Comscore Tracker

[CERPEN] Planet Baru

Apakah kamu percaya dengan keberadaan alien?

Sudah seminggu ini semua orang dihebohkan dengan kabar mengenai penemuan planet misterius yang mirip dengan planet ini. "Jadi, apakah alien itu benar-benar ada?," tanya Chloe, sahabatku. 

Aku terdiam sebentar lalu mengejek, "Oh, jadi si tukang tak percaya takhayul bisa percaya alien juga?"

Chloe menyeringai. "Makasih banget, ya, sindirannya. Gak lucu."

Lalu, ia berbalik kembali menghadap laptopnya. Aku tersenyum penuh kemenangan, membayangkan bagaimana malunya Chloe saat ini. Padahal, aku hanya menggodanya saja. Aku suka melihat raut wajah Chloe yang tersipu malu kala aku menggodanya. Meski kami telah berteman sejak kecil, tetapi tetap saja ia selalu ngambek bila kugoda. "Ah, dasar Chloe," gumamku.

"Tapi, kamu jangan seneng dulu, ya, Ken. Bisa saja yang dilihat ilmuwan itu salah, kan?"

Chloe tiba tiba berbalik. Matanya berbinar, mencari alasan yang logis. Tipikal Chloe sekali. Aku tersenyum.

"Kalau salah, kan? Misal kalau benar?"

Muka Chloe memerah. "Ng...., aku yakin salah! Gak ada kehidupan di luar planet kita!"

Chloe berhenti sebentar, lalu berbalik menghadap laptopnya. "Nih, lihat! foto-foto penampakan piring terbang ini semuanya cuma editan, Ken!"

Chloe bergeser ke samping. Mataku menyipit agar bisa melihat tulisan sebuah website di layar laptopnya. Website itu berisi bukti bukti penampakan UFO di berbagai negara. 

"Dari mana kamu tahu itu palsu, Chloe?," tanyaku enteng. Chloe tersenyum.

"Haha, aku sudah meneliti beberapa foto melalui aplikasi yang biasa dipakai para pakar telematika, Ken. Semuanya palsu."

"Sudah semuanya?," tanyaku lagi. 

Chloe mengernyit. "Apa maksudmu?"

Aku mendengus menahan tawa. "Apakah semua foto piring terbang itu sudah kamu periksa?"

Chloe menjawab dengan tergagap, "Be... belum, maksudku, setidaknya sudah setengahnya. Aku tak butuh memeriksa setengahnya lagi karena setengahnya saja sudah cukup memberikanku bukti."

Chloe bergeser kembali ke depan laptopnya. Aku tersenyum. Dasar Chloe, tak pernah mau kalah sedikitpun

"Kalau setidaknya ada satu foto yang benar-benar terbukti asli bagaimana?," tanyaku kembali, mencoba membuatnya kesal. Chloe terdiam, aktivitasnya di depan laptop terhenti sejenak mendengar pertanyaanku.

"Walaupun cuma satu foto dan itu asli, itu juga sebuah bukti yang otentik akan keberadaan alien, lho, Chloe," kataku melanjutkan sambil mengintip ke arahnya. Chloe terdiam, lalu menutup laptopnya.

"Chloe Destiny Williams tetap tidak percaya akan keberadaan alien, titik!"

Matanya tegas, menatap ke arahku yang sedang tersenyum, lalu perlahan mata itu menjadi lembut, wajahnya memerah. 

Kenapa dia? Demam?

"Aku pulang dulu, ya, Ken. Kasihan mama sendirian di rumah," ucap Chloe sambil beranjak pergi dari kamarku.

Hehe, dasar tukang ngambek.

***

Beberapa minggu kemudian, jagat maya kembali digegerkan dengan kabar bahwa para ilmuwan telah menemukan cara untuk berkomunikasi dengan penduduk planet tak bernama itu. Entah alat komunikasi canggih seperti apa yang akan mereka gunakan. Yang jelas, siaran komunikasi tersebut akan disiarkan secara live. Tentu saja, seantero planet menjadi antusias. Sebab, ini adalah kali pertama kami bisa berkomunikasi dengan penghuni dari planet lain. Sebuah sejarah yang takkan pernah terlupakan. 

Tiba-tiba, aku langsung teringat Chloe. Beberapa minggu ini, ia tak muncul di kamarku. Padahal, aku sudah siap menggodanya lagi terkait berita ini. 

Apa dia sakit, ya? Jangan-jangan, beneran demam, tuh, anak.

Aku segera meraih ponsel dari meja dan menghubungi Chloe. Tak diangkat.

Sudahlah, nanti dia juga bakal nongol sendiri. Namun, beberapa minggu setelahnya, Chloe tak kunjung muncul.

Aneh, tak biasanya dia seperti ini. Kapan, ya, dia terakhir bersikap seperti ini?

Aku mendadak tak mampu mengingat apapun. Semuanya terasa kabur. Sementara itu, berita tentang planet baru tersebut semakin ramai diperbincangkan. Banyak isu yang beredar. Kabarnya, planet tak bernama itu mempunyai sumber kehidupan yang lebih layak dan memiliki teknologi yang maju pesat. Ada yang bilang juga kalau planet baru itu berniat menjajah planet ini. Aku mengernyit. Entah dari mana warganet mendapat teori-teori seperti itu. Padahal, kontak baru dilakukan seminggu lagi.

Apa ilmuwan -lmuwan itu sengaja membocorkannya?

Entahlah. Memikirkan Chloe tak kunjung datang ke rumah saja sudah membuatku bingung, apalagi memikirkan berita itu. 

***

Hatiku riang saat Chloe berkunjung pada hari berikutnya. Namun, Chloe lebih murung dari biasanya.

"Kamu kenapa Chloe?," tanyaku khawatir. 

"Tidak apa-apa, Ken..."

Chloe menunduk. Raut mukanya sedih. "Chloe, kita sudah berteman sejak kecil. Aku tahu kapan kamu berbohong. Katakan ada apa!," desakku. Chloe masih menunduk. Aku menatap kesal ke arah televisi.

Tak biasanya Chloe begini.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Kontak dengan planet baru itu disiarkan secara live nanti malam lho, Chloe!," seruku mencoba mencairkan suasana. 

"Aku tahu. Sebenarnya, ada yang mau kubicarakan sama kamu, Ken..." Chloe tiba-tiba menengadah. Matanya berkaca-kaca. Aku terkesiap.

Ini bukan Chloe! Siapa perempuan tua ini?

"Siapa kamu?," tanyaku gusar tak mengenali sosok di hadapanku. Perempuan tua itu menjawab dengan tak sabar.

"Ini aku, Ken! Chloe, mantan istrimu!"

Aku tersentak. Apa maksudnya? Mantan istri? Aku masih terlalu muda untuk menikah!

"Kamu bukan Chloe! Chloe tidak tua sepertimu! Chloe cantik!," bentakku. Perempuan tua itu menangis.

"Aku tidak bisa lagi berkunjung ke sini, Ken. Fisikku sudah lemah. Aku akan tinggal bersama anakku di kampung halaman, maaf."

Apa maksudnya? Anak? Anak siapa?

"Satu hal yang perlu kamu ingat, Ken. Aku telah memaafkan perbuatanmu dua puluh tahun yang lalu."

Perempuan tua itu terus meracau sambil menyeka matanya. Ngomong apa dia?

"Mana Chloe? Kamu siapa? Chloe! Chloe!," panggilku putus asa.

Perempuan tua itu panik dan entah darimana, tiga orang berbaju putih-putih memasuki kamarku—bukan, ini bangsal! Kenapa aku berada di tempat seperti ini?Aku ingin pulang!

"Lepaskan!!!"

Aku meronta ketika dua orang berbaju putih itu memegangi badanku. Sementara, satunya sedang menyiapkan sebuah suntikan. 

"Aku mau pulang! Lepaskan! Kalau tidak, akan ku telepon polisi!"

Mataku menyapu ke seluruh ruangan mencari ponsel sambil berusaha meronta. Namun, dua orang berbaju putih itu sungguh kuat. Aku tersentak ketika melihat ke meja di sebelah tempat tidurku.

Itu bukan ponselku. Itu... pisang

Perempuan tua itu menyender ke dinding sambil menutup mulutnya, tak tega melihatku. Kemudian, seketika aku merasa lemas. Mataku gelap total.

Seseorang, tolong aku!

***

"Obat penenangnya sudah masuk, Bu, " kata salah seorang perawat ketika selesai membetulkan posisi Ken di ranjang. 

"Terima kasih, suster. Saya titip bapak, ya," Kata Chloe sambil menghela napas.

"Anda benar-benar tidak akan kembali ke sini, Bu?," tanya perawat itu lagi. 

"Bertahun-tahun, saya telah mencoba memaksa bapak untuk mengingat saya, suster. Namun, kenangan yang ia ingat dari saya hanyalah waktu kita masih bersekolah dulu."

Chloe terdiam lalu melanjutkan, "Dulu, kita sering berdebat mengenai keberadaan makhluk luar angkasa. Bagi saya, itu hanyalah bualan belaka. Namun, semua terbukti benar ketika ia harus berada dalam kondisi seperti ini."

"Penderita seperti Pak Kenneth memang cenderung mengingat hal yang ingin diingatnya saja, Bu. Tenang saja, pasti kita akan rawat dengan sebaik-baiknya," kata perawat itu sambil berlalu. 

Chloe lalu menghela napas panjang sekali lagi, mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu. Saat itu, ia dan Ken belum juga dikaruniai seorang anak. Hal tersebut diperparah dengan bisnis yang dirintis Ken harus gulung tikar. Apalagi, Ibu Chloe selalu menyindir setiap kali keduanya datang berkunjung. Suatu ketika, mereka berkunjung ke rumah Ibu Chloe saat emosi Ken sedang dalam kondisi tak stabil. Omongan pedas Ibu Chloe membuat Ken mencapai batas kesabarannya. Sebuah tragedi yang tak diinginkan pun terjadi. Ibu Chloe tewas bersimbah darah dengan pisau berada di tangan Ken. Ken tertawa histeris. 

Saat itu, pengadilan memutuskan kalau Ken harus dirawat secara medis karena menderita gangguan kejiwaan. Chloe awalnya tak terima. Batinnya berkecamuk. Di satu sisi, ia ingin Ken dihukum mati atau seumur hidup. Namun, di sisi lain, cintanya kepada Ken begitu besar. Bahkan, sampai Chloe menikah lagi dan mempunyai anak, ia terus rutin mengunjungi Ken di bangsal. Namun, fisiknya kini terlalu lemah. Apalagi, setelah suaminya meninggal karena kanker tiga tahun lalu. Kini, ia harus tinggal bersama anaknya di kampung halaman sampai tutup usia. 

Chloe beranjak pergi melewati lobi pusat rehabilitasi. Di lobi, orang-orang dengan antusias menatap ke arah televisi. 

"Ah, benar juga. komunikasi pertama kali dengan alien. Kamu terbukti benar, Ken," kata Chloe datar. Ia lalu mengingat perdebatannya pertama kali dengan Ken mengenai alien tiga puluh lima tahun yang lalu.

"Tiga puluh lima tahun ilmuwan mencoba untuk berkomunikasi dengan mereka, tetapi baru dua puluh tahun saja aku sudah menyerah untuk mencoba mengingatkan Ken tentang siapa aku."

Kata-kata Chloe tercekat, menahan tangis. Lalu, terdengar sayup sayup suara di televisi

"Sebentar lagi, kita semua akan menyaksikan sebuah momen bersejarah, yakni komunikasi dengan makhluk luar angkasa untuk pertama kali," kata pembaca berita dengan antusias. Di sebelahnya, duduk seorang ilmuwan bersiap untuk diwawancarai. 

"Jadi, apa nama planet baru ini, Prof?," tanya pembaca berita tersebut. Ilmuwan tersebut membetulkan letak kacamatanya sambil menjawab.

"Kami telah mencoba bertahun-tahun untuk mengirim sinyal kepada mereka. Namun, hanya sejumlah kode yang mampu mereka berikan kepada kami."

"Kode seperti apa itu, Prof?," tanya pembaca berita itu lagi. 

"Ahli penerjemah kode dan bahasa saya telah bertahun- tahun mencoba merangkainya. Akhirnya, seminggu lalu, ia berhasil memecahkan kode tersebut tepat sebelum kita akan berkomunikasi dengan mereka malam ini."

Ilmuwan itu terdiam sebentar lalu melanjutkan, "Nama planet tersebut adalah Bumi, unik, kan?"

Chloe tersentak, menengok ke arah jam tangannya. "Astaga! Aku harus cepat-cepat pergi ke stasiun." Chloe berlalu. Antena di dahinya berkedip-kedip, merasakan cuaca Planet Solum lebih dingin dari biasanya.

Baca Juga: [CERPEN] Menjelang Magrib di Persimpangan Jalan

Satria Wibawa Photo Verified Writer Satria Wibawa

Movies and series enthusiast. Feel free to read my reviews on Insta @satriaphile90 or Letterboxd @satriaphile. Have a wonderful day!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya