Comscore Tracker

[NOVEL] Bad Boy Hijrah-BAB 4

Penulis: Achi TM

Dosa Yang Manis

 

Apakah gue masih sayang sama Suci?

Gue pernah sayang sama dia, setidaknya sampai 6 bulan yang lalu.

Tapi Kak Andri, mentor gue di Rohis

Selalu kasih resep buat ngelupain Suci.

"Bayangin kalau dia lagi buang air besar, masih cantik nggak?"

Sayang gue pelan-pelan luntur

Tapi Kak Andri lupa kasih resep.

"Gimana caranya ngadepin mantan yang masih cantik dan tidak sedang buang air besar?"

Terus dia meluk kita tiba-tiba? Tell me how?

~Hijrah (Tanpa Nama Panjang)~

 

"Lee Min Ho?" ujar ibu paruh baya dengan wajah berbinar yang sulit dideskripsikan.

Warga perempuan lain yang semula tak melihat Hijrah dengan jelas, kini mulai kasak-kusuk. Terpesona dengan ketampanan Hijrah yang maksimum.

"Maaf, punten, ini cuma salah paham aja. Maaf sekali lagi kalau bikin gaduh," ujar Hijrah dengan lembut. Membuat hati ibu paruh baya itu meleleh.

Suci tak menyerah. Ia semakin mengencangkan pelukannya.

"Silakan kamu peluk terus. Pukulan selanjutnya aku nggak akan tangkis lagi."

Suci mengintip dari pinggang Hijrah. Ibu-ibu di hadapannya membawa sapu ijuk, kain pel, cobek. Ia menelan ludah berat. Hijrah menantikan dengan sabar, ia tahu Suci memang punya tekad kuat tapi dia tak sanggup dipukuli. Pelan-pelan jemari Suci mengendur.

Hijrah jalan ke sebelah motor Suci. Dengan satu entakan, ia menendang motor itu hingga jatuh. Suci dan semua warga terkejut.

"J!"

Saat itulah Hijrah melemparkan pandangan 'ayo!' kepada Ipan. Dengan tanggap, Ipan menghampiri Hijrah yang sudah menaiki motor N-Maxnya dan mulai memutar balik.

"Jrah, motor dia bisa rusak!"

"Tenang aja, dia anak orang kaya. Buruan!" Hijrah memakai helmnya.

Ipan naik ke boncengan hanya memeluk helmnya. Segala persepsinya tentang Hijrah yang saleh, alim, lemah lembut, dan baik hati mulai ambyar dalam seketika. Hijrah mengucapkan salam dengan sopan dan langsung dijawab ramah oleh ibu-ibu. Dua warga yang merupakan bapak-bapak, menaruh simpati kepada Suci dan membantunya mendirikan motor. Suci berlari mengejar Hijrah.

"J! Awas kamu! Hari Senin besok kamu nggak bisa kabur lagi!"

Suci terengah-engah, ia tak kuat berlari lebih lama. Hijrah menghilang di belokan ujung gang. Suasana sempat sunyi sampai kemudian terdengar suara ember dipukul. Suci segera waspada, ia menoleh ke belakang dan menelan ludah berat. Tujuh ibu-ibu dengan segala peralatan rumah tangga, siap menghakimi Suci.

"Tadi saya sih lihat kamu yang peluk-peluk ngejar dia. Kamu yang bikin ribut," ujar seorang ibu kurus pemegang ember.

Enam ibu lainnya menatap Suci dengan pandangan haus bergosip. Pada saat inilah, dia yakin bahwa tak ada ilmu yang sia-sia untuk dipelajari. Termasuk ilmu akting.

"Ya Tuhan! Maaf, Bu, maaf." Sekuat tenaga Suci mengeluarkan air mata. Susah sekali karena tak ada bawang. Tapi ia berhasil menjiwai. "Dia pacar saya, dia ninggalin saya begitu saja di saat ... di saat ...." tangis Suci semakin kencang. "Saya hamil enam bulan dan dia ngga mau tanggung jawab, huhuhu."

"Badan langsing begitu hamilnya di mana?" tanya ibu pemegang sapu lidi tadi. Ia menuding temannya yang berperut buncit dengan sapu lidi. "Ini tah hamil enam bulan."

Suci melirik ke arah yang ditunjuk. Ia memelotot. Pada saat ini ternyata ilmu pengetahuan juga dibutuhkan saat akting. Suci segera mengubah intonasi suaranya.

"Maksud saya, hmm, baru mau hamil, hmm...." Ia memutar otak.

Seorang bapak setengah baya mendorong motornya ke hadapan Suci.

"Ini spionnya lepas, mau saya bawa ke bengkel dulu, neng?"

"Spionnya buat bapak aja." Suci memutuskan bahwa otaknya tidak bisa diputar lagi. Ia segera memutar kunci motor dan dalam satu entakan, motor matik itu meluncur pergi.

Ia memilih meninggalkan jejak malu di sana ketimbang berpikir keras memulihkan nama baiknya. Ah! Suci tidak peduli. Yang penting dia bisa kabur. Segera begitu tiba di rumah ia akan blacklist perkampungan itu agar tak pernah dilewati tujuh turunan. Pantatnya masih nyeri bekas dipukul sapu lidi tapi mengingat ia berhasil memeluk Hijrah setelah enam bulan nelanga oleh rindu, rasa nyeri itu ia anggap sebagai pengorbanan.

Hamil enam bulan? Suci nyengir sendiri.

Senakal-nakalnya Suci dan Hijrah pacaran, mereka ngga akan sebodoh itu.

***

Hijrah memacu motornya kencang, ia memilih sembarang jalan dan berputar jauh menuju kos-kosannya. Jaga-jaga jika Suci berhasil dibantu jin atau sebangsanya untuk mengangkat motor berat itu dan mengejar Hijrah dengan kecepatan cahaya. Setelah merasa agak aman, Hijrah berhenti di depan tukang es kelapa. Ia terengah-engah. Entah mengapa naik motor ini terasa sedang naik Onta di gurun. Hati dan pikirannya mendadak gersang.

Ipan ikutan terengah. Lebih tepatnya keringat dingin. Pertama dalam pandanganna, Hijrah adalah anak alim dan shaleh, tak akan pernah pacaran. Semua yang keluar dari mulutnya adalah kalimat baik dan dzikrullah. Kedua Hijrah yang ia kenal, jangankan menendang motor, menendang sampah botol di koridor sekolah aja dia ngga pernah. Ipan seperti dijungkir balikkan kenyataan bahwa Hijrah bukan seperti yang ia kenal.

Siapa Hijrah sebenarnya? Masa lalu seperti apa yang dia miliki?

Sementara tukang es kelapa sudah bersiap menerima pesanan dari Hijrah dan Ipan, dua lelaki itu malah bergeming. Panas menyengat dan dagangannya belum juga laku sejak pagi. Ia berharap Hijrah membeli tapi lelaki itu malah meminta Ipan turun.

"Elo mau turunin gue di sini?"

"Ya."

"Tapi rumah gue itu masih sepuluh kilo dari sini, Jrah." Ipan protes.

Hijrah tak menanggapi. Seraya menghela napas, Ipan turun dengan memberengut.

Hijrah mengambil dompet dari ranselnya kemudian mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah. "Ini buat kamu naik ojek."

Melihat merah merona melambai di hadapannya, wajah Ipan ikut bersemu.

"I-ini banyak banget, Jrah." Sebagai anak pensiunan karyawan pabrik, uang jajan Ipan paling besar hanya sanggup beli sepuluh porsi cilok. Ini dua ratus ribu?

"Sisanya buat nyembuhin kaget kamu."

Ipan menatap Hijrah agak lama. "Ehm ... itu tadi pacar kamu?"

"Mantan."

"Kok mesra?" Ipan tak tahan untuk tidak menyelidiki.

"Kamu nggak percaya aku?"

"Percaya, tapi elo kelihatannya masih sayang gitu sama dia. Belain dia pasti mau dipukul sapu lidi lagi."

Hijrah menatap Ipan dengan tajam. Ipan terkejut, tak pernah melihat pandangan Hijrah seperti itu. Marah.

"Kamu pernah pacaran?"

"Ngga pernah, Jrah. Kan pacaran itu dosa."

"Waktu SMP kan kamu suka minum minuman keras. Kok bisa nggak pacaran?"

"Ya gue minum karena ditolak sama gebetan gue, Jrah."

Hijrah tertawa sinis. "Tiap orang punya dosanya sendiri-sendiri, Pan. Simpan masing-masing aja. Nggak usah bagi-bagi."

"Maksudnya?"

"Ada dosa yang hanya bisa aku ceritakan dalam doa. Bukan cerita ke kamu."

"Seberat itu, ya, sampai elo ngga bisa cerita?"

Tukang es kelapa menyimak pembicaraan mereka dengan serius. Ia sudah siap memegang golok, berjaga-jaga jika salah satu di antara mereka memesan kelapa bulat. Mendengar pertanyaan Ipan, Hijrah mengelus dagunya sejenak, melemparkan pandangan pada tumpukan sampah batok kelapa kemudian menatap Ipan kembali.

"Aku doain, ya, biar kamu ngga pernah ngerasain beratnya meninggalkan orang yang kamu cintai pas lagi sayang-sayangnya."

Ipan makin penasaran. "Lho coba cerita dari awal mula, dong. Kok bisa?"

Hijrah mendengus sebal, ia lalu melihat tukang es kelapa yang masih istiqomah memegang golok dan kelapa. Dengan cepat, Hijrah mengeluarkan uang seratus ribu lagi. Ia berikan kepada tukang es kelapa.

"Beli seratus ribu, Pak."

"Alhamdulillah Ya Allah! dibungkus atau minum di sini?" Tukang kelapa semringah bukan main.

"Kasih semua ke dia." Hijrah menunjuk Ipan dengan dagunya. "Biar kepalanya penuh es kelapa, bukan penuh kepo."

"Eh?" Ipan bingung sesaat.

"Helmnya bawa Senin besok saja, aku duluan. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam," jawab Ipan masih berusaha memahami kenapa Hijrah membelikannya es kelapa sampai seratus ribu?

Hijrah memacu motornya menuju kos-kosan. Akan tetapi ia ingat bahwa sejak pagi ibunya sudah berpesan agar Hijrah pulang ke rumah karena sudah satu bulan terakhir Hijrah tidak pulang ke rumah. Sebenarnya ia malas untuk pulang karena di rumah, dia tak bisa menjadi dirinya sendiri versi saat ini. Ia harus menjadi seseorang dari masa lalu.

Hijrah memutar arah, melaju menuju rumahnya. Ponselnya terus berdering, ibunya menelepon lagi. Kalau bukan karena ingat pesan Kak Andri tentang ibumu-ibumu-ibumu yang disebut tiga kali oleh Rasulullah SAW, sudah tentu Hijrah akan abaikan panggilan itu. Tapi ia menepi, mengambil ponsel di ransel dan menerima panggilan.

Nampak di layar ponsel IBU MUDA memanggil.

Ibu kandungnya. Ibu yang mengandungnya. Tapi entah kenapa berat sekali rasanya mengangkat telepon itu. Andai dia tak harus pulang ke rumah. Dengan berat hati, Hijrah mengangkat panggilan.

"Halo, Bu?"

Sekuat tenaga, ia tak mengucapkan salam.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Bad Boy Hijrah-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya