Comscore Tracker

[CERPEN] Salah Paham 

Percuma saja ia menggalau 

Wisnu telah berusaha sebaik mungkin. Lelaki itu rela menunggu di luar kafe, berharap Sandra segera menyelesaikan pekerjaan dan menemuinya. Ia perlu melihat gadis mungil yang kerap hadir mengisi benaknya itu, bahkan walau Sandra bahkan enggan untuk sekadar mengatakan satu kalimat.

"Sandra."

Wisnu bergerak cepat saat Sandra hampir melewatinya. Lelaki itu mencekal tangan Sandra, agar setidaknya Sandra bisa memberinya kesempatan untuk tahu alasan dibalik hubungan mereka yang telah berakhir.

"Aku butuh kamu," kata Wisnu. "Apa kamu nggak kangen, San?"

"Kita udah berakhir," kata Sandra. Ia enggan berbalik, namun tak melepaskan diri juga. "Apa masih kurang tegas juga, ya, pernyataanku? Kita udah berakhir, Wisnu."

"Nggak masuk akal, San." Wisnu menarik napas. Jengkel sekaligus lelah akan seluruh pernyataan Sandra yang begitu. "Kita nggak berantem, kan? Aku juga nggak ngelakuin sesuatu yang bikin kamu sakit hati, kan?"

"Pokoknya, udah berakhir." Perlahan sekali, Sandra menjauhkan tangan Wisnu dari tangannya. Ia berbalik menatap lelaki itu. Wisnu tampak memelas, membuat Sandra menampilkan senyuman miris. "Apa ini? Ngemis minta balikan? Maaf, ya, Wisnu. Jangan kebanyakan berharap. Bagiku, hubungan semacam ini cuma permainan. Dan, aku udah bosen. Jadi, aku mengakhiri semudah ini."

Wisnu tertegun, bungkam mendengar pernyataan Sandra. Sandra yang dikenalnya tidak begini, gadis itu selalu bersikap manis dan tak pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Setahunya, Sandra selalu memujanya dan mencintainya.

"Semua yang--"

"Aku bersikap manis ke kamu, ya, itu bagian dari permainan." Sandra memotong ungkapan Wisnu secepat mungkin. Ia mendapati sorot mata Wisnu yang berubah sendu, seolah telah kehilangan dunianya. Sandra bertingkah tak peduli, gadis itu menatap sejenak jam tangannya. "Jangan ganggu lagi. Paham, kan?"

Lantas, Sandra berbalik meninggalkan Wisnu. Sebelum lelaki itu mencegat atau menyatakan sesuatu yang lain. Sandra baru bisa bernapas lega kala menemukan sebuah taksi yang dapat segera membawanya pulang. Ia tak tahan, menahan debaran dan hasratnya sendiri tentu bukan sesuatu yang bagus.

Sesampainya di rumah, Sandra mengistirahatkan diri di sofa kesayangannya. Ia tinggal sendirian, namun baru sekarang benar-benar merasa kesepian lagi. Tiga hari lalu, Wisnu masih berada di sisi Sandra untuk membahas segala hal bersama. Pembahasan bersama Wisnu tak benar-benar penting, ringan dan hangat. Sukses membangkitkan kenangan Sandra yang sebetulnya telah ditahannya mati-matian. Sandra lelah, ia menyandarkan punggungnya dan membiarkan segala memori terputar di benaknya.

"Kamu suka banget baca novel, ya, San?"

Perkataan Wisnu beberapa minggu lalu teringat di benak. Lelaki itu selalu ingin tahu segalanya tentang Sandra, seolah Sandra merupakan dunianya.

"Nanti kita ke perpustakaan aja, gimana? Atau toko buku? Eh, kamu sukanya buku yang kayak gimana, deh? Tetep, dong, aku yang paling romantis walau kamu udah nemu banyak karakter dalam novel."

Sandra terkekeh sendirian. Ia tahu ini gila. Berusaha bagaimanapun, perkataan Wisnu selama bersamanya enggan memudar dari benaknya. Lelaki itu pandai membuat situasi menjadi lebih baik. Sandra suka semua ungkapan jujur Wisnu, juga candaan ringan yang kadang terlontar begitu saja.

Tetapi kini, itu takkan terulang. Sandra ingin bersikap tegas, tidak mau bersama lelaki yang diam-diam jalan bersama wanita lain dan hanya berdua saja karena kepentingan pribadi.

***

Wisnu pulang dalam keadaan kalut. Sedikit tak terima bahwa segalanya hanya permainan di mata gadis yang dicintainya itu, padahal ia mati-matian menjaga hubungannya hingga bertahan setahun ini.

Sialnya, Wisnu merasa keadaan hatinya semakin kacau saat memilih memakan mie instan favoritnya. Rasa lapar membuatnya merasa perlu makan meski sedang kalut. Namun, ia justru teringat saat bersama Sandra, gadis itu selalu menampilkan senyuman secerah mentari walau hanya bisa makan mie instan bersamanya. Sandra tak pernah mengeluh, menerima kondisi sederhana saat bersama Wisnu.

Usai makan tanpa menikmati, Wisnu bangkit dari tempatnya. Ia memutuskan menonton televisi sambil duduk dengan nyaman di sofa empuk berwarna merah. Namun, tak ada saluran televisi yang menarik. Ia mengalihkan pandangannya ke seluruh tempat, lantas mendapati sebuah buku yang terletak di sisinya. Setahunya, buku itu milik temannya yang sempat menginao. Saking penasarannya, Wisnu membuka buku itu dan membacanya. Banyak halaman yang kosong, namun halaman paling akhir sukses membuatnya terperangah. Ada sebuah surat terselip di sana. Wisnu membacanya berulang, memastikan dirinya tak salah baca.

'Aku cuma pengin ngasih tahu, semuanya bukan salahmu. Kamu gak perlu tanggung jawab, karena aku yang salah jalan. Tapi kamu baik banget tadi ngajakin aku jalan sama anakku Nira, terus ngaku pengin jadi bapaknya Nira segala. Aku jadi dikit baper, sih. Tapi tahu diri juga, kok. Eh, tapi, jalan-jalan bareng kamu tuh asyik. Kalau mau, boleh lagi deh. Kalau kamu nggak keberatan.'

Wisnu mengerjap sebanyak yang ia bisa. Sebanyak apapun membacanya, isinya tidak berubah. Ia ingat minggu lalu Sandra mengunjungi rumahnya dan menonton film saat ia sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan layak untuk gadis kesayangannya itu. Ada kemungkinan, Sandra mengakhiri hubungannya karena salah paham. Mungkin, Sandra mengira itu buku hariannya dan menganggap dirinya mendekati gadis lain karena surat yang terselip. Wisnu diam-diam tersenyum, menyadari bahwa ia perlu kembali menemui Sandra dan menjelaskan.

Dan omong-omong... Wisnu suka sekali ekspresi judes gadis itu terhadapnya tadi. Kembali terbayang, membuat Wisnu tertawa geli. Rasanya jadi tak sabar menemui gadis itu dan membujuknya untuk memulai lagi. Sia-sia saja ia menggalau dan berpikir Sandra benar-benar menganggap hubungan dengannya main-main.

"Kamu emang pencemburu, ya, San. Harusnya jujur aja, sih, biar nggak perlu menggalau begini."***

Baca Juga: [CERPEN] Sepotong Senja di Atas Beranda

Fina Efendi Photo Verified Writer Fina Efendi

WINNER. DAY6.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya