Comscore Tracker

[CERPEN] Mantra-mantra dan Sepasang Sayap untuk Helena

Bagi Helena, hujannya abadi

Sejak Helena bertekad memiliki sepasang sayap di punggungnya, ibunya tak lagi membiarkan pintu dan jendela kamar Helena terbuka. Jendela itu ditutup dengan papan kayu, masih ditambahi dua palang menyilang. Sedang pintu kamarnya selalu dikunci dari luar. Bahkan lubang kuncinya ditutup dengan selembar kertas yang hanya akan dibuka saat tiba waktunya ibu Helena mengantarkan nampan makanan.

Sampai di sini, bukankah kalian sudah bisa menduga bahwa yang demikian tentu membuat Helena kian menginginkan sepasang sayap tumbuh di punggungnya? Yang putih cemerlang maupun hitam pekat. Yang panjang membentang maupun mungil dan tipis seperti milik kupu-kupu. Yang mana pun, asal dapat membawanya terbang. Terbang tinggi sekali sampai lupa jalan kembali. Jika tidak dengan kekuatan sayap besar, tentu dengan keajaiban sayap mungil yang tampak rapuh.

Tidak lama lagi, Helena mungkin mati. Tentu saja Helena akan mati. Bahkan lubang angin di atas pintu dan jendela pun ditutup dari luar. Namun belakangan, Helena bahkan seperti tak membutuhkan udara. Dia merasa hampa, sangat hampa, jauh lebih buruk daripada sekeping biskuit dalam stoples.

Tidak ada kamar mandi di dalam kamar Helena. Tidak ada bak untuknya menenggelamkan diri. Juga tidak gagang pancuran untuknya memecahkan batok kepala. Bagaimana dengan tali? Bahkan jika Helena memilikinya, tanpa terali jendela, tanpa kosen dan lubang-lubang udara yang tak ditutup rapat dari luar, serta tanpa kursi untuk memanjat; Helena tidak mungkin menggantung dirinya sendiri.

Lagi pula, itu cara mati yang amat menjijikkan. Ia akan mengeluarkan tinja tanpa bisa menahannya. Makin menjijikkan karena ia seorang gadis belia yang seharusnya kentutnya pun wangi. Atau bukan gadis lagi, terhitung sejak sore itu.

Ya, sore itu. Ingatan Helena terhenti pada sore itu. Sore ketika hujan turun tidak deras, tetapi gerimis juga bukan. Sore yang tidak cukup mendung sekaligus tidak bisa dibilang terang. Sore yang menggelisahkan. Apalagi setelah kunci pintu depan diputar dua kali. Klek dan klek.

Ingatan Helena terhenti pada sore itu. Namun Helena pun tak sudi untuk mengingat bagian setelah kunci pintu depan diputar dua kali, klek dan klek, sampai cukup lama setelahnya. Bahkan terasa lama sekali bagi Helena, sampai kunci pintu yang sama kembali diputar dua kali, klek dan klek.

Helena telah memilih dengan sangat cermat bagian-bagian dari memorinya. Helena ingin melupakan yang itu, maka itu dilupakannya dengan sempurna. Helena ingin mengingat yang ini, maka ini juga diingatnya dengan sempurna.

Helena menghitung titik-titik hujan yang jatuh di atap. Lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu dua ratus empat puluh lima. Angka yang banyak dan Helena benar-benar tidak ingin melupakannya. Maka ia merapalnya serupa mantra, terhitung sejak kunci pintu depan diputar dua kali dan untuk kedua kalinya di sore itu.

Dalam keadaan seperti itulah, ibu Helena menemukan putri semata wayangnya. Tergolek di ranjang dengan kedua tangan dan kaki terentang, telanjang, dan merapal mantra lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu dua ratus empat puluh lima. Di luar, hujan sudah berhenti. Namun bagi Helena, hujannya abadi. Hari itu, matahari pun pergi dengan berjingkat.

Ibunya bukan tak mengerti apa yang telah terjadi. Cukup dari pakaian Helena yang tercampak ke lantai, ia seketika bisa mengira-ngira. Juga dari bercak darah segar dan cairan yang seharusnya tak ada persis di titik pertemuan kedua kaki putrinya yang terpentang. Helena masih merapal mantra dengan mata terbuka mencabik langit-langit saat ibunya mulai menggigil.

Menggigil sangat hebat, makin hebat, sebelum panas menggantikannya dengan amat dahsyat, membakar dan meledakkannya. Ibunya tinggal tersisa keping-keping saat menyeret diri meninggalkan Helena yang terus merapal mantra. Ia juga tidak lebih baik dari sekeping biskuit di dalam stoples.

Keesokannya, ibu Helena menyeret keping terbesar dari dirinya ke kamar Helena. Sejak itulah, nampan-nampan makanan mengalir ke kamar Helena berikut sebaskom air, sabun, dan handuk kecil untuk menyeka. Helena masih merapal mantra lima juta enam ratus tiga puluh satu ribu dua ratus empat puluh lima sementara ibunya menyuapkan sesendok demi sesendok isi piring ke mulutnya, lalu menggosok tubuhnya kuat-kuat seperti menggosok kain di atas batu atau menggosokkan batu di atas kain. Yang mana pun, hanya tentang waktu untuk membuatnya compang-camping.

Helena tidak pernah mengatakan keinginannya akan sepasang sayap pada ibunya. Akan tetapi ibunya mengetahui itu dengan sangat jelas dari sepasang mata Helena yang tak dapat berdusta. Ada sepotong sayap di mata sebelah kiri, sepotong lagi di sebelah kanan. Saban ibunya melihat kedua bola mata itu bergantian lantas mempertemukannya dengan pangkal hidung dan alis Helena yang hitam tebal nyaris bertaut, ibunya sangat khawatir Helena akan tiba-tiba terbang.

Terbang tinggi sekali, sampai lupa jalan untuk kembali. Maka ia mengunci pintu dan menutup jendela bahkan setiap lubang di kamar Helena rapat-rapat. Helena terlalu rapuh. Ia hanya tidak ingin Helena tersesat atau dimakan bunga-bunga dan gumpal-gumpal awan. Nanti lahir kembali sebagai petir, menyambar apa pun dan siapa pun tak terkecuali dirinya sendiri, membuatnya mati sekali lagi atau sekadar tuli, menyempurnakan penderitaannya.

Oh, seandainya saja Helena dapat membaca isi kepala ibunya. Tentu ia akan dengan senang hati memilih mati dimakan gumpalan awan dan terlahir kembali sebagai petir. Dengan begitu, ia tidak perlu terteror bunyi klek dua kali lalu dua kali lagi seumur hidupnya. Sementara itu, masih dengan menyeret-nyeret keping terbesar dari dirinya, ibu Helena setiap pagi tetap pergi ke pabrik tempatnya bekerja dan sesekali tentu juga ke pasar untuk berbelanja.

Hanya saja, dari satu ujung jalan ke ujung jalan lainnya, sama seperti putrinya, ia juga tak henti-hentinya merapal mantra, “Dahulu aku punya suami, tetapi sekarang tidak lagi. Dahulu aku punya suami, tetapi sekarang tidak lagi ...”

Tak seperti rapalan mantra Helena di dalam kamarnya, rapalan mantra ibu Helena dari satu ujung jalan ke ujung jalan yang lain membuat orang-orang yang mengenalnya sontak tergelak. Seru mereka, “Hai, janda Naipa, apa lagi yang kau gelisahkan? Tak lama lagi kau juga kembali bersuami, kan? Bujang pula. Sabar sedikit apa tidak bisa?”

Ibu Helena terus merapal mantranya, bahkan di antara suara mesin-mesin pabrik yang memenuhi telinganya. Kesalahannya mungkin cuma satu. Namun yang satu itu justru terus melahirkan kekeliruan, sambung-menyambung seperti kutukan. Sama seperti Helena, ingatannya juga tertambat pada sore itu, ketika ia menekan tombol-tombol telepon genggamnya, mengetik pesan.

Helena sakit. Aku lupa belum menebus obatnya. Bisa kau mampir ke apotek sekalian pulang? Tolong antarkan dahulu pada Helena dan beri tahu dia dosisnya. Dia bisa meminumnya sendiri. Aku pulang agak terlambat hari ini. Kunci rumah di atas pintu.

Klek dan klek. Ia bisa membayangkan kunci itu diputar dua kali. Lalu sosoknya sedikit mengejutkan Helena hingga yang seharusnya tak terjadi telah benar-benar terjadi. Dan ia tidak pernah menemukan obat yang dimintanya di seluruh sudut rumahnya. Kesalahannya mungkin cuma satu. Atau justru tak terhingga untuk dapat dihitung.

“Dahulu aku punya suami, sekarang tidak lagi ...,” ujarnya lagi dan lagi, sampai teman-temannya mulai merasa terganggu. Mungkin sudah saatnya pengawas pabrik mengambil tindakan tegas.

Sementara Helena juga terus merapalkan mantranya dari dalam kamarnya dengan sepotong sayap di setiap bola matanya. Merapal mantra dalam kepala, sebab setangkup bibirnya telah lebih sunyi ketimbang sunyi.***

Baca Juga: [CERPEN] Ramalan Ming 1

Marliana Kuswanti Photo Verified Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya