Comscore Tracker

[CERPEN] Ibu yang Selalu Menagih Janji di Mimpi

Bahkan hingga ajal menjemput, Ibu masih menagih janji

Soal-soal pilihan ganda ini benar-benar membuat kepalaku sakit, bagai ada kelereng-kelereng besi yang tak henti bergelinding di dalamnya. Mataku pun terasa betapa berat sebab terlampau lama menatap layar laptop sambil terus dipaksa berpikir. Padahal kuyakin yang membuat soal-soal ini pun tak peduli apakah aku dapat menjawabnya dengan benar atau tidak.

Ah... Ibu. Andaikan kau tak terus memintaku untuk menjadi seorang pegawai negeri, sudah pasti saat ini aku lebih memilih bertemu seorang kawan yang dapat menjadi mitra toko sembakoku itu, daripada aku harus berada di depan laptop dan bergumul dengan soal-soal ujian yang memuakkan ini.

Ah... Ibu. Aku ini lebih suka menghitung laba dan rugi pendapatan toko daripada menghitung kecepatan rata-rata antara dua kendaraan dari satu kota ke kota yang lain dan menentukan mana yang lebih dulu tiba. Aku pun jauh lebih ahli menghitung risiko pengadaan diskon di toko daripada menghitung waktu tempuh antara dua kendaraan yang melaju dengan kecepatan berbeda-beda, seperti yang ada di soal-soal sialan ini.

Aku lebih suka berkutat dengan barang-barang dagangan daripada dengan berkas-berkas. Aku juga lebih senang menghirup aroma beras daripada aroma kertas. Dan aku lebih suka bertatap muka dengan pembeli daripada dengan layar laptop yang membuat pandanganku berbayang ini.

Ah... Ibu. Kenapa permintaanmu yang satu ini harus kau ucapkan sebelum kau mangkat. Dan kenapa kau pun selalu datang ke mimpiku sambil terus bertanya―dengan raut muka yang selalu menekuk bagai kerupuk kulit itu—kapan aku menjadi pegawai negeri. Seolah kau betapa sebal sebab aku tak kunjung menjadi pegawai negeri sampai ajalmu tiba.

Dan sekarang apa kau bisa lihat dari surga bagaimana anakmu ini tengah berjuang mewujudkan mimpimu walau dengan terpaksa? Doakan saja anakmu ini agar dapat lulus ujian masuk pegawai negeri. Biar kau dapat tenang di Surga. Biar kau tak perlu lagi memperlihatkan wajah menekukmu itu di mimpiku sambil terus bertanya kapan aku jadi pegawai negeri. Biar aku pun tak perlu ditagih janji olehmu di akhirat kelak.

Tapi, bagaimana bila aku gagal menjadi pegawai negeri? Kau tahu berapa usiaku saat ini, kan, Bu? Apakah kelak kau akan terus datang ke mimpiku sampai aku seusiamu dan terus menuntutku dengan wajah menekukmu itu?

Sejak dulu ibu begitu ingin agar aku dan adikku bisa menjadi pegawai negeri. Padahal bapak yang seorang pegawai negeri hanya bisa memberikan kehidupan yang pas-pasan. Tak ada mobil apalagi rumah dinas.

Bapak hanya punya Honda Astrea Grand keluaran 1991 yang setiap bagian kendaraannya sudah berkarat dan selalu ada asap mengepul dari knalpotnya. Rumah kami pun tak besar dan tampak tak ada bedanya dengan rumah para tetangga yang kebanyakan petani dan pedagang di pasar.

Ibu yang sehari-harinya berjualan kue-kue kering di pasar memang tak pernah berhenti mencemaskan masa depan anak-anaknya. Hampir setiap malam ibu selalu mengusap-usap keningku dan adikku―yang akan terlelap―sambil mengingatkan agar kami tak lupa berdoa untuk masa depan kami.

“Minta sama Gusti Allah supaya kalian iso jadi pegawai negeri. Supaya kalian iso tetep urip sampe tua. Bisa tetep ngidupi keluarga meski uwes pensiun. Tapi kalo iso jangan jadi pegawai negeri rendahan seperti Bapak. Jadi pegawai negeri seng duwe jabatan mben iso urip makmur, Nak,” ujar ibu sebelum kemudian mengecup kening kami bergantian dan berlalu.

Tapi sehabis ibu berlalu, aku dan adikku akan membicarakan cita-cita kami sambil berbisik bagai tak peduli pada keinginan ibu yang baru diucapkan tadi. Barangkali karena kami memiliki banyak cita-cita yang kadang kala bisa berubah dan terlupakan begitu saja.

Pada satu malam aku pernah bercita-cita ingin menjadi pilot, sedangkan adikku ingin menjadi supir truk. Di malam yang lain aku lantas bercita-cita menjadi tentara, sedangkan adikku ingin menjadi pengendali traktor. Dan berganti malam yang lain aku pernah bercita-cita menjadi masinis kereta, sedangkan adikku ingin menjadi Satria Baja Hitam. Hingga tiba di satu malam kami pun memiliki cita-cita serupa: ingin menjadi pemain sepak bola.

“Tapi apa ibu akan senang kalau kita jadi pemain sepak bola, Mas?” tanya Agus ragu.

“Asalkan kita bisa dapat uang pensiunan pasti Ibu akan senang-senang saja, Gus.”

Adikku manggut-manggut.

Bapak mangkat saat aku baru tamat SMK, sedangkan Agus masih duduk di kelas 2 SMK. Sambil terisak di samping jasad bapak, lagi-lagi ibu menuturkan keinginannya agar aku dan Agus bisa menjadi pegawai negeri.

“Jadi pegawai negeri itu iso ngejamin hidup kalian, Nak,” kata ibu lirih. Bulir bening tak henti berderai dari matanya. “Lihat bapakmu iki. Bapakmu masih iso ngasih penghidupan buat kita meskipun uwes meninggal, Nak,” sambung ibu yang kali itu sesenggukkan.

Aku membisu. Adikku pun demikian. Tak ada kata yang bisa kami ucapkan kecuali sebuah isakan. Aku memang pernah mendengar bila keluarga seorang pegawai negeri masih bisa mendapatkan uang pensiunan sekalipun yang bersangkutan sudah mangkat.

Bapak mangkat setelah lama diserang penyakit liver. Dan yang kutahu, selama bolak-balik berobat ke rumah sakit bapak atau ibu tidak pernah pusing memikirkan biaya. Padahal yang kutahu ibu dan bapak tak punya banyak tabungan, bahkan untuk menyekolahkanku saja ibu masih harus berjualan kue kering di pasar.

Di hari kematian bapak aku menyadari betapa ibu ingin anak-anaknya menjadi pegawai negeri. Pikirku saat itu, kalau memang menjadi pegawai negeri bisa membuat ibu senang maka aku harus jadi pegawai negeri.

Tapi untuk bisa menjadi pegawai negeri ternyata tidak mudah. Padahal aku tak pernah lalai mendaftar ujian masuk pegawai negeri khusus lulusan SMK setiap tahun, tapi sialnya aku selalu gagal. Nilaiku tak pernah bisa mencapai batas minimum di ujian akademik. Adikku juga selalu mencoba, tapi nasibnya ternyata tak lebih baik dariku.

Kegagalan lulus di setiap ujian masuk pegawai negeri lambat laun membuatku hilang asa. Bahkan aku pernah berkata kepada ibu bahwa aku tak ingin ikut ujian pegawai negeri lagi. Aku bilang, lebih baik aku berusaha membesarkan usaha jualan berasku di Pasar Slogohimo supaya dapat membayar utang yang kupinjam dari koperasi sebagai modal usaha daripada mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Tapi ibu justru menangis.

Keinginan ibu untuk melihat anak-anaknya menjadi pegawai negeri seperti bapak benar-benar membuatnya―kupikir―hampir hilang akal. Aku pernah tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dengan seorang bekas teman kerja bapak yang bertamu di suatu malam di awal Juni. Seingatku, lelaki beruban itu menjanjikan kepada ibu bila kedua anaknya bisa menjadi pegawai negeri, tapi dengan syarat tertentu.

“Nanti bisa kutaruh anak-anakmu di kantor kecamatan atau kelurahan, Sri,” kata lelaki bernama Parmin itu meyakinkan ibu.

“Sungguh iso, Min?” Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Tapi ... yaa ... kau tahulah, Sri. Semua butuh ini,” sela lelaki itu sambil menggesek-gesek jempol dan telunjuknya di hadapan ibu sebagai sebuah isyarat. Ibu yang mengerti maksud Parmin lantas bertanya berapa jumlah yang dibutuhkan. “Halah. Ndak usah banyak-banyak, Sri. Sepuluh saja buat berdua cukup, kok.”

“Sepuluh juta?” sela ibu terperanjat. Lelaki itu mengangguk sambil berucap bahwa itu sudah termasuk harga kawan.

Tersirat dari air muka ibu bila ia kebingungan untuk bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Dan entah mengapa, saat kumengintip dari sela-sela lemari yang menyekat ruang tengah dengan ruang tamu itu, kudapati ada dua tanduk yang sekonyong-konyong tumbuh di kepala si Parmin, ekor pun menjuntai dari bokongnya, dan kulihat api sekonyong-konyong membakar kepala hingga badannya saat ia mengatakan sesuatu yang menyebalkan kepada ibu:

“Kau bisa jual motor almarhum suamimu itu, Sri. Ditambah dengan menggadaikan surat rumah ini. Kuyakin itu sudah cukup menutupi semua biayanya.”

Kulihat ibu tercenung sebentar. Kurang ajar betul si Parmin itu! Ia sudah benar-benar ingin mencuci otak ibu.

Sialnya lagi ibu benar-benar sudah termakan omongan Parmin. Sehari berselang adikku diminta ibu untuk memarkirkan Honda Astrea Grand milik bapak di depan rumah dengan ditempel kertas bertuliskan “Dijual”. Dan di hari yang sama ibu tampak gusar dan kebingungan lantaran ia tak bisa menemukan sertifikat rumah di lemari pakaiannya. Untungnya di malam Parmin bertamu itu aku sesegera mungkin membongkar lemari ibu dan mendapatkan sertifikat rumah ini.

“Kau tak perlu seperti ini, Bu!” hardikku sekali-kalinya kepada ibu. Malam itu aku terlampau geram padanya yang terus memaksa meminta sertifikat rumah ini.

“Ini juga untuk masa depan kalian, Wan. Aku rela melakukan apa pun untuk masa depan kalian walau harus ngegadaikan rumah!”

Ibu terus memaksa, tapi aku enggan luluh. Malam itu aku bilang pada ibu agar tak perlu melampaui batas seperti ini. Aku hanya tak mau bila kelak hasil keringatku justru tak membawa berkah pada keluargaku, sebab aku menjadi pegawai negeri dengan cara yang licik, cara yang haram.

“Bila aku tak mampu berarti memang bukan takdirku menjadi pegawai negeri. Lagi pula, kuyakin bapak pun tak akan setuju bila harus menggunakan cara licik seperti ini.”

Serta-merta wajah ibu tertunduk pilu saat aku mengingatkan tentang bapak. Dan entah mengapa sejak malam itu ibu tak pernah lagi memaksaku untuk memberikan sertifikat rumah kepadanya. Ibu juga tak lagi memintaku menjadi pegawai negeri. Tapi kulihat tiada lagi pelita di matanya kelak, semburat cahaya di mukanya pun perlahan lenyap.

Tapi selepas itu, rasa bersalah dalam diriku sebab pernah menghardik ibu mendorongku untuk terus mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Terang-terangan aku tunjukkan bukti kepada ibu setiap kali aku mendaftarkan diri di setiap kesempatan, meskipun hasil yang kuterima selalu sama: gagal. Sampai akhirnya aku benar-benar berhenti mencoba setelah memutuskan menikah di usia dua puluh delapan tahun.

Sebelum menikah, usaha jualan berasku sudah semakin berkembang sampai akhirnya aku memutuskan untuk membangun toko sendiri di luar area pasar—sebelumnya hanya menyewa toko. Aku bahkan sudah memiliki lima orang karyawan. Sementara itu adikku sudah memilih jalan hidupnya untuk menjadi seniman dan merantau ke Jogja.

Mulanya aku mengira bahwa ibu sudah benar-benar bisa menerima pilihan hidup anak-anaknya, sebab ibu tak pernah lagi membahas perihal keinginannya melihatku atau Agus menjadi pegawai negeri. Apalagi aku sendiri bisa hidup lebih baik daripada bapak. Aku bisa membeli rumah sendiri.

Aku sudah bisa memberi kehidupan yang layak pada anak dan istriku. Toko berasku pun kini menjadi toko sembako yang besar dan kian lengkap. Aku juga sudah memiliki tabungan untuk masa pensiun nanti. Dan aku sudah melindungi keluargaku dengan berbagai asuransi kesehatan dari pemerintah.

Tapi, rupanya ibu tidak benar-benar lupa pada keinginannya dulu. Ibu hanya mengendapkan keinginannya itu sebentar. Setidaknya, ia mengendapkannya sampai pertanda malaikat maut akan menghampirinya tiba.

Di usiaku yang ke-29, tubuh ibu mulai digerogoti berbagai penyakit. Darah tinggi, kolesterol, hingga stroke mulai mengeroyoknya. Kondisinya pun tak benar-benar membaik meski sudah bolak-balik ke rumah sakit. Sampai di malam sebelum Izrail menjemput, ibu sempat mengutarakan lagi keinginannya agar aku bisa menjadi seorang pegawai negeri.

“Jadilah pegawai negeri, Wan. Supaya masa tuamu nanti iso terjamin. Kamu tetep iso ngidupi keluargamu kalau sudah tua nanti. Uwes ora perlu kerja keras seperti sekarang, Wan.”

Malam itu aku hanya mengangguk sebagai tanda bakti kepada ibu sebab tak mungkin aku tega menggeleng di kondisi ibu yang lemah itu. Tapi rupanya anggukanku malam itu benar-benar diingat oleh ibu sampai di liang lahatnya. Sebab hampir saban malam ibu selalu mendatangi mimpiku dan terus bertanya kapan aku akan menjadi pegawai negeri.

Setahun lamanya ibu menyempatkan waktu untuk mendatangi mimpiku saban malam. Dan selama setahun itu aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan ibu. Kupikir ibu belum juga bisa tenang di liang lahat selama aku belum menjadi pegawai negeri.

Ah... tapi menginjak usia tiga puluh tahun ini sudah menjadi kesempatan terakhirku untuk bisa mencoba peruntungan menjadi pegawai negeri. Dan entah apa yang akan ibu lakukan di dalam mimpiku nanti bila kau tahu bahwa aku sudah gagal menjadi seorang pegawai negeri. Apa kau akan selalu datang ke mimpiku untuk menjewerku, Bu? ***

Baca Juga: [CERPEN] Obsesi Kematian

Rahardian Shandy Photo Verified Writer Rahardian Shandy

Rutin menulis sejak 2011. Beberapa cerpennya telah dibukukan dan dimuat di media online. Ia juga sudah menulis 4 buah buku non-fiksi bertema bisnis. Sementara buku fiksi pertamanya terbit pada 2016 lalu berjudul Mariana (Indie Book Corner).

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You