Comscore Tracker

[NOVEL] Baby Without Daddy: Bab 2

Penulis: Pradnya Paramitha 

[Saat ini]

“Tolong hamili saya.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Mentari yang dihiasi lipstik tipis merah muda. Lugas, santai, tanpa beban, seolah sedang minta tolong untuk dibukakan pintu agar bisa lewat. Namun, respons orang yang dia ajak bicara jelas tak sesantai dirinya.

Pria di hadapannya terdiam sejenak, seolah sedang meragukan kemampuan otaknya sendiri untuk mencerna informasi. Detik berikutnya, pria itu tertawa lebar. Nyaris terpingkal-pingkal.

“Astaga, Mentari. Kamu pasti sedang stres berat, ya? Hei dengar, kalau kamu butuh ....”

“Saya nggak bercanda,” potong Mentari sebelum pembicaraan melebar ke mana-mana. “Saya mau punya anak dari kamu.”

Mata pria di hadapannya melebar. “Maksud kamu ….”

“Saya ingin punya anak. Dan saya ingin punya anak dari kamu. Jadi, hamili saya. Which one you don’t understand?”

Pria itu namanya Sabda. Mentari menyimak perubahan ekspresi sosok di hadapannya yang sangat kentara. Berawal dari rona pucat seolah seluruh darah Sabda tersedot entah ke mana, digantikan dengan rona merah, seolah darah yang tadi diambil, ditumpahkan begitu saja di wajahnya. Berikutnya, Mentari sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Sabda.

“Kamu ini gila, ya?! Apa maksudnya kamu minta saya menghamili kamu?!”

“Saya ingin punya anak dari kamu. Sudah saya jawab kan tadi?”

“Kamu anggap saya ini apa?!”

“Kamu teman saya kan, Sabda?”

“Nah!” Pria itu menjentikkan jari. “Itu! Harusnya kamu ajukan permintaan itu kepada suamimu kelak. Atau minimal pada pacarmu! Kenapa ke saya ....”

“Saya minta bantuanmu,” jawab Mentari masih dengan nada datar, “sebagai teman.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Bantuan gila macam apa yang kamu minta itu, Mentari?! Nggak! Nggak! Dari dulu kamu memang gila!”

Pria di hadapannya terlihat begitu emosional. Mentari diam-diam mengagumi kemampuannya membuat gusar bahkan orang yang selalu kalem seperti Sabda. Untung kafe yang mereka datangi sedang sepi pengunjung. Hanya ada mereka berdua dan sepasang muda-mudi di pojokan. Tapi tetap saja, suara Sabda yang meninggi membuat pelayan kafe berkali-kali melirik ke arah meja mereka penuh rasa ingin tahu.

Dia sudah menduga akan mendapat jawaban ini. Sejak memutuskan untuk melontarkan permintaan itu, Mentari tahu dia tidak akan semudah itu mendapatkan keinginannya. Tapi toh, dia harus tetap mencoba. Hanya pengecut yang menyerah bahkan sebelum mencoba.

Mentari mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Sebenarnya dia sudah tidak merokok sejak setengah tahun terakhir. Namun kali ini, dia merasa butuh peredam. Bersama satu isapan pertama, Mentari merasa lebih santai.

“Saya ingin punya anak, Sabda.”

Pria di hadapannya menghela napas panjang, seolah berusaha menenangkan emosinya sendiri. “Punya anak itu ada caranya, Mentari. Kamu nikah dulu, hamil, kemudian baru punya anak.”

“Saya nggak mau nikah,” jawab Mentari cepat. “Kamu kan sudah tahu soal itu.”

Pria di hadapannya terlihat hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian batal di ujung lidah. Sebagai gantinya dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ekspresinya campuran antara gusar, tak habis pikir, sekaligus putus asa.

“Karena itu saya minta bantuan kamu, Sabda.”

Pria itu mengusap wajahnya berkali-kali. Ekspresi frustrasi jelas menghiasi wajahnya. Bisa diduga, saat datang ke tempat ini memenuhi undangannya, pria itu tidak pernah berpikir akan menghadapi permintaan seperti ini.

“Kenapa tiba-tiba ada pikiran punya anak, sih?”

Mentari menatap pria selama beberapa detik. Otaknya berputar dengan cepat membuat sebuah pertimbangan. Perlukah dia mengungkapkan ketakutan terbesarnya?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Baby Without Daddy: Bab 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya