Comscore Tracker

[NOVEL] Marrying The Diplomat-BAB 4

Penulis: Haya Nufus

#4 Kerang Diplomasi

 

Rian.

 

Kedutaan Indonesia yang terletak di Da'iya, Kuwait City, memiliki gedung yang unik. Berbentuk kotak dengan warna gading berpadu warna emas. Pohon-pohon kurma di halamannya mulai berbuah. Masih hijau-hijau. Mungkin akhir tahun nanti, bisa dipanen. Ada bendera merah putih bersanding bendera ASEAN dan bendera Kuwait di atas gedungnya, juga plat besi oval dengan cetakan burung Garuda bewarna emas di samping pintu masuk. Semuanya menjadi penanda kedaulatan Indonesia di tanah asing.

Rakyat Indonesia, apa pun masalahnya di luar sana, begitu ia menginjakkan kaki di sini, ia kebal, terlindungi. Kalau pun ada proses hukum selanjutnya, wewenang KBRI harus dihargai dengan lobi-lobi kenegaraan. Aku menikmati rasa bangga setiap berada di sini. Senang melakukan sesuatu untuk tanah air sesuai kemampuanku, diplomasi.

"Selamat pagi, Pak!" sapa seseorang, saat aku masuk ke ruang konsuler.

"Pagi! Pak Ahmad pagi sekali sudah di sini?" ujarku sambil melihat jam di tangan. Masih pukul delapan lebih lima belas. Masih lima belas menit lagi jam layanan dibuka.

"Iya, Pak. Mumpung belum terlalu panas. Mau urus perpanjangan paspor."

Pak Ahmad, salah seorang WNI senior di Kuwait. Sudah di sini sejak lima belas tahun yang lalu. Pak Ahmad tak datang sendiri.

"Ini putri saya. Tatiana. Baru datang dari Jakarta. Mau menemani mamanya di sini, sebelum mulai cari kerja atau cari suami."

Putri Pak Ahmad tersenyum. Ada rona merah di pipinya mendengar kalimat terakhir sang ayah.

"Pak Rian, main ke rumah ... Istri saya bisa masakin masakan Indonesia yang Pak Rian kangeni," ujar Pak Ahmad sambil menepuk pundakku akrab.

"Terima kasih, Pak tawarannya. Insya Allah kapan-kapan," ujarku cepat. Tak enak kalau pembicaraan bergerak ke hal yang lebih akrab. Pak Ahmad pernah mengutarakan niat mencari suami bagi putrinya. "Pak Rian punya teman yang sedang cari istri?" tanyanya kala itu. "Atau Pak Rian sudah ada niat mau menikah? Putri saya, sudah sangat siap. Dia punya banyak kelebihan untuk dijadikan istri yang baik. Pintar masak, rajin bersih-bersih, juga cantik," sambungnya kala itu, membuat aku mencari alasan untuk menghindar.

Aku melihat sekilas ke ruang konsuler. Ada beberapa WNI lain juga yang sudah datang. Beberapa aku kenal, beberapa hanya tahu wajah tak ingat nama. Ada ribuan WNI di Kuwait sini dengan ragam profesi. Perawat, pekerja hotel, koki di restoran, guru, manajer, hingga insinyur di pertambangan minyak milik Kuwait.

"Saya permisi dulu, Pak. Ada kerjaan," pamitku pada Pak Ahmad sambil senyum dan mengangguk sopan pada putri Pak Ahmad.

"Silakan, Pak," jawab Pak Ahmad.

Aku melewati bagian konsuler dan naik ke atas menuju ruanganku. Masih ada waktu untuk memeriksa agenda kerja. Hari ini ada dua pertemuan dengan pejabat di Kementerian Luar Negeri Kuwait pagi hingga siang hari. Dan satu pertemuan di sore hari dengan perwakilan Diaspora Indonesia di Wisma Indonesia. Aku sudah menyiapkan protokoler untuk setiap pertemuan tersebut, tapi menyempatkan untuk memeriksa ulang semuanya dari awal. Tak boleh ada kesalahan.

Selesai itu, aku akan mengurus izin cuti. Melalui obrolan aku sudah menyampaikan niatku pada atasan. Sudah disetujui. Namun berkas-berkas tertulis harus kuserahkan hari ini.

"Mau nikah? Wah, selamat!" ujar Bapak Duta Besar dengan senyum begitu aku melapor secara langsung sesaat sebelum jam kantor berakhir.

"Terima kasih, Pak."

"Ajak ke mari ya. Bikin resepsi chapter dua di Kuwait."

Aku coba tersenyum, senang dengan ide itu. Namun kalimat Bunda yang muncul, "Kamu yakin bakal diterima? Bunda nggak mau malu loh kalau kamu ditolak". Apa benar penolakan akan memalukan? Kan namanya juga usaha?

"Masih proses lamaran, Pak. Bisa diterima bisa ditolak," ujarku malu-malu.

"Oh, good luck kalau begitu!" ujar Pak Dubes menepuk pundakku, "gunakan semua kemampuan diplomasi yang kamu punya," sambung Pak dubes dengan tawa renyah di akhir. Mungkin itu kalimat canda, tapi aku menganggap serius nasehat itu.

Sore itu juga, dalam perjalanan kembali ke apartemen aku singgah di sebuah agen travel, membeli tiket penerbangan ke Jakarta. Musim panas, harga tiket tengah tinggi. Kuwaiti memilih meninggalkan negara panas ini untuk berlibur ke negara tropis atau negara yang tak terlalau panas. Ini bukan waktu yang tepat untuk pulang, sebenarnya. Tapi ini adalah usaha menjemput jodoh. Wanita serupa Cut Tara tak akan terus menjomblo. Bisa saja sebenarnya ia telah ditaksir banyak lelaki. Terlambat beberapa saat saja, aku bisa patah hati.

Jalanan tampak sepi. Orang-orang menghindari berada di luar terlalu lama. Tak ada pejalan kaki. Hanya mobil-mobil dengan pendingin disetel maksimal. Sampai di apartemen, sebuah ide melintas. Setelah memarkirkan mobil di parking lot, aku melangkah menyeberangi jalan menuju pantai. Sudah hampir pukul enam sore, namun panas masih terasa menyengat.

Ke pantai saat udara seperti in, bukan pilihan tepat. Tapi aku ke sana. Demi apa? Mencari kerang untuk aku bawa pulang. Cut Tara menyukai kerang. Aku ingin menambah koleksinya beberapa. Mungkin, kerang ini bisa menjadi pengikat hubungan kami selanjutnya. Bukan tindakan yang bijak. Baru sepuluh menit, keringat sudah membanjiri kening. Sedang kerang yang bagus dan utuh belum aku dapatkan. Ada beberapa yang putih dengan bentuk lumayan, namun cacat, karena sisi-sisinya pecah.

Aku bergerak lebih jauh. Pasir-pasir halus masuk ke dalam sepatu pantofelku. Aku membuka sepatu dan menggulung celana. Sayangnya, di sepanjang pantai ini malah aku tak menemukan satu kerang pun.

Aku masuk ke air semakin dalam, sekarang celananku telah basah hingga selutut. Aku menggerak-gerakkan kaki di air. Tak sia-sia, aku melihat kerang itu. Tertanam sebagian di pasir dasar air. Aku meraih dan memperhatikan. Ini bagus! 

Ketika menatap langit, matahari berada pada garis laut. Merah berpendar jingga. Sunset. Indah sekali. Aku menyudahi pencarian kerang dan kembali ke gedung apartemenku di seberang jalan.

Di lobi apartemen, seseorang menegurku.

"Rian, where have you been?"

Sumayya, gadis Mesir penghuni apartemen sebelah. Ia melihat pada celanaku yang basah. Aku baru ingat lupa membuka gulungan celana. Apa kakiku yang berbulu-bulu ini membuatnya risih?

"Dari pantai," jawabku sambil menunduk melepas gulungan celana. Untuk lalu menyadari Sumayya terus memperhatikan yang aku lakukan.

"Kamu sibuk? Malam besok aku mengadakan acara perpisahan menyambut libur musim panas dengan murid-muridku di apartemen. Kamu bisa datang?"

"Maaf, besok aku ke Indonesia."

"Oh. Sayang sekali. Andai aku mengadakannya malam ini!" ujarnya dengan raut kecewa yang membuatku merasa tak enak hati.

Pintu lift membuka, kami berdua masuk. Tak ada siapa-siapa lain. Aku tak nyaman berada berdua Sumayya di dalam lift yang sempit. Ia berdiri terlalu dekat. Aroma parfumnya tercium olehku. Wanita Arab memang menyukai parfum beraroma kuat. Aku menggeser pelan menjauhinya, untuk melindungi penciumanku. Namun Sumayya ikut bergerak lebih dekat. Posisiku telah di pojok lift. Terjepit antara dinding lift dan Sumayya yang memiliki postur tubuh tinggi. Lift ini kenapa bergerak terlalu lambat?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Marrying The Diplomat-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya