Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Dua Hari untuk Vita

Akhirnya pria itu harus mengubur perasaaannya

Aku terdampar di sebuah kota yang memang benar-benar menyedot semua atensiku. Di kota ini aku bermain-main dengan nasib dan masa depan. Kota yang menyajikan kemilau surga dunia dan berbagai bidadari-bidadarinya. Aku terjerembab di kota ini, kota yang kusebut kota nasibku.

Pagi ini aku kembali harus melakukan aktivitasku sebagai mahasiswa semester 6. Menjadi mahasiswa semester enam memang penuh warna-warni. Semenjak aku berada disemester enam ini, batinku sering bersenandung, “apa yang sudah kuraih di usiaku yang sekarang ini?.” Ternyata menjadi mahasiswa bagiku saat ini bukanlah kebanggaan, namun hanyalah beban. Tapi apa daya, walaupun aku mencoba berpikir idealis soal menjadi mahasiswa, tetap saja aku harus menyelasaikan kuliahku. Jika tidak, bagaimana wajah ayah dan ibu melihatku. Aku terlalu khwatir soal itu.

Kaki kulangkahkan, motor kuhidupkan. Aku bergerak menuju kampus dengan segala hiruk pikuknya. Bagiku kampus seperti rumah ketiga setelah rumah di kampung halamanku dan indekos. Dahulu saat aku berada disemester empat dan lima, berbagai aktivitas banyak kuhabiskan di sekitaran kampus. Namun aku tidak pernah merindukan hal tersebut, memang banyak pengalaman yang kudapat. Tapi sangat besar letih yang menjerat saat berkoalisi dengan yang namanya organisasi kampus. Jam berdetik, waktu berganti hingga jam menunjuk pukul 12.00. Pak Rusdi telah mengucapkan terima kasih dan itu berarti pertanda kuliah telah selesai. Aku bergegas memasukkan laptop dan buku-bukuku ke dalam tas. Setelah rapi, aku langsung bergegas ke sebuah kafe di sudut kota ini. Sebuah kafe yang bisa kusebut menjadi saksi perjalanan hidupku di kota ini.

Sesampainya di kafe, aku memesan kopi espresso favoritku kepada Randa, “Ran, espresso biasa satu ya”. Begitulah permintaanku kepada Randa setiap datang ke kedai kopi di sudut kota ini. Randa seusia denganku, seorang bartender berbakat yang hebat menurutku. Randa hebat bagiku karena di tengah kesibukannya mengerjakan skripsi, ia masih bisa mengatur waktunya dengan baik. Jikalau aku berada di posisi Randa, aku lebih memilih berhenti menjadi bartender dan fokus mengerjakan skripsi. Namun Randa dan aku bukanlah orang yang sama, semua orang punya alasan dan kemampuannya sendiri dalam mengatasi setiap masalah.

Hari ini aku ingin menyelesaikan bab kedua buku pertamaku yang akan terbit dua bulan lagi. Ini seperti mimpi bagiku, mengerjakan buku pertama bukanlah tugas mudah. Peluang ini harus kulakukan dengan penuh gairah dan kesungguhan. Kesempatan menerbitkan buku yang sedang kukerjakan inipun terjadi setelah percobaan ke-77. Naskahku pada akhirnya dilirik penerbit mayor dipercobaan ke-77. Aku sempat tidak bernapas ketika membaca e-mail yang masuk berisi ucapan selamat dan ajakan dari sebuah penerbit mayor untuk menerbitkan naskahku. Napasku tersenga-sengal saat itu, namun akhirnya aku sadar bahwa perjuanganku terbayar dengan lunas. Walaupun pada akhirnya aku tidak bisa berbahagia secara langsung, karena naskahku sangat kacau. Pada akhirnya aku harus merevisi hampir 70% naskahku dengan tempo waktu satu bulan. Penerbit menantangku dengan hal semacam itu, mereka jual ya langsunglah kubeli. Aku menerima tantangan tersebut dengan syarat harus ada feedback dari editor untuk memantau setiap naskah yang kurevisi, dan mereka setuju.

Kopi espressoku akhirnya datang, sambil diiringi senyum yang selalu diberikan Randa ke semua orang. “Ini bosque, minuman jamu pahit ala penulis amatir”. Randa memang selalu mengejekku dengan sebutan penulis amatir karena aku sering bercerita kepadanya bagaimana aku ditolak berkali-kali saat mengirimkan naskahku, dan aku sering berseloroh kepadanya, “aku sepertinya harus menamai diriku penulis amatir, Ran.”

Randi menjawab,

“Lho, kenapa?” Dengan wajah wajah pura-pura bego.

“Ditolak penerbit ternyata lebih menyakitkan ketika aku ditolak oleh Risa dua bulan yang lalu. Aku memang penulis amatir.” Randa tertawa terbahak-bahak.

Sejak saat itulah Randa menjulukiku si penulis amatir. Tapi mungkin julukan tersebut bakal sirna secara perlahan, sampai buku pertama yang sedang kukerjakan ini terbit.

Asyik aku tenggelam dalam tulisanku, hingga akhirnya aku merasa ada yang janggal di kafe ini. Tempat favoritku yang selama enam semester ini tidak ada yang menempati selain aku, ternyata ada juga yang menempatinya. Tempat aku duduk ini memang berisi dua kursi dan dua meja yang dipisahkan secara sejajar. Biasanya hanya aku yang berada di sudut kafe ini dengan satu kursi dan meja kosong di sampingku. Tetapi tidak dengan hari ini, aku baru menyadari ada seorang perempuan di sebelahku. Hatiku sempat terkejut, siapa gerangan perempuan ini. Kakiku gemetar dan keringatku mulai keluar. Aku berpikiran ini adalah makhluk penunggu kafe ini.

Sesosok perempuan yang memiliki rambut lurus tengah bersedekap sambil terdengar suara lirih sayup-sayup. Aku semakin gemetar ketika suara lirihnya itu berhenti saat aku menyadari kehadiran perempuan itu. Dalam hati aku berkata, “Ya Allah, jauhkan hamba dari godaan setan dan tipu dayanya.” Saat momen aku terpaku melihat wanita tersebut, aku kembali terkejut dengan gerakan tiba-tiba wanita itu, dia langsung menatapku dengan mata merah diiringi dengan isak tangis yang mengalir di pipinya. Dia tersenyum kepadaku dan menatap mataku dengan penuh harap. Tiba-tiba datang dua orang perempuan dengan tampilan necis dan cukup glamor. Perempuan pertama berkata

“ Hei gadis rabun, aku peringatkan sekali lagi, jangan ngayal jatuh cinta dengan Dafa!”. Sambil diiringi raut wajah melecehkan.

Perempuan kedua menimpali. “Dafa itu gak level sama gadis rabun seperti kamu, dasar mata empat!”

Kasar sekali kalimat-kalimat yang dilontarkan kedua perempuan itu terhadap wanita yang duduk di meja sebelahku, Aku hanya bisa menyaksikan umpatan-umpatan keluar secara sahut menyahut dari dua perempuan yang tidak kukenal di sampingku. Dan wanita yang duduk bersedekap itu hanya menangis lirih di mejanya. Hingga muncul Randa memecahkan keributan yang dibuat kedua perempuan itu, Randa menegur kedua perempuan necis tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung kafe ini. Setelah ditegur, kedua perempuan itu bergegas pergi tanpa protes. Aku melirik Randa, kugerak-gerakkan mataku ke wanita di sebelahku. Aku dengan tanpa suara bertanya kepada Randa, kenapa wanita di sebelahku ini. Dan Randa menjawab tidak tahu juga dengan tanpa suara. Aku dan Randa bukan orang yang tertarik dengan privasi orang lain. Jadi aku kembali menyibukkan diri dengan tulisannku dan Randa kembali ke pangkalan tempat ia meramu berbagai kopi.

Di tengah kondisi cuaca yang dingin karena di luar hujan deras, aku merasa tertolong dengan espressoku kali ini, hangatnya menentramkan. Hingga ketentraman itu hilang karena aku kembali terkejut-kejut untuk yang kedua kalinya hari ini. Wanita yang duduk di meja sebelah, yang sedang menangis terisak dan telah dicemooh dua perempuan necis tadi, duduk dihadapanku. Kali ini ia menatapku bersama kacamata yang menemani. Aku terperanjat dan berucap,

“Astagfirullah, kenapa kamu!?”. Dengan mimik benar-benar terkejut, jantungku berdegup cukup kencang karena wanita ini layaknya hantu yang bisa bergerak tiba-tiba tanpa terlihat.

Wajah wanita ini menurutku cukup cantik. Aku sempat dibuat grogi ketika mata dan kacamatanya terus menatapku tanpa henti. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada wanita ini. Momen ini sungguh canggung dan aneh hingga akhirnya ia berucap

“Kamu penulis cerpen yang sering dimuat di majalah “KAMPUS KITA”, kan?” Dengan wajah menelisik.

“Emm, emm, tidak, tidak. Cerpen apaan. Aku tidak pernah buat cerpen.” Disertai wajah aneh dan pura-pura tidak mengerti.

“Aku editor yang selalu membaca semua cerpen-cerpenmu, bodoh aku tidak tahu siapa sebenarnya penulis cerpen yang kubaca.”

“Haah, emm, jadi kamu editornya, eh bukan. Aku tidak pernah mengirim cerita apapun ke majalah kampus. Kamu siapa sih?” Hatiku mulai tidak nyaman dengan wanita satu ini. Setelah ia menangis ia mencoba membuka topeng dan rahasiaku. Kampret sekali.

“Jangan mengelak, cerpenmu yang berjudul “Lihat Hari Esok” cukup membuatku bergetar saat membacanya.”

“Tunggu, jawab dulu kamu siapaa!? Kamu setelah menangis, lalu bersikap sok tahu di depanku. Kita belum saling mengenal. Aku tidak tahu siapa kamu.”

“Aku Vita, mahasiswa Psikologi dan editor majalah “KAMPUS KITA”. Jadi jangan bersikap bodoh, seolah-olah kamu tidak tahu apapun.”

“Vita? Aku tidak mengenal orang sepertimu. Dan ya, aku mengaku, akulah penulis cerpen-cerpen yang kamu baca. Lalu kamu mau apa denganku?”

Dia diam dan raut wajahnya kembali datar. Hari ini adalah hari yang benar-benar aneh bagiku. Dan wanita di depanku yang mengaku bernama Vita ini terdiam dengan wajah datar dan saat aku tidak tahu harus berbuat apa, ia kembali menangis sambil menatapku. Kacamatanya yang berembun, menutupi bola matanya yang berair. Pipinya basah dengan air mata yang aku tidak tahu penyebabnya. Di tengah tangisannya tersebut, ia kembali berucap lirih kepadaku

“Kamu mau bantu aku?” Sambil diiringi tangis dan wajah yang benar-benar sedih.

Aku merasa aneh dan bingung. Wanita yang bernama Vita ini adalah orang yang asing bagiku. Aku baru melihatnya selama 10 menit dan aku tidak tahu apapun tentang masalahnya. Dan tiba-tiba ia mengungkap rahasiaku dengan mudah serta di tengah tangisan yang aku tidak tahu penyebabnya, ia meminta bantuan kepadaku. Aku merasa benar-benar gila hari ini. Pikiranku kacau dan situasi yang kuhadapi ini bukanlah momen favoritku. Aku akhirnya memutuskan meninggalkan wanita yang bernama Vita dan segera bergegas pulang ke indekos. Aku takut peristiwa yang baru saja kualami akan berdampak buruk dengan kehidupanku dan aku curiga sepertinya ada yang mempermainkanku hari ini. Saat aku bergegas menjauh, wanita itu masih menangis dengan lirih. Saat sampai di tempat Randi, aku berujar kepada Randi,

“Ran, coba urus cewek di ujung itu. Kayanya ada gangguan deh dengannya.”

“Lah, kenapa memangnya? Bikin masalah ke kamu ya?”

“Bukan, bukan, cuma aneh aja. Ya udah aku mau pulang dulu deh, ngutang dulu ya bro. Bye.”

“Halah kamvret, ngutang lagi kamu!”

Aku menyalakan motor dan bergerak menuju indekos. Diiringi hawa dingin menusuk kulit. Aku masih kepikiran dengan wanita yang bernama Vita tadi. Namun, aku mencoba melupakannya, buat apa aku memikirkannya. Toh kenal saja tidak.

Teriknya siang hari ini membuatku sangat haus. Setelah selesai kuliah, aku bergegas ke kantin kampus. Di kantin kampus biasanya terdiri dari manusia-manusia yang berkuliah di empat fakultas berbeda. Kedokteran, Sastra, Psikologi dan Teknik. Setiap kali memasuki kantin yang bernama Empat Fakultas ini aku selalu kekurangan oksigen. Maklum, manusia saling beradu tarikan oksigen di kantin ini. Layaknya gladiator, dia yang terkuatlah yang menang.

Setelah selesai membayar sebotol minuman soda kepada ibu kantin langgananku. Aku terusik dengan ribut-ribut yang terjadi di dome timur ini. Saking luasnya memang kantin ini dibagi empat dome, ada dome utara, timur, selatan dan barat. Biasanya tiap dome memang diisi empat fakultas yang ada. Sebut saja fakultasku, Fakultas Sastra mayoritas mengusai dome selatan. Namun tidak ada larangan apapun untuk berbelanja ke dome-dome lainnya. Pembagian tersebut hanya basa-basi tak resmi dari para manusia yang menginginkan kekuasan saja. Aku tidak begitu peduli. Kebetulan hari ini aku sedang ingin jalan-jalan ke kantin dome timur yang mayoritas diisi anak-anak Fakultas Psikologi. Aku penasaran dengan ribut-ribut yang terjadi  di kantin sarangnya anak Psikologi ini. Hingga aku teringat dengan wanita yang kutemui dua hari yang lalu, dia mengaku anak Psikologi. Aku berharap tidak bertemu dengannya, dia terlalu aneh buatku.

Penasaran apa yang terjadi, aku bergegas menuju sumber rebut-ribut yang kudengar. Banyak orang berkerumun di antara meja panjang yang bersambung dengan kursi. Di pusat kantin ini, semua mahasiswa tersedot ke satu poros yang ketika aku mencoba melihat ke sumber keributan, aku melihat wanita aneh dua hari yang lalu!

Dia terlihat sedang menangis di mejanya dengan baju kotor, kacamatanya yang tergeletak pecah dan rambut yang acak-acakan. Di hadapannya ada satu orang laki-laki dan dua orang perempuan yang aku masih mengingatnya. Dua orang perempuan itu adalah wajah yang kulihat di kafe kemarin. Aku bingung drama apa lagi ini. Apakah aku mengalami kutukan sedang menjalani kehidupan yang berulang-ulang layaknya film Happy Death Day. Namun aku yakin itu hanyalah film fiksi dan apa yang kulihat ini adalah kenyataan.

Saat aku sampai, semua yang terjadi telah mencapai klimaks. Keributan itu berada di bagian akhir ketika aku datang. Jadi aku tak tahu apa masalah yang terjadi sehingga wanita yang mengaku bernama Vita itu menangis dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Aku lalu bertanya kepada seorang pria di sampingku.

“Mas ini ada ribut-ribut kenapa, ya?” Dengan wajah yang bingung.

“Itu si rabun, dia mau nembak Dafa lewat cerpen yang tidak sengaja terbaca oleh teman-teman kelasnya. Si Dafa kan bintangnya Psikologi, mana mau dia sama si Rabun kuper itu.” Dengan wajah yang sok menghina, pria di sebelahku mengatakannya sambil tertawa.

Aku lalu mengucapkan terima kasih atas penjelasan singkat pria di sebelahku itu. Aku memandang Vita dan mulai tumbuh rasa empati kepadanya. Aku tidak habis pikir, hanya masalah cerpen, dia mendapatkan pembullyan yang luar biasa menyakitkan seperti ini. Aku menggerutu di dalam hati, “kuliahnya saja di psikologi, tapi nurani dan pikiran mereka lebih tidak waras dari orang gila.” Ketika semua orang membubarkan diri secara perlahan, aku masih berdiri menunggu semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah Vita. Dua orang perempuan necis yang aku yakin adalah pelaku pembullyan tadi juga sudah menghilang dengan satu pria yang setelah aku bertanya-tanya, pria itu adalah Dafa.

Kulihat Vita tertunduk malu dengan rambut tergurai acak-acakan. Ketika suasana mulai sepi, aku menuju ke meja Vita. Aku duduk di hadapannya secara tiba-tiba seperti yang dilakukan wanita di depanku ini dua hari yang lalu. Tangis Vita terhenti, dia menyadari ada orang lain yang sedang melihat dirinya. Dia mencari-cari kacamatanya yang pecah di lantai seperti orang yang tak tahu arah. Aku mengambilkan kacamatanya dan meletakkan kacamata tersebut di meja tepat berhadapan dengan dirinya. Aku berkata, “ini kacamatamu.” Dia berhenti meraba-raba lantai dan mencoba kembali duduk dengan posisi yang masih tampak sangat malu dengan siapapun yang menatapnya. Lalu aku mencoba membuka pembicaraan dengan berkata,

“Tidak perlu takut, ini aku, pria yang kau interogasi dua hari yang lalu.” Dengan wajah yang sangat serius aku mencoba membuatnya tenang dan nyaman duduk bersamaku.

Dia mendongakkan kepala dan menatapku. Tatapan penuh beban bercampur mata merah dan baju yang sangat kotor. Dia tersenyum kepadaku, sebuah senyum palsu yang dibuat-buat. Walaupun aku bukan anak psikologi, aku tahu senyum itu palsu.

“Vita, katakan padaku kau perlu bantuan apa?” Dengan intonasi yang tegas dan penuh penekanan aku dengan segenap hatiku akan membantunya.

Vita terkejut melihatku berkata seperti itu secara tiba-tiba. Sebenarnya keterkejutan tersebut pernah aku rasakan ketika dia meminta bantuan kepadaku dua hari yang lalu. Tapi aku sangat marah dengan perilaku bullying ini. Aku ingin membantu wanita yang ada di depan mataku ini. Aku memang tidak mengenalnya, tapi aku merasa seperti sampah jika tidak membantu orang-orang seperti Vita ini. Aku teringat dengan cerpen yang kubuat tentang seorang gadis yang di bully di sekolahnya. Aku merasa, cerpen yang kubuat tersebut seolah meloncat menjadi cerita nyata dalam kehidupanku. Dan saat ini aku menghadapi orang yang memang sedang mengalami bullying.

Vita menggeleng, dan mencoba beranjak dari hadapanku. Ketika ia ingin menjauh dan berjalan menjauhiku, aku berkata,

“Aku bisa membantumu menampar para pembully itu. Hanya karena cerpen yang kamu buat, kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Semua orang berhak mencurahkan apa yang ada di dalam pikirannya melalui cerpen. Dan ketika aku mendengar kamu di bully hanya karena cerpen yang kamu buat. Aku muak mendengarnya.” Aku mencoba menjelaskan kepada Vita bahwa cerpen adalah hak kemerdekaan penciptanya, Ketika hak tersebut dilecehkan, kita harus melawan. Tentu saja dengan cara yang sudah kupikirkan.

Vita berhenti dan terdiam, dia nampak ragu mendengar kata-kataku. Namun dia juga tampak penasaran. Hingga akhirnya ia mengatakan, “Mau apa kamu dengan filosofi cerpenmu itu. Toh kemarin kamu meninggalkanku ketika aku meminta bantuan, Dan saat ini kamu datang dengan sok kesatria.” Kata-katanya cukup menohok bagiku. Saat itu aku memang tidak tahu bahwa Vita sedang mengalami masalah seperti ini. Namun kali ini tekadku bulat, aku punya cara yang pas untuk menolong Vita.

“Aku akan menolongmu dengan caraku. Kamu akan menampar wajah pembully yang melakukan hal ini padamu. Aku akan membantumu membungkam mulut mereka dengan sesuatu yang elegan.” Penawaran yang kuberikan sangat menarik dan misterius. Begitulah para tokoh-tokoh novel yang kubaca semalam melakukan penawaran agar negosiasinya berhasil. Dan hari ini aku mengulang kata-kata yang kubaca di novel tersebut.

Dia masih tampak ragu, hingga jam di tanganku menunjukkan pukul 2.00. Aku harus masuk kelas. Akhirnya aku memberikan kalimat pamungkasku, “temui aku malam ini di kafe yang dua hari lalu kamu meminta bantuan kepadaku. Aku akan menjelaskan bagaimana caranya membalas para pelaku bullying itu.” Aku beranjak dan berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Vita masih terdiam.

Malam ini rintik hujan turun malu-malu. Aku dengan espresso-ku berduaan ditemani laptop yang terus-terusan kujamah tombol-tombolnya. Bab dua buku pertama yang sedang kukerjakan sebentar lagi mencapai akhir. Aku sangat antusias menumpahkan imajinasiku. Hingga akhirnya aku terkejut dengan tatapan tajam mata seorang wanita yang kulihat secara tiba-tiba. Aku memekik, “Hah, siapa kamu!” dengan wajah ketakutan. Aku memang orang yang penakut, diriku sering terlalu percaya takhayul ketimbang spoiler-spoiler film superhero.  Wanita itu tersenyum, sebuah senyum tulus dan hangat. Dan aku baru menyadari bahwa wanita yang ada di hadapanku itu Vita. Dia tampak cantik dengan balutan make-up tipis dan sapuan lipstick berwarna pink.

Aku sempat pangling dengan dia. Tadi siang dia tampak kacau dan sekarang dia terlihat seperti dua wanita pembully dirinya, sangat necis. Aku tersenyum kepadanya dengan senyuman terbaikku. Memang jika dilihat-lihat, Vita tidak seburuk yang dianggap banyak orang. Wajahnya cukup tirus dengan hidung yang mancung, kulitnya putih dan senyumnya cukup manis. Mungkin hanya tampilannya yang memang agak culun, namun menurutku dia adalah wanita yang cantik. Tapi aku mencoba mengesampingkan pikiran konyol tersebut. Aku lalu menyapanya untuk sekadar menanyakan bagaimana kondisinya. Aku khawatir, dia mengalami stress atau depresi berat setelah tadi siang ia dibully habis-habisan. Tapi aku lega ketika dia berkata kepadaku,

“Jadi, aku ingin balas dendam dengan cara “elegan” yang kamu sebutkan tadi siang.” Dengan wajah menyelidik penuh rasa harap.

Aku lalu menjelaskan panjang lebar bagaimana cara “elegan” untuk balas dendam itu dilakukan. Aku menjelaskan filosofi sebuah karya adalah kemerdekaan yang tidak bisa dijajah atas dasar perasaan. Aku menjelaskan kepada Vita bahwa cerpen yang ia buat adalah sebuah karya yang harus dibanggakan bukan dijadikan alasan untuk bahan bullyan. Lalu aku menunjukkan brosur kepadanya. Brosur itu bertuliskan, LOMBA CERPEN EMPAT FAKULTAS (TEKNIK, SASTRA, PSIKOLOGI DAN KEDOKTERAN). Aku lalu menjelaskan syarat perlombaan dan tetek bengeknya. Namun Vita masih bingung, bentuk balas dendam apa yang harus ia lakukan dengan lomba cerpen tersebut. Lalu aku menunjuk ke arah tanggal di brosur tersebut. "Waktumu sisa dua hari untuk membalas dendam." Aku lalu menjelaskan bahwa Vita harus ikut lomba cerpen tersebut. Dan jika menang, ia bisa menampar sekaligus membungkam para pelaku bully di luar sana agar sadar bahwa mereka hanya kumpulan sampah yang busuk tak berguna, Vita terdiam, dia nampak ragu dengan kalimat berapi-apiku itu. Ia merasa tidak mampu harus mengikuti ajang bergengsi seperti lomba cerpen antar empat fakultas tersebut. Aku lantas meyakinkannya dengan konsekuensi aku harus membuka topengku padanya.

“Tenang, aku sudah memenangi lomba ini lima kali. Kamu akan kubantu untuk membuat cerpen yang luar biasa.” Aku mengeluarkan kartu AS-ku. Lalu, Vita melotot dan terkejut melihatku dan ia berucap, “Jadi, jadi, kamu si cerpenis misterius yang menjadi juara bertahan lomba cerpen antar emapat fakultas itu!? Kamu, orangnya!? Kamu cerpenis tanpa nama dan identitas yang cerpennya seolah menjadi misteri dan legenda di empat fakultas!?” Vita nampak sangat kaget dan tidak percaya. Dia bertemu dengan seorang pecundang yang hobinya berimajinasi. Lalu aku berkata dengan wajah santai, “Ya, itu semua cerpenku dan ingat, jangan bocorkan rahasia ini kepada siapapun.” Setelah kujelaskan bagaimana kiprahku sebagai penulis bayangan yang berprestasi, akhirnya aku bisa meyakinkan Vita untuk ikut lomba cerpen empat fakultas tersebut.

Waktu tersisa dua hari sebelum deadline pengumpulan lomba cerpen. Hari ini aku dan Vita duduk bersebelahan mendiskusikan tema cerpen seperti apa yang harus dibuat. Aku beradu opini dengan Vita. Dan ternyata Vita adalah wanita yang cerdas dan kritis. Satu jam , dua jam hingga akhirnya kami memutuskan akan membuat cerpen dengan tema bullying. Lalu Vita kuberikan tips dan trik bagaimana cara membuat cerpen yang menarik dan bernyawa, yang ketika orang membacanya, mereka akan terperangkap di dalam cerpen yang mereka baca dan terus dihantui dengan kalimat dan adegannya. Vita dengan penuh perhatian mendengarkanku menjelaskan bagaimana diriku bisa menjadi legenda bayangan dengan berhasil menjadi juara lomba cerpen empat fakultas selama lima kali berturut-turut. Setelah semua pengetahuanku mengolah cerita kubagi cuma-cuma kepada Vita, ia berjanji akan menyelesaikan cerpen dengan tema bullying malam ini juga. Setelah ia meminta nomor kontak yang bisa ia gunakan untuk menghubungiku, ia lalu berpamitan dan pulang dengan senyum. Sebuah senyum yang tulus dan sangat bahagia. Malamnnya aku sempat menunggu dia menghubungiku, namun ternyata dia tidak menghubungiku. Aku berharap hal yang konyol.

Keesokan harinya, ia membawa sepuluh lembar kertas A4 dan menyerahkannya kepadaku.

“Ini, coba baca. Kalau ada yang gak nyambung, tolong koreksi ya.” Dahiku mengernyit, aku merasa cukup familier dengan cerita ini.

“Kamu yakin mau menggunakan cerpen ini?” Tanyaku kepadanya dengan wajah tak yakin.

Vita mengangguk dengan senyum manisnya. Aduh lagi-lagi aku berpikiran konyol. Aku lalu membaca cerpen karya Vita dengan hati-hati dan penuh penghayatan. Ceritanya sungguh nyata dan tidak dibuat-buat. Hari kedua ini aku menghabiskan waktu dengan Vita untuk memperbaiki ejaannya saja. Menurutku alur dan plot dalam cerita sudah pas dan menarik. Hingga larut malam aku membantu Vita mengoreksi ejaan cerpennya dan Randa menegur kami berdua, “Abang penulis amatir dan nona manis, kafe sudah mau tutup, jadi saya harap kalian angkat kaki dari tempat ini sebelum kalian disangka mesum di kafe kosong yang gelap.” Setelah teguran dari Randa, aku dan Vita memutuskan untuk pulang. Kebetulan Vita paham apa yang harus ia koreksi sedikit lagi. Ia berjanji akan memperbaikinya langsung begitu sampai di rumahnya. Aku mengucapkan hati-hati kepadanya dan menawarkan tumpangan untuk pulang, namun ia berkata akan menunggu teman yang akan menjemputnya. Setelah mendengar penjelasan tersebut, aku langsung memacu motorku ke indekos. Cukup kecewa.

Waktu penjurian berlangsung selama dua bulan. Aku memang tidak terlalu mempedulikan hasil penjurian tersebut. Namun ada rasa harap-harap cemas dihatiku, Aku takut cerpen yang dibuat Vita kalah dan memperburuk keadaannya. Selama dua bulan tersebut aku cukup intens berkomunikasi dengan Vita. Aku pada akhirnya memutuskan untuk menghubunginya lebih dahulu. Semakin intens aku berkomunikasi dan bertemu dengan Vita, perasaanku mulai konyol. Aku tertarik dengan Vita. Namun ketertarikanku tersebut selalu tidak pernah kutampakkan. Aku selalu bersikap santai dan nampak tidak peduli saat bertemu dengannya.

Hari Sabtu 27 April adalah hari yang cukup menegangkan untukku dan Vita. Belakangan Vita sudah jarang diganggu oleh dua perempuan necis. Namun ingat, jarang bukan berarti tidak pernah. Dan hari ini adalah momen di mana Vita akan menutup pengalaman kelamnya dengan cara elegan. Dia akan membungkam dan menampar wajah pembully-nya dengan cara elegan. Lewat sebuah karya. Pengumuman lomba cerpen empat fakultas setiap tahunnya memang cukup mewah. Diadakan di aula kampus Fakultas Kedokteran dan diisi dengan acara seminar. Jumlah orang yang hadir pada pengumuman lomba cerpen empat fakultas hari ini sangat banyak. Dan momen yang aku dan Vita tunggupun tiba. MC menjelaskan bahwa hanya ada tiga cerpen terbaik yang sudah dinilai oleh paara pakar dan dosen yang kompeten di bidang sastra dan kepenulisan. Pembacaan pemenang dimulai dari juara ketiga. MC membacakan pengumuman  diriingi suara musik yang menambah kesan mendebarkan. MC menyebutkan nama Dinda Fitri dari fakultas sastra  memperoleh 1.200 poin dan berhak menempati posisi ketiga. Semua bersorak dan bertepuk tangan. Yah, fakultas sastra mengalami kemunduran.

Gelar yang kuperoleh selama lima kali berturut-turut harus rontok hari ini. Tapi aku tidak teralu peduli juga. Aku hanya ingin mendengar siapa juara pertamanya. Diiringi dengan sorak yang menggema dan penuh semangat, Firda Julianti dari Fakultas Teknik berhasil merebut juara kedua dengan poin 1.500. Wajah Vita sempat pucat dan tidak tenang. Ia tidak yakin akan bisa merengkuh gelar juara. Ia mulai tidak tenang duduk di kursinya. Dan pada akhirnya MC memecah ketegangan dan keheningan dengan menyebut Vita Larasati dari Fakultas Psikologi sebagai juara pertama lomba cerpen empat fakultas dengan skor 2.000. Semua orang pecah dan takjub. Aku melihat wajah dua perempuan necis yang sangat kukenali terlihat ternganga. Vita yang tadinya nampak tegang duduk di sebelahku, menangis. Ia menangis sejadi-jadinya, dan ia memelukku.

Setelah dipersilakan maju dan menyampaikan sepatah dua patah kata untuk semua hadirin yang hadir di aula tersebut. Vita menyebut tidak akan pernah melupakan jasa seorang pria yang baginya adalah penyelamatnya. Pria yang mengajarinya cara membungkam dan menampar seseorang dengan cara yang elegan. Namun sesuai perjanjianku dengan Vita, Vita tidak boleh menyebut namaku dalam sambutan basa-basinya tersebut. Aku tidak ingin dikenal banyak orang. Aku hanya ingin orang lain menikmati karyaku. Aku tidak perlu dikenal, aku suka bergerak menjadi bayangan. Dan hari ini, aku adalah pria yang merasakan kedamaian. Aku ternyata tidak membual dan berkhayal saat membuat cerpen pembullyan yang jadi tema favoritku. Dalam dunia nyataku, aku berhasil membantu korban pembullyan.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan Vita. Di tempat pertama kali aku bertemu dengan dirinya dengan keabsurdan yang luar biasa. Aku menyeruput espressoku dan Vita mengaduk-ngaduk moccachino-nya. Hari ini tekadku sudah bulat, aku akan menyatakan perasaanku kepada Vita. Namun sebelum itu, aku harus mendengarkan bagaimana Vita memuji dan berterima kasih berkali-kali kepadaku. Ia juga bercerita soal bagaimana pandangan teman-temannya saat ini. Semua temannya saat ini menaruh rasa hormat kepdanya. Dan dua perempuan necis yang sering membully dirinya, dua perempuan itu sangat malu dan tidak berani menatap wajah Vita. Setelah selesai mendengarkan celoteh Vita, aku lalu berucap,

“Vita, aku harus jujur. Setelah beberapa bulan yang kulalui bersamamu. Aku pada akhirnya harus jujur.” Wajah Vita berubah ketika mendengar aku berkata seperti itu.

“Aku mencintaimu ,Vita. Hari ini aku harus jujur. Ini perasaan yang sudah kupendam selama beberapa bulan ini.” Aku siap dengan apapun jawaban Vita. Aku harus siap.

Dan malam ini ditutup dengan rintik air mata konyol dari diriku. Vita ternyata sudah memiliki tambatan hati. Pacarnya adalah seorang mahasiswa yang sedang berkuliah di luar negeri. Ia dengan lembut menjelaskan kepadaku bahwa aku dan dirinya cukup jadi sahabat yang siap saling membantu saat dibutuhkan. Aku tidak bisa memaksa hati yang sudah terisi. Dan sepertinya aku memang ditakdirkan hidup layaknya bayangan. Aku menutup mataku dengan tangis pecah yang tak bisa kubendung. Kemarin aku bahagia dan lega, hari ini aku patah hati, oh Tuhan.

Setelah kejadian aku menyatakan perasaanku kepada Vita. Semua ternyata berjalan normal.Vita tidak berusaha menjauhiku, kadang-kadang ia mampir menemaniku mengerjakan buku pertamaku. Walaupun masih ada perasaan suka, aku sadar diri. Vita punya hati yang harus ia jaga dan aku tidak akan menjadi pecundang yang merebut hati Vita dengan cara tidak elegan.

Suatu waktu, kira-kira sebulan setelah pengumuman Vita sebagai juara. Aku membaca majalah “KAMPUS KITA”. Aku terpaku dengan sebuah cerpen yang berjudul AKU. Isi cerpen tersebut menceritakan seorang gadis yang dibully oleh teman-temannya hanya karena ia membuat cerpen yang berisi ungkapan yang sebenarnya disalah tafsirkan oleh teman-temannya sebagai ungakapan cinta. Gadis tersebut dibully habis-habisan oleh dua orang perempuan. Ia sempat stress dan merasa putus asa akibat bully yang dilakukan teman-temannya. Hingga ada seorang pria yang layaknya pahlawan bagi gadis tersebut. Aku meloncat ke akhir cerita. Aku mengambil pulpen dan kutambahkan tulisan,  “akhirnya pria itu harus mengubur perasaaannya dan berdamai dengan patah hati.” Lalu kucoret judul AKU pada cerpen itu dan menggantinya dengan tulisan “Dua Hari untuk Vita”. Di bawah cerpen yang kubaca itu, tertulis, Vita Larasati juara 1 lomba cerpen empat fakulta.

 

Banjarbaru, 24 April 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Benci Jangan Dibalas Benci

M. Farid Hermawan Photo Community Writer M. Farid Hermawan

POTONGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You