Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Sebuah Nama dan Diagnosa

Namaku Juminten. Aku penderita depresi.

Jumat, 5 April 2019.

Bunyi dentum musik dari kafe di tepi jalan memenuhi lubang telinga setiap manusia yang lewat didepannya. Namun tidak denganku. Sebenarnya lagu itu milik grup K-Pop favoritku yang baru rilis hari ini. Biasanya, aku akan duduk manis di dalam kafe sambil memesan semangkuk bingsoo—es serut ala Korea—kesukaanku, kemudian mengerjakan tugas kuliah ditemani lagu-lagu Korea yang diputarkan si pelayan kafe. Biasanya seperti itu. Namun tidak hari ini. Aku sedang mati rasa.

Aku baru saja didiagnosa.

Oleh psikiater, aku didiagnosa menderita mental illness. Dan hari ini adalah sesi konsultasi pertamaku.

Ya, aku sakit. Bukan sakit fisik, melainkan psikis. Meski akhirnya fisikku ikut kena imbasnya. Bobotku turun hampir 6 kg dalam sebulan, sulit makan, tidur berlebihan hingga diatas 20 jam lamanya, tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa sebab, stres, serangan panik tiba-tiba, fobia tanpa alasan, tremor, dan masih banyak lagi. Semua sempat aku alami.

Sebelumnya, kukira aku menderita penyakit dalam. Aku sudah sering bolak-balik rumah sakit untuk cek darah, diperiksa di lab, hingga minum obat ini dan itu. Namun semua diagnosa dokter sama, secara fisik aku sehat. Tidak ada infeksi, tidak ada tumor bahkan kanker, tapi aku sakit. Sampai akhirnya, aku disarankan untuk memeriksakan diri ke psikiater.

Hasilnya?

“Anda menderita depresi, borderline personality disorder, dan psikosomatik.” Ucap wanita berjas putih didepanku. Menurutnya, itu nama ketiga penyakitku.

“Anda beruntung, gejala psikosomatik tersebut yang membawa anda memeriksakan diri hingga ke psikiater." Mau tidak mau, aku terpaksa harus berterima kasih pada penyakit yang ia sebut barusan—psikosomatis, suatu kondisi timbulnya penyakit fisik akibat adanya gangguan mental—karena tanpanya aku tak akan pernah tahu bahwa aku menderita gangguan psikis. Ya, aku masih beruntung. Dan fakta yang lebih menyedihkan, kalau tidak bisa kusebut lucu, aku sedang menjalani semester keenamku di jurusan psikologi.

Bohong besar kalau aku bilang, aku belum pernah merasakan gejalanya. Aku pernah, 3 tahun lalu. Tapi kuabaikan. Aku menolak menganggap diriku sendiri, seorang calon psikolog, menderita gangguan mental. Tiga tahun kuabaikan. Dan baru sekarang aku sadar dan merasa hampir gila. Bodohnya aku. Kini aku harus rela mengikuti berbagai rangkaian terapi obat dan hipnoterapi yang tentu saja, tidak murah.

Ngomong-ngomong namaku Jumi, alias Juminten. Panjangnya, Sastra Juminten. Terdengar ndeso memang, setidaknya bagi para millennial di luar sana yang merasa lebih modern dan keren dengan nama-nama aneh nan njelimet seperti Prilly, Angel, Pahlevi, dan sejenisnya. Tapi Juminten adalah nama kesayangan, pemberian mendiang eyang. Mirisnya, nama Juminten pulalah yang menjadi salah satu penyebab aku di-bully.

Ya, aku adalah korban diskriminasi. Berasal dari kampung nun jauh disana, namun sekarang tinggal di kota metropolitan. Aku disebut ndeso alias kampungan, dikatai ketinggalan zaman, tidak cocok dengan peradaban. Semua gara-gara namaku, Juminten, dan cara berbicaraku yang medok.

Dokter Daniar, nama psikiater yang menanganiku, manggut-manggut mendengar ceritaku.

“Sejak kapan kamu mulai mengalami diskriminasi?” ia bertanya dengan lembut. Jika orang lain yang bertanya, aku pasti akan enggan menjawab. Namun entah mengapa dokter Daniar mampu membuatku berani bicara.

Kuucap basmalah dalam hati.

“Semua bermula sejak saya masuk kuliah di kota J, 3 tahun lalu." Akhirnya, aku buka suara.

***

Kota J, Agustus 2016.

Aku ingat sekali, pagi tadi senyum tak henti-hentinya menghiasi pipi bulatku yang penuh. Hari ini hari pertama aku menyandang status sebagai mahasiswa. Aku selalu membayangkan hal ini sejak SMA di desa dulu. Berkuliah di kota, mengikuti OSPEK yang seru, dan berjumpa banyak kawan baru. Namun kini, senyum tak mampu hadir lagi. Terlalu banyak mata yang memandangi, terlalu mengintimidasi.

“Juminten?” senior di sebelahku menyebut namaku lagi dengan ekspresi yang kurang enak dipandang, setidaknya bagiku. Ucapannya yang tiba-tiba itu jelas saja mengejutkan aku yang sedang terpaku.

Nggih? Eh, maksud saya, iya mas?” entah mengapa aku menjadi latah. Aku terlalu gugup untuk mengeluarkan kata. Jika sebelumnya para mahasiswa baru anggota kelompok OSPEK-ku ini hanya berani tersenyum kecil atau tertawa sembunyi-sembunyi, sekarang mereka sudah berani terbahak-bahak lepas. Wajar sih, wong seniorku sendiri yang mengompori. Aku sebal, tapi tak bisa berbuat lebih.

“Hahaha! Nggih, Jum. Kamu Juminten-nya kangen band ya?” senior lain ikut menimpali. Lagi, tawa kembali membahana.

Aku semakin mati kutu. Apa OSPEK itu memang selalu seperti ini? Batinku. Sebenarnya agenda OSPEK pagi ini sederhana. Hanya perkenalan, permulaan sebelum memulai sesi Forum Grup Discussion. Kedua senior tadi seharusnya bertugas sebagai kakak pembimbing yang memimpin jalannya diskusi grup. Tadinya aku semangat sekali memulai sesi ini, apalagi debat adalah keahlianku. Namun ternyata baru perkenalan diri saja, nama dan cara bicaraku sudah dijadikan bahan lucu-lucuan. Mungkin mereka ingin mencairkan suasana, batinku. Aku mencoba berpikir positif, mencoba memperbaiki mood yang telah rusak. Tapi gagal. Ya sudahlah, semoga besok aku bisa unjuk diri.

***

Pembunuhan karakter. Sepertinya, itu dampak dari perpeloncoan di hari itu. Sejak itu, aku terpaksa tidak menjadi diriku sendiri. Juminten yang kritis dan banyak bicara, berubah menjadi Jumi yang pendiam, introvert, dan jarang tersenyum. Dulu, aku senang dengan nama itu, Juminten. Kini, aku selalu memperkenalkan diri sebagai Jumi di setiap kesempatan. Aku juga berusaha membiasakan diri belajar mengurangi logat jawaku yang kental. Sulit memang, apalagi itu sudah bawaan sejak lahir. Namun aku tidak ingin dikucilkan orang.

Hingga akhir semester kedua, sisa-sisa diskriminasi itu masih terasa. Beberapa teman seangkatan masih memanggilku dengan sebutan itu. Aku sedikit berterima kasih, sekaligus merasa tidak enak pada para juniorku, mahasiswa baru angkatan 2017. Perhatian orang-orang kini tertuju pada mereka. Semua bullying itu kini beralih ke mereka. Meski merasa bersalah, namun aku akhirnya bisa bernapas lega selama sekitar 2 tahun sesudahnya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Sepintas, hidupku terasa normal kembali selama sebulan dua bulan belakangan. Aku menyibukkan diri di PIK-M atau Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa kampus yang berpusat di fakultasku. Aku sangat nyaman di UKM ini sebab hampir semua menerimaku apa adanya, meskipun mungkin ada satu dua yang masih memperlakukanku dengan cara berbeda. Hingga akhirnya, bayang-bayang masa lalu itu kembali menghantui.

Aku yang mulai menikmati kembali hidupku sebagai seorang Juminten, si wong ndeso berprestasi yang merantau kuliah di kota, terpilih sebagai duta GenRe (Generasi Berencana) yang akan mewakili kampusku berlaga di ajang pemilihan duta GenRe se-ibukota. Sayangnya, ternyata ada saja yang iri dan dengki, mencoba menjatuhkanku. Salah satunya, dia.

Februari 2019.

Namanya Delisa. Dibilang teman mungkin tidak juga. Sebab sebenarnya kami berdua tidak akrab, hanya sekedar tahu saja karena kebetulan adalah rekan satu angkatan di jurusan yang sama. Aku ingat sekali, dulu Delisa adalah salah satu anak yang paling gencar mengatai dan mem-bullyku. Karena itulah aku berusaha untuk tidak dekat-dekat dengannya. Namun takdir membawa Delisa bertemu kembali denganku di PIK-M ini. Tentu saja aku tak punya hak untuk melarangnya bergabung, tapi entah kenapa kehadirannya terasa berbahaya dan mengintimidasi. Dan firasat buruk itu akhirnya terbukti hari ini.

Aku heran mengapa tiba-tiba ketua PIK-M ingin bertemu denganku sepagi ini, mendadak sekali. Tapi tanpa curiga, aku datang menemuinya di ruang sekretariat kami di kampus. Tak kuduga, seluruh pengurus ternyata sudah turut hadir di ruangan, dengan raut wajah yang susah diterka.

“Pagi, Juminten”. Aku sedikit berdebar, tidak biasanya orang-orang disini memanggilku dengan nama itu. Mereka tahu aku lebih senang dipanggil Jumi. Lebih berdebar lagi, tatkala mataku menangkap sosok Delisa persis di sebelah Adam, ketua PIK-M kami. Meski satu fakultas, namun kami berasal dari jurusan yang berbeda.

“Langsung saja ya, Jum”. Adam mengisyaratkan padaku untuk duduk di dekatnya, di dekat Delisa. Aku melangkah patah-patah, rasanya seperti tatapan seisi ruangan membakarku.

“Jadi ada keperluan apa ya mas?” Aku memberanikan diri membuka dialog. Delisa menatapku dengan tatapan yang kurasa, terlihat merendahkan. Tatapan itu, persis sama ketika dulu dia mem-bullyku.

“Kami sudah berdiskusi. Saya juga sudah memeriksa kembali track record kamu untuk memastikan. Dan hasilnya, kami mohon maaf kamu tidak jadi kami tunjuk sebagai perwakilan PIK-M kita untuk kompetisi pemilihan duta itu”. Apa? Aku membatin kuat. Aku tak ingin berprasangka, tapi senyum tipis di wajah Delisa lebih dari cukup bagiku untuk tahu dia ada hubungannya dengan hal ini.

Mm.. Mohon maaf sebelumnya, mas Adam. Bukannya saya tidak menerima hasil keputusan bersama, tapi boleh saya tahu apa alasannya?” sempat kulihat Adam menghela napas berat.

“Jadi begini. Kami memperoleh informasi tentang bagaimana kepribadian kamu di kampus. Ehem, saya sulit menjelaskannya, tapi mungkin 2 video ini bisa menjelaskan maksud saya”. Adam menyodorkan ponsel yang sedang memutar sebuah video ke hadapanku, tapi aku tidak perlu menyaksikannya sampai selesai, karena aku masih ingat isi video itu. Itu aku 3 tahun yang lalu.

Adam dan beberapa pengurus lain mencoba menjelaskan. Aku tidak memiliki kemampuan public speaking dan kepribadian yang baik, kata mereka. Atas dasar apa mereka mengatakan seperti itu? Aku menggigit bibir sekuat mungkin, menahan tangis akibat amarah agar tak jatuh ke bumi.

Video itu, aku ingat sekali. Video pertama diambil ketika OSPEK, saat aku disuruh berpidato di depan para mahasiswa baru lainnya dengan gaya bicara yang memang medok, tapi terbata-bata seperti orang gagap. Tentu saja aku melakukannya atas instruksi para senior. Aku diminta mencontohkan gaya pidato seorang komedian gagap, dengan pidato yang tentu saja isinya membuatku terlihat makin idiot, di depan teman lainnya.

Satu-satunya alasan aku mau melakukannya, adalah karena mereka berjanji setelah itu akan melepaskanku dan tidak menargetkanku sebagai bahan bully-an lagi. Meskipun ternyata janji itu palsu. Itulah mengapa di video kedua, terlihat sosokku yang marah-marah sambil membentak—sekaligus balas mengatai—para senior di depan para mahasiswa baru.

Video itu tidak utuh, tidak menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Seharusnya, setelah adegan aku marah, ada dosen yang datang dan menanyai perihal penyebab ribut-ribut itu. Tentu saja aku yang dibela, dan mereka, para senior itu, mendapat hukuman yang aku pun tak tahu apa itu dari dosen penanggung jawab OSPEK. Tentu saja mereka yang dihukum, karena akulah pihak yang benar. Tapi di ruangan ini, aku tak mampu berkata-kata ataupun membela diri lagi. Lidahku kelu karena aku merasa terintimidasi, lagi. Sangat. Semua mata yang dulu terasa akrab, kini tatapannya terasa mengejek. Sekampungan itukah aku di mata mereka? Setidak pantas itukah aku yang kampungan ini menjadi duta kampus? Apa salahnya menjadi orang desa dengan nama Jawa dan aksen bicara yang medok?

***

“Sejak itu, saya menarik diri dari teman-teman di kampus, termasuk orang-orang di PIK-M. Saya merasa kecewa, sekaligus depresi. Sulit untuk mendeskripsikan sesesak apa dada saya melihat ruangan sekretariat itu, ataupun orang-orang di dalamnya. Terutama Delisa. Apalagi setelah saya tahu dialah yang kemudian ditunjuk untuk menjadi pengganti saya.” Kuakhiri ceritaku dengan suara serak, menahan tangis tumpah kembali.

Dokter Daniar terdiam. Ia tidak bertanya lagi, pun tidak menghujani dengan kalimat motivasi seperti yang kubayangkan sebelumnya. Dokter bermata teduh ini justru membuka laci mejanya dan mengeluarkan sesuatu.

“Ini dari kampung KB di dekat sini. Kebetulan saya adalah salah satu pembimbing PIK disana.” Ucap dokter Daniar sambil menyodorkan selembar kertas, dan pupilku membulat ketika membaca isinya.

Brosur pendaftaran PIK Harmoni. Aku tahu organisasi ini, salah satu PIK remaja jalur masyarakat yang terkenal di komunitas pemuda kotaku.

 Tanpa sepatah katapun, aku lebih dari paham apa maksud dokter Daniar.

***

2 bulan setelahnya.

Aku, Juminten si gadis desa akhirnya kembali tersenyum lebar. Kali ini, aku tersenyum di depan berpuluh kamera. Tak sendirian, mahkota imitasi mungil, sebuket bunga, dan selempang bertuliskan Duta GenRe 2019 menemaniku menyapa sinar kamera. Di sudut sana, mataku menangkap sosok Delisa dan beberapa perwakilan pengurus PIK-M kampusku. Tatapan mereka nampak terpana, meski tentu saja Delisa tidak. Wajahnya cemberut, aku tahu. Tentu saja karena dia kalah di kompetisi ini, sementara aku yang dulu terbuang kini menjadi pemenang. Aku membatin, berdoa dalam hati. Semoga aku diberi kesempatan untuk membersihkan nama dan memberi klarifikasi, sekaligus berdamai dengan Delisa.

Aku tersenyum, mengingat kembali maksud selembar kertas yang disodorkan dokter Daniar padaku dulu. Sesi konsultasi itu berakhir tanpa kata, namun sarat makna. Dokter Daniar rupanya paham. Aku tidak butuh obat atau terapi sedemikian rupa. Cukup bangkit berdiri untuk pembuktian diri, dan berdamai dengan diri sendiri. Dan hari ini, hal itu terbukti. Aku sembuh.***

Yogyakarta, 27 April 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Dua Hari untuk Vita

Din Photo Community Writer Din

an ambivert.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

JADWAL SALAT & IMSAK

26
MEI
2019
21 Ramadan 1440 H
Imsak

04.26

Subuh

04.36

Zuhur

11.53

Asar

15.14

Magrib

17.47

Isya

19.00

Just For You