Comscore Tracker

[CERPEN] Kisah Secangkir Latte Art: Pipiku Memerah Karenamu, Lagi

OCHA - Pipi ini memerah lagi, entah sudah berapa kali
Kamu lagi-lagi mengeluarkan kalimat yang mampu membuat pipiku memerah. Dan anehnya, aku tak membenci perbuatanmu itu.

Aku masih tak percaya malam ini aku kembali duduk di tempat ini. Kembali bertemu dengan pria itu. Pria gila dengan senyum indah yang, entah kenapa, menentramkan hatiku. Senyum yang menciptakan kehangatan.

Saat itu aku memang membuka buku kesayanganku, tapi anehnya mataku justru membaca setiap detil pergerakannya. Dia.. Kenapa bergerak begitu cepat? Aku tahu dia barista yang hebat, tapi tetap saja itu terlalu cepat. Apa yang membuatnya begitu terburu-buru? Ah, kenapa aku peduli. Biarkan saja dia dan kembali pada buku ini.

Dia datang menghampiriku bersama latte yang kupesan.

"Ini dia, latte spesial untuk yang tercantik malam ini"

Apa? Love Latte? Dia gila! Sempat kulirik cangkir latte itu, dan ternyata terlihat indah. Buru-buru kubenamkan lagi mataku pada buku kesayanganku demi menyembunyikan kekaguman pada karyanya.

Seolah dia menyadari keenggananku pada love latte, segera dia berucap, "Maafkan aku Cha, aku lupa kamu membenci latte ini. Akan kuganti dengan yang baru, Oke?"

"Tak perlu, Ndre. Ini tak apa. Aku akan meminumnya."

Apa? Barusan aku bilang apa? Aku akan meminumnya? Dan tunggu! Rasanya aku jadi melunak padanya. Bukan! Pasti aku hanya sedang malas berdebat dengannya.

"Baiklah. Ada lagi yang bisa kubantu?"

"Apa boleh kuminta sedikit waktumu? Temani aku, malam ini aku sedang tak ingin duduk sendiri."

Apa? Aku minta dia menemaniku? Tuhanku.. Aku benar-benar gila malam ini.

"My pleasure, Cha" sahutnya lengkap dengan senyum indah yang mengembang tak ada habisnya.

Lalu aku dikagetkan dengan kecepatan pergerakannya, begitu cepat dia memasang posisi duduk tepat di sampingku. Sangat dekat. Sontak aku berucap, "Bukan dis ampingku, disana! Kau ini benar-benar tukang ambil kesempatan."

Dia hanya memamerkan gigi putih rapinya dan berpindah posisi. Tepat di hadapanku, menghadap padaku dan terus memandangi wajahku. Aku benci berada dalam posisi ini. Kamu membuatku canggung.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah di wajahku?" tanyaku penuh kegugupan karna pandangan tajamnya itu membuatku salah tingkah. 

"Benar, ada sesuatu di wajahmu."

"Apa? Katakan di mana. Ah, Tak perlu." Buru-buru kukeluarkan cermin kecil dari tasku untuk memastikan keanehan macam apa yang ada di wajahku.

"Let me help you, my dear. Di wajahmu itu hanya ada kecantikan. Itulah yang membuat mataku tak mampu berpaling, walau sebentar"

Mendengar ucapannya itu aku pun hanya mampu tertunduk malu. Dan aku yakin pipiku pasti memerah lagi, entah sudah berapa kali.

Baca Juga: [CERPEN] Kisah Secangkir Latte Art: Ada Apa Denganku? 

Tyas Photo Community Writer Tyas

perempuan biasa yang menikmati kata sebagai bagian dari rasa

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You