Comscore Tracker

[CERPEN] Gadis Malam Tahun Baru

"Apa yang paling membuatmu takut?"

Berawal dari tempat ini. Ketika Tuhan mempertemukan kita di bawah deras hujan, dalam riuh perayaan malam tahun baru.

Seharusnya malam itu langit cerah, seperti yang dikabarkan pembawa berita cuaca di televisi. Seolah-olah akurat, ternyata tidak. Ah, benar juga. Mereka bukan Tuhan yang bisa memerintahkan langit untuk hujan atau sebaliknya.

Namun di sini, tidak seperti mereka yang saling tertawa menyambut pergantian tahun baru, aku kemari bukan untuk tujuan itu.

Malam-malam seperti ini adalah anugerah bagiku, tentunya sebagai pencopet dengan bakat alamiah.

Jangan terlalu kaget. Toh, kita punya posisi masing-masing sebagai aktor di panggung ini. Bersyukur saja kalau kau tak memiliki peran yang sama sepertiku.

Hujan menjadi semakin deras sebelum kembang api sempat memenuhi langit. Semua orang mencari tempat berteduh, menghindari hujan sebisa dan secepat mungkin.

Saat itulah aku melihat seorang gadis bergeming di pusat taman. Menatap air mancur di depannya tanpa peduli hujan yang kian menjadi.

Semua orang heran. Beberapa ada yang bertanya, apakah gadis itu baik-baik saja?

Satu atau dua gadis sepantaran dengannya sempat mengajak berteduh, tapi dia tampak menolak. Begitu juga ketika salah seorang wanita dengan wajah keibuan mengahampiri, gadis itu tetap diam di tempat.

Tak ada laki-laki yang menghampiri, mungkin merasa enggan. Takut kalau banyak yang melihat dan dianggap berbuat macam-macam pada gadis yang tak dikenal. Atau mungkin juga karena mereka sudah bersama dengan kekasih masing-masing.

Sementara aku? Aku sungguh merutuki diriku. Bagaimana bisa kedua kaki ini melangkah menghampirinya? Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi, seolah tengah terhipnotis. Bahkan tak ingat kalau tujuanku kemari adalah meraup keuntungan dari kelengahan orang lain.

Aku berdiri tepat di samping gadis itu. Payungku cukup lebar untuk membuat kami terlindung dari hujan. Di sana, sekitar satu atau dua jam lamanya, berdiri sampai hujan reda. Pandangan kami tertuju pada air mancur di tengah kolam. Saat itu, kami seperti dua makhluk bodoh yang menjadi pusat perhatian orang-orang waras di sekitar.

Hujan mereda. Orang-orang mulai berpencar, mencari tempat paling nyaman, demi menikmati indahnya kembang api di langit.

Sedangkan aku? Sudah ingin menutup payung dan pergi. Namun berhenti saat gadis itu tiba-tiba bersuara.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

"Apa yang paling membuatmu takut?"

Aku berbalik. Menatap gadis itu heran, sementara dia masih saja fokus pada air mancur.

Apa yang paling kutakutkan? Yah, itu tergantung situasi. Dari hal kecil atau hal besar. Kadang aku takut saat ada tikus melompat entah dari mana. Kadang takut saat bertemu anjing galak. Kadang aku takut, putriku akan tahu apa profesi ayahnya lalu mengadu pada bundanya di surga. Benar juga! Hal terakhir sepertinya adalah apa yang paling aku takutkan. Takut melihat kebencian dan rasa jijik di mata putriku sendiri.

"Kalau aku, aku takut dengan segalanya. Dunia yang terlihat seperti ilusi. Orang-orang yang penuh dengan sandiwara. Tawa di tengah rasa sepi. Bahkan pada kehadiranku sendiri ... semua terasa palsu."

Dia membuat gerakan memutar tubuh, menghadap ke arahku. Itu adalah gerakan pertama yang kulihat sejak hujan deras tadi.

Lampu taman menyorot tepat ke arah wajah gadis itu. Membuatku bisa melihat, betapa dalam kehampaan dalam tatap matanya. Sedikit rasa iba muncul dalam hatiku.

Sebenarnya jika dilihat dari segala sisi, aku yakin kalau dia gadis kaya raya bergelimang harta. Meski pakaiannya sederhana, aku bisa melihat apakah itu pakaian bermerek atau cuma beli di pasar loak. Bahkan jika boleh, aku berharap bisa mendapatkan jam tangan berkilau yang menutupi nadinya.

Namun aku hanya bisa menghela napas saat kembali pada tatapan sendu yang dia miliki.

Kembang api tiba-tiba memenuhi langit. Ketika semua orang mulai riuh terkesima, ketika semua orang mendongak menatap langit, aku justru melihat gadis itu menunduk dalam.

"Angkat kepalamu." Suara pertamaku di antara gemuruh kembang api dan riuh orang-orang.

Dia mendongak, bukan ke arah langit, tapi ke arahku.

"Kamu melihat segalanya palsu karena memang menganggapnya begitu. Sesekali bukalah mata hatimu, kamu akan bisa melihat, kalau semua adalah nyata." Aku berhenti sejenak untuk mengambil napas kemudian melanjutkan, "Kamu tidak harus mengurung diri di dunia ilusimu. Berjalanlah, berkelilinglah. Dunia ini luas, tetapi terlalu singkat untuk kamu sia-siakan dalam kesedihan."

Aku melangkah maju, menyisakan jarak satu langkah dengan gadis itu. Kemudian memberikan payung hitam milikku padanya. "Pulanglah. Kamu harus ganti baju. Di luar sana, ada banyak yang ingin bangun dari tempat tidur untuk sekadar merasakan udara pagi, tapi tidak bisa."

Baca Juga: [CERPEN] Titik Tersunyi

Al Noe Ra Photo Community Writer Al Noe Ra

Gadis pengagum langit.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You