Comscore Tracker

[NOVEL] Aksioma - BAB 2

Penulis: Citra Novy

AKAS


Gue duduk di samping Pandu yang sedang mengoceh menghadap ke kursi belakang, ada Davin dan Garda di sana yang sedang menyimak ocehan panjangnya dengan wajah yang dibuat antusias.

"Parah! Parah! Keren yang punya itu akun," ujar Garda. Kemudian dia menepuk pundak gue, membuat gue menoleh ke belakang. "Lo udah nemu orang di balik akun ig @shooterx belum, sih? Pak Gumilar waktu itu minta lo buat bantu cari, kan? Udah ketemu?" Dia kelihatan antusias.

Gue hanya menggeleng.

"Kemarin, dia nge-post foto Rendy yang lagi fogging di belakang kantin sekolah," ujar Garda lagi. "Mampus, nggak?"

"Tadi pagi Rendy digeret sama Pak Radi ke Ruang BK," ujar Davin. "Pasti mau dibasuh mukanya dengan ceramah panjang."

Gue tersenyum singkat, dibasuh muka adalah kata untuk mengganti kalimat dimarahi. Karena katanya-gue belum pernah dimarahi soalnya, kalau Pak Radi marah, mulutnya suka sampai muncrat-muncrat dan bikin muka basah kayak habis cuci muka. Oke, itu hiperbol sih, memang.

"Tapi, ya. Berita paling mengejutkan itu nggak ada lagi selain Shafay lulus jadi mayoret." Pandu kelihatan nggak terlalu antusias sekarang.

"Random banget sih, lo ah!" Davin menoyor kening Pandu.

"Eh, lo semua tahu kan kalau Shafay itu adalah pajangan terbaik yang berada di jajaran etalase depan kelas kita? Kalau dia jadi mayoret, pasti semua cowok tahu kalau di dalam kelas kita ada berlian yang baru aja selesai digosok." Pandu semakin menggebu-gebu dan selanjutnya dia melakukan gerakan tos dengan Garda.

"Tul itu!" Garda menyetujui. "Apakah kita sekarang harus mulai melindungi spesies yang akan punah di kelas kita ini?"

Gue mengerutkan kening, tanda nggak mengerti dengan pembahasan mereka.

"Kas, cewek cantik yang jomblo di kelas kita udah mulai langka. Sebentar lagi, kalau Shafay taken, berarti udah hampir punah," jelas Garda.

"Sementara?" tanya gue, walau sebenarnya nggak peduli.

"Sementara, gadis cantik itu harus menjadi milik semua orang." Pandu dengan bersemangat mengajak Garda untuk kembali tos. Kemudian dia mendorong pundak gue.

"Bener, nggak?"

"Serah," jawab gue seraya membuang napas.

"Yelah, Kas. Lemes amat jawabnya. Perlu gue nyanyiin Mars Perindo dulu apa biar lo semangat?"

Pandu mendorong pundak gue.

"Marilah seluruh rakyat Indonesia, arahkan pandanganmu ke depan!"

Gue melirik Pandu dengan sinis. "Berhenti, nggak?"

Pandu menyengir, lalu telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran. "Oke, Akas Sayang."

Gue mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas, lalu memberikannya pada Pandu.

"Buat gue, nih?" tanya Pandu.

"BUAT KITA!" sahut Garda dan Davin seraya merebut kotak bekal itu dari tangan Pandu.

"WOY!" Pandu sewot, tapi kemudian mereka berbagi isi kotak bekal dengan kondisi yang tenang.

Kotak bekal itu berisi roti isi buatan Mama. Karena melihat gue nggak sarapan pagi ini, Mama memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas. Padahal, gue memang sedang nggak berniat sarapan, bukan nggak sempat.

Gue nggak tahu ada berapa potong roti yang Mama bekali, tapi ketenangan ketiga teman gue hanya berlangsung sebentar. Gue rasa Mama kurang banyak ngasih bekal buat menyumpal ketiga mulut teman gue yang kalau ngoceh sudah mirip SPG pembalut herbal itu.

Kedatangan Reysa membuat ketiganya kembali ricuh, mungkin Davin nggak begitu, karena dia sadar sudah punya Dania. Alasan ketiga teman gue itu begitu nggak waras tiap kali melihat Reysa, karena cewek itu selalu ramah dan manis pada setiap cowok.

"Hai, Rey." Pandu selalu menjadi komentator pertama untuk mengomentari penampilan Reysa. "Makin, makin aja, nih."

"Hai!" Dari suaranya, Reysa memang selalu ramah pada siapa pun. "Hai, Kas!" Cewek itu berdiri di samping meja gue sebelum melangkah ke belakang, ke mejanya. "Lo harus berusaha buat nangkep si akun Halal Ketawa itu deh kayaknya. Gue takut aja gitu lo jadi sasaran selanjutnya."

Dia membungkuk. "Walaupun sebenernya nggak ngaruh juga, sih, buat gue, lo punya aib atau nggak." Dia mengusap pundak gue, lalu melangkah ke belakang kelas, meninggalkan aroma minyak wangi yang membuat kepala gue sedikit pusing.

"Minyak wanginya, endes, ya. Sosor aja apa, nih?" Pandu masih nggak sadarkan diri kayaknya.

Garda menginterupsi dengan menampar-nampar pelan pipi Pandu. "Bentaaar! Gimana? Gimana? Sosor? Waaah! Dah berasa ganteng banget lu, ya, ya, ya!"

Pandu menepis tangan Garda dengan santai. "Mata batin gue bicara bahwa dia tadi sedang berusaha menggoda gue." Pandu masih teguh dengan keyakinannya, bahwa selama ini, setiap kali Reysa mendekati gue, tujuannya adalah untuk menggodanya.

"Mata batin lo kelilipan kali!" Garda sewot.[]

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Aksioma - BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya