Comscore Tracker

[NOVEL] Marrying The Diplomat-BAB 5

Penulis: Haya Nufus

#5 Menemui Mami

 

Hanya satu pertemuan.

Kamu ambil hatiku.

Aku tak punya pilihan, selain mengejarmu. (Rian)

 

Cut Tara tak membalas email-ku juga tidak mengangkat telepon dariku. Jadi, aku menghubungi rekannya, Said. Tentu Said, mengenalku, hingga tak pikir panjang mau memberikan alamat Cut Tara. Dan di sinilah aku. Menatap pada halaman rumah yang telah beberapa kali kulihat di video youtube Cut Tara. Melihat langsung, menimbulkan kesan yang berbeda. Tak semua sudut bisa ditampilkan kamera secara utuh. Taman itu ternyata lebih luas dengan tanaman-tanaman yang terlihat lebih banyak dan segar. Rumah ini juga terkesan lebih lapang dan luas. Meski bangunannya bergaya arsitektur lama.

Setelah beberapa menit hanya berdiri, aku beranikan diri menekan bel di samping pintu. Seorang wanita usia akhir lima puluhan keluar. Aku tahu itu ibunya Cut Tara yang ia panggil Mami.

"Wah datang juga, masuk Mas. Saya sudah tunggu dari tadi," ujarnya dengan senyum tipis. Ada kerut di keningnya.

Mami sudah tahu? Cut Tara memberi tahu? Namun rasanya ada yang aneh dari cara Mami menyambutku. Mami masuk ke dalam rumah langsung menuju ruangan terujung, dapur.

"Kompor ini sudah lebih sepuluh tahun saya pakai. Biasanya nggak ada masalah. Sejak seminggu lalu ovennya nggak mau panas. Padahal lampunya nyala, timernya juga masih oke," ujarnya dengan raut wajah berkerut, "padahal saya sedang banyak pesanan kue kering."

"Lalu saya harus apa?" bingung, aku bertanya.

"Ya, perbaiki dong, Mas! Coba periksa apanya yang salah. Atau apanya yang perlu diganti."

"Saya nggak ngerti kompor, Bu," ujarku jujur sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Ini si Mami pasti salah orang. Btw kenapa aku jadi memanggil si ibu dengan mami? Sok akrab banget ya? Tampaknya apa pun yang berhubungan dengan Cut Tara membuatku merasa akrab.

"Lah!" Ia lalu terdiam. Sontak memperhatikanku dari atas ke bawah.

"Eh, Mas siapa?" tanyanya lalu dengan ekspresi yang telah berubah. Menjadi waspada.

"Saya Rian."

"Dari Electra Service, 'kan?" tanyanya tak sempat kujawab karena lalu bel terdengar. Ia gegas ke sana. Aku mengikutinya. Di depan pintu, seorang pemuda dengan peralatan tukang di tangannya berdiri.

"Pagi, Bu, saya Edo dari Electra Service," pemuda itu berkata santun dengan wajahnya yang ramah.

Mami melihat lagi padaku.

"Terus kamu siapa? Mau apa?"

"Saya Rian, dari Kuwait, mau ketemu Cut Tara," aku mengatakan itu cepat. Mami menepuk jidatnya.

"Aduh maaf. Saya panik sampai salah orang. Kamu duduk dulu di ruang tamu ya. Edo kamu sini! Kamu sih datangnya telat. Bikin saya salah orang."

Edo tak mengerti apa yang terjadi, ikut saja ditarik mami ke dapur. Wanita ini kalau nanti jadi mertua, tampaknya akan lucu dan bikin heboh. Rumah kami cenderung tenang dalam pengawasan Bunda. Mami lebih ekspresif. Kupikir perpaduan karakter dari Mami yang heboh dan Bunda yang kalem, akan baik bagi karakter anak-cucu turunan kami nanti. Seimbang. Tak terlalu serius atau terlalu santai. Hush! Aku berpikir kejauhan.

Mami Cut Tara tak terlalu mirip dengan Cut Tara. Bentuk wajahnya sedikit chubby, tak terlalu oval. Aku duduk di sofa sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang tamu. Rapi. Perabotan di sini didominasi material kayu jati. Perabotan lama yang terawat baik. Ada foto-foto berpigura di dinding. Aku ingin memperhatikan wajah-wajah di pigura itu ketika Mami kembali dengan nampan di tangan.

"Aduh, kenapa tadi saya error begitu ya? Padahal Nak ... siapa tadi namanya?"

"Rian."

"Iya, Nak Rian nggak ada tampang tukang. Wajar nggak ngerti tentang kompor," Mami meraih kaca mata yang tergantung di lehernya, memakai benda itu, lalu menatap lagi padaku, membuat aku salah tingkah, "Ganteng, rapi, wangi. Maaf lah tadi saya nggak pakai kaca mata."

"Iya, Bu. Tak apa. Kalau saya bisa, tadi sudah saya perbaiki ovennya," ujarku mencoba bersikap santai.

"Maaf, Nak Rian, ke mari ada perlu pentingkah? Sudah telepon Cut Tara?" ada nada hati-hati dalam suara Mami ketika bertanya.

"Cut Tara tidak cerita?"

"Cerita apa?"

Aku menjadi gugup. Cut Tara bahkan tak menceritakan apa pun pada ibunya. Tapi aku sudah di sini. Tak mungkin mundur lagi.

"Ketika Cut Tara di Kuwait, beberapa minggu yang lalu, saya melamarnya. Cut Tara menyuruh saya menemui keluarga. Saya serius ingin menjadikan Cut Tara istri saya. Meminta restu, Ibu."

Sedetik, wanita tersebut terdiam, detik selanjutnya, ia bangkit terburu, melangkah ke bagian dalam rumahnya, meninggalkan aku sendiri di ruang tamu tanpa satu patah kata pun. Ada ekspresi kaget di wajahnya. Apa itu penolakan?

Aku semakin gugup. Lalu diam-diam mensyukuri telah datang seorang diri. Jika tadi Bunda kuajak. Bunda pasti sudah marah-marah karena merasa malu.

Samar-samar aku mendengar suara wanita itu sedang berbicara. Bukan dengan si Edo. Sepertinya melalui telepon karena suara lawan bicaranya tak terdengar. Mungkin menelepon Cut Tara. Lima menit. Sepuluh menit. Aku menunggu. Rasanya sangat lama ketika akhirnya Mami kembali.

"Cut Tara sudah saya suruh pulang. Bisa-bisanya dia tidak cerita hal sepenting ini."

"Bukan salah Tara. Sebenarnya email saya juga belum dibalas. Tadi saya langsung datang sebelum Cut Tara menyetujui waktu kunjungan ini. Maaf."

"Tetap saja, Nak Rian jadi harus menunggu lama begini. Tak perlu minta maaf. Terima kasih sudah mau datang. Ceritakan tentang Nak Rian. Kapan bertemu Acut? Kenapa bisa suka Acut?"

Aduh, bukannya tak punya jawaban untuk semua pertanyaan itu, tapi lidah mendadak kelu. Aku harus jawab yang mana dulu?

"Saya bertemu Cut Tara di acara Konferensi Asia-Afrika dua tahun lalu ..."

"Wah sudah lama. Bisa-bisanya Acut tidak cerita," ujar Mami, mengulang kalimat yang sama. Dari rautnya Mami seperti geram.

"Cut Tara mungkin lupa. Kami hanya bertemu sebentar," ujarku coba membela Tara.

"Anak itu terkadang cueknya kebangetan. Nak Rian kerja di mana? Wartawan?"

"Bukan, Bu. Saya pegawai Kementerian Luar Negeri,"

"Oh, Nak Rian diplomat?"

"Iya, Bu. Sekarang lagi posting di KBRI Kuwait."

"Sudah berapa tahun?"

"Setahun tiga bulan."

"Selamanya akan di Kuwait?"

"Tidak, Bu. Akan pindah tugas setiap tiga tahun. Tiga tahun di negara perwakilan, tiga tahun selanjutnya di Kementerian di Jakarta untuk lalu posting lagi."

"Oo begitu. Nanti dari Kuwait ke negara mana lagi?"        

"Belum tahu, Bu. Bisa di negara mana saja yang ada perwakilan Indonesia."

"Negara mana saja?"

"Iya, Bu?"

"Bisa ke Amerika, Afrika bahkan ke Antartika?"

"Eh, iya, Bu."

Ini jadi serupa tanya-jawab. Ibunya Cut Tara punya banyak sekali pertanyaan.

"Cut Tara itu anak pertama. Adiknya yang selisih tiga tahun dengannya sudah menikah dan punya anak. Mereka di Bandung sekarang."

"Ya saya nonton vlog-nya, ketika Cut Sarah menikah,"

"Kamu mengikuti vlog Acut? Ya ampun, berarti kamu sudah lihat saya juga? Acut beberapa kali bikin vlog di rumah."

Mami menunjukkan ekspresi senang. Aku mengangguk. Aku baru akan bertanya lebih banyak tentang Cut Tara. Mengambil alih sesi tanya-jawab. Namun, Mami kalau sudah bicara tampaknya susah dikalahkan.

"Cut Tara itu bukan tak ada yang datang meminang. Ia hanya belum menemukan yang cocok. Dia agak pemilih," ujar Mami lagi.

Aku menelan ludah mendengar kalimat itu. Apakah aku akan dirasa cocok oleh Cut Tara.

"Nak Rian, asalnya dari mana?"

"Saya lahir di Jakarta, Bu. Bunda asli Solo, ayah orang Manado," jawabku.

"Wah, beragam sekali ya. Bhineka Tunggal Ika."

Menjawab runtutan pertanyaan Mami membuatku sesak. Nervous. Azan terdengar. Sebuah kesempatan untuk menghindar pertanyaan lain dan mengambil udara segar sejenak.

"Azan," ujarku seakan Mami tak mendengar, "Saya ke masjid dulu. Salat Zuhur," sambungku pamit.

"Oya, silakan. Keluar lorong ini belok kanan. Mesjidnya tak jauh. Ada pos security di depannya."

"Oh, iya Bu. Saya bisa cari."

Dengan berjalan kaki, aku menemukan masjid yang dimaksud Mami. Tak banyak jamaah. Hanya berempat kami sholat. Usai shalat aku duduk sebentar menenangkan hati dan berdoa.

"Ya Allah, kalau Cut Tara jodohku, mudahkanlah!"

Oh, tunggu! Mungkin aku perlu mengubah doa menjadi sesuatu yang terdengar lebih serius,

"Ya Allah jadikanlah Cut Tara ini jodohku! Aku sudah dua puluh sembilan ya Allah. Sudah pantas menjadi suami orang. Aamiin."

Bolehkan berdoa serupa itu? Setelah doa itu aku panjatkan, aku merasa lebih tenang dan siap menghadapi Mami dan Cut Tara. Aku lebih cepat lima menit. Aku sudah kembali duduk di sofa ketika Cut Tara pulang.

"Mami! Assalamualaikum!"

Cut Tara datang dengan penampilan yang tak jauh berbeda ketika kami bertemu pertama kali. Celana warna hitam, kemeja polos warna biru tua dan jilbab hitam. Satu-satunya asesoris yang menunjukkan sifat feminim adalah kalung dengan bandul hijau di lehernya. Bukan kalung emas, namun serupa tali yang dipilin bewarna merah. Bahkan jam tangannya pun ukuran besar serupa jam lelaki. Jika dia jadi istriku aku akan meminta jam itu untukku dan membelikannya jam yang lebih mungil dengan taburan swarovski.

Cut Tara datang dengan ekspresi wajah tanpa senyum. Tampaknya kadatanganku membuatnya terganggu.

"Pak Rian, tahu dari mana alamat rumah ini?" tanyanya langsung begitu melihatku. Ia bahkan tak menerima uluran tanganku.

"Ya ampun Acut, nggak ada basa-basinya!" Mami lebih dulu menjawab.

"Saya ke mari karena kamu minta," aku mengingatkannya. Apa dia benar-benar lupa telah mengatakan itu atau dia memang tak sunguh-sungguh ketika itu? Cut Tara tampak akan menjawab tapi lalu ia seperti kehilangan kata-kata. Mulut membuka namun segera ia tutup.

"Mami sudah bicara banyak sama Rian. Kamu bisa-bisanya nggak cerita ke Mami kalau sudah kenal selama dua tahun lebih."

Wajah itu menunjukkan raut bingung. Namun masih diam.

"Acara Konferensi Asia Afrika. Saya di meja pendaftara tamu pers di JCC," ujarku mencoba membuatnya ingat, "kamu mungkin tidak ingat. Tapi sejak saat itu saya tak bisa melupakanmu," sambungku lagi. Mungkin terdengar menyedihkan tapi memang begitu kenyataannya.

"Mami ke dapur dulu deh. Ngecek kerjaan si Edo. Kalian bicara yang banyak. Nak Rian makan siang di sini ya," ujar Mami lalu bangkit. Aku tak sempat menjawab "jangan repot-repot". Mami sudah bergerak menuju dapur.

"Asia Afrika? Tapi aku tidak ..."

"Kamu ke sana kan?"

"Iya, tapi aku tidak ingat kita bertemu."

"Di meja pendaftaran."

"Oh!"

Aku kecewa karena jelas susah sekali bagi Cut Tara untuk menarik ingatan tentang aku di sana. Aku bukan siapa-siapa yang menarik perhatiannya hingga tak perlu ia ingat.

"Itu sudah lama sekali. Maaf," ujarnya. Ia mungkin bisa melihat raut kecewaku.

"Tak apa."

"Sejujurnya aku tak menyangka kamu akan benar-benar pulang ke Jakarta untuk ketemu Mami. Kamu tidak memberi kabar."

"Aku sudah kirim email."

Cut Tara meraih hp-nya, memainkan jarinya pada layar benda kecil itu.    

"Tak ada email masuk dari kamu," ujarnya beberapa saat kemudian

"Aku memeriksa hp-ku untuk menemukan email itu tertanda tak terkirim. Ini alamat email kamu kan?" tanyaku. Dia mendekatkan wajah, melihat pada layar hp milikku yang kusodorkan.

"Dengan dua huruf t," ujarnya membuatku menyadari kesalahaan.

"Oh, maaf saya salah ketik, hanya satu huruf t," malu juga karena tidak teliti begini.

Lalu siang itu, aku makan makanan terenak di dunia. Gule dengan aroma rempah yang sangat wangi. Berempat kami di meja makan. Edo juga diajak makan. Ia tadi ingin pamit pulang karena kerjaannya sudah selesai. Namun ajakan makan siang dengan lauk beraroma menggoda, susah untuk dilewatkan.

"Ini masakan khas Aceh. Mami belajar dari neneknya Acut. Dulu Ampon, ayahnya Acut senang sekali kuah ini. Menu ini sampai sekarang masih suka Mami masak untuk acara-acara penting," ujar Mami.

Hatiku mekar mendengar kalimat Mami. Kedatanganku dianggap acara penting. Namun Cut Tara tampak biasa saja.

"Ini enak sekali. Makasih, Bu," ujarku sungguh-sungguh.

"Ah panggil Mami saja."

"Ini enak sekali Mami," ujar Edo ikut-ikutan tanpa menghentikan kunyahannya. Mami tersadar dan melihat Edo dengan tatapan galak.

"Kamu ngapain ikutan manggil Mami? Kamu kan bukan calon menantu," ujar Mami membuat Edo nyegir lebar tapi terus mengunyah.

Sikap ramah ibunya Cut Tara seakan sinyal penerimaan yang menjanjikan.

"Ibunya Rian ajak ke mari," ujar Mami.

"Insya Allah, Bu. Eh Mami."

Selesai acara makan siang, aku tahu aku harus pamit. Namun bagaimana cara menanyakannya. Aku ke mari bukan hanya untuk makan siang.

"Jadi, bagaimana Mami?" tanyaku memberanikan diri, "saya serius melamar Cut Tara."

"Nak Rian, Mami mengerti, tujuan kedatangan Nak Rian. Namun bagaimana pun pernikahan itu hal serius yang tak boleh dilakukan tanpa pikir panjang. Mami dan Cut Tara juga adiknya di Bandung perlu berdiskusi dulu. Beri waktu ya."

"Saya di Jakarta hanya dua minggu."

"Lah, kan bukan mau menikah dalam dua minggu ini kan?"

"Memangnya tidak bisa?"

"Nak Rian, kenapa tergesa-gesa? Menikah itu butuh persiapan jiwa dan raga."

Wajah itu tak menyembunyikan raut kagetnya. Harusnya aku tak mengatakan kalimat terakhir. Pasti aku terlihat desperated banget sekarang.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Marrying The Diplomat-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya