Comscore Tracker

[CERPEN] Keganjilan

Kematian itu, hanya tinggal dalam ingatannya.

Hujan malam menguapkan angin sendu melalui celah jendela. Rintiknya mengalun menjadi irama pengantar tidur yang melelapkan. Gemericik api menyingkirkan rintik perlahan, beradu bersama suara dari puing-puing kaca yang tak berbentuk lagi.

Sebuah tangan mendorongnya, tersungkur di antara tumpukan kardus-kardus bekas. Kobaran api merayapi lembaran-lembaran kertas tak berdosa, melupakan rintik hujan dan gelegarnya pada sang malam. 

Ruangan menggelap seketika, layaknya sebuah panggung teater yang akan mempertontonkan adegan selanjutnya. Dia membuka matanya, mengangkat sebelah tangan kanannya yang bergetar dalam lumuran darah. Disekanya isak tangisnya dengan bagian lengan yang tak berdarah.

Dia mengaliri lengan dan telapak tangan yang berlumuran darah itu dengan sebotol air mineral. Diusapkannya sebagian pada wajahnya yang juga menyisakan bercak darah, lalu sebagian lagi untuk sisa-sisa darah yang menempel pada kaos berwarna putih yang ia kenakan.

Dia terbangun dari mimpi mengerikan itu. Matanya menyelidik ke seluruh ruangan, menyapu kegelapan yang memenuhi ruangan itu. Bau asap di antara tumpukan kardus bekas di ujung ruangan mengusik indra penciumannya. Dia mengenali tempat ini. Tidak, bukan hanya mengenali. Dia hafal betul dengan setiap sudut ruangan ini. Ruangan yang paling mengerikan dari semua ruangan yang ada di rumahnya. 

"Mengapa aku di sini?" Tanyanya pada diri sendiri. Dia terbangun tanpa ingatan.

Dia mengangkat sebelah tangan kanannya. Matanya terbelalak menemukan telapak tangan hingga hampir seluruh pergelangan tangannya basah dalam lumuran darah. Pandangannya berpindah pada kaos berwarna putih yang ia kenakan, beberapa bercak darah tertinggal di sana. Tangan kirinya mengelap wajahnya sendiri, menangkap aroma amis yang juga tertinggal di pipi kanannya. Ini mirip sekali dengan mimpi mengerikan yang baru saja membangunkannya.

"Apakah ini nyata? Apa yang terjadi?" Dia tak mengingat apa pun tentang bagaimana ia tiba di ruangan ini, dengan keadaan yang sangat mengerikan.

Dia menyeka isak tangisnya dengan bagian lengan yang tak terkena darah, mengaliri lengan dan telapak tangan yang berlumuran darah itu dengan sebotol air mineral. Diusapkannya sebagian pada wajahnya yang juga menyisakan bercak darah, lalu sebagian lagi untuk sisa-sisa darah yang menempel pada kaos berwarna putih yang ia kenakan.

Tak ada lagi kobaran api yang menerangi ruangan itu. Hanya sinar rembulan yang sempat menelusup melalui celah jendela. Dia bangun dari tempatnya bersandar. Menghampiri aroma asap yang terhalang di antara tumpukan kardus-kardus bekas.

Seonggok abu terkulai pada lantai tak berkeramik di sudut ruangan itu. Sebagian yang beruntung masih menjadi puing-puing kertas berwarna cokelat tua kehitaman. Dia memungut puing-puing kertas itu. Masih terasa hangat pada jari-jari yang menyentuhnya. Dia merabai onggokan abu itu dan mencengkeramnya.

Air matanya deras mengalir, menitik diantara tumpukan abu. Ia menangis tanpa mengerti apa yang telah diperbuatnya. Ia hanya tahu bahwa untuk ke sekian kalinya ia terluka melihat lembaran-lembaran itu menjadi abu.

Matanya terpejam bersama air mata yang terus mengalir. Menerawang masa kecil yang diperagakan kembali. Seorang pria yang menjulang tinggi di hadapannya mengayunkan cambuk berulang kali kepada seorang anak yang nampak tiga tahun lebih tua darinya. Matanya sembab setiap kali harus melihat peristiwa mengerikan itu.

Tatapannya penuh iba, ketakutan, kemarahan, dan ketidakberdayaan melakukan sesuatu apa pun untuk membawa kabur anak itu dari hukuman mengerikan yang selalu dilimpahkan kepadanya-seorang anak yang dipanggilnya dengan sebutan kakak. 

"Sekarang tumpahkan minyak ini." Ujar pria itu menyodorkan sebotol minyak kepada seorang anak yang baru saja dicambukinya. Bola matanya menatap penuh kekejaman.

Anak itu mengambil botol tersebut dengan gemetar, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia terus terisak selama menuangkan minyak itu sampai habis.

"Nyalakan apinya." Pria itu memerintah lagi.

Sebungkus korek api yang dilemparkan oleh pria itu tergeletak di sebelah kakinya. Anak itu memungutnya. Dia mengambil satu batang korek api dari wadahnya. Ia beranikan dirinya menoleh kepada anak kecil yang nampak sangat kecil berdiri di sebelah pria itu. Menatapnya dengan perasaan bersalah karena harus melakukan ini padanya. Anak kecil itu semakin terisak menemukan kakaknya melihat ke arahnya tanpa bisa melakukan apa pun, bahkan sekadar ingin menghampirinya, ia tidak berani melangkahkan kakinya. 

Lelaki itu menyalakan korek apinya. Membiarkannya menyala beberapa detik dalam genggamannya, kemudian memejamkan mata dan melemparkan nyala apinya.

Pria itu menyeringai puas. "Kalau kau masih berani membaca dan membeli buku-buku sampah itu, kakakmu akan melakukannya lain kali, seperti yang kau lihat saat ini." Ujar pria itu kepada anak kecil yang masih terisak berdiri di sebelahnya. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Hanya tersisa dua bersaudara itu dalam ruangan yang mulai dipenuhi aroma asap kertas-kertas terbakar. Anak kecil itu menghambur pada seorang anak yang ia panggil dengan sebutan kakak. Menatap kobaran api itu dengan air mata yang terus mengalir. Dipeluknya sang kakak dengan tangisan yang tak terbendung. 

"Maafkan aku." Anak itu mengusap punggung adiknya.

Air mata yang semakin menderas membuatnya mulai terlelap. Tersungkur di antara tumpukan abu dan puing-puing kertas. Begitulah kemudian ia berhenti menangis. Ia kembali bermimpi. Mimpi yang lagi-lagi lebih mengerikan.

Lelaki yang masih mengenakan jaket gunung itu meletakkan carrier di pojok kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Merasakan kembali udara kamar yang ditinggalkannya beberapa hari kemarin. Dia tertidur beberapa menit hingga rasa lapar membangunkannya. Langkahnya menghampiri dapur dan menyalakan kompor. Saudara kecilnya yang telah melebihi tinggi badannya itu tidak ada di rumah. Biasanya dia suka menyiapkan makanan setiap kali ia pulang dari gunung.

"Alien itu pasti lupa waktu kalau sudah di perpustakaan. Dia membiarkanku menyiapkan isi perutku sendiri." Lelaki itu mengomel sendiri sembari membuat mie instan dan segelas kopi.

Rasa kantuknya menghilang dan lapar semakin menggerogoti perutnya setelah ia menuangkan mie instan matang itu ke dalam mangkok dan menghirup aromanya. Tapi kemudian ia menghirup aroma lain. Aroma kebakaran. Ada sesuatu yang terbakar. Ia kemudian ingat bahwa ia belum bertemu pria itu sesampainya di rumah. Lelaki itu meninggalkan dapur. Kini rasa laparnya yang raib dan berubah dengan suasana hati dan pikiran buruk.

Langkah kakinya seperti terasuki untuk mengunjungi ruangan paling mengerikan di rumah ini yang berada di halaman belakang. Aroma itu semakin jelas ketika ia mendekat. Dia membuka gagang pintu dan menemukan pria itu tertawa riang di hadapan tumpukan buku-buku yang dibakarnya. Sebotol alkohol berada dalam genggamannya. Ia menemukan beberapa botol kosong yang sama tergeletak pada lantai tak berkeramik itu.

"Apa yang kau lakukan?" Teriak lelaki itu dengan geram.

"Wah, rupanya kutu gunung sudah datang. Adik kesayanganmu itu masih saja nekat membeli buku-buku sampah ini. Aku menggeledah kamarnya dan menemukan persembunyian mereka."

Lelaki itu menghampiri tumpukan buku-buku yang mulai dilahap api tersebut. Dia memunguti buku-buku yang belum terkena api menyingkir dari kobaran itu. Dilepaskannya jaket gunung yang membungkus badannya. Dia menghempaskan jaket itu pada setiap sumber api. 

Pria yang mulai kehilangan kesadaran karena terlalu banyak menenggak alkohol, mendorong tubuh lelaki itu. Dia mencegahnya menghalangi api itu melahap buku-buku milik bungsunya. Kemudian terjadilah pertengkaran antara keduanya.

Dari luar, sepasang mata menangkap peristiwa itu. Lelaki yang mengenakan kaos putih dengan hoodie hitam yang membungkus tubuhnya itu mendekati pintu yang terbuka. Sang kakak dan pria itu saling menjatuhkan. Dia mendapati di pojok ruangan dekat tumpukan kardus-kardus bekas ada tumpukan buku-buku yang terbakar.

Sepasang mata itu memancarkan aura kemarahan. Ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri kebakaran, tapi penyakit kepala itu menyerangnya lagi. Dia ingin melakukannya sendiri kali ini tapi penyakit kepala itu menghalanginya. Ditahannya rasa sakit itu hingga ia tersungkur pada dinding. 

"Ah, tidak. Jangan sekarang. Aku akan melakukannya sendiri kali ini." Lelaki yang mengenakan hoodie hitam itu memegangi kepalanya, berusaha berpegangan pada dinding untuk kembali beranjak dan menjaga kesadaran. Namun serangan itu sangat kuat. Ia tersungkur lagi. Kemudian dia terpejam.

Dia kembali membuka matanya. Tapi tubuh itu menjadi seseorang yang berbeda. Aura kemarahan yang terpancar dari matanya berubah semakin tajam. Dia melepaskan hoodie hitam yang dikenakannya kemudian menghampiri beberapa botol yang tergeletak dekat dengan tumpukan buku terbakar itu. Diayunkannya botol itu ke dinding yang kemudian jatuh dan pecah, menjadi puing-puing kaca. Dia mengambil puing kaca paling besar dan menghampiri pria mabuk yang berkelahi dengan kakaknya.

Dia mendorong kakaknya hingga jatuh tersungkur. "Maafkan aku. Karena semua kesalahanku, kau selalu menerima hukuman atas diriku. Tapi sekarang hal itu tidak akan terjadi lagi." Kata lelaki itu dengan seringai senyum. 

Dia kemudian mendorong pria di hadapannya hingga menabrak dinding seraya memegangi bahunya dengan tangan kiri. Tangan kanannya yang memegang puing botol alkohol itu menusuk bagian perut sebelah kiri pria itu dalam beberapa detik. Sekejap darah menyembur meninggalkan bercak merah pada kaos putih yang ia kenakan dan melumuri tangan kanannya hingga mencapai pergelangannya lalu mengalir ke lantai tak berkeramik dalam ruangan itu. Pria itu berteriak tertahan untuk kedua kalinya ketika lelaki itu mencabut puing botol alkohol dari perutnya. Mereka berdua saling berpandangan untuk beberapa saat.

"Maafkan aku... Ayah." Ujarnya menatap mata pria berbau alkohol itu.

Kakaknya beranjak dan mendorongnya, tersungkur diantara tumpukan kardus-kardus bekas. Penyakit kepala itu menyerangnya lagi. Ia kembali jatuh pingsan, atau barangkali hanya tertidur. Kobaran api merayapi lembaran-lembaran kertas tak berdosa, melupakan rintik hujan dan gelegarnya pada sang malam. 

Mimpi mengerikan itu telah usai. Dia kembali terbangun untuk kedua kalinya. Meraih ponsel dalam sakunya dan menyalakan senter untuk menerangi lantai tak bekeramik itu. Genangan berwarna merah dekat celah jendela itu belum sepenuhnya mengering.

Itu bukan mimpi. Itu adalah ingatan seseorang yang hidup dalam dirinya. Dia membungkuk dan menyentuh genangan darah itu dengan jari-jarinya yang gemetaran, "Jadi, kau yang membunuh ayah dengan meminjam tanganku?" 

Sayup-sayup rintik hujan menderas, menjadi epilog keganjilan malam.***

 

Malang, September 2018

Baca Juga: [CERPEN] Selangkangan dan Dua Bungkus Kopi

Mufida Hana Photo Verified Writer Mufida Hana

Instagram/Twitter : @mufidafm

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya