Comscore Tracker

[CERPEN] Memoar Kematian

Mengais kepingan ingatan yang tersisa di dalam kepala

01 Mimpi Buruk

Aku tersentak, membuka kelopak mataku dengan tergelagap. Bisa kudengar suara degup jantung yang bergema nyaring di telingaku. Mataku menangkap kegelapan pekat yang membuat tenggorokanku tercekat. Masihkah aku bermimpi? Mimpi yang buruk, benar-benar sangat buruk. Akan tetapi, ingatanku sama sekali tidak merekam potongan-potongan mimpi itu secuil pun. Kepalaku serasa hampa dan kelu.

Di mana aku? Perlahan-lahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan sunyi yang menyelubungi sekujur tubuhku. Sebuah tempat yang hampir tak membiarkanku mempunyai ruang gerak. Setelan jas lengkap berwarna gelap. Bunga mawar putih di tangan. Aroma debu dan tanah basah menusuk-nusuk indera penciumanku. Membuatku teringat pada sebuah kata, dan aku berada di dalamnya. Sebuah peti yang terkubur. Kematian.

Matikah aku? Mendadak aku merasakan rasa takut dan sesak yang amat sangat di dalam tempat ini, seperti penderita klaustrofobia yang panik kehabisan udara. Anjing! Buka petinya! Kudorong, kutinju, kutendang-tendang sembarangan sampai peti mati terkutuk itu berudarakan debu, tetapi tidak ada yang terjadi. Sia-sia. Aku menyerah. Berkuintal-kuintal tanah pasti menahan tutupnya.

Kupejamkan mata. Kutenangkan diriku dalam kesunyian. Tidak peduli dengan selubung debu-debu yang memenuhi rongga paru-paruku. Toh, sekarang aromanya tak beda dengan udara segar pegunungan yang dulu pernah kuhirup dalam-dalam ketika aku mencapai puncak bukit di masa kecil. Tak berbeda pula dengan asap tar dan nikotin yang bertahun-tahun meracuni tubuhku. Aku bahkan tak perlu lagi bernapas, sebenarnya.

Sebuah titik melintas. Berkelebat di dalam kelamnya semesta pikiranku. Berputar bagai gasing yang dimainkan oleh seorang anak, menghempas tanah, mengurai debu-debu di dalam peti matiku. Sebuah memori. Seorang pria. Siapa dia? Dia memberiku sesuatu. Apa itu? Benda kecil. Meledak. Muntahan percik api. Peluru. Satu… tidak. Bukan satu. Tetapi dua. Dua tembakan. Tepat di kepala. Reflek aku meraba pelipisku, mencari-cari lubang yang ada di kepalaku. Tidak kutemukan lubang, tetapi aku menemukan bekas jahitan di pelipis kananku. Benangnya terasa kasar, jahitannya masih baru.

Aku terkejut, memandang kekosongan dengan gamang. Rupanya aku memang mati, benar-benar mati. Sekarang aku cuma mayat yang merenungkan kematiannya. Bangkai yang menunggu busuk, dimakan cacing, belatung, bakteri, makhluk-makhluk paling rendah, binatang-binatang paling jalang. Persetan dengan semua itu, toh aku sudah mati rasa.

 

02 Adegan-adegan

Kenapa aku ditembaknya? Aku mulai membongkar kotak-kotak memori yang kosong, mengais-ngais sisa-sisa ingatanku yang mungkin masih tertinggal di sudut-sudut ruangan, meringkuk di emper-emper, berlari di jalan-jalan, bersembunyi di kolong-kolong jembatan, tercecer di pinggiran kota yang lengang. Sampai pikiranku terasa kelu. Mungkinkah otak orang mati tidak bisa dipakai berpikir? Atau karena otakku sudah tidak utuh? Berceceran di lantai. Bau anyir. Merah. Darah mengalir. Disapu air. Bersama ingatan-ingatanku. Rumus-rumus kimia. Formula-fomula matematis. Kenangan-kenangan. IQ. Jadi bebal. Tumpul.

Kepalaku pening. Memori-memori yang tersimpan dalam ingatan mulai bangkit ke permukaan. Kelebatan pecahan-pecahan adegan dan gambar bergulir cepat dan kasar di dalam kepalaku yang kosong, yang kini mencicip nyeri seperti mau pecah.

Darah. Pistol. Peluru. Meledak. Bel. Apartemen. Dia. Darah. Muncrat. Pistol. Revolver. Tembakan. Pekikan. Jeritan. Dia. Darah. Muncrat. Karpet merah. Pistol. Revolver. Enam peluru. Meledak. Gaun putih. Darah. Muncrat. Mengalir. Revolver. Gagang ukiran. Enam peluru. Meledak. Gaun putih. Darah. Gaun merah. Dia. Pekikan. Jeritan. Tangisan. Panik. Darah. Muncrat. Di altar. Di lantai. Lubang peluru. Apartemen. Bel. Pertengkaran. Airmata. Dia. Karpet merah. Altar. Bunga. Gaun putih. Pistol. Revolver perak. Pesan khusus. Letusan. Dor! Dor! Dua kali. Darah. Gaun merah. Cincin. Lubang peluru. Tubuh ambruk. Lubang di dada. Pekikan. Jeritan. Tangisan. Hujatan. Darah. Dia. Langkah. Denting piano. Dekorasi. Bunga. Pistol. Timah panas. Menghujam. Merajam hati. Tak terperi. Darah. Muncrat. Tergenang. Tubuh ambruk. Altar. Mempelai. Gereja. Kelopak mawar. Salib…

!!!

Aku tersentak, lagi-lagi, membuka kedua belah kelopak mataku dengan tergelagap. Pembuluh-pembuluh darah di kepalaku menggelembung, berdenyut-denyut tak karuan. Walaupun mungkin tidak ada lagi darah yang mengalir di dalam tubuhku, telah habis mengalir keluar dari lubang peluru di kepalaku, menggenang di lantai, disapu oleh air dingin yang digelontorkan lewat selang-selang taman.

Uugh… aku merasa ingin muntah. Adegan-adegan di dalam kepalaku membuatku mual. Ueekh…! Mulutku memuntahkan cacing-cacing, belatung-belatung yang menggeliat-geliat dengan cara yang menjijikkan. Makhluk-makhluk itu berjatuhan dari rongga mulutku ke atas bantal putih yang telah berubah warna menjadi cokelat kusam karena diselimuti debu. Setelah kusingkirkan mereka, kucoba menenangkan diriku. Mengingat kembali adegan-adegan yang muncul di kepalaku, memori pembunuhan itu. Adegan-adegan keruh yang perlu disusun agar menjadi sebuah kisah yang utuh, menjadi sebuah kisah yang menjelaskan mengapa dan bagamana aku mati.

Di dalam kepalaku, aku duduk sendirian di barisan bangku bagian belakang dalam sebuah gedung bioskop yang temaram, menatap layar perak raksasa, menanti sebuah film diputar oleh si operator. Filmku. Memoriku.

 

03 Pria yang Mengetuk Pintu

Aku menatapnya. Dia. Pria itu berdiri di depan pintu sebuah apartemen dengan wajah yang pias, tetapi terlihat juga cahaya kemarahan berkilat-kilat di pupil matanya yang hitam dan dingin. Aku berdiri di sampingnya tetapi dia sama sekali tak mengacuhkanku. Tangannya teracung dan memencet tombol bel tiga kali dengan tidak sabar. Ting-tong, ting-tong, ting…tong! Yang terakhir ditahan, lalu dilepas. Entah mengapa aku merasa caranya menekan bel sungguh tidak asing, begitu khas. Terdengar bunyi kunci dibuka dari dalam. Seorang wanita membukakan pintu. Pria itu serta merta masuk tanpa dipersilakan.

Di depan pintu kayu yang terbuka itu aku mendengar gaung suara mereka berdua.

“Oh, Tuhan! Sekarang apa lagi maumu?! Kenapa kamu masih saja mengusikku? Aku ‘kan sudah berkali-kali bilang kalau…”

“Tapi aku tidak bisa terima itu. Please, hentikanlah!“

“Gak mungkin. Aku yang mohon padamu. Kita sudah berakhir! Tidak bisakah kau terima saja keadaan ini?!”

“Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Biarkan aku…”

“Sudah cukup semua yang aku berikan padamu. Kumohon demi Tuhan! Aku tidak mungkin mundur lagi. Semuanya sudah dipersiapkan.”

“Tapi tidakkah selama ini aku…”

Zrrrrrk…

Dialog berikutnya terdengar seperti sebuah kaset lagu usang yang sudah rusak. Bisa kulihat gerakan bibir mereka, tetapi aku tak mengerti apa yang mereka katakan. Pria itu merangsek ke arah pintu keluar dengan wajah tegang, kemudian membanting pintu di belakangnya dengan kasar. Dia menghilang dari pandanganku di tikungan lorong setelah menabrak bahuku. Lagi-lagi dia tidak mempedulikanku. Sementara sang wanita menatap punggungnya nanar, ragu untuk mengejar.

 

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

04 Pernikahan

Langit tampak begitu cerah, semburat mega-mega putih tipis mempercantik langit yang biru, seakan-akan sedang menebarkan keceriaan ke segenap penjuru bumi. Aku berjalan sendirian di antara bayang-bayang rindang pepohonan. Pohon-pohon yang tumbuh terhimpit tegel-tegel trotoar, tetapi tidak pernah mengeluh.

Tempat tujuanku sudah dekat. Bisa kulihat salib besar berkilauan tertimpa cahaya matahari di atas menara gereja itu. Mobil-mobil para undangan memadati tempat parkir. Aku melangkah masuk ke dalam gereja dan duduk di sebelah seorang wanita tua di barisan belakang. Aku menyapanya tetapi entah mengapa dia tidak mengacuhkanku. Matanya menatap lurus ke arah salib besar di belakang altar. Namun pandangannya tampak mengiba, seakan-akan berharap sesuatu tidak terjadi.

Semua orang bangkit berdiri. Denting-denting piano mengalun mengiringi mempelai wanita yang masuk dengan gaun putihnya yang panjang menyapu karpet yang semerah darah. Wanita itu, wanita yang berada dalam memoriku di apartemen malam itu. Wanita yang tampak begitu familiar, yang kini tampak begitu cantik, begitu bahagia. Namun sorot matanya yang penuh gelora itu terlihat menyimpan kegelisahan dan kegetiran yang tak aku mengerti. Sementara ratusan pasang mata menatap mempelai wanita itu dengan takjub. Namun mempelai prianya bukan laki-laki yang semalam, dan kupikir aku mulai memahami mengapa laki-laki itu begitu gusar dan gamang.

Kedua mempelai telah bersanding di hadapan altar, bersiap untuk mengucapkan sumpah setia, ketika tiba-tiba lelaki itu datang dengan langkahnya yang berat. Sebuah revolver dengan ukiran malaikat tergenggam di tangannya. Aroma kematian menguar kuat dari aura tubuhnya.

“Tuhan tidak menghendaki kita bersatu, padahal aku ingin ada di situ, di depan altar itu! Tapi jika aku gak boleh memiliki kamu, gak ada seorang pun yang boleh!”

Pistol teracung ke arah sang wanita. Terdengar pekikan-pekikan kaget dan panik. Sebagian orang melarikan diri ke luar gereja. Namun pria itu tak peduli. Matanya menatap sang mempelai wanita tajam dan penuh amarah. Sementara tubuhku tetap terpaku di tempat dudukku semula.

“Kumohon hentikan! Randu!” Sang wanita mulai menangis histeris. Terguncang.

“Akan kuhentikan semuanya, Kekasih, ketika darahmu telah membanjiri lantai!”

Sedetik kemudian, sang mempelai pria merangsak maju dengan tiba-tiba ke arah Randu, berusaha merebut senjata yang diacungkan ke arah sang mempelai wanita. Dor! Pistol itu meletus, melepaskan peluru yang dengan sekejap menghujam kepala sang mempelai pria tanpa ampun, menciptakan lubang menganga tepat di antara kedua matanya. Darah tepercik pada gaun putih sang mempelai wanita. Aku cuma mampu ternganga menyaksikan pemandangan itu.

 

05 Malaikat

Mendadak adegan kembali ke malam itu di apartemen. Menyambung bagian yang hilang dalam teka-teki kenangan ini. Kalimat-kalimat yang saat itu tak dapat kudengar mendadak terucap begitu nyaring.

“Tapi bukankah selama ini aku telah cukup membuktikan padamu kalau aku benar-benar mencintaimu?”

“Kita tidak mungkin bersatu! Kamu harus sadar hubungan kita itu seperti apa, Randu! Terlarang! Tak ada tempat di dunia ini yang mengizinkan kita untuk hidup bersama. Bagaimanapun aku harus melangsungkan pernikahan ini. Dia pria pilihanku..”

Pandanganku kembali pada revolver yang teracung penuh ancaman.

“Biar kuselesaikan semua ini dengan cepat, Reya.”

Satu peluru lagi terlepas dari moncong revolver yang digenggam Randu, melesat cepat ke arah tubuh Reya yang tak berdaya. Sekonyong-konyong semua adegan melambat di depan mataku. Gerakan-gerakan manusia-manusia di dalam Gereja itu ikut melambat, sebelum kemudian berhenti. Bisa kulihat peluru itu melesat lambat menuju tepat ke arah jantung Reya yang tampak membeku.

Mendadak pemandangan di mataku tampak begitu menakjubkan sekaligus menakutkan. Beberapa sentimeter dari jantung Reya, peluru itu memecah menjadi berjuta-juta serpihan cahaya yang menyala merah. Percik-percik itu meredup, lantas dengan ajaib menjelma sebuah sosok hitam. Sesosok malaikat bersayap hitam dengan pedang perak melesat dengan anggun, menghujamkan pedangnya tepat ke jantung Reya.

Tubuh Reya ambruk bermandikan darah yang mengalir dari lubang di dadanya. Menodai gaun putihnya dengan warna merah yang memilukan.

 

06 Kebenaran

Mata Randu terpaku pada tubuh kekasihnya yang tak lagi bernyawa, memandanginya dengan sinar mata yang meredup. Tubuhku gemetaran, bibirku terkatup rapat. Mungkinkan aku korban Randu selanjutnya? Mendadak Randu mengacungkan revolvernya. Bukan ke arahku. Ke arah pelipisnya. Satu lagi letusan terdengar. Satu lagi nyawa melayang. Letusan terakhir, nyawa terakhir. Tubuh Randu roboh di samping Reya. Hening.

Seketika aku menyadari sesuatu yang membuat lututku lemas. Aku pun tak sanggup lagi membendung airmata.

Randu adalah diriku.

Dan tiba-tiba semua gelap.

***

Televisi tua dinyalakan, gaungnya bergemerisik di sebuah warung pinggir jalan. Sayup-sayup terdengar suara merdu news anchor membawakan berita pertama pagi itu.

"Sebuah pembunuhan keji menimpa pasangan muda Reya (24) dan Andre (29) pada hari pernikahan mereka di Gereja St. Anna. Pelaku adalah Randu (22), yang tak lain adalah adik kandung Reya. Motif si pelaku masih belum diketahui, karena si pelaku bunuh diri sesaat setelah membunuh kakak kandungnya sendiri dengan timah panas dari senjata api jenis revolver yang diduga milik pelaku. Polisi yang tengah mengusut kasus ini menduga bahwa pelaku…"

 

Jogja, April 2007-Juli 2009

Handaka Pratama Photo Writer Handaka Pratama

Penyuka game dan gadget, kadang-kadang juga menulis cerpen kalau dapat ilham.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya