Comscore Tracker

[NOVEL] Bad Boy Hijrah-BAB 2

Penulis: Achi TM

Aku Menemukanmu, Hijrah!

 

 

Kayaknya mimpi buruk menyapa mantan lagi

Tapi kalau ngga nyapa, berasa dosa

Disapa, eh dia baper tingkat dewa

Terus gue yang dicecar kenapa dan kenapa?

Kalau aja dia tahu gue masih sayang.

Ternyata jalan ke surga emang ngga mudah. Ngga nemu di google map.

Yang bilang lupain mantan itu gampang, fix dia ngga pernah pacaran.

-Hijrah (yang ngga punya nama panjang)-

 

"Memperbaiki diri itu emang ngga mudah, bang... banyak halangannya. Tapi kalau niat kita hijrah karena Allah, insya Allah... Dia akan menolong kita, Bang. Termasuk menolong hati yang lemah kayak abang."

"Beuh... dalem." Hijrah merasa tertampar.

Julian, lelaki di hadapannya kini masih berusia 16 tahun yang baru memasuki usia SMA, dia adalah sahabat barunya Hijrah. Mereka berkenalan 6 bulan yang lalu. Sebuah pertemuan yang mengikat mereka menjadi seseorang yang dekat secara intens.

Secara umur, Julian memang lebih muda dari Hijrah. Akan tetapi secara ilmu agama dan kedalaman hati yang ikhlas, Julian jauh unggul di atas Hijrah. Jika sedang dalam kondisi gamang dengan jalan yang ia tempuh, Hijrah pasti menghampiri Julian.

"Jadi kemarin, Abang Hijrah jadi ngelus rambut Suci?" Tanya Julian yang langsung membuat pipi putih Hijrah merona.

"Nggalah," Hijrah menggeleng, rambut ikalnya bergerak lucu ke kanan kiri. "Abang istigfar banyak-banyak. Sampai kenceng-kenceng istigfarnya."

"Terus?"

"Suci kaget, jalan mundur. Dia sangka gue kesurupan."

Tawa mereka meledak.

"Kasian, sih, bang. Dia pasti cinta banget sama abang. Wajar, sih, abang ganteng. Body atletis, tinggi, rambut ikal berkilau, kulit putih bak pualam."

Sebuah bantal kecil melayang dan mengenai wajah Julian. Hijrah mendengus kesal.

"Jangan ngeledekin gue terus, deh. Udah ah... gue ada rapat Rohis."

Julian mengepalkan tangannya di udara. "Ganbatte bang! Berjuang."

Hijrah menepuk dadanya, seolah sedang menempuh pertempuran yang dahsyat. "Dada gue kuat kayak baja... cinta dan masa lalu ngga akan bikin goyah."

"Siap bosque... kerenlah!"

Tangan Julian dan Hijrah saling bertautan, setelah itu Hijrah keluar dari kamar Julian. Saat pintu tertutup, Julian menghela napas lama. Kesedihan bergelayut di hatinya.

"Menjadi ikhas juga ngga mudah, bang...." Ia menutup matanya. Menahan nyeri di dada. Suatu kenangan yang menggumpal dan menyakitkan.

***

Hari ini adalah hari Sabtu, sekolah libur tapi ekskul terus berjalan. Kegiatan Rohis pun ramai di hari ini. Ada kelas keputrian dan kelas khusus ikhwan, setelah itu ada kelas gabungan dan rapat untuk kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Hijrah selalu semangat mengikuti kegiatan Rohis karena dia bisa mendapatkan amunisi untuk tetap on the track dalam berhijrah.

Bukan dia saja yang mau berubah, 70% anak Rohis pernah bandel di masa SMP. Banyak cerita yang mereka tukar satu sama lain. Bagaimana awal mula mereka tertarik belajar islam. Ada yang berubah karena ayahnya meninggal. Ada yang karena pacarnya mutusin dia. Ada yang karena hampir overdosis memakai narkoba, saat sekarat dapat hidayah. Ada yang mimpi berulang kali rambutnya dibakar di neraka sehingga akhirnya berjilbab dan banyak kisah lainnya.

Bagaimana dengan Hijrah?

Lelaki itu menutup rapat-rapat alasan dia berhijrah. Dia memilih menjadi pendengar yang baik dan memetik hikmah dari setiap perjalanan teman-temannya.

"Kita beruntung sudah disadarkan Allah dalam usia semuda ini. Banyak yang sudah berumur 40 tahun, 50 tahun tapi belum berubah juga." Usai Kak Andri, salah satu alumni Rohis yang juga menjadi mentor kelas ikhwan.

"Kak... gimana seandainya sepuluh tahun lagi kita berubah lagi jatuh ke lembah dosa?" Tanya Tio, salah satu teman Hijrah di Rohis.

"Kita tak pernah tahu jalan masa depan kita bagaimana, tapi setidaknya kita pernah ada di jalan ini. Jalan yang lurus. Suatu saat kalau nasib membawa kita tersesat, setidaknya kita tahu bagaimana cara kembali ke jalan yang lurus," jawab Kak Andri lugas, "banyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah. Agar Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk maksiat. Yang terpenting sekarang kita perbaiki diri terus menerus."

"Aamiin..."

Usai berdoa bersama, pertemuan pun selesai. Para anggota Rohis yang masih kelas sepuluh memilih untuk pulang, sementara beberapa pengurus Rohis kelas sebelas masih berkumpul melingkar di teras masjid. Mereka membahas mengenai kegiatan pergi ke sebuah tabligh akbar di masjid Al-Adzhom, masjid terbesar di kota Tangerang. Kota tempat mereka tinggal.

"Jadi siapa penceramahnya?" pertanyaan yang selalu Hijrah lontarkan setiap ada kegiatan jalan bareng ke tabligh akbar atau pengajian di luar lingkungan sekolah.

"Ustadz Alfian Anandi, Hir," jawab Tio. "Saudaraku panitianya, lumayan kita dapat slot duduk dekat panggung."

"Waah... mau!" seru Jasmine, salah satu pengurus keputrian. Beberapa pengurus keputrian lain juga nampak tertarik.

Semua anak-anak keputrian memakai hijab hingga ke dada dengan gaya kekinian dan baju gamis yang tetap mengikuti fashion. Meskipun begitu, mereka tidak berlebih-lebihan dalam berdandan. Di antara para pengurus keputrian, Jasminelah paling cantik dan menarik perhatian. Tak jarang, banyak yang ikut Rohis dengan tujuan hanya ingin melihat Jasmine saja. Ketika mereka menyatakan cinta kepada Jasmine dan ditolak mentah-mentah, mereka langsung keluar dari Rohis.

"Aku ngga ikut, ya," Hijrah langsung berdiri dan mengambil sepatu di tangga teras.

"Kenapa, Hir... susah lho dapat slot di depan. Secara Ustadz Alfian kan lagi naik daun. Terkenal banget di TV."

Hijrah hanya nyengir. "Kapan-kapan aja."

"Yaa ngga serulah ngga ada kamu, Hir." Jasmine seolah merajuk. "Ngga ada yang bayarin kita makan siang gratis," ucapan Jasmine langsung disambut riuh sama yang lain.

"Astagfirullah... berharap pada Allah ukhti. Jangan berharap sama aku yang hanya manusia biasa," jawab Hijrah dengan diplomatis.

Semua teman-teman rohisnya tertawa kecil, karena Hijrah bergaya seolah seorang pujangga yang norak.

"Bercandaan aja, Jrah... bawa serius amat, sih," Ipan merangkul Hijrah. "Nebeng, ya, sampai perhentian bus tayo."

"Kuylah...."

Ipan dan Hijrah berjalan bersama melintasi lapangan sekolah mereka yang luas. Beberapa anak masih bermain basket ketika mereka lewat, bola basket melayang ke arah Hijrah. Dengan satu tangkapan, Hijrah berhasil mengambil bola itu dan melemparnya dengan kencang. Splash! Bola masuk ke dalam keranjang dalam satu tembakan. Anak-anak basket bertepuk tangan, mereka saling sapa sebelum akhirnya Hijrah dan Ipan tiba di tempat parkir.

Hijrah mengeluarkan motor N-Max nya dan mengenakan helm. Ia mengambil helm cadangan di bagasi motor kemudian memberikannya pada Ipan. Baru saja Hijrah mengendarai motor sampai keluar gerbang, sebuah motor Mio kecil berjalan mepet di sebelahnya dan menyembunyikan klakson kencang-kencang. Hijrah membuka kaca helm motornya sambil terus melaju pelan. Pengendara Mio itu juga membuka kaca helm retro pinknya, dia adalah Suci. Perempuan itu berwajah sangar kepada Hijrah.

"Minggir, J! Kita belum kelar bicara."

"Siapa Je?" Ipan heran. "Jrah... lo kenal dia?"

Tak ada jawaban yang memuaskan Ipan. Lelaki yang memboncengnya itu malah mulai ngebut dan membuat Ipan terpaksa memeluk jaket Hijrah dengan kencang. Tak disangka, motor di belakangnya juga mengejar cepat. Motor Hijrah melaju melewati gang-gang kecil sebelum akhirnya mereka tiba di jalan raya yang besar.

Hijrah mulai jengah. Menyesal dengan perbuatannya kemarin. Sungguh, sebenarnya ia berniat untuk mengendap pergi saat melihat Suci duduk di depan cafe Mengenang Mantan. Entah apa yang membuat lidahnya spontan berkata 'Hai' alih alih mengucap salam.

Apakah dia rindu sama Suci? Cuma kangen? Cuma pengen lihat mukanya? Hijrah membodohi dirinya. Ia bahkan lupa kalau kemarin adalah hari jadian mereka. Pantas Suci terlihat murka. Melihatnya seolah sedang melihat neraka.

"I find you, J! I Find you!" teriak Suci di belakang motor Hijrah.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Bad Boy Hijrah-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya