Comscore Tracker

[NOVEL] Baby Without Daddy: Bab 5

Penulis: Pradnya Paramitha 

Rumah itu terasa begitu kosong. Sunyi yang mencekam, menunjukkan tak ada lagi kehidupan di sana. Padahal, sehari-hari ada seorang perempuan yang tinggal sendirian di sini. Perempuan yang hidup sendiri tanpa anak dan suami, menghabiskan waktu bersama tumpukan buku-buku di ruang kerjanya dan musik klasik yang meramaikan rumah sepinya.

Masuk lebih jauh, suasananya semakin mencurigakan. Di dapur, ada cangkir-cangkir bekas kopi yang belum dicuci. Lalu ada kotak piza yang tersisa setengah dan sudah basi dikerubungi lalat. Bak cuci piring penuh dengan piring-piring kotor yang menguarkan bau bacin. Dapur yang tak sedap dipandang mata itu menunjukkan bahwa memang ada yang tinggal di sini sebelumnya.

Kaki-kaki itu berderap menuju kamar tidur utama, pemiliknya meneriakkan nama perempuan yang seharusnya tinggal di rumah itu. Namun, tak ada jawaban. Pintu kamar diketuk, dan tetap tidak ada jawaban. Sekali putar kenop, pintu jati itu terbuka. Aroma aneh langsung menyergap hidung, diiringi pekik panik orang-orang saat menemukan isi kamar. Terjawab sudah kenapa kondisi rumah ini begitu menyedihkan.

Tubuh itu terbujur kaku. Kulitnya sudah membiru dan beberapa bagian menghitam. Aroma anyir dan bau busuk sudah tercium samar-samar, menandakan kematiannya yang sudah cukup lama. Tubuhnya melintang dengan sangat aneh. Seprai berserakan di sekelilingnya. Sebelah kakinya terjulur ke kolong ranjang. Dari posisinya, bisa dibayangkan bila perempuan ini terjatuh dari kasurnya sambil menahan sakit, dan meregang nyawa di tempat yang sama. Entah dua atau tiga hari lalu.

Perempuan itu sudah mati! Begitu kata orang-orang yang datang. Mati dan tidak ketahuan. Tubuhnya membusuk sendirian di dalam kamar. Akhir hidup yang sangat menyedihkan, kata orang-orang lagi.

Di antara orang-orang yang panik, perempuan itu berdiri di sana. Dia datang bersama mereka. Kini dia mematung menatap tubuh yang sudah menjadi mayat itu. Matanya terbuka, menyiratkan hidup yang begitu dingin dan kesepian. Keringat dingin mulai mengucur di dahi si perempuan. Tenggorokannya sakit dan napasnya terasa begitu sulit.

Betapa aneh, dia bisa melihat jasadnya sendiri. Mati dalam kondisi yang begitu menyedihkan. Mati dalam kesepian.

***

Mentari tergeragap bangun. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Bulu kuduknya meremang tak terkendali. Mimpi itu lagi-lagi mengusik tidurnya. Mentari mengusap wajahnya gugup. Setelah kesadarannya utuh, Mentari menatap sekelilingnya, berusaha mengenali situasi. Sejenak, suasana senyap di ruangan itu membuat jantungnya mencelus gelisah. Sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong. Robby yang semalam bersamanya sudah tak terlihat.

“Rob?” panggil Mentari.

Tak ada jawaban. Kegelisahannya semakin menjadi-jadi. Namun, tak lama kemudian terdengar suara keran dibuka dan air bergemercik dari kamar mandi. Rasa lega seketika memenuhi dadanya. Robby sedang mandi, pikir Mentari.

Mentari mengambil ikat rambut dan mencepol rambutnya tinggi-tinggi. Lalu diambilnya kaus besar miliknya yang tergeletak di lantai. Kaus itu sobek sedikit di bagian leher. Semalam Robby terlalu buru-buru sampai membuat pakaiannya koyak. Diliriknya jam dinding di atas televisi. Baru pukul 6 pagi. Masih ada banyak waktu sebelum dia harus ke kantor. Beruntung dia tidak harus mengikuti sistem kerja 9-5 setiap harinya. Sebagai chief editor, Mentari boleh datang kapan pun dia berkebutuhan. Meski itu termasuk harus menginap di kantor, jika memang diperlukan.

Lagi pula, kenapa harus takut terlambat, jika bosnya, yang dihormati dan ditakuti semua orang, juga masih di sini? Di dalam kamar mandinya, setelah melewati malam yang liar bersamanya.

Mentari bergegas keluar kamar. Seperti yang selalu terjadi setiap dia bangun tidur, otomatis langkahnya langsung menuju dapur apartemennya yang mungil dan berkutat dengan drip coffee maker. Mentari paling suka dengan jendela lebar di dapurnya. Dia sering menghabiskan waktu menunggu air mendidih dengan melihat jalanan yang padat merayap jauh di bawah sana.

Good morning...,” sapa sebuah suara berat. Bersamaan dengan tangan kekar yang memeluknya dari belakang, dan kecupan yang mendarat di pipinya. Air yang menetes-netes dari rambut Robby membuatnya ikut basah.

“Buru-buru?” tanya Mentari, sambil mematikan kompor saat airnya sudah mendidih. “Awas,” katanya, menyuruh Robby menyingkir, karena dia hendak menuang kopi dari teko ke dalam cangkir.

“Ada rapat pukul 9. Aku belum siap-siap.”

“Rapat melulu. Perusahaan mau bangkrut, ya?” tanya Mentari sambil lalu.

Namun, karena Robby tidak menjawab sampai satu menit berlalu, Mentari mengalihkan perhatian dari kopinya. Dilihatnya Robby berdiri menyandar di meja pantri, sedang menatap lurus padanya. Namun, jelas pikiran Robby sedang tidak di sana.

Mentari memang mendengar selentingan kabar tentang krisis di perusahaan. GetBooks, Penerbitan tempatnya bekerja, adalah sebuah anak perusahaan dari Gets Company, grup raksasa yang bergerak di berbagai bidang. Korporasi itu dimiliki oleh seorang mantan pejabat di era Orde Baru, yang kini sudah sangat tua dan hanya menyaksikan segalanya dari kursi roda. Fokus utama dari perusahaan itu memang bergerak di bidang media baik cetak ataupun online. Meski fokusnya di bidang media, grup itu juga mempunyai jaringan pariwisata. Rumah sakit megah yang baru berdiri 5 tahun belakangan juga menjadi bukti bahwa grup itu bukan sembarang grup.

Mentari membawa dua cangkir kopi hitam yang menebarkan aroma sedap. Satu cangkir dia sodorkan ke depan hidung Robby.

May your coffee kicks in before reality does,” kata Mentari dengan senyum lebar.

Robby menerima kopinya dan ikut tersenyum lebar. “Nggak sih. Semuanya jadi oke kalau lihat senyum kamu.”

Mentari bergumam jijik pada rayuan sampah Robby, yang justru membuat pria itu tertawa.

“Aku serius. Kamu jangan sering senyum. Jadi Mentari yang jarang senyum kayak biasa aja.”

Why? Senyum itu ibadah.”

“Senyummu bisa bikin perang dunia, karena semua jadi berhasrat memilikinya.”

“Ha-ha.” Mentari menyuarakan tawa palsu. “Cepat habiskan kopimu dan pergi dari sini.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Berani-beraninya kamu ngusir bosmu?!”

Mentari mengedikkan bahu. “Ini rumahku. Di sini, aku yang bos, kamu cuma tamu yang nggak diundang tapi selalu datang.”

Lagi-lagi Robby tertawa. Setelah menghabiskan kopinya, pria itu segera memakai kemejanya semalam. Dasinya hanya dia kalungkan di leher, dan jasnya dia sampirkan ke lengan. Mentari menatap pria itu dari balik cangkir kopinya. Benaknya sedang memikirkan berbagai pertimbangan.

“Aku pergi ya,” kata Robby, sambil menyisiri rambutnya yang masih basah dengan jari.

“Hmm.” Mentari menjawabnya dengan gumaman. “Rob,” panggilnya sebelum pria itu keluar.

“Yes?” Robby berhenti, dan menoleh padanya.

Mentari tidak segera menjawab. Sebelum pilihannya jatuh kepada Sabda, Robby adalah orang pertama yang terlintas di kepalanya saat terpikirkan untuk punya anak. Dia mengenal Robby dengan baik. Lagi pula, Robby juga punya bibit, bebet, dan bobot yang dia cari. Namun, pada satu alasan terakhir yaitu tentang perasaan Robby kepadanya, Mentari menganulir semua pertimbangannya.

“Nggak jadi,” jawab Mentari akhirnya.

Robby mengerutkan dahi. Lalu alih-alih melanjutkan langkahnya, Robby malah kembali lagi ke pantri, menaruh jasnya di meja dan mendekatinya.

“Kenapa?” tanya Robby, menangkup kedua pipinya dengan lembut. “Kapan kamu mau jadi pacarku?”

Mentari tersenyum sarkastis. ”Never.”

“Oke.” Robby mengangkat alis. “kalau begitu, kapan kamu mau jadi istriku? Ayo bilang, kapan mau dilamar? Aku siap selama kamu siap.”

“Nggak lucu, Robby.” Tapi dia tetap tertawa.

“Ya memang nggak lucu. Aku kan serius.”

Sungguh ironis. Robby mengatakan ini saat Mentari tahu Robby mungkin mengatakan hal yang sama kepada perempuan-perempuan lain di luar sana. Robby tahu, Mentari juga tidak hanya jalan dengannya. Hubungan mereka lebih seperti sahabat, yang berbagi kebutuhan biologis semata.

“Kamu bukannya habis melamar pacarmu?” tanya Mentari dengan sebelah alis terangkat. “You asshole!” tambahnya sambil tertawa lebar.

Robby tersenyum masam. Lalu melepas tangannya dari pipi Mentari. “Cewek lain minta aku nikahi sampai mengancam bunuh diri. Aku ngelamar kamu, malah dikatain asshole. Berengsek kamu.”

“Kita berdua sama-sama orang berengsek, Robby. Tapi mungkin aku lebih berengsek daripada kamu.”

Robby tertawa lebar. Lalu pria itu mencium bibirnya, membuat Mentari merasakan sisa-sisa kopi di bibirnya.

“Tapi aku serius, Tari,” kata Robby setelah melepaskan bibirnya. “Kamu tahu aku bisa meninggalkan Jenny dan mereka semua.” Pria itu tersenyum manis, “kalau kamu menghendakinya.”

“Rob ….” Mentari mendelik.

Okay, I got it.” Robby mengangkat tangan. Menyerah. Dia paham betul apa yang akan dikatakan Mentari. “See you at the office.”

Sampai Robby menghilang di balik pintu apartemennya, Mentari masih berdiri menyandar di pantri. Lalu napas beratnya terdengar. Mentari membalikkan badan, menatap jalanan macet di bawah sana.

Robby jelas bukan orang yang tepat, simpulnya. Mentari sudah memutuskan. Dia tidak akan mengubah targetnya. Sekarang tinggal bagaimana membujuk Sabda si pria dingin itu.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Baby Without Daddy: Bab 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya