Comscore Tracker

[CERPEN] Senja Datang Terlambat

Badut selalu ditertawakan, Nyonya

“Tuan sudah pergi, Nyonya. Nyonya harus belajar menerima.”

“Kalau saja semudah itu, Bi.”

“Bibi tahu. Tetapi Nyonya masih muda. Tidak seharusnya Nyonya menghabiskan hari-hari dalam duka. Nyonya harus bangkit dan memulai segalanya dari awal.”

“Bi, bulan depan Bibi tak perlu lagi kemari. Besok sudah minggu terakhir, kan?”

“Kenapa, Nyonya? Nyonya tersinggung dengan ucapan Bibi barusan?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Semua yang Bibi bilang benar. Hanya saja aku tak akan bisa lagi membayar Bibi. Bibi tahu siapa yang menjadi tulang punggung di rumah ini dan tulang punggung itu kini sudah terlepas dari tubuhnya.”

“Bibi akan tetap kemari.”

“Tetapi aku benar-benar tidak bisa lagi membayar Bibi.”

“Apakah Bibi meminta? Nyonya sudah seperti anak Bibi sendiri.”

“Mungkin aku juga akan segera pindah. Rumah sebesar ini tak lagi sesuai untukku.”

“Bahkan jika Nyonya pindah ke lubang semut, Bibi akan datang setiap hari.”

“Tidak ada yang perlu dibersihkan di dalam lubang semut.”

“Tetapi ada hati yang mesti Bibi jaga. Kedua orang tua Nyonya menitipkan Nyonya pada Bibi sebelum satu per satu berpulang.”

“Bibi terbebani?”

“Bibi sudah bilang, Nyonya sudah seperti anak Bibi sendiri. Tidak ada anak yang menjadi beban untuk orang tuanya.”

“Lalu Bibi akan makan apa jika aku bahkan tak lagi bisa membayar Bibi?”

“Bibi bisa buka warung kecil-kecilan, sore selepas pulang dari rumah Nyonya. Cukup kalau hanya untuk mengenyangkan satu perut. Orang seumur Bibi tidak boleh makan banyak-banyak. Tidak boleh dan tidak bisa. Nyonya sendiri?”

“Kemarin aku melihat kertas pengumuman yang ditempel di pintu salah satu toko. Agen hiburan mencari orang untuk menjadi badut. Badut ulang tahun, badut di tempat-tempat wisata, badut apa saja.”

“Badut? Nyonya tidak sedang bercanda? Jauh sekali dari yang dapat Bibi bayangkan tentang Nyonya.”

“Hidup tidak untuk dibayangkan, Bi. Hanya dijalani.”

“Kenapa harus badut? Nyonya bahkan punya ijazah perguruan tinggi. Nyonya bisa mengirimkan lamaran ke kantor-kantor. Itu tempat yang jauh lebih cocok untuk Nyonya ketimbang menjadi badut.”

“Kenapa tidak, Bi?”

“Badut selalu ditertawakan, Nyonya.”

“Tetapi badut juga satu-satunya yang bisa menyembunyikan air matanya di balik keriangan dengan sempurna.”

**

“Papa! Papa! Ayo, lihat badut. Ada badut baru di taman. Dia datang tiap sore. Papa belum pernah lihat, kan? Ayo ke sana, Pa. Papa kasih badut itu banyak uang. Kemarin aku kasih badut itu uang lalu badut itu mengeluarkan permen dari perutnya! Nanti Papa kasih uang lebih banyak, permennya pasti juga banyak ...”

Cuma badut yang bisa menyembunyikan air matanya di balik keriangan dengan sempurna. Paras bocah itu terlalu mirip dengan dirinya sendiri untuk dapat dilupakan. Sementara lelaki yang digandengnya sambil berlari-lari sontak menghentikan detak jantungnya. Kali ini, senja datang lambat sekali.***

Baca Juga: [CERPEN] Keputusan untuk Mengakhiri 

Marliana Kuswanti Photo Verified Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya