Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Perempuan yang Hidup dalam Kepala

kisah-kisah yang memecah imajinasi lainnya

Kepalaku memang terlalu rumit. Hati apalagi, terlalu pemilih untuk hanya membuka pintu walau hanya sedikit. Itulah kenapa aku terlalu berencana bahkan terlampau matang.

Pernahkah kau mendengar bahwa orang diam adalah orang dengan pikiran sibuk? Dan di dalam kepalaku hidup seorang perempuan yang mirip aku. Seharusnya, perempuan itu telah berumur ratusan hari. Ia telah lama terperangkap di dalam kepalaku hampir lebih dari seratus hari yang lalu. Tepatnya ketika aku menjadi gila karena cinta, entah bagaimana aku menceritakannya agar diterima oleh nalar manusia. Lebih tepatnya ia bagian lain dariku yang lebih sok tahu dan sok berpengalaman dalam semua hal. Perihal cinta terutama.

Orang-orang tidak bisa melihat kemunculannya yang hampir setiap hari, yaitu menjelang tengah malam ketika sunyi telah menyelimuti. Perempuan itu berdiri di atas kepalaku. Termangu di antara bulan yang membulat sempurna dan ditemani gemerisik pohon-pohon cemara. Waktu itu aku kehilangan hatiku, kedua kalinya dan dengan lelaki yang sama. Dia melihatku, aku pun melihatnya.

Kisahku dan perempuan yang menghuni kepalaku bermula ketika aku kehilangan separuh hatiku. Kepatahan demi kepatahan yang kurasakan waktu itu membuatku tidak memiliki seorang teman untuk bercerita.

“Siapa pun harus bisa menolong dirinya sendiri.” Itulah kalimat pertama yang ia ucapkan saat pertama kali aku melihatnya keluar dari kepalaku.

“Ya. Sudah ratusan dari mereka berkata bahwa yang bisa menolong diri sendiri hanyalah kau sendiri. Tapi tak seorang pun yang tahu caranya."

Senja tadi, persis ketika matahari tenggelam di barat dan kau keluar dari kepalaku. Tatapan matamu menjadi begitu kosong. Ekspresi wajahmu kaku. Ini pertama kalinya aku menyadarinya. Kau berubah. Hubungan di antara kita berubah. Seharian ini sebenarnya aku sudah membuat keputusan untuk tidak lagi melakukan komunikasi denganmu. Namun, betapa gilanya rindu ini. Di depanmu aku bisa terlihat tidak apa-apa tapi di belakangmu sungguh aku ingin berbincang-bincang denganmu. Aku tidak mengerti.

“Aku ingin kita tidak lagi bertemu.” Tanpa banyak penjelasan. Padahal jarak di antara kita hanya selebar meja makan ini, namun kau terasa begitu jauh. Kau pun berbicara seakan kau ingin segera terbebas dariku.

Aku kehilangan kata-kata. Apa kau benar-benar menginginkan hal ini.

“Apa salahku?"

“Tidak ada."

“Terus kenapa kau ingin pergi selamanya dariku?"

“Karena sudah saatnya bagimu untuk segera menjadi dirimu kembali, tanpa bantuan dariku atau pun dari siapa pun," katamu tegas.

Sepintas kulihat wajahmu terlihat masam. Tidak bisa begini. Aku harus berpikir lebih tenang. Aku tidak boleh menuruti emosiku sesaat. Aku bisa merasakan tanganku bergetar demi menahan perasaan kecewa yang ingin meluap.

“Selalu saja begini, ketika kenyamanan kurasakan. Orang-orang sekitar mulai menjauh dari lingkaran hubungan yang kuteguhkan."

Kuharap suaraku tidak ikut bergetar. Aku tidak ingin memperlihatkan kelemahanku di depanmu. Walau kau sendiri pasti telah mengetahui perasaanku, bukankah kita satu frekuensi?

Ya. Aku telah lama kalah dalam perdebatan mana pun. Bahkan terlampau seringnya dalam perdebatan cinta. Kataku.

“Kau bodoh. Perempuan paling bodoh yang pernah kutemui."

“Apa maksudmu?"

“Kau justru lebih terlihat bodoh saat terus-terusan mengingat lelaki itu dalam ingatanmu. Kau tahu, sebab ingatanmu perihal lelaki itu ruang dalam kepalamu menjadi begitu sesak. Aku menjadi tidak bisa bernapas di dalam sana."

“Apa itu alasanmu untuk tidak lagi berada dalam kepalaku?" Tanyaku.

“Tentu saja. Tapi banyak alasan lainnya yang membuatku tidak ingin berada di sana lagi."

“Jika engkau menjauhiku, sisi diriku yang susah lupa, gampang terluka dan menyukai berbincang-bincang denganmu. Maka kemudian aku lebih baik mengambil risiko untuk kau maki ketimbang kau jauhi begini. Jika kau tengah kesal, makilah aku. Bukankah kau lebih mengetahui bahwa ketika aku kesal dan kecewa begini, hanya kau satu-satunya setelah Tuhanku yang lebih dulu mengetahui kehancuran yang kuhadapi. Setidaknya dengan kau yang terus ada dalam kepalaku, berbincang-bincang denganku. Aku merasa tidak memiliki keraguan atau pun kekhawatiran."

Perempuan itu menepuk bahuku. Tepukan yang begitu berarti. Entah apa yang terjadi nanti, tapi aku harus membuatnya terus menetap dalam kepalaku. Perempuan itu keluar, aku mengikuti langkahnya.

“Kuceritakan sebuah kisah. Dahulu kala, pernah terkabulkan sebuah harap dari seekor itik buruk rupa yang berharap menjadi angsa. Perempuan itu memulai cerita setelah menyeduh secangkir teh."

"Jika kisah ini belum cukup, mari menyeberang jauh dalam kisah-kisah yang memecah imajinasi, menghempas keras di satu titik akhir. Akan kau dapati pada suatu masa ada yang memuji-mujimu setinggi langit seolah-olah kau langit itu sendiri. siapa kau? mereka tahu pun tidak. Jadi Jangan kaget, ketika kau tak memiliki apa-apa. Padahal waktu itu kau sedang mengantongi berlian. Berlian kecil memang. Tapi Mereka takkan melihatmu. Menyapamu? Jangan Harap!"

Aku mendengarkan dengan saksama semua kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Sesekali kadang aku mengangguk setuju. Kadang aku tak mengerti sama sekali. Di lain waktu, saat pada akhirnya ia tahu di kantongmu ada berlian, jangan terkejut bila tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahmu ketika hari masih begitu pagi. Membawakan sarapan, alasannya. Jadi, kau masih berpikir mereka akan memahamimu? Mustahil.

Isi kepalamu terlalu rumit, hatimu bahkan lebih sulit. Perempuan itu semakin terlihat bersemangat, sepintas terlihat api di matanya saat ia bercerita. Dan lagi-lagi aku tak bisa memotong pembicaraannya. Setidaknya ia lupa dengan keinginannya untuk pergi dari kepalaku. Pikirku. Ah, aku tidak boleh berpikir, perempuan itu akan mengetahuinya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Maka, membandingkan konsep kepalamu dengan kepala orang lain dan jalan kebahagiaan yang sedang kau pilih ke kepala semua orang sepenuhnya merupakan upaya intimidasi. Mencoba menanyakan “Bagaimana jika kau berada di posisiku? Ah serius, Kenapa kita tidak bertukar hati saja? Maka kan kau dapati, hatiku tidak dalam posisi baik-baik saja seperti asumsimu. Cerita-cerita yang berbungkus kemasan ‘Telah berbahagia, Kamu kapan?"

Duh, perempuan yang mirip aku itu semakin mirip singa yang mengendalikan podium.

Mereka yang bijak seringkali mengatakan hal seperti ini; bahwa sesungguhnya hakikat cinta itu adalah perihal sepenuh penerimaan melepaskan bukan hanya dari dalam ruang hatimu saja melainkan dalam ruang di ingatanmu juga. Apa kau mengetahui berapa ukuran ruang di dalam kepalamu? Tanyanya tiba-tiba.

“Entahlah. Bagaimana mungkin aku mengetahui hal itu."

“Sangat kecil. Kecil sekali. Dan karena itulah alasan kenapa aku merasa sesak setiap kali kau mengingat lelaki yang mencampakkanmu itu. Oh, please. Biarkan aku pergi." Pintanya seolah ia baru tersadar.

“Apa kita bisa bertemu lagi?" Tanyaku.

“Tidak ada alasan untuk bertemu lagi, bukan?"

“Apa kau tidak ingin memberikanku penghiburan lainnya lagi nanti?"

“Dan apa kau berencana membuatku terus menetap dalam kepalamu selamanya. Gadisku sayang, kau tahu aku mengasihimu bukan?" Aku mengangguk.

"Hari ini justru karena aku mengasihi maka kau harus membuka hatimu lagi, biarkan hatimu yang berbicara denganmu kembali," katanya melanjutkan. "Bukan aku lagi, aku hanyalah sebentuk bayangan yang tercipta dari perasaan kehilangan. Dan aku menginginkan kau bukan denganku terus-terusan. Aku ingin kau memiliki kekasih lagi."

“Aku tak lihai dalam mengikat hubungan. Aku pun masih belum berdamai dengan perasaan. Tadi siang, aku di tertawakan oleh bayanganku sendiri. Dasar perempuan bodoh. Katanya sambil tertawa. Aku bertanya, kenapa kau menertawakanku.

"Kau perempuan bodoh yang masih menyimpan cinta untuk lelaki yang mencampakkanmu. Bahkan kau terlihat bodoh saat merindukan lelaki itu yang sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Dan kau semakin terlihat bodoh, ketika mengetahui bahwa lelaki itu tidak butuh waktu lama untuk menggenggam kekasih baru yang menurutnya lebih baik darimu. Kau cukup bodoh untuk terus menggenggamnya."

Aku hanya terdiam, terpaku. Bayanganku itu memang benar. Dia memang benar. Tadi malam dia mencoba menggantungku. Seketika aku berpikir untuk membiarkannya melakukannya. Sialnya, justru dia yang gantung diri. Rupanya, hidup masih menyisakan banyak kesempatan untukku. Mungkin tuhan sendiri yang menolaknya.

Kali ini, perempuan yang mirip aku itu yang sedang menyimak ceritaku. “Apa kau masih ingin mendengar ceritaku?" Tanyaku padanya. Dia menggangguk.

“Kuceritakan sebuah kisah tentang perempuan penunggu waktu, ia sedang menghitung detak jantungnya. Dan ia mungkin telah lupa bahwa jantungnya tidak pernah ada.

“Terus apa yang sebenarnya dia hitung?" Tanyamu.

“Waktunya."

“Maksudmu?" Tanyamu tak mengerti.

“Ia lelah menunggui waktu yang tidak pernah berpihak padanya. Ia bosan menunggui waktu yang tidak pernah menghadirkan kekasih baru untuknya. Maka ia berhenti berharap dan hanya ingin segera menyudahi pekerjaan yang melelahkan itu."

“Suatu hari, perempuan penunggu waktu itu menemuiku. Ia memarahiku. Memakiku dan bahkan mencaciku. Aku tidak melarangmu untuk jatuh cinta namun jangan kau paksa aku untuk terus menunggu lelaki yang tidak pernah menghargai waktumu. Kau tahu, aku cukup lelah mengemas kembali serpihan-serpihan waktu yang berceceran di kamarmu."

Aku hanya tertunduk malu. Tidak berani memandang wajahnya yang merah padam. Setelah melepaskan kemarahannya, ia pun pergi. Barulah aku bisa bernapas lega. Sejenak aku melihat perempuan yang mirip aku itu terdiam lalu menyeduh teh terakhir. Aku pikir, ia masih terburu-buru untuk pergi. Pergi selamanya dari dalam kepalaku. Setidaknya aku harus melepasnya dengan sepenuhnya.

Perempuan itu lantas beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arahku, memelukku sejenak. “Tuhan pasti berbaik hati mengulur waktumu."

Lalu, ia membelah kepalaku dengan pisau yang sedari tadi ia sembunyikan di balik gaun merahnya. Gerimis tipis menjadi saksi saat aku membelah kepalaku sendiri.

Ah, rupanya aku sendiri pelakunya. Kataku sambil tertawa dengan kepala yang terbelah dan pisau di tangan.

Duh, kenapa jadi begini.***

 

Batam, 12 Mei 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Sepatu untuk Mengantar Pagimu

Rafika Saputry Photo Community Writer Rafika Saputry

i love writing and travelling

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You