Comscore Tracker

[CERPEN] Percakapan dari Balik Pagar Pembatas 

Dia berbicara melalui air matanya yang berguguran

Gavin dan Whina berdiri saling berhadapan. Kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. Whina memandang Gavin dengan tatapan penuh kasih. Di sisi lain, Gavin menatap Whina dengan perasaan rindu yang sudah bergejolak bahkan sebelum mereka berpisah. 

"Aku tidak akan lama kali ini, Gav."

"Tetap saja aku sudah merindukanmu."

Mendengar itu, Whina tertawa kecil. Gavin lalu meraih kekasihnya ke dalam pelukan dan mencium keningnya. Bahkan setelah hampir lima tahun berpacaran, Gavin belum terbiasa dengan perpisahan kecil setiap kali Whina ingin pulang ke kampung halamannya. 

Perpisahan itu dirayakan dengan lambaian tangan Whina dan senyum merekah sebelum akhirnya Whina memasuki tempat check in bandara. Gavin membalas lambaian tangan itu. Kali ini, ia harus menunggu selama dua bulan untuk bisa kembali bertemu kekasihnya. 

--

Whina tinggal di sebuah desa yang cukup unik. Namanya Desa Weru. Sejak zaman dulu, desa itu tidak pernah ditinggali lebih atau kurang dari 37 keluarga. Lokasinya pun dikelilingi sawah milik desa, tidak berdampingan langsung dengan desa-desa lain. Meski begitu, Weru memiliki hubungan baik dengan orang-orang dari desa tetangga. 

Sudah dua minggu lebih Whina berada di rumah. Ia mendengar kabar Pak Rudin tiba-tiba jatuh sakit. Tiga hari terakhir dia mengeluhkan demam dan batuk ringan. Namun di hari keempat Pak Rudin mulai mimisan. 

Belum sampai kondisi Pak Rudin membaik, tiga warga desa lain juga jatuh sakit dengan gejala yang sama persis dengan yang dimiliki Pak Rudin. Istri Pak Rudin lalu membawanya kepada Mbah Miko, satu-satunya dukun yang dipercaya warga Desa Weru untuk menyembuhkan penyakit di desa mereka. Tidak hanya Pak Rudin, tiga warga desa lain yang juga memiliki gejala yang sama juga datang ke rumah pengobatan Mbah Miko.

Mbah Miko mengatakan bahwa yang terjadi pada Pak Rudin dan tiga warga lainnya itu merupakan sebuah wabah. Desa Weru sedang diserang wabah penyakit. Kabar itu kemudian Mbah Miko sampaikan kepada kepala desa. Isu wabah yang menjangkiti Weru sudah menyebar ke seluruh warga. Kepala desa akhirnya segera membuat pertemuan dengan warga di balai desa. 

Pada pertemuan itu, dia menyampaikan bahwa demi keselamatan orang lebih banyak, Desa Weru akan ditutup. Tidak boleh ada warga yang meninggalkan desa dan tidak boleh ada yang memasuki Desa Weru. Keputusan itu dibuat dengan pertimbangan bahwa Desa Weru dengan jumlah warga yang sedikit dan terletak jauh dari desa-desa lain sehingga mereka minim melakukan interaksi dengan warga luar desa.

Awalnya, ada beberapa warga yang menolak keputusan itu. Karena dengan cara itu maka bisa saja seluruh warga Desa Weru akan mati jika tertular dan tidak mendapatkan penanganan dari rumah sakit besar di kota.

"Ini adalah satu-satunya cara agar wabah ini tidak menyebar ke luar desa, dan kita bisa menyelamatkan lebih banyak orang. Untuk meminimalisir penularan diantara warga sendiri, tidak boleh ada orang-orang yang meninggalkan rumah," ujar kepala desa.

Hati para warga yang merasa berat dengan keputusan itu akhirnya bisa diluluhkan. Hari itu juga, setiap laki-laki muda dan dewasa di tiap keluarga membantu melakukan pemagaran mengelilingi Desa Weru. Mereka juga memasang pengumuman di depan gapura untuk mengabarkan kepada warga luar desa.

"Sebuah wabah sedang melanda desa kami. Untuk itu, kami mengisolasi diri dengan menutup akses keluar masuk Desa Weru." Begitulah pengumuman yang tertulis di gapura desa.

Seorang warga dari desa lain melihat pengumuman itu ketika hendak ke Desa Weru untuk membeli hasil panen. Dia lalu kembali ke desanya dan mengumumkan kepada semua orang. Sejak kabar wabah di Weru menyebar, orang-orang mengirim bantuan bahan pokok kepada warga Desa Weru dengan meninggalkan kantong-kantong keresek pada pagar pembatas.

Warga Desa Weru menerima bantuan itu dengan haru. Mereka membalas bantuan itu dengan memasang pengumuman lagi bahwa mereka akan membayar di kemudian hari ketika wabah itu sudah hilang.

Dua minggu berlalu dengan jumlah orang-orang yang terkena wabah masih terus bertambah. Selain Pak Rudin, sudah ada sekitar 20 warga meninggal karena tidak bisa bertahan dengan wabah yang menyerang tubuh mereka. Lima hari sebelum meninggalnya Pak Rudin, Whina juga telah terserang wabah tersebut.

Berita itu terus menyebar hingga ke kota-kota, dan sampai di telinga Gavin. Selama mereka berkomunikasi, Whina tidak mengatakan apapun kepada Gavin selain bahwa dia tidak bisa kembali menemuinya sesuai dengan rencana awal mereka. Setelah mendengar berita tentang wabah tersebut, tanpa berpikir panjang, Gavin langsung memesan penerbangan paling cepat. 

Itu adalah yang kedua kalinya Gavin mengunjungi tempat tinggal Whina. Tetapi kali ini, ia hanya bisa berdiri dari balik pagar yang memenjarakan Desa Weru. 

Dari balik pagar pembatas itu, Whina dan Gavin saling memandang. Wajah Whina terlihat pucat. Bibirnya kering dan matanya sayu. Meski dia berusaha keras mengembangkan senyum, darah yang sesekali keluar dari lubang hidungnya tidak mampu menutupi fakta bahwa dirinya telah menjadi salah satu korban wabah yang sedang menyerang desanya.

Untuk waktu yang lama, Gavin hanya memandang Whina tanpa kata-kata. Dia berbicara melalui air matanya yang berguguran setiap kali Whina menyeka darah yang sesekali keluar dari hidungnya. 

Cerita-cerita masa lalu digulirkan kembali. Dalam sorot matanya, Whina menyimpan setiap pertemuan-pertemuan yang dikenang oleh Gavin. Dan Gavin memeluk perjumpaan-perjumpaan itu hingga dadanya penuh sesak. 

Dia tidak pernah mengira, bahwa hal-hal terakhir yang bisa ia lakukan dengan Whina bukanlah pelukan atau ciuman di keningnya, melainkan sekedar bercengkerama dari balik pagar pembatas.***

Baca Juga: [CERPEN] Orang-orang Asing yang Membunuh Kami

Mufida Hana Photo Verified Writer Mufida Hana

Instagram/Twitter : @mufidafm

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya