Comscore Tracker

[CERPEN] Sajak Maha Panjang

Sajak yang menenggelamkan jiwa dalam keremangan kata usang

Pada malam yang tidak tertebak, semilir angin yang menyertaimu menghampiriku. Membawa aromamu bersama sesungging senyum yang mengoyak sukmaku. Lampu-lampu jalan meminjam warna rembulan untuk mengawalku. Menyusuri dingin yang ikut serta dengan angin aromamu.

Di antara langkah kaki yang munafik; menyelinapkan kegoyahan pada setiap pijakannya, angin aromamu menegur lewat dedaunan yang berguguran, beterbangan sesekali. Semilirnya melintasi kelopak mataku, bergesekan dengan genangan yang tertahan di sana. Bangsat, pikirku. Kalau ia tak jua berhenti melintas, genangan itu akan meluap, menciptakan aliran di antara guratan senyum.

Aku mendongakkan kepalaku, menerawang bintang-bintang yang sebenarnya tidak ada malam itu. Lebih tepatnya hanya sekadar agar genangan itu tak meluap dan mengaliri guratan senyuman yang kasat mata. Lampu-lampu jalan nampaknya berebut untuk meminjam warna rembulan. Beberapa dari mereka tak mendapat bagian; mengawalku dengan gelap. Malam dingin dengan angin aromamu yang menggugurkan dedaunan mempertemukanku dengan kursi panjang yang saling berpunggungan, berjajar di pinggiran menara malam yang mendentangkan jarum jam pada empat sisinya.

Layar empat koma lima inchi, terhubung dengan kabel panjang berkepala dua yang mencumbu kedua telingaku menjadi karib setia yang mengiringi pijakanku malam ini. Aku juga membawa serta tulang rusukku; lembaran-lembaran yang memeluk erat sajak-sajak tentangmu. Ruang paling menyejukkan untuk mengungkapkan sukma yang tak bisa meraih ragamu.

Mataku menekuri bait-bait yang menetas dan belum genap setahun. Mereka lahir dengan beragam usia; sajak tertuanya berusia seratus delapan puluh hari dan yang termuda baru saja menetas enam puluh satu menit yang lalu-sebelum sajak maha panjang ini terurai.

Tanganku merabai setiap kata, menenggelamkan jiwa dalam keremangan kata usang. Menguak kenangan yang mencandu kerinduan.

---

"Tempat itu terlampau nyaman untuk dilewatkan. Saya terbiasa membolos kelas dan memilih mengenyangkan perut dengan membaca buku-buku di sana," ujarmu kala itu.

Menemukan makna raut mukamu seraya mendengarkan suaramu bercerita, aku melupa sepasang mata kita berada dalam keramaian bersama dua cup es krim yang mulai meleleh.

---

"Beberapa komik saya dibakar. Mungkin saking saya selalu curi-curi waktu untuk membaca komik sekalipun sedang ujian sekolah. Dan setiap pulang sekolah selalu mampir ke toko buku untuk membeli komik," ujarmu kala itu.

Jika boleh memilih waktu, aku tak ingin beranjak kala itu. Tak ingin sedetik pun bertambah dan menjedakanku denganmu. Kesunyian lorong dan deretan rak dengan buku-buku berjejalan mengurungku dalam gemerlap warna bening air sungai yang menetap pada kelopak matamu. Candaanmu menggelitik di antara deretan buku-buku yang memperbudak kita.

---

"Saya menemukan buku ini di toko buku kemarin. Wah, ternyata ada film pendeknya," ujarmu kala itu.

Dalam hati, aku menyoraki film pendek yang tayang setengah jam lebih lambat; menyisakan ruang untuk bercengkerama, lebih tepatnya mendengar suaramu bercerita beradu dengan candaanmu yang menggelitik. Gemerlap warna bening air sungai yang menetap pada kelopak matamu mengaliri ragaku dan menembus jiwa; menyusup pada lubuk yang terdalam, bermukim entah seberapa lama.

---

Angin aromamu kembali melintas. Semilirnya bergesekan dengan genangan pada kelopak mataku. Mengembalikan jiwa yang tenggelam dalam candu kenangan. Tanganku masih meraba setiap kata. Kali ini kubiarkan semilir angin aromamu meluapkan genangan pada kelopak mataku, menciptakan aliran di antara guratan senyum yang kasat mata; mengalir hingga jatuh dan meninggalkan bekas di antara aksara yang bertutur, membangun sejarah disana.

Menara malam mendentangkan malam yang mulai malam. Angin aromamu yang menegurku melalui dedaunan berguguran merayap ke tubuhku dengan lembut, membawa serta udara dingin dan menerbangkan lembaran-lembaran sajak di genggamanku.

Engkau, aku tak bisa menyusupi duniamu; dunia yang tidak kupahami, tempatmu menetap dan menyusuri realitas-imajinermu, seorang diri.***

 

Malang, April 2018

Baca Juga: [CERPEN] Gambar Ajaib Rudi

Ihda Mufida Photo Community Writer Ihda Mufida

Instagram/Twitter : @mufidafm

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You