Comscore Tracker

[NOVEL] Jakartaholic - BAB 4

Penulis : Dita Soedarjo

4. Everyone Knows Everyone

***

Aku suka menyetir sendiri malam-malam. Ada rasa damai yang aneh untuk dijelaskan saat aku melintasi jalanan Jakarta yang mulai lengang. Rasanya aku bisa menikmati kesunyian yang sangat jarang terjadi di kota sebesar Jakarta.

Katanya, Jakarta kota yang selalu sibuk. Semuanya serba terburu-buru. Semuanya selalu terpacu untuk menjadi yang terbaik, menjadi yang terdepan, menjadi yang nomor satu. Bagi banyak orang, Jakarta menjadi tempat menyimpan sebuah impian.

Di balik gedung pencakar langit di pusat Jakarta, kota ini memang tampak glamorous. Lampu-lampu di gedung tinggi yang menjadi pengganti cahaya bintang di malam hari memang menyimpan banyak cerita. Selalu ada rahasia di balik setiap hiruk-pikuk tanpa henti yang menjadi denyut jantung Jakarta.

Bagiku, Jakarta sama seperti kota besar lainnya. Selalu hidup. Tidak pernah tidur, apalagi mati. Bahkan di malam selarut ini, kota ini masih saja berdenyut. Jakarta mungkin sebuah kota besar, tapi apa Jakarta memang sebesar itu?

Lucu, karena aku malah merasa sebaliknya. Kota ini sangat kecil. Jika kamu berada di suatu tempat, kamu akan bertemu orang yang sama atau mengenal orang yang sama. Everyone knows everyone. Seolah-olah di kota yang sangat padat ini, tidak ada tempat yang pas untuk menyimpan rahasia.

Aku melirik edisi terbaru Belle yang tergeletak di jok di sampingku. Sosok cantik Cassandra Gabriella mengenakan gaun putih rancangan Vivian Elizabeth menyapu pandanganku. Vivian adalah desainer terkenal yang ternyata tetanggaku di apartemen, sementara Cassandra yang kukenal berkat pekerjaan ternyata berteman dengan Rama.

Itu juga yang membuatku bisa dekat dengan Rama, karena kami mengenal orang-orang yang sama.

Everyone knows everyone. Everyone knows what everyone does.

Bahkan, aku curiga jika dinding aja punya telinga, karena tidak ada hal yang bisa dirahasiakan di kota sekecil Jakarta.

Mulai dari hal paling mudah untuk dicerna oleh mata telanjang, seperti ketika salah satu kenalanku melakukan operasi plastik demi hidung yang lebih mancung, atau anak temannya Papa yang pura-pura hamil dan melahirkan di London, padahal sebenarnya mereka memakai jasa surrogate mother. Semuanya bisa diketahui begitu saja, tidak peduli sepintar apa pun kita merahasiakannya.

Ada hubungannya denganku? Tidak ada. Namun, aku bisa mengetahuinya. Entah dari dinding yang menyimpan rahasia itu atau dari mulut-mulut ember kenalanku yang lain, yang merasa membicarakan seseorang itu hal yang lumrah. Rasanya selalu ada yang kurang jika tidak membicarakan orang lain saat sedang kumpul.

Setiap orang selalu menampakkan versi terbaik dirinya. Selalu menunjukkan hidup sempurna. Flawless.

Mungkin itu cara mereka untuk memotivasi diri. Dengan menunjukkan hidup yang sempurna, mereka mendapat pengakuan dari sekitarnya. Mendapat penerimaan dari orang lain. Ujung-ujungnya akan dielu-elukan. Dipuja-puja. Dan menjadi sosok yang diidolakan.

Namun, itu semua melelahkan. Trust me.

Baru tadi siang aku menyaksikan langsung ketika kesempurnaan yang diusahakan sekuat tenaga, akhirnya malah menjadi pengkhianat.

Clarissa Olivia, seorang aktris pendatang baru yang menjadi idola banyak orang di Indonesia. Dia selalu tampil flawless, dengan wajah cantik dibalut riasan sempurna. Senyumannya memukau yang memperlihatkan gigi putih berseri tanpa cela. Namun, di balik klaim alami yang dia gembar gemborkan di media, justru tubuhnya sendiri yang mengkhianatinya.

“Ups ….” Clarissa refleks mengatupkan bibirnya. Dia tampak tidak nyaman, bahkan meninggalkanku yang penuh tanda tanya ketika melihat dia berlari menjauh.

Aku sedang mewawancarai Clarissa dan dia sedang asyik bercerita soal liburannya ke Yunani bulan lalu bersama teman-temannya, ketika tiba-tiba dia berhenti dan tampak gelisah.

“Sori, Tin, fotonya bisa di-reschedule besok?” tanya Clarissa ketika dia kembali ke meja tempatku menunggu.

“Kenapa?” Aku balas bertanya. Di dalam pekerjaanku, reschedule ibarat mimpi buruk, karena reschedule satu jadwal akan sangat berpengaruh terhadap jadwal lainnya.

Setelah menatap sekelilingnya, Clarissa menarik bibirnya membentuk senyuman. Ada yang berbeda dari senyumannya. Tidak seperti biasa, kali ini dia tampak kaku. Setelah mengamati, aku menyadari ada masalah dengan giginya. Gigi depannya tampak gompal, dan tentu saja hal itu memengaruhi keseluruhan penampilannya.

“Veneer gigiku pecah. Rugi 15 juta, deh.” Dia mendengus kesal. “Aku enggak bisa difoto dalam keadaan seperti ini.”

Aku menutup notebook dan memeriksa jadwalku. Seharusnya besok aku bisa pulang lebih cepat karena ada janji dengan Rama. Namun, untuk seminggu ke depan, aku tidak mempunyai jadwal yang lebih lowong. Terpaksa aku mengatur ulang jadwal foto dengan Clarissa besok sore dan membatalkan janji dinner dengan Rama.

Meski kesal, sejujurnya dalam hati rasanya ingin tertawa. Sebagai gantinya, aku memasang wajah penuh simpati kepadanya.

Clarissa memanggil asistennya dan memintanya untuk menjadwalkan kunjungan ke dokter gigi untuk memperbaiki veneer.

“Aku baru aja dapat kontrak iklan pasta gigi, makanya aku pasang veneer biar lebih sempurna. Eh, ternyata malah pecah.” Clarissa menjelaskan. “By the way, ini off the record, kan?”

Aku mengangguk. Apa untungnya memberitakan soal Clarissa dan veneer gigi yang pecah? Sungguh tidak berkelas.

“Baguslah. Aku enggak mau jadi bulan-bulanan orang lain. Kayak siapa, tuh, yang beberapa waktu lalu pede banget live di Instagram dengan veneer gigi pecah?”

Aku mengerutkan kening, pura-pura berpikir.

Clarissa mengibaskan tangannya di depanku. “Enggak penting, sih. Cuma seleb enggak terkenal yang suka nyari sensasi. Tapi, kita bisa reschedule, 'kan? I’ll let you know aku bisa kapan, manajerku akan menghubungi,”

“Bagaimana kalau besok, pukul lima? Sudah harus naik cetak, jadi tidak bisa lama-lama,” jelasku. Aku tidak ingin menggantungkan artikel ini karena tidak bisa mendapatkan foto terbaik Clarissa akibat insiden veneer.

“Oke. Deal besok pukul lima.” Clarissa lagi-lagi memanggil asistennya untuk menambahkan jadwal foto esok hari. “Lucu, ya, karena veneer aja aku harus membatalkan semua jadwalku hari ini. Aku enggak bisa ke mana-mana dengan gigi kayak gini.” Clarissa tersenyum, menampakkan giginya yang gompal, dan membuatku tertawa.

Namun, detik selanjutnya, aku malah tertegun. Aku yakin, ada banyak Clarissa di luar sana. Clarissa-Clarissa lain yang menutupi cela di hidupnya dengan segala macam cara agar tampak sempurna. Flawless.

Mungkin aku pun melakukan hal yang sama.

Aku mengarahkan mobil menyusuri Jalan Sudirman yang lengang. Sekelilingku masih tampak terang berkat lampu-lampu dari gedung-gedung yang memerangkapku. Aku tersenyum. Di balik cahaya terang ini, di balik dinding gedung-gedung ini, atau bahkan di atas jalanan yang digilas oleh ban mobilku, ada berapa tetes keringat, air mata, dan pengorbanan yang dilakukan agar selalu tampak sempurna.

Everyone knows everyone. Karena saling mengenal itulah tidak ada yang ingin tampak kalah. Selalu ingin menang, sampai kadang kita lupa kalau kita hanyalah manusia, bukan Tuhan yang bisa mengatur semua jalan kehidupan.

But for some people, somehow they act as if they’re God.

Tujuannya hanya satu, menjalani kehidupan yang tampak sempurna. Di tengah Jakarta yang tampak glamor dan menjanjikan seperti ini, we’re going extra miles to achieve whatever we want.

It’s normal, isn’t it?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Jakartaholic - BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya