Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Selamat Jalan, Zach!

Aku sudah memaafkan semua perbuatanmu

Aku Ayana, masih ingatkah kamu padaku? Hari ini aku datang menghadiri pemakamanmu, Zach. Walaupun kita tidak pernah menjadi kawan baik, namun kamu pernah menjadi atasanku di kantor. Duduk disini melihat tanah tempat peristirahatan terakhirmu, pikiranku melayang kembali ke masa lalu. Walaupun harus kuakui, itu bukanlah kenangan yang ingin aku ingat-ingat lagi.

10 tahun lalu, saat itu aku datang menghadiri panggilan wawancara kerja di kantormu. Sebuah perusahaan ekspor impor yang cukup besar di daerah Jakarta Pusat. Dan kamu adalah asisten General Manager disana. Saat itu kamu yang melakukan wawancara terhadap para pelamar kerja, termasuk aku. Itulah pertama kalinya kita bertemu dan berkenalan.

Beberapa hari kemudian, aku menerima e-mail darimu yang mengabarkan kalau aku diterima bekerja di kantormu. Saat itu hatiku senang sekali, karena memang pekerjaan ini sangat kubutuhkan. Maklum, aku adalah seorang tulang punggung keluarga. Aku punya adik yang masih membutuhkan biaya sekolah.

Di hari pertama masuk kantor, kamu menyapaku dan memperkenalkan aku kepada rekan-rekan kerjaku yang lain. Aku tersenyum dan mengulurkan tangan berkenalan dengan mereka. Semua terlihat menyenangkan dan baik-baik saja. Dan bahkan kami semua makan siang bersama.

Namun suasana menyenangkan ini hanya bertahan dua bulan saja. Tepat di bulan ke-3, aku merasakan perubahan sikap teman-teman kantor terhadapku. Termasuk kamu juga, Zach. Tentu saja, saat itu aku bingung akan semua perubahan itu. Dan seringkali disaat istirahat makan siang, aku duduk merenung sendiri di ruang pantry. Aku berusaha memahami apa kesalahanku.

Hingga suatu hari, mbak Maudy masuk ke dalam ruang pantry dan melihatku duduk sendirian disana. Mbak Maudy adalah salah satu pegawai pada divisi ekspor, dan orangnya termasuk cukup ramah walaupun pendiam.

"Ayana, kok sendirian disini? Gak keluar makan siang sama anak-anak yang lain?" tanya mbak Maudy kepadaku.

"Aku belum lapar mbak, jadi istirahat saja duduk disini" jawabku.

Kemudian mbak Maudy duduk di dekatku, sambil membuka bekal makanan yang dia bawa dari rumah.

"Aku bawa makanan ini, aku masak sendiri loh Ayana. Coba deh cicipi, enak gak?" kata mbak Maudy sambil menawarkan bekal yang dibawanya ke aku. Karena merasa tidak enak untuk menolak, akhirnya aku cicipi juga makanan yang ditawarkan oleh mbak Maudy.

"Enak banget. Mbak Maudy pintar masak ya?" tanyaku ke mbak Maudy.

"Oh, kalau pintar banget sih gak juga. Cuma kebetulan aku suka makan ini, jadi sering buat" jawab mbak Maudy.

Kemudian mbak Maudy mulai menyantap bekal makan siangnya, dan aku hanya diam saja mengamatinya. Aku tidak mau mengganggu makan siang mbak Maudy. Setelah beberapa lama sunyi, tiba-tiba mbak Maudy memecah keheningan dengan pertanyaan yang membuatku bingung untuk menjawabnya.

"Ayana, kamu tahu kenapa anak-anak mulai menjauh dari kamu?" tanyanya.

Aku cuma bisa menggelengkan kepala, karena memang aku pun masih mencari jawaban dari pertanyaan itu.

"Kalau aku kasih tahu sebabnya, kamu janji ya jangan marah. Dan jangan sampai ada yang tahu kalau aku yang bocorin ini ke kamu." kata mbak Maudy waktu itu. Aku pun cuma bisa mengangguk saja.

"Jadi begini Ayana, Zach bilang kalau kamu itu suka cari perhatian ke bos kita. Makanya bos jadi baik banget sama kamu" kata mbak Maudy.

"Hah? Aku baru 2 bulan disini, dan status aku juga masih dalam masa percobaan. Untuk apa mbak aku cari perhatian di depan bos?" jawabku.

"Iya aku juga tahu, Ayana. Malah aku lihatnya kamu itu pendiam. Kamu cenderung serius kalau sedang bekerja. Lagipula kamu juga jarang kok bertemu, apalagi mengobrol dengan bos. Makanya aku heran, kenapa Zach bisa bilang begitu ya tentang kamu?" jawab mbak Maudy.

Akhirnya kami sama-sama terdiam.

***

Sebulan setelah itu, aku mendapatkan surat kontrak dari bos di kantor. Itu berarti aku sudah lulus masa percobaan, dan mulai dikontrak menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Harusnya aku senang bukan? Tapi tidak. Jujur saja kalau mengikuti dorongan hati, saat itu rasanya aku ingin sekali menolak untuk menandatangani surat kontrak itu.

Malah rasanya ingin pergi saja dari sana, karena suasana kerja di kantor tersebut sangat tidak menyenangkan. Hampir semua karyawan yang ada di sana mulai memusuhiku. Cuma mbak Maudy saja yang terkadang masih menyapa aku.

Tapi sayangnya aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Aku masih butuh uang untuk membantu keluargaku dan membiayai sekolah adikku. Hingga aku membulatkan tekad untuk menguatkan hati menghadapi semuanya, dan menandatangani surat kontrak itu.

Satu tahun, aku hanya perlu bersabar satu tahun saja kataku dalam hati. Aku yakin aku pasti bisa melaluinya. Namun ternyata, kenyataan memang terkadang tidak seindah harapan. Hari demi hari rekan-rekan kerjaku malah memperlakukan aku dengan semakin buruk. 

Selain memusuhiku, mereka juga mulai mengganggu pekerjaanku. Mulai dari menghapus file di komputerku, membuang dokumen yang sudah aku print out, sampai menyebarkan fitnah tentang diriku hingga ke divisi lain di kantor. Dan tampaknya usaha mereka sangat sukses, karena saat itu hampir semua karyawan di kantor memusuhi aku. Termasuk para pesuruh di kantor dan juga resepsionis.

Dan kebetulan, saat itu sikap bos memang semakin baik terhadapku. Hal ini seolah membuat semua cerita bohong tentang diriku, merupakan suatu fakta yang terbukti kebenarannya di mata mereka. Sehingga mereka semakin yakin, kalau aku sedang berusaha mencari perhatian didepan bos.

Padahal kenyataannya beliau bersikap baik karena kinerja kerjaku yang bagus. Selama bekerja disana, aku selalu berusaha mengerjakan pekerjaanku dengan baik. Sesulit apapun, aku tidak akan menyerah sebelum mencobanya. Aku juga selalu datang tepat waktu ke kantor, tidak pernah terlambat dan tidak pernah bolos satu haripun.

Setelah semua kerja keras yang kulakukan, apakah salah kalau bos bersikap baik terhadapku? Aku menganggap semua itu hanya sebagai bentuk penghargaan beliau atas hasil kerjaku. Aku tidak pernah berpikir lebih dari itu.

Tapi di mata Zach dan rekan-rekan kerjaku yang lain, aku hanyalah orang yang berusaha cari perhatian didepan bos. Bahkan aku pernah tidak sengaja mendengar percakapan Zach dengan Sales Manager di kantor. Menurutnya aku sengaja menggoda bos supaya bisa naik gaji, dan naik jabatan. Betapa kejam dan tega fitnah yang disebarkannya itu!

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

***

Tepat di bulan ke-8 aku bekerja di perusahaan tersebut, ada seorang karyawan baru yang masuk kesana. Dia seorang wanita yang bernama Suci. Di mataku dia terlihat sangat baik, dan juga ramah. Saat itu aku berpikir untuk mencoba bersahabat dengan dia. Beberapa kali kami saling bertegur sapa, dan juga makan siang bersama. Kemudian kami sering pulang kantor bareng, karena rumahnya memang searah denganku.

Tak terasa dua bulan sudah aku dan Suci bersahabat, kami sering bercerita tentang banyak hal. Dan kepada Suci, aku juga terkadang suka bercerita tentang perasaanku menghadapi permusuhan teman-teman di kantor. Namun akhir-akhir ini, aku mulai merasakan ada yang tidak beres. Sikap Suci mulai berubah terhadapku. Walaupun bingung, namun aku sudah bisa menduga penyebabnya. 

Hingga suatu hari ketika aku sedang berada di ruang pantry, mbak Maudy masuk hendak mengambil minum.

"Eh ada Ayana. Lagi apa nih disini?" tanya mbak Maudy.

"Lagi cuci gelas minumku mbak, tadi habis jatuh" jawabku.

"Oh begitu, kalau aku baru mau ambil air minum. Ehm, Ayana aku bukannya mau ikut campur nih. Saranku ya, kamu jangan terlalu percaya sama Suci" kata mbak Maudy.

"Lho kenapa mbak? Suci baik kok" jawabku.

"Aku gak mau menjelek-jelekkan orang lain. Nanti kamu tahu sendiri deh. Tapi saranku jangan terlalu percaya sama dia. Simpan hal-hal tertentu untuk dirimu sendiri, jangan diceritakan semuanya ke Suci lagi. Nanti kamu sakit hati loh!" jawab mbak Maudy sebelum keluar dari ruang pantry.

Aku menjadi bingung mendengar perkataannya itu. Jujur saja, sikap Suci memang mulai berubah. Tapi, aku masih tidak melihat alasan mengapa aku tidak boleh percaya sama Suci.

***

Di bulan ke-11 aku bekerja di kantor tersebut, perlahan aku mulai mendapatkan jawaban atas kata-kata peringatan mbak Maudy waktu itu. Akhirnya aku mengerti kenapa aku tidak boleh terlalu percaya lagi pada Suci.

Kantorku berada di salah satu gedung di dekat bundaran HI, siang itu aku baru saja pergi makan siang ke Sarinah. Dan hari itu setelah balik ke kantor, aku tidak langsung masuk ke ruang kerjaku. Melainkan kusempatkan untuk ke toilet dulu, karena memang masih tersisa cukup banyak waktu sebelum jam istirahat selesai.

Siang itu aku duduk cukup lama dalam salah satu bilik toilet. Aku duduk dalam diam, sambil mempersiapkan diri untuk masuk ke medan perang. Iya, sudah sejak lama aku menganggap kantor adalah medan perangku.

Tiba-tiba aku mendengar suara Suci diluar bilik toilet. Dia datang bersama dengan rekan kerjaku yang lain, mereka mengobrol dengan seru. Dan mereka sedang membicarakan aku. Tentu saja yang mereka bicarakan adalah semua hal-hal yang jelek tentang diriku.

Ternyata selama ini di belakangku Suci mengkhianati kepercayaanku, dan persahabatan kami. Diam-diam Suci selalu melaporkan ke Zach semua hal yang aku ceritakan, dan Zach kemudian akan menyebarkannya ke semua orang di kantor. Tentu saja cerita itu sudah dipoles dan ditambahkan berbagai bumbu, supaya terdengar lebih dramatis.

Dan di hari itu juga akhirnya aku tahu, Suci ternyata adalah sepupu Zach, dan memang sengaja dimasukkannya ke kantor hanya untuk mendekati aku. Semua itu karena Zach khawatir posisinya sebagai asisten General Manager akan direbut oleh aku. Alasan yang menurutku cukup konyol. Apakah mungkin seorang karyawan yang baru bekerja selama 11 bulan, mampu menempati posisi asisten General Manager?

Namun begitulah manusia, kalau rasa iri dan dengki sudah menguasai hati, akal sehat pun seolah lenyap begitu saja. Yang tersisa hanyalah kebencian yang mendalam, dan nafsu untuk menjatuhkan walaupun harus memakai segala cara.

Setelah mereka keluar dari toilet, aku cuma bisa tertawa keras seperti orang gila. Akhirnya aku mengerti semuanya. Kantor ini sudah terlalu penuh dengan drama, dan aku lelah menjadi pemeran utama yang harus selalu menderita. Aku hanyalah seorang karyawan biasa, tidak punya kemampuan untuk melawan musuh yang punya kekuasaan. Saat itu juga aku membulatkan tekad, aku akan segera resign setelah kontrak kerjaku selesai. 

***

Tepat di bulan ke-12 aku bekerja, akhirnya bos menawarkan perpanjangan kontrak kerja kepadaku. Tapi aku menolaknya dengan alasan, sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Dan syukurlah beliau dapat memaklumi keputusanku tersebut.

Setelah resign dari kantor itu, perasaanku sangat lega. Seolah terlepas semua beban yang selama ini aku pikul. Beberapa bulan setelah itu, aku kembali mendapatkan pekerjaan di tempat baru. Suasana kerja di kantorku yang baru sangat menyenangkan sekali. Sungguh bagaikan langit dan bumi bedanya, kalau dibandingkan dengan suasana di kantorku sebelumnya.

Tapi walaupun sudah tidak bekerja di kantor yang sama, aku tetap menjalin hubungan yang baik dengan mbak Maudy. Terkadang kami bertemu, untuk sekedar mengobrol dan berbagi cerita. Bahkan mbak Maudy juga memberitahuku kalau Suci juga resign dari kantor, beberapa bulan setelah aku.

Namun setelah itu, kami berdua sepakat untuk tidak membicarakan lagi masa lalu yang kelam itu. Hingga dua hari yang lalu, mbak Maudy tiba-tiba menghubungiku dan mulai membicarakan Zach. Suatu hal yang sangat tidak biasa dan membuatku curiga. Dan ternyata perasaanku benar, karena mbak Maudy akhirnya memberitahuku bahwa Zach meninggal dunia.

Berita yang sangat mengejutkan untukku, karena aku tidak menyangka kalau Zach akan pergi secepat itu. Usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari usiaku. Namun itulah takdir, kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita akan habis di dunia ini. Dan di sinilah aku hari ini, datang menghadiri pemakamanmu Zach. Walaupun mungkin kamu tidak suka melihat kehadiranku di sini. Namun aku datang hanya untuk mengatakan:

"Aku sudah memaafkan semua perbuatanmu kepadaku di masa lalu!"

Bersama dengan doa, semoga semua amal ibadahmu diterima disisi-Nya serta diampuni-Nya juga semua dosa dan kesalahanmu semasa hidup. Selamat jalan, Zach!

***

Balikpapan, 10 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Jangan Panggil Aku Lemot

Ayana Photo Verified Writer Ayana

Menulis adalah cara saya mengekspresikan pikiran saya. It's a really fun thing to do.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You