Comscore Tracker

[NOVEL] Entwine-BAB 4

Penulis: Pretty Angelia Wuisan

Bab 4: Siapa Dega?

 

"Jadi, kita mau pakai konsep cerita tentang anak-anak disabilitas yang punya kemampuan super, kan? Gue pengin nambahin karakter...."

Kiara mendengarkan penjelasan Fata, tapi ia pun segera memotongnya. "Setop."

"Eh, kenapa?" Fata agak kaget diinterupsi tiba-tiba.

"Lo udah jelasin konsep ini kemarin dan kita udah setuju buat nambahin karakter." Kiara menatap Fata dingin. Ia diam beberapa saat. "Ini tuh cuma buang-buang waktu."

Fata menarik napas panjang. Sebenarnya ini bukan kali pertama Kiara bersikap dingin seperti itu padanya. "Gue cuma mau kita lebih dekat aja-"

"Gue nggak tertarik buat pacaran. Gue udah pernah bilang, kan?"

"Kiara!"

Kiara bergidik mendengar teriakan itu. Sejak kecil, teriakan itu lebih mengerikan dibandingkan suara kuntilanak yang pernah ia dengar dari film yang ditontonnya.

"Eh, ibu lo ada di sini."

"Gue emang ngabarin ke Mama kalau gue ada di sini." Kiara sebenarnya berbohong, ia tidak memberi tahu apa-apa pada ibunya..

Fata merasa ada yang aneh dengan pernyataan itu. "Terus kenapa ibu lo jadi kelihatan marah?"

Kiara tidak menggubris pertanyaan itu. Ia buru-buru memasukkan barang bawaannya ke dalam tas. "Gue mau pulang."

"Kiara! Ayo, pulang!"

Fata berusaha beramah-tamah pada ibunya Kiara yang tampak tidak memedulikan keberadaannya,padahal ini bukan kali pertama mereka bertemu. "Sore, Tante."

Ibunya Kiara menoleh. Wajahnya berubah jadi lebih ramah. "Eh, Dega, apa kabar?"

Fata dan Kiara seketika mematung.

"Ma, ini Fata."

"Saya Fata, Tante," Fata bingung sendiri kenapa bisa ibunya Kiara memanggilnya Dega.

"Aduh, maafin Tante. Tante kira kamu anaknya teman-em... Tante kira kamu artis!" Ibunya Kiara kemudian menarik tangan anaknya. "Kami duluan ya, Fata. Dah!"

Fata hanya melambaikan tangan. Ia kecewa karena lagi-lagi kesempatan untuk bisa lebih lama berdua dengan Kiara hilang begitu saja. "Kiara nyadar nggak sih ibunya terlalu protektif? Ah, tapi bukan urusan gue juga." Ia memutuskan untuk pergi juga dari sana.

***

"Kiara, kenapa kamu bisa ada di Kafe Ambar?" tanya ibunya Kiara sembari menyetir mobil. "Untung aja tadi Mama ketemu sama Quina. Dia bilang kamu lagi di sana."

"Ada diskusi bentar sama Fata," jawab Kiara tanpa melirik ibunya. "Mama harusnya nggak perlu jemput aku-"

"Fata bukan pacar kamu, kan?"

Kiara menarik napas panjang. Agak dongkol karena omongannya dipotong. "Aku dan dia nanti bakal berangkat ke Korea. Ikut kompetisi naskah film remaja." Ia berusaha mengingatkan ibunya.

"Kamu yakin ingin ke Korea? Kamu yakin mau bikin film?"

Kiara tidak mengerti kenapa ibunya mempertanyakan hal itu. "Ma, aku dibiayai sama pemerintah biar bisa ke Korea, ya tentu aku mau. Mama juga tahu aku suka nulis."

Ibunya Kiara terdiam sejenak.

"Aku nggak kabur, Ma. Aku mau ikut kompetisi di Korea," Kiara kembali menekankan hal itu agar ibunya tenang.

"Ya, ya, jangan marah dong. Mama kan cuma nanya."

Kiara melirik Mama sejenak. Sedari kecil ibunya memang cenderung protektif dan tidak suka jika ia pergi jauh dengan orang lain. Ia tidak pernah dibiarkan sendirian berlama-lama. Kalau memang harus sendirian, ibunya akan memastikan bahwa Kiara berada dengan orang yang tepat, bisa dihubungi kapan pun, dan memberikan kabar jelas.

Lalu, ibunya punya daya ingat bagus, jadi menurutnya hal tadi itu cukup aneh bisa terjadi.

"Ma, siapa Dega?"

Mama tersentak. "Dega? Nama artis, oh ya nama artis yang main di FTV yang suka Mama nonton pagi-pagi. Namanya Dega Hilmansyah." Ia bahkan tidak tahu ada nama artis itu. Mumpung Kiara tidak menonton FTV.

Dahi Kiara mengerut mendengar jawaban ibunya, tapi ia pun memutuskan untuk tidak peduli.

Sementara itu, Kiara tidak tahu sebenarnya Mama gelisah. Ia sendiri kebingungan kenapa tadi tiba-tiba menyebut Dega, nama anak suaminya. Mungkin karena kemarin-kemarin ia sering membahas Dega dengan suaminya. Ia pun memutuskan untuk membicarakan hal lain dengan Kiara. "Kamu mau potong rambut? Rambutmu sudah agak panjang."

Kiara hanya mengangguk. "Nanti deh, Ma. Habis UAS."

"Oh ya, sebentar lagi UAS." Ibunya Kiara melanjutkan omongannya. "Kamu nanti langsung pulang aja ya. Kalau ada pertemuan kayak tadi bilang ke Mama dulu. Biar Papa atau Mama yang jemput kamu."

"Aku bisa pulang sendiri, Ma."

"Kamu bakal dijemput. Titik."

Karena Mama sudah menyebutkan titik, Kiara tak bisa mengelak lagi. Ia lalu hanya bisa tersenyum kecut. "Mama, tenang aja aku nggak akan ke mana-mana. Mama kan udah ngerawat aku dari kecil."

Mama tercenung seketika, kemudian ia mengusap kepala Kiara. "Kamu memang anak yang baik."

***

Dega senang kondisi Eomma sudah berangsur membaik dan besok diperbolehkan pulang. Sepulang sekolah ia langsung menjenguk ibunya.

"Minggu depan Eomma mulai cuci darah lagi." Ada nada kekhawatiran yang Dega tunjukkan pada ibunya.

Eomma selalu bisa melihat ekspresi Dega yang sesungguhnya. "Kamu tenang aja, Dega. Eomma  bisa ke rumah sakit sendiri."

"Kalau bisa pindah sekolah besok, aku bakal pindah."

Eomma tertawa melihat Dega yang bermuka masam. "Sabar, dong. UAS, kan, seminggu lagi. Setelah itu kita urus berkas buat kepindahan kamu."

Dega mengangguk. Memang akan lebih mudah jika ia pindah sekolah di pergantian semester.

Wajah senang Eomma tiba-tiba berubah sendu. "Eomma sangat bersyukur punya anak sebaik Dega. Kita tinggal berdua. Jadi, kita berjuang sama-sama ya."

Dega hanya mampu mengangguk. Amarah dan kepedihan ditelannya membuat tenggorokannya terasa sakit.

"Sekarang, kita nggak perlu lagi mikirin Papa. Dia udah punya keluarga baru."

"Ya, nggak masalah buatku," Dega menyetujuinya.

"Tapi kalau kamu mau ketemu sama Papa-"

"Nggak mau," Dega menjawabnya cepat-cepat. "Untuk sekarang nggak dulu. Bisa-bisa aku malah nonjok mukanya."

Eomma  tersenyum miris. "Kamu jangan membenci Papa, Ga. Apa yang dia lakukan memang salah, tapi dia tetap ayah kamu."

Tiba-tiba saja emosi Dega tersulut. Itu adalah alasan yang begitu klise.Ia muak tidak bisa membenci ayahnya hanya karena hubungan darah. "Apa Eomma nggak membenci Papa?"

"Eomma benci dia, tapi Eomma nggak mau nularin ke kamu."

Dega merasa beruntung punya ibu selembut Eomma, tapi ia heran mengapa orang sebaik Eomma  bisa disakiti pria yang sudah bersama dengannya selama 17 tahun.

Sebagai anak lelaki, ia akan melindungi ibunya dengan segenap jiwa. Salah satu cara yang akan ia lakukan adalah membuat keluarga baru ayahnya hancur lebur. Ia akan mulai dari anaknya.

Dega ingin melakukan hal lain untuk menutupi amarahnya yang bisa meledak kapan saja. "Eomma, makan sekarang yuk."

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Entwine-BAB 5

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya