Comscore Tracker

[CERPEN] Akhir Tragis tanpa Tangis

Aku tak bersalah, ia yang serakah

Baru selangkah memasuki rumah, tamparan keras berhasil memerahi pipiku. Tampaknya ia kesal karena aku pulang sedikit terlambat. Kali ini pria tua yang tak kuharapkan menjadi ayahku-- itu langsung merogoh semua kantong dan mengeluarkan isi tasku, berharap menemukan sesuatu yang ia inginkan.

"Yang kemarin tak cukup, hah?" Nadaku memekik, mencapai amarah.

Tamparan kedua terasa lebih keras lagi. Telingaku sampai iba dan tak mau merekam suara mengenaskan itu.

"Dasar! Masih bisa melawan?" Ia marah lalu memberantakkan barang-barangku dengan kakinya.

Aku masa bodoh dengan apa yang akan terjadi. Semuanya mengerikan untuk dibayangkan. Kemungkinan terburuknya mungkin saja ia berniat membunuhku.

Aku menjatuhkan lutut ke lantai, memasukkan kembali barang-barangku ke dalam tas. Mata keji itu hanya menatapku sambil terus mendengus kesal. Sesekali ia menendang tubuhku karena tak menghiraukan keberadaannya. Karena merasa sangat lelah, aku hanya peduli untuk segera masuk kamar dan tidur.

"Kau pasti punya! Beri saja padaku, atau nanti aku akan menjual barang-barangmu dengan paksa!" Ia berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Astaga, berisik sekali.

"Enyahlah! Kau sudah banyak merepotkanku," teriakku dengan sisa tenaga yang mendukungku.

Suara telepon tiba-tiba berbunyi di tengah pertengkaran rutin ini. Syukurlah, telepon itu membantuku mengakhiri hawa panas yang tak kunjung reda. Langkahnya sudah terdengar samar, membanting pintu dan langsung bergegas pergi.

Tubuhku yang sudah sangat lelah harus kupaksa untuk beranjak dari kasur. Kubuka laptop dan segera mengerjakan tugas deadline. Bekerja paruh waktu di sebuah restoran membuatku tak disiplin menuntaskan kewajiban kuliah.

*

Pagi harinya, masih setengah sadar, pintu kamar kembali dipukul-pukul disertai teriakan yang suaranya rancau tak karuan. Sepertinya efek mabuk semalam belum hilang.

"Hei! Kau itu anak ayah, bukan? Keluar!" Teriaknya dengan nada naik turun.

Cih, sejak kapan aku sudi dianggap anaknya?

"Apa lagi, sih?" Akhirnya mulutku bersuara. Walaupun rasanya enggan, situasi akan lebih buruk jika aku mencampakkannya, terlebih lagi di saat kondisinya masih mabuk begini.

"Uang lah, apa lagi?"

"Tak ada." Aku memang berbohong. Semua uang dan ponsel kutitipkan pada temanku yang kupercaya. Hanya ada laptop dan beberapa buku kuliah yang kusembunyikan.

Tiba-tiba terdengar suara ricuh dari dapur. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian, langkahnya mendekati kamarku.

"Cepat buka! Aku sudah bawa pisau untuk menghancurkan pintunya."

Aku menganga tak percaya. Mau apa sebenarnya pria belang itu? Benar-benar ingin membunuhku? Akhirnya dengan cepat kubuka kunci pintu dan menjumpai wajahnya yang benar-benar dirasuki amarah.

Tanpa basa basi dan masih dengan pisau di tangannya, ia menggeledah seluruh isi kamar. Aku yang kebingungan dan khawatir ia akan menemukan laptopku, segera menahan tubuhnya agar tak bertindak lebih jauh. Diriku hanya terkulai lemas di lantai sambil menahan pergelangan kakinya. Aku masih tak siap dengan sikap barunya yang bertambah keji.

"Ah, ternyata selama ini kau menyimpan laptop, hah?"

"Kumohon, jangan. Itu satu-satunya hadiah dari mendiang Ibu."

"Cih, Ibu apanya. Semua wanita sama-sama berengsek. Minggir!"

Aku masih terus menahan kakinya sekuat tenaga. Penolakannya pun lebih besar. Akhirnya kucoba berdiri, tanganku segera merampas laptop di dekapannya. Berkali-kali terjatuh, aku tetap tak boleh menyerah walau harus berdarah-darah sekalipun.

Otakku memutar cepat, harus bagaimana agar diriku bisa selamat. Mataku langsung tertuju pada pisau yang dibawanya tadi tergeletak di laci.

"Apa kau tak cukup puas dengan semua yang sudah kuberi?" Aku mendekatinya yang memasang ekspresi kaget karena pisau itu sekarang ada di tanganku.

"Kau rampas uangku, kehidupanku, bahkan Ibuku!" Langkahnya perlahan mundur, matanya takut akan benda tajam itu.

"Sekalian saja ambil nyawaku!" Tubuhnya terhenti karena menabrak tembok. Langkahku pun ikut terhenti. Padahal tinggal beberapa senti saja pisau itu bisa menembus dadanya.

Dengan laptop yang masih berada di pelukannya, kakinya tiba-tiba menampik tanganku yang gemetaran dan penuh keringat. Pisau yang terlihat mengilap itu jatuh ke lantai dan aku tak kuasa mengambilnya. Ia mengambil langkah tergesa-gesa, mencoba segera melarikan diri dariku.

Marah sekaligus kesal, aku langsung berbalik badan dan menjambak rambutnya dengan kuat. Tanganku terus berusaha merampas laptop hingga hampir berhasil kudapatkan kembali. Sambil berdoa dalam hati, aku ingin Tuhan memberikan sedikit kekuatan, sebentar saja. Kakiku secara tak terduga mendorong perutnya dengan hebat dan ia terjatuh, mungkin sudah pingsan. Aku akan segera berkemas dan pergi dari rumah ini.

Langkahku terhenti melihat aliran darah dari belakang kepalanya. Merah pekat di atas lantai putih. Dengan rasa takut, perlahan aku mendekatinya. Kuperhatikan dari atas hingga ke bawah. Dadanya tak bergerak. Sontak ku dekatkan jariku ke lubang hidungnya. Tak ada hembusan. Sama sekali.

Aku tak bisa berpikir jernih. Jika ditemukan dalam kondisi begini, jelas aku akan menjadi tersangka dan akan menghabiskan hidupku di balik jeruji besi. Sangat hina.

Dengan pikiran yang belum jernih juga, aku mengambil pisau yang tergeletak tak jauh dari jangkauanku. Tanganku makin bergetar hebat. Aku menghela napas panjang dan menggoreskannya pada pergelangan tanganku. Dalam hitungan detik, darah bercucuran deras. Aku akan menemui Ibu segera. Senang rasanya.

Tak lupa, aku segera mengelap gagang pisau dan menaruhnya di genggaman pria yang sudah tak bernyawa itu. Terima kasih, tak kusangka pertemuan dengan Ibu bisa terjadi secepat ini. Terima kasih, Ayah. Iya, aku baru sudi menyebut dirinya ayah.***

Baca Juga: [CERPEN] Orang-orang Asing yang Membunuh Kami

Fiah Rina Photo Writer Fiah Rina

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya