang.

 Aku tak bisa merespon secara cepat terhadap apa yang dikatakan orang-orang, materi pelajaran di sekolah pun sangat sulit untuk kucerna, pekerjaan apapun yang kulakukan terkesan sangat lamban, sehingga temanku sering tak sabar dan geram melihat diriku, untungnya aku memiliki guru yang menyayangiku, beliau selalu sabar membimbingku, terkadang aku malu pada teman, guru bahkan diriku sendiri. Tapi  semangatku takkan pernah padam, karena ada keluarga yang selalu menyemangatiku, aku tetap akan menjadi orang baik dengan segala keterbatasanku meski banyak orang yang membenciku, sebab hanyalah itulah yang bisa kupertahankan saat ini.

Untuk kesekian kalinya, aku di-bully lagi oleh teman-temanku, mereka yang tak mempunyai belas kasihan, tega merobek-robek  semua bukuku dan buku pekerjaan rumahku (PR) yang dengan susah payah aku kerjakan semalam suntuk di rumah, tasku pun juga disembunyikan entah kemana. Alhasil, aku dimarahi oleh guru karena tidak mengumpulkan tugas, guruku tak mau mendengar alasan apapun.

Akupun menangis sejadi-jadinya, tak banyak yang bisa kulakukan, aku hanya pasrah dengan keadaanku. Beberapa lama kemudian, aku mengetahui siapa otak dari semua kejadian ini, ternyata dia adalah Vanya, dia diam-diam menyuruh  temannya untuk mem-bullyku. Vanya sengaja membuatku marah dan tidak betah dengan keadaan ini, dia ingin aku pindah dari sekolah ini,  karena dia tidak ingin satu sekolah dengan orang sepertiku.

Suatu ketika aku berada di titik jenuh, aku memilih mengurung diri di kamar dan tidak mau sekolah, aku bermenung memikirkan nasibku, kupandangi langi-langit kamarku dan juga gambar-gambar yang ada di dinding kamarku, benda-benda itu seakan ikut menghina keadaanku.

“Aahhhh....!”

“Apa gunanya aku  hidup? kenapa aku selalu menyusahkan orang-orang disekitarku?

Tiapa hari hanya makian yang kudapat, apa aku tak punya hak untuk bersekolah layaknya anak-anak normal? “ gumamku dengan penuh kekesalan.

Saat itu, aku merasa hilang kendali, kubosan dengan hidupku. Tiba-tiba ibuku datang menghampiri dan duduk di sampingku,

“Ada apa denganmu,  Nak? kenapa dari tadi mengurung diri di kamar? Kenapa hari ini kamu tak ke sekolah? Jujurlah, jangan bohongi Ibu.” Tanya Ibu penasaran

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Ma... maaf, Bu. Se... sebenarnya aku, aku  tak sakit, ha... hari ini aku merasa tak  semangat, a... aku sangat sedih, aku merasa tak be... berguna, Bu!” jawabku terisak dengan bahasa tersendat-sendat.

“Istighfar, Nak! Apa yang kamu katakan? Kamu tak boleh berkata seperti itu lagi, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, orang buta, orang tuli sekalipun pasti ada gunanya apalagi kamu yang fisiknya masih lengkap.” kata ibu sambil memelukku.

“ Iya, Bu... ta... tapi kenapa aku merasa tak punya ke... kelebihan apapun, hanya ke... kekurangan yang nampak .” Timpalku dengan gaya bahasa gagap.

“Pssst... cukup! jangan ulangi lagi! Mana anak Ibu yang dulu selalu punya semangat? Nak, kamu harus tetap bersyukur, sebetulnya banyak kelebihan  dalam darimu yang tidak kamu sadari, kelebihan itu tak hanya soal kepintaran, hati yang baik pun, itu  satu kelebihan, kamu suka membantu,  selalu patuh dan hormat pada orang tua saja sudah cukup membuat ibu bangga. Banyak anak-anak di luar sana yang memiliki kepintaran tapi tidak tau norma dan sopan santun, dan kamu jangan seperti itu,  pertahankan sikap baikmu, jangan seperti mereka” Ujar  ibu menasehati.

“I... iya, Bu.” Jawabku sambil mengangguk dan berpikir lama untuk mencerna perkataan ibu.

“Apa yang  terjadi di sekolahmu, Nak? Apa ada yang tidak beres? Coba ceritakan pada Ibu!” tanya Ibu serius

Aku pun menceritakan semua kejadian yang kualami di sekolah, aku tak sanggup lagi bila harus menyimpan semua ini, alangkah kagetnya ibu mendengar ceritaku seakan beliau tidak terima kalau anaknya diperlakukan seperti itu di sekolah. Kemudian akhirnya Ibu mengusulkan agar aku pindah ke sekolah luar biasa tak jauh dari tempat tinggalku, semula aku merasa berat hati karena harus menghadapi lingkungan baru, tapi demi kebaikanku akan kuturuti semua perintah Ibu.

Keesokan harinya ibuku mengurus kepindahanku dari sekolah lama ke sekolah yang baru, ada rasa aneh ketika pertama kali ku menginjakkan kaki ke Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk mendaftarkan diri, aku melihat keceriaan di wajah siswa SLB, padahal  sebagian mereka ada yang tidak bisa melihat, ada yang tidak bisa berjalan karena kaki yang cacat, ada yang tangannya tidak ada sama sekali dan ada yang tidak bisa bicara dan mendengar, semua ini sangat kontras dengan keadaan di sekolah lamaku.

Sepulang dari sana, aku teringat anak-anak di SLB tadi, aku menjadi sangat bersyukur, walau dengan keadaanku yang seperti ini tapi setidaknya aku tidak seperti mereka, mereka sepertinya selalu semangat menjalani hari, kenapa tidak denganku? Aku bergumam.

 Pada pagi harinya dengan semangat baru aku berangkat ke sekolah baru, teman-teman baruku  antusias denganku, mereka datang berkenalan padaku, ada rasa berbeda ketika berada di tengah-tengah mereka, mereka tidak mengenal kata bully, mungkin karena mereka sudah saling memahami dengan berbagai kekurangan mereka, yang aku temui hanya rasa kebersamaan, saling bahu membahu membantu meringankan apabila salah satu dari mereka membutuhkan.

Sungguh ku kagum dengan semua ini, hari demi hari kulalui di tempat baruku, aku banyak belajar tentang segala hal, kepercayaanku diriku kembali muncul, aku tidak lagi dituntut memiliki nilai rapor yang tinggi karena yang kami butuhkan di sini sebetulnya adalah menggali  ketrampilan diri untuk bekal masa depan kami, di sini aku diajari banyak hal, belajar mengurus diri sendiri, belajar berbagai ketrampilan hidup sesuai bakatnya masing-masing, ada yang belajar menjahit, belajar membatik, belajar menggambar, belajar berkebun, belajar mencuci motor, belajar memasak, belajar membuat kerajinan dari barang bekas, dan lain-lain.

Di sekolah ini aku mengambil  ketrampilan memasak, aku diajari cara menghidupkan dan mematikan  kompor, mengenal bahan dan cara membuat berbagai masakan, hingga mengkreasikannya. Semuanya kudapat dari guru-guru yang ikhlas dan sabar dalam mengajari kami, aku yang semula tidak pernah diajari memasak di rumah, sekarang sudah bisa membantu  bahkan membuat masakan sendiri semampuku walau terkadang  ibuku menolak karena kasihan denganku, tapi setelah aku beri penjelasan atas apa yang terjadi di sekolah baruku, ibu menjadi sangat senang dan bangga.

Semoga dengan keterampilan yang kami miliki nanti bisa mengantarkan kami untuk mendapat  lapangan kerja setelah kami tamat, kami memang punya keterbatasan, tapi kami punya semangat tinggi untuk belajar, jangan panggil kami dengan gelar yang buruk dan jangan memandang kami sebelah mata, kami juga sama-sama punya hak untuk hidup dan  berkarya. Kami tidak meminta untuk menjadi seperti ini, tapi inilah takdir kami dan akan kami jalani dengan kesyukuran. Semoga  kalian bisa mengambil pelajaran dari kami, betapa berharganya semua yang diberikan oleh Tuhan, jadi bersyukurlah atas apapun hidupmu.

***

Bintan, 29 April 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Diary Sarah

Lathifah Photo Community Writer Lathifah

Try to be a good woman n better

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You