Comscore Tracker

[CERPEN] Senja Dua Babak

Siapakah aku, berharap bisa mengenalnya? 

Hari itu menjelang sore, ketika aku melihat gadis itu untuk pertama kalinya, duduk termenung di undak-undakan pintu masuk hall universitas. Sendirian. Cantik sekali, seperti malaikat, begitu pikirku.

Ingin kusapa. Ah, tapi aku malu. Akhirnya hanya kupandangi saja ia, dengan tatapan terkesima. Tanpa berkata apa-apa. Sampai akhirnya ia bangkit berdiri dan berlari kecil menyeberangi pelataran parkir menuju ke arah kerumunan mahasiswa yang lalu lalang sepulang kuliah. Masih kutatap lekat-lekat ia. Gadis itu menghampiri seseorang. Oh, rupanya ada yang menjemputnya. Hatiku jadi sedikit kecewa. Sedikit cemburu. Beruntung sekali lelaki itu, bisa memiliki gadis secantik itu.

Pikiranku mengelana, membayangkan seandainya dirikulah yang menjemput gadis itu, di sore yang sempurna seperti ini. Seperti roman. Walaupun sebenarnya itu hanyalah adegan rutin kecil yang biasa saja, mungkin tak pernah tertangkap mata, selain oleh gadis dan lelaki itu sendiri. Pasti menyenangkan, ya, pulang bersama orang-orang terkasih?

Kubayangkan gadis itu merangkul pinggangku di atas sepeda motor yang melaju perlahan di jalanan. Bercanda, tertawa bersama, sembari menikmati angin sore. Walaupun sedikit lelah, wajahnya cerah, karena cahaya senja yang lembut kemerah-merahan meronakan pipinya yang berseri, ketika kami duduk bersama di suatu sudut kota. Benar-benar senja yang sempurna.

Lamunanku buyar seketika ketika ia menghilang. Hatiku jadi sedikit kecewa. Sedikit cemburu. Lagi. Ah, tapi belum tentu pula lelaki itu kekasihnya. Omong-omong, siapa ya namanya? Ah, besok aku harus tahu. Besok aku pasti tahu. Dan aku pun berlalu. Senja itu pun berlalu.

***

Esok sorenya, Aku menunggu di tempat yang sama seperti kemarin. Berharap ia muncul lagi di tempat yang sama, duduk termenung dengan ekspresi yang sama. Setiap detik yang kulalui tanpa ia terasa kering. Perasaan apa ini? Jatuh cintakah ini? Seperti kata orang-orang yang sedang kasmaran dan mojok di pinggir pelataran parkir, yang pernah tak sengaja terdengar oleh sudut-sudut pendengaranku.

Ah, cinta. Seperti apakah itu? Katanya cinta itu indah, sekaligus sakit. Lantas kenapa harus ada cinta kalau ia menorehkan luka? Karena tanpa cinta, jiwa ini akan menjadi kerontang dan tak berarti, begitu katanya. Jadi, cinta itu pedih, tapi kita tak bisa berhenti untuk mencinta? Aku belum pernah jatuh cinta, aku belum pernah merasa seperti ini. Mungkinkah aku sedang jatuh cinta? Katanya cinta membuat orang bahagia. Cinta juga membuat orang berderai air mata. Jadi, cinta juga yang membuat diriku gelisah? Entah.

Sosok yang kutunggu-tunggu itu akhirnya muncul dari dalam kampus. Sendirian di antara kerumunan mahasiswa-mahasiswi yang lalu lalang keluar masuk kampus. Ia duduk termenung di undak-undakan, tapi ekspresinya kali ini berbeda. Jengah.

”Hei, Alina. Nunggu jemputan ya? Niko yang jemput?” sapa seorang mahasiswi yang mendadak muncul mengagetkan gadis yang sedang duduk termenung sendirian itu. Oh, jadi namanya Alina, nama yang indah.

”Engga, aku ngga sudi dia jemput aku lagi. Semalam kami putus, jadi hari ini aku dijemput papa,” jawab Alina dengan ekspresi sedih, sekaligus geram.

”Lho, putus kenapa, Al? Bukannya kemarin sore kamu masih baik-baik aja?”

”Yah, emang sih. Awalnya kupikir kemarin adalah salah satu sore yang sempurna karena dia udah menyempatkan diri jemput aku, terus ngajak aku jalan, walaupun aku tahu dia lagi sibuk dengan kerjaannya. Tapi sore yang sempurna ancur gara-gara ada cewek ga tau dari mana tiba-tiba muncul menampar Niko di depanku, dan langsung memaki-maki aku sama Niko sambil nangis-nangis. Dan kamu tahu? Ternyata tuh cewek pacarnya si Niko berengsek itu juga... malah dia jadian sama Niko lebih dulu dari aku...dan detik itu juga aku langsung pergi dari situ.”

”Tapi bisa aja tuh cewek cuma ngaku-ngaku kalo dia pacarnya Niko, kan Al?”

”Enggak, Ta. Aku cewek juga. Dari ekspresinya aja aku tahu kalo dia juga dibohongin si berengsek itu... Niko yang berengsek, dan aku yang bego, bisa-bisanya salah menilai dia selama ini. Dan yang bikin aku lebih sedih lagi, ketika cewek itu pergi, dan aku juga pergi, Niko lebih memilih untuk ngejar cewek itu, Ta.”

Dan gadis yang dipanggil ’Ta’ itu pun memeluk Alina, berusaha menenangkan Alina yang mulai sesunggukan. ”Ya udah lah, Al, ngga usah sedih. Kamu beruntung kok, tahu kebohongan si Niko itu sekarang. Daripada besok-besok, ketika hubungan kamu udah lebih dalam ama dia, ketika kamu udah ga bisa melepaskan dia, hatimu pasti lebih hancur dari yang sekarang, Al.”

Hatiku geram setengah mati mendengar penuturan Alina. Dasar lelaki tak tahu diuntung. Kadang aku heran dengan orang seperti itu, masih kurang beruntungkah bisa memiliki gadis seperti Alina? Aku benar-benar tak mengerti. Aku yang tak memiliki apa-apa atau siapa-siapa pun merasa beruntung bisa memandang Alina seperti ini, meski dia mungkin tak pernah tahu kalau aku ada di sini, mengaguminya seperti ini. Aku ingin memeluknya, aku ingin menghapus lukanya, airmatanya. Ya, luka karena cinta itu. Tapi meskipun ingin, aku tak sanggup.

Mendadak aku merasa gamang. Aku sadar aku tak sanggup, bahkan hanya untuk sekadar menyapanya sekalipun. Aku hanya bisa memandangnya, mengaguminya, mencintainya seperti ini. Saja. Tak lebih. Aku ini hanyalah seonggok besi mati.

Alina pun berlalu, menghampiri pria paruh baya yang menunggu di gerbang kampus. Ayahnya? Aku menatapnya untuk terakhir kali senja itu. Sebelum menghilang sempat kudengar ia mengatakan sesuatu kepada ayahnya sambil mengerling ke arahku, ”Pa, mobil itu bagus, ya?”***

 

Yogyakarta, 12/12 2008
15:57

Baca Juga: [CERPEN] Akhir Tragis tanpa Tangis

Handaka Pratama Photo Writer Handaka Pratama

Penyuka game dan gadget, kadang-kadang juga menulis cerpen kalau dapat ilham.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya