Comscore Tracker

[NOVEL] Entwine-BAB 2

Penulis: Pretty Angelia Wuisan

Bab 2: Bersama Kiara

 

Kamu di rumah sakit mana?

Pesan dari Papa muncul beberapa menit kemudian. Dega pun mengirimkan alamat rumah sakit tempat Eomma dirawat.

Sekarang sudah terlalu malam. Kira-kira besok pagi pukul 10, Papa akan tiba di rumah sakit.

Dega membaca pesan dari Papa, dan berusaha memakluminya. Namun, ia belum sepenuhnya tenang. Koridor rumah sakit yang sunyi membuat bulu kuduknya merinding. Sepi. Ia baru tahu ternyata sendirian itu mengerikan.

Dega bimbang antara kembali ke rumah atau menunggu di sini. Tadi ia tidak sempat membawa bajunya dan Eomma karena saking paniknya. Lagi pula di rumah pun tidak ada siapa-siapa. Ia memutuskan untuk menginap di rumah sakit; memantau keadaan ibunya sampai siuman.

***

Dega terbangun dengan badan pegal-pegal karena tidur di kursi ruang tunggu. Perasaannya masih tak keruan, tapi ia tahu tidak boleh berdiam diri terus. Mumpung masih pagi, ia kembali ke rumah untuk mandi dan membawa beberapa potong pakaian ibunya. Ia juga sudah mengirimkan pesan pada gurunya untuk izin absen hari ini. Ia hanya membawa beberapa baju karena tidak tahu berapa baju yang diperlukan ibunya. Ia pernah melihat di film-film ketika orang sedang sakit, biasanya keluarganya akan membawakan baju ke rumah sakit. Berbekal pengalaman menonton itu ia pun melakukannya.

Lalu, ia mendapatkan pesan dari Papa. Pesan yang membuatnya menyesal telah memberitahukan tentang jatuh sakitnya Eomma.

Dega, maaf. Papa nggak bisa menjenguk pagi ini karena ada meeting penting. Sepulang dari kantor, Papa akan ke sana. Sekarang aja Papa udah di kantor.

Dega mendiamkan pesan itu karena Papa tidak bisa diharapkan. Mood-nya semakin berantakan. Sebelum menuju ke rumah sakit, ia memutuskan untuk berkunjung ke tempat lain terlebih dahulu.

***

Dega berkunjung ke salah satu kafe di sebuah mal yang bersebelahan dengan rumah sakit. Ia mengenal kafe itu karena sebelumnya pernah berkunjung ke sana. Minum kopi di pagi hari ini pasti bisa membuat dirinya lebih rileks dan menahan kantuk yang masih menyerangnya.

Baru saja tiba di bagian luar kafe, Dega menghentikan langkah. Ada sosok yang membuatnya berhenti untuk melangkah lebih jauh. Sosok itu yang beberapa waktu lalu mengirimkan pesan kepadanya sedang berada di kantor. Jadi, kenapa Papa sekarang berada di sini?

Papa duduk bersama orang lain yang sama sekali tidak Dega kenali, tapi ia bisa menebak mereka adalah keluarga barunya Papa. Hanya, kenapa sekarang ia harus menemukan pemandangan memuakkan ini? Mengapa Papa bisa tersenyum bersama orang lain?   

Kenapa juga Papa harus berbohong? Kalau tidak mau datang karena sudah punya keluarga lain, bilang saja seperti itu! Dega akan memakluminya. Jangan salahkan Dega kalau rasa bencinya semakin meluap.

"Kiara, habis ini Papa mau antar kamu ke sekolah. Sekolah kamu di SMA Dwi Negara, kan?"

"SMA Dwi Bangsa."

Dega fokus pada sosok cewek yang tampak dingin dan sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Cewek itu berambut keriting gantung yang menggapai dada dan poninya bergelombang ke bagian dalam dengan rapi. Dia menggunakan sweater berwarna jingga.

Di tempatnya berdiri, Dega masih bisa mendengarkan percakapan itu. Entah kenapa melihat mereka makan bersama tenang di sini, membuatnya emosi setengah mati.Tidak ingin kehadirannya disadari, ia lalu mengenakan topi dan duduk di meja yang jaraknya hanya dua meja dari keluarga baru itu.

Dega memilih membelakangi mereka. Ada yang ingin diketahuinya lebih jauh. Tiba-tiba saja ia punya rencana yang cukup gila. Baru niat, belum tentu jadi.

"Aku nggak perlu diantar, dari sini bisa jalan kaki."

"Baiklah kalau begitu, Papa nggak akan memaksa kamu, tapi terima kasih karena pagi ini mau makan bareng di sini. Papa sengaja milih kafe ini karena kata Mama kamu suka dengan kopinya."

"Kiara, nggak apa-apa dong diantar pergi ke sekolah bareng-"

"Kiara mau ke sekolah sekarang."

"Habiskan rotinya dulu, Kiara."

"Nggak, Ma. Aku udah kenyang."

"Papa antar sekarang ke sekolah, ya."

Dega tidak habis pikir dari mana sifat pantang menyerah ayahnya itu? Dahulu, dia dengan mudah menyerah dengan keluarganya sendiri, dengan Dega, anaknya yang sesungguhnya. Sebenarnya apa yang Papa harapkan dari cewek yang tampak tak tertarik dengannya itu?

"Kan tadi aku udah bilang sekolahnya dekat. Bisa jalan kaki dari sini."

Dega kemudian mendengar langkah kaki yang menjauh. Cewek itu pasti sudah pergi.

"Maaf, Mas. Kiara sepertinya masih butuh waktu untuk bisa menerimamu."

"Ya, nggak masalah. Aku harus terus mencoba."

"Menurutku Mas harus nyembunyiin fakta bahwa Mas punya istri dan anak. Kita tetap dengan rencana awal. Mas udah menikah dan nggak punya anak. Istri Mas udah meninggal."

Dahi Dega mengerut. Mereka sedang membicarakan apa, sih? Ia memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan percakapan selanjutnya.

"Aku paham. Kiara bakal nggak menerima hubungan kita kalau dia tahu istri dan anakku masih hidup. Aku cuma mau kamu dan Kiara bahagia."

Dega melirik ke belakang. Perempuan itu memegang tangan ayahnya.

"Nanti kita bisa mengungkapkannya, Mas, tapi untuk sekarang kita nggak bisa ngenalin Kiara dan Dega dulu."

Hati Dega terasa dicabik-cabik karena dianggap tidak ada seperti itu.

"Omong-omong, Mas jadi jenguk Mbak Farsa?"

Jantung Dega berdegup kencang. Ia langsung mengeluarkan ponselnya. Ia tidak mau Papa ke rumah sakit. Ia tidak sudi melihat ayahnya ada rumah sakit!

"Aku memilih kafe ini karena dekat juga dengan rumah sakit di mana Farsa dirawat. Jadi, aku bisa sekalian ke sana. Menurutmu bagaimana? Apa aku harus menjenguk mantan istriku yang sakit?"

"Makasih, Mas udah jujur sama aku. Tapi kalau aku nggak setuju, apa Mas akan marah?"

Dega yang awalnya ingin mengirimkan pesan ke ayahnya, langsung menghentikan niatnya itu.

Kemudian ayahnya Dega mulai bersuara. "Aku nggak marah, tapi mungkin Dega bakal marah."

Dega mengepalkan tangannya. Mendengarkan percakapan ini membuat hatinya semakin tidak keruan. Dianggap tidak pernah ada oleh ayahnya dan untuk menjenguk mantan istrinya ia harus meminta izin dulu ke istri barunya. Seperti inikah akhir dari pasangan yang membina rumah tangganya selama 17 tahun lamanya?

"Mas, pasti sayang banget sama Dega. Mas sampai mau biayain anak itu hingga kuliah."

"Ya, tentu aku menyayanginya. Meski sudah bercerai dengan istriku, Dega tetaplah anak kandungku. Dia tanggung jawabku."

Dega lalu menyadarinya. Semua itu ayahnya lakukan bukan untuk dirinya, tapi untuk ayahnya sendiri yang ingin disebut sebagai pria bertanggung jawab.

"Aku nggak masalah soal itu, Mas, tapi untuk menjenguk istri Mas yang sakit, aku harap Mas nggak melakukannya. Aku pikir hubungan Mas dengan Mbak Farsa udah selesai."

Dasar pelakor nggak tahu diri, Dega mengumpat di dalam hatinya.

"Kalau itu maumu, baiklah. Aku menghargai kejujuranmu, Tania."

"Terima kasih, Mas. Lalu, Mas akan bilang apa pada Dega?"

"Aku akan bilang kalau aku harus pergi ke Kalimantan sampai sebulan ke depan untuk dinas. Nggak perlu khawatir, Dega akan memercayaiku."

"Itu ide yang bagus."

Dega kemudian memutuskan pergi dari tempat itu tanpa sudi menengok ke belakang. Sebenarnya sudah berapa kali ayahnya membohonginya? Benar-benar menggelikan. Ayah dan keluarga barunya itu. Tangannya pun mengepal. Ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan baik-baik saja bersama dengan ibunya. Meskipun ibunya sedang sakit keras, ia yakin ibunya akan kembali sehat.

***

Dega kini berada di gerbang sekolah SMA Dwi Bangsa. Setelah urusannya di kafe selesai, ia mencari sekolah itu, dan menemukannya dengan mudah. SMA itu jaraknya hanya sekitar 300 meter dari Kafe Ambar. Ia tersenyum sinis. Kebetulan sekali, ia akan melakukan hal yang ingin dilakukannya. Ia akan meyakinkan ibunya agar bisa bersekolah di sini. Memangnya hanya Papa yang bisa berbohong? Dega juga bisa!

"Gue bakal ngehancurin kalian perlahan-lahan. Mulai dari anak perempuan wanita sialan itu, Kiara."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Entwine-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya