Comscore Tracker

[NOVEL] Kelana, Lelaki Seribu Cerita - BAB 3

Penulis: Ary Nilandari

3. Tunawisma
 

Cara terbaik menghadapi Sanka yang ngambek adalah dengan bersikap biasa saja. Seperti tidak ada masalah. Sampai di apartemen, ia langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Lalu terdengar musik diputar keras-keras. Untunglah, apartemen ini ada di lantai 5, paling atas, dengan unit kanan dan kirinya kosong. Dibeli orang hanya untuk investasi. Keadaan yang juga ideal buatku. Tidak ada orang yang kepo mempertanyakan keberadaanku di sini. Kalaupun ada yang rese, aku punya senjata penangkal. Namaku tercantum di kartu keluarga Pakde Jenar. Aku berhak ada di sini sama dengan anggota keluarga yang lain.

Aku masuk ke kamarku sendiri untuk berganti baju rumah. Apartemen tiga kamar ini terlalu mewah untuk anak SMA hidup sendirian. Pakde membelinya sejak Mas Satria kuliah di Bandung, dengan keyakinan kalau semua anak akan menyusulnya. Namun, Gyan memilih kuliah di Jakarta, dan aku melepaskan diri dari keluarga.

Aku, contoh paling nyata keblunderan! Dengan gagah, bersumpah tidak akan bergantung lagi pada mereka, tapi baru lima tahun, sudah mengetuk pintunya lagi.

Pintu Sanka, tepatnya. Hanya untuk sementara, yang lain tidak perlu tahu.

Kusemburkan napas. Tidak ada waktu untuk menyesali kebodohan sendiri, atau memaki Ibu yang menjadi sumber segala masalahku. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan baru.

Let’s see. Apakah sudah ada tanggapan dari klien terakhir? Mereka adalah pasangan suami istri, penulis dan ilustrator, yang menciptakan tiga buku cerita untuk anak. Tugasku mengujicobakannya pada anak-anak kelas 1-3 SD Internasional Darmawangsa. Observasi terakhir sudah kukirimkan disertai “usulan lancang” untuk melakukannya lagi di kelas 4-6, karena ada anak seperti Kembara Bhumi yang mungkin memberikan respons berbeda.

 Ya, emailku sudah dibalas.

 

Dear Seruni,

Terima kasih sudah menyelesaikan pekerjaanmu tepat waktu. Aku suka caramu mendeskripsikan hasil observasi. Objektif, ringkas, jelas, tapi passion-mu terbaca. Enggak salah tuh, kamu masuk prodi Teknik Lingkungan? Ada minat terjun ke industri kreatif seperti kami? Haha, just kidding.

Terlampir bukti transfer honor ke rekeningmu.

Soal observasi di kelas 4-6, sebetulnya kami sedang menyelesaikan dua buku baru yang memang ditujukan untuk anak-anak 10 tahun ke atas. Ini akan lebih menantang karena sama sekali tidak ada teks. Silent book, istilahnya. Perlu sekitar 4-5 minggu lagi untuk finishing, habis itu, pasti perlu uji coba dan lain-lainnya. We’d love to have you help us again. Lebih dari yang sudah kamu lakukan sekarang, dengan imbalan yang pasti tidak bisa kamu tolak. Luangkan waktu untuk nanti. Keep in touch.

 

Salam,

Gemina dan IgGy

GG Studio

 

Yes! Yes! Aku berteriak mengatasi dentuman musik dari kamar sebelah. Mood-ku membuncah. Siapa sangka, iklan lowongan pekerjaan sambilan yang semula kutanggapi pesimis, malah berkembang dengan potensi baru.

Bagaimana tidak pesimis? Sainganku adalah adik kelas Kak Gemina sendiri. Lebih mengerti soal seni dan ilustrasi buku anak.

Sementara aku, waktu ditanya motifku melamar pekerjaan, hanya bisa mengatakan apa adanya. Aku mahasiswa putus asa, yang sudah kelewatan masa tenggat untuk membayar uang kuliah. Iklan lowongan kerja Kak Gemina di Fakultas Seni Rupa dan Desain juga kutemukan tak sengaja, selagi aku iseng menyambangi papan pengumuman di prodi-prodi lain.

Iklan itu nyaris tertutup oleh segala macam tempelan, termasuk pengumuman beasiswa. Mungkin karena itu juga, hanya aku dan satu orang lagi yang menemukannya.

Pengumuman beasiswa lebih mencolok. Tapi beasiswa bukan jodohku, selalu gagal di tahap wawancara. Tampangku sendiri yang berkhianat. Ya, aku juga baru tahu, tampang jadi penentu. Seorang pewawancara menuduh aku memalsukan data. Tampang seperti aku, katanya, pasti datang dari keluarga berada dengan aset berlimpah, bahkan harta karun terpendam. Dapat beasiswa nantinya hanya untuk foya-foya.

Aset berlimpah, harta karun terpendam? Cih!

Kalaupun ada, hanya sampai usia 16 tahun aku memilikinya, baru tahu memilikinya, tapi saat itu juga kehilangan banyak karena sudah dibawa lari ibuku sendiri!

Aku berteriak lagi, kali ini dengan kemarahan meluap. Berdiri di atas kasur, kutendang tembok kuat-kuat. Mood-ku berantakan dengan cepat setiap teringat Ibu.

Hanya karena Ibu juga, aku membenci bulan Desember ini!

Volume musik dikurangi drastis. Sanka pasti mengira tendanganku untuk memprotes kebisingannya. Masa bodoh. Aku membanting tubuh di kasur. Mengatur napas. Fokus lagi pada situasiku. Apa yang harus kulakukan sambil menunggu pekerjaan dari Kak Gemina?

Aku memeriksa WAG surveyor yang kuikuti. Teman-teman dengan berbagai latar belakang kumpul di sini, saling berbagi informasi. Lembaga statistik dan perusahaan yang melempar produk baru ke pasaran biasanya mencari tenaga surveyor dalam jumlah besar. Kami dikirim ke pelosok-pelosok daerah untuk mewawancarai penduduk. Semester lalu, aku melakukannya dengan bolos kuliah. Akibatnya, nilai-nilaiku terjun bebas, banyak mata kuliah harus kuulang nanti. Buang waktu buang biaya. Karena itu, aku mengajukan cuti di semester ini.

Sampai chat terakhir, tidak ada informasi loker (lowongan kerja). Desember sepertinya bulan paceklik. Mereka mungkin tutup buku, tidak ada proyek. Aku melempar ponsel di kasur dan menyusupkan kepala di bawah bantal.

Aku pengangguran ….

Ponselku menyela dengan panggilan suara. Jarang-jarang, nih. Siapa tahu, klien baru yang mendapatkan rekomendasi tentang aku—Oh, shoot! Sanka yang menelepon.

Dan panggilannya berhenti, berganti gedoran di pintu. Ia tidak akan melakukan itu kalau bukan dalam kondisi darurat.

Aku melompat turun dan membukakan pintu.

“Nis, mereka sedang menuju ke sini.” Wajah Sanka cemas.

Aku menepuk bahunya. Ini bukan yang pertama. Memberitahu dadakan adalah kebiasaan mereka. Minimal dua minggu sekali, Pakde dan Bude jalan-jalan ke Bandung, pastilah mampir ke apartemen. Menengok si bungsu. Mencoba peruntungan untuk menemui aku. Mereka tidak beruntung, aku selalu punya kesibukan.

“Berapa lama waktuku?” Aku mengedarkan pandang ke sekeliling kamar. Baju-baju dan tetek bengek lainnya tinggal kumasukkan ke ransel.

“Satu jam, kurang lebih. Sudah di rest area KM 88.”

Aku menutup pintu, harus cepat ganti baju. Tapi Sanka mengganjal dengan separuh badannya.

“Nis, tetaplah di sini. Ayah dan Ibu pengin banget ketemu kamu. Kangen. Beri mereka kesempatan—”

“Kamu sudah bilang mereka, aku ada di sini?” tukasku, tajam.

Sanka menggeleng. Ekspresinya bingung. “Kamu tahu, aku ada di pihakmu. Setia menjaga perjanjian kita. Cuma aku enggak ngerti, kenapa kamu membenci Ayah dan Ibu?”

“Aku enggak membenci mereka. Aku menjauh justru karena enggak mau membenci mereka. Mundur, aku mau ganti baju!”

Sanka bergeming. Tidak ada waktu untuk membujuknya. Aku menjejalkan barang-barangku ke dalam ransel besar ala backpackers. Sanka maju untuk mengeluarkannya lagi. Aku memukul tangannya. Sanka membandel.

Baiklah! Memasuki kamarku, menyentuh barang-barangku, adalah pelanggaran. Jangan salahkan aku kalau kubalas. Kubuat gerakan seperti hendak melepaskan kaus di depannya.

Sanka terbelalak. Ia langsung berbalik, dan terbirit-birit keluar dari kamar.

Suh!

Dalam beberapa menit, aku siap kabur. “Aku cari kafe untuk mangkal. Kabari aku kalau mereka sudah pergi.”

Sanka yang duduk di sandaran sofa memandangiku dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Nis, mereka mau nginap beberapa hari. Ayah ada pekerjaan di Bandung. Selama itu, kamu mau tinggal di mana?”

Ahh, selain pengangguran … aku tunawisma juga.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Kelana, Lelaki Seribu Cerita - BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya