Comscore Tracker

[CERPEN] Angsa-angsa di Pekarangan

Hanya para angsa di pekarangan yang setia menemaninya

Seorang perempuan tua duduk di pinggir kasur. Tangannya yang penuh keriput memegang sebuah pigura bergambar perempuan yang menggendong bayi. Ia lalu meletakkan kembali pigura tersebut di atas nakas. Sembari merebahkan dirinya di atas kasur kapuk yang sudah usang, matanya menerawang jauh menatap langit-langit. 

Anak bungsunya yang dahulu ia gendong, kini telah lulus sekolah. Sekarang sudah saatnya melepaskan anaknya ke perantauan. Keenam anaknya yang merantau tak pernah kembali. Suaminya juga telah lama mati. 

Anak bungsunya selalu berbeda sejak kecil. Ketika ditanya mengenai hal yang ingin ia lakukan di masa depan, lelaki itu selalu menjawab, "Membahagiakan ibu." Ia berbeda dengan kakak-kakaknya yang selalu menjawab dengan tepat, seperti guru, dokter, tentara, atau pekerjaan lainnya. Jawaban tersebut tak pernah berubah sampai si bungsu dewasa. Ah, ia terlalu lelah mengenang masa lalu, sekarang ia mengantuk.

Di pagi hari, perempuan tua itu duduk di kursi teras sambil memperhatikan kawanan angsa yang berendam di pekarangan rumahnya. Semalam turun hujan, jadi pekarangan rumahnya tergenang air. Si bungsu keluar dari pintu dengan membawa tas, hendak berpamitan dengan ibunya. Lelaki itu berlutut sambil memegang tangan ibunya.

"Bu, saat aku sudah punya banyak uang, aku akan kembali dan mengajak ibu, ya?" 

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Perkataan si bungsu, mengingatkannya pada anaknya yang lain. Ia tersenyum singkat tetapi tatapan matanya tetap tak beralih dari rombongan angsa tersebut. Keenam anaknya juga mengatakan hal yang sama. Bahwa, mereka akan kembali. Namun, nyatanya belum ada satu pun dari mereka yang datang dan menjemputnya. 

"Nak, katanya, angsa itu hewan yang setia, ya?" Ujar perempuan tua itu tanpa menatap sang anak.

Lelaki muda itu lalu menjelaskan dengan semangat, “Iya, Bu. Angsa itu hewan yang setia. Kalau pasangannya mati, ia tidak akan mencari pasangan lagi bahkan sampai mati.”

Mendengar itu, perempuan tua kembali tersenyum. Bedanya, kali ini ia menatap sang anak. Matanya memancarkan tatapan penuh harap. Ia lalu berkata, “Pergilah, Nak." 

Begitulah ia mengantar kepergian anak bungsunya. Setelah bertahun-tahun berlalu, tak ada satu pun anaknya yang kembali, termasuk si bungsu. Pada akhirnya, perempuan tua itu hanya duduk sendirian di kursi teras ditemani angsa-angsa di pekarangan. Di akhir usia, hanya para angsa di pekarangan yang setia menemaninya.

Baca Juga: [CERPEN] Violeti

Meriana Mzr Photo Writer Meriana Mzr

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya