Comscore Tracker

[NOVEL] Baby Without Daddy: Bab 4

Penulis: Pradnya Paramitha  

[Saat ini]

Sabda tidak segera keluar setelah berhasil memarkir mobilnya di garasi. Pria itu berdiam di balik kemudi, dengan tatapan melamun ke arah pot besar bunga adenium di teras rumahnya. Pikirannya masih tertinggal di Sunday Morning, tempat pertemuannya dengan Mentari hari ini, yang berhasil mengacaukan pikirannya.

“Bantu saya untuk punya anak, Sabda.”

Pembicaraan itu tidak menemukan titik terang. Dia sudah mati-matian menolak, tapi Mentari memberikan ekspresi yang menyuruhnya untuk mempertimbangkan lagi. Ekspresi itu–Sabda memaki dalam hati–dengan ekspresi itu biasanya Mentari mendapatkan apa pun yang dia mau.

Tanpa sadar, Sabda menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak tahu setan mana yang merasuki perempuan itu sampai mengajukan permintaan yang tidak masuk akal. Dari dulu dia tahu Mentari itu tidak beres. Mungkin ada saraf yang belum tersambung di otaknya. Namun, baru kali ini Mentari benar-benar bersikap begitu ganjil dan di luar nalar manusia.

Sabda mengenal perempuan itu sudah cukup lama. Dua belas tahun lalu, Mentari adalah juniornya saat menempuh studi ilmu hukum di Universitas Indonesia. Selain itu, ia sempat bertetangga dengan keluarga Mentari saat dirinya indekos di daerah Kelapa Dua.

Kalaupun tidak bertemu di masa itu, Sabda juga akan tetap mengenalnya. Memangnya siapa yang tidak kenal perempuan dengan reputasi seperti Mentari? Saat ini, kantor mereka sama-sama menempati Wisma Santosa, gedung perkantoran milik keluarga Santosa. Mentari dan seluruh anak perusahaan Gets Company menempati tower A, sementara kantornya berbagi tempat dengan kantor-kantor lain di tower B. Ada lobi dan kantin bersama di lantai satu. Semua pria di gedungnya pasti mengenal Mentari Amalia Jusuf. Sebagian dari mereka hanya bisa memandang dari jauh, memberikan decak kekaguman setiap Mentari melintas. Sebagian yang lain yang lebih beruntung–atau justru lebih malang–berhasil berkencan satu atau dua kali dengannya sebelum dicampakkan dengan sangat elegan sekaligus kejam.

Dibanding mereka semua, mungkin Sabda yang paling mengenal Mentari. Bukan berarti mereka dekat. Sama sekali tidak. Seingat Sabda, mereka hanya beberapa kali nongkrong bersama. Itu pun karena alasan kebetulan. Bila bertemu, mereka hanya saling menyapa secara kasual atau sesekali saling berbalas twit di media sosial. Dirinya dan Mentari bukan sahabat, hanya dua orang yang kebetulan sedikit lebih tahu tentang masa lalu masing-masing dibandingkan orang lain.

“Saya bosan,” kata Mentari ketika Sabda menanyakan alasan di balik permintaan absurdnya itu. “Saya bosan dengan rutinitas mengurus buku dan naskah-naskah. Saya ingin coba ngurus yang lain. Anak misalnya.”

Gila. Benar-benar gila!

Entah sudah berapa kali Sabda mengatakan kata gila hari itu. Sabda tahu, pekerjaannya sebagai pengacara sudah mengajarinya bahwa selalu ada motif di balik setiap tindakan manusia. Namun, siapa yang bisa menerima alasan ingin punya anak hanya karena bosan dengan rutinitas dan ingin mengurus sesuatu yang lain?

“Kamu bisa adopsi. Nanti saya bantu uruskan surat-surat adopsinya.” Sabda masih berusaha bersabar dan memberikan solusi lain yang lebih masuk akal.

Mentari menggeleng. “Tante saya dulu juga angkat anak. Setelah dewasa dan sukses, anaknya nggak pernah balik lagi ke rumah Tante saya.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Tapi Mentari ….” Sabda berusaha keras menyabarkan dirinya, “keinginanmu untuk punya anak di luar nikah itu tetap nggak masuk akal buat saya. Kamu nggak takut dihujat sana-sini? Dicap buruk sama orang dan dianggap suka berzina?”

“Mereka nggak ngasih saya makan, kenapa saya harus peduli omongan mereka?” jawab Mentari santai. “Lagi pula, saya nggak punya siapa-siapa lagi, Sabda. Nggak ada orang yang harus saya jaga perasaan dan nama baiknya.”

Ah, begitulah Mentari. Dari sedikit yang dipahami Sabda, perempuan itu memang punya aturan hidupnya sendiri. Seolah-olah dia punya seperangkat norma sendiri yang tidak memerlukan afirmasi dari orang lain. Seolah-olah dia hidup di dunianya sendiri.

“Kamu tahu pernikahan bukan hal yang bisa saya terima. Tapi saya nggak bisa punya anak sendiri, Sabda. Saya butuh ... pria.”

“Tapi kenapa harus saya?!” tanya Sabda masih tak habis pikir. “Pacar kamu banyak, kenapa harus saya?”

Mentari tersenyum tipis. “Karena saya nggak percaya mereka dan saya percaya kamu.”

Alasan bodoh dan naif. Sabda masih saja tidak mengerti kenapa Mentari memilihnya. Di antara semua orang, kenapa harus dia? Padahal, Mentari tahu betul siapa dirinya, bagaimana kehidupannya yang serbasuram dan kelam, serta ....

Lamunan Sabda terputus ketika mendengar ketukan di jendela mobilnya. Senyumnya refleks mengembang saat melihat sosok yang menatapnya dengan kening berkerut dari luar mobil. Mungkin, ia heran melihatnya tak kunjung turun dari mobil dan masuk ke rumah.

Nah. Bagaimana Mentari bisa meminta sedemikian ngototnya padahal perempuan itu tahu dirinya sudah punya pacar, dan bagaimana dia cinta mati pada kekasihnya ini?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Baby Without Daddy: Bab 5

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya