Comscore Tracker

[NOVEL] Lemon Lime: Bab 3

Penulis: Imelda A. Sanjaya 

Perjanjian

 

Jakarta, tiga hari sebelumnya

 

“Soo Yeung ... dengarkan dulu. Kamu bersedia, kan?” Nyonya Park cemas melihat reaksi Soo Yeung yang cuma mematung di tempatnya berdiri. Kalau Soo Yeung mengamuk, membanting pintu atau melempar sesuatu ke dinding Nyonya Park bakal lebih tenang, tapi kalau putra sulungnya cuma diam sambil menarik bibir bawah ke dalam seperti sekarang itu tandanya kemarahannya luar biasa. Neneknya, yang sedari tadi duduk akhirnya bicara.

“Soo Yeung, jawab pertanyaan Ibumu!”

“Omônikkeso, kenapa harus saya yang bertanggung jawab atas utang budi Abôjikkeso ?”

“Kamu anak laki-laki tertua di keluarga ini.  Omônikkeso mengandalkanmu.”

“Sebelumnya Abôjikkeso tidak pernah bilang mengenai ini.”

“Sebenarnya Abôjikkeso menunggu waktu yang tepat tapi kamu tahu sendiri, umurnya tidak sampai ...,” Ibunya menyusut air matanya dengan saputangan, senjatanya yang biasanya berhasil kepada Soo Yeung tapi kali ini Soo Yeung bergeming.

“Omônikkeso, aku sudah punya Hyo Eun ....”

“Diam!” Nenek membentak. “Sudikah kau menjadi anak yang tidak berbakti? Semua yang kalian miliki ini tidak akan ada tanpa budi orang itu. Sekaranglah saatnya membalas budinya.”

“Tapi dengan pernikahan? Dengan perempuan yang tidak aku kenal? Yang benar saja ....”

“Kalau Hyung tidak mau, biar aku saja yang menggantikan, Omônikesso.” Shin Yeung, adiknya melambaikan tangan, ikut berpartisipasi.

“Terlalu cepat seribu tahun buat kamu untuk ikut bicara!” Nenek melototi Shin Yeung. Shin Yeung mengkeret dan menunduk segan.

“Bagaimana ... kalau utang budi Ayah kita gantikan dengan uang?” Tiba-tiba Soo Yeung menawarkan solusi. Semuanya terdiam sampai Ibu bangkit dari kursinya, melangkah maju dan ... PLAK! menampar pipinya dengan kuat. Bibir Ibu bergetar hebat karena marah.

“Teganya ... kamu pikir nyawa Ayahmu bisa dihargai dengan uang?”

***

Jakarta, 16 kilometer jauhnya dari rumah keluarga Park

Hari ini

 

“Utang nyawa? Kok Aditi baru denger?”

“Kakek pernah membahas masalah ini dulu sama Bapak, tapi nggak Bapak tanggapi dengan serius. Tapi kemarin, keluarga Tuan Park itu datang ke rumah membahas masalah pernikahan kamu dengan anak tertua mereka. Katanya sih, cuma itu yang bisa mereka lakukan untuk membalas budi kakek.”

“Ceritanya gimana, sih?” Bang Angga duduk di samping Aditi sambil meraup kacang goreng. Sebelumnya sudah setengah kilo kacang goreng masuk ke dalam mulutnya. Ibu memukul tangannya sehingga tangan Bang Angga terangkat lagi. “Pelit.” Kata Bang Angga keki.

“Dulu, sewaktu Tuan Park masih muda, baru menikah dan baru punya anak satu, beliau membuka cabang usaha pabrik konveksinya di Cakung, mengembangkan bisnis keluarganya yang sudah ada di Korea. Kakek bekerja sebagai kepala keamanan di pabrik itu. Entah bagaimana ceritanya tahu-tahunya Tuan Park ditipu distributor lokal sehingga menanggung malu dan utang  ekspor yang cukup besar. Banyak sudah tukang pukul yang datang menagih ke rumahnya. Tuan Park nekat mau bunuh diri. Malam-malam saat semua karyawan pabrik sudah pulang dia kembali lagi ke dalam pabrik, ke kantornya.

Kakek curiga karena setahu kakek tidak ada lembur atau pekerjaan lain hari itu jadi kakek membuntuti Tuan Park ke kantor dan benar saja, Tuan Park sudah menggantung dirinya di atas tiang tempat penggulungan bahan pakai kabel setrika pabrik.”

Aditi bergidik ngeri. Bang Angga tidak berkomentar tapi tangannya meraup kacang goreng lagi. Kali ini Ibu membiarkannya.

“Terus ...,” Bang Angga bergumam.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Untung belum terlambat. Kakek menurunkan tubuh Tuan Park dan membawanya ke rumah sakit dengan pick-up pabrik. Sewaktu sadar, Tuan Park malah ingin bunuh diri lagi dengan cara meminum semua obat tidur sekaligus yang diresepkan dokter. Kakek mencegah perbuatan Tuan Park dan mengingatkan bahwa Tuan Park masih memiliki istri dan anak. Belum cukup, Kakek mencarikan Tuan Park pinjaman dari Haji Samiun, orang terkaya di daerah Condet dulu, kebetulan beliau ikhlas meminjamkan uang tanpa bunga. Tuan Park tertolong lagi.”

“Waaaah ....”

“Setelah Tuan Park bisa melunasi pinjaman pada Haji Samiun dia kembali ke Korea dan bisnis konveksi di sini dikelola saudara sepupunya. Sebelum pergi dia berjanji akan membalas utang budinya kepada kakek. Bapak nggak pernah denger-denger lagi kabar beritanya sampai kemarin saat tahu keluarganya sering ke sini dan anak-anaknya meneruskan pengelolaan bisnis di sini.”

“Tapi kenapa mesti Aditi, Pak?” Aditi protes. Mana orang Korea lagi. Ukkkh!

“Masa laki-laki disuruh nikah sama Abangmu?”  Ibu melotot. 

“Kan masih ada Rissa?” Aditi teringat sepupunya, cucu kakeknya juga yang belum menikah, lalu mendadak ciut lagi. Rissa baru berumur sepuluh tahun. 

“Sudahlah, anggap saja ini rezeki. Mereka dari keluarga baik-baik, terpelajar, kaya lagi. Kapan lagi kamu bisa mendapat suami seperti itu?” Ibu memanas-manasi.

“Ih, Ibu kok meremehkan kemampuan Aditi mendapatkan suami, sih?”

“Ya, pastilah. Buktinya, sudah mau lulus kuliah belum pernah pacaran. Kasihan banget!” gumam Bang Angga pelan tapi nyelekit.

“Neng, nggak ada paksaan, kok. Kamu bisa menikah sekarang ... atau nanti ...,” Bapak berlagak bijaksana meski intinya tetap memaksa.

“Enak aja! Kenapa Aditi yang dikorbankan? Yang punya utang kan mereka.”

“Kalau taraf  kehidupan kamu meningkat kan kamu juga yang senang?” Kata Ibu dengan gigih.

“Sebentar ... kenapa nggak dibayar pake uang aja? Berapa kek gitu, uangnya bisa kita pakai untuk bisnis.” Aditi mengajukan ide licik.

“Kalau keluarga kita bisa berbisnis, Bapakmu nggak bakalan betah jadi pegawai negeri kelas teri.” Ibu mengomel, Bapak cemberut. “Kalau mereka membayar pakai uang, sebentar juga habis, belum lagi kalau diliat dari fluktuasi keuangan negara dan krisis global, nilai uang bisa menurun ....”

“Bu ... sudah ... sudah cukup. Aditi nggak bakal mau menikah dengan cowok yang Aditi liat aja belum pernah.”

“Masa belum, sih?” Ibu mengernyit. Apa sudah? Apa waktu kecil dulu? Aditi langsung berusaha mengingat-ingat.

“Tadi dia sama adiknya ke sini, tanya-tanya kamu lagi. Ibu bilang kalo mau liat cari aja di distro di kompleks kampus kamu.”

Eit ... tunggu ... orangnya tinggi, putih, berkacamata?”

“Iya. Kamu udah ketemu? Cakep kan? Dia lihat-lihat foto kamu mulai dari kecil sampai besar lho! Dia juga tanya nama kamu ....”

Yang tadi itu ....

“Mbak ... siapa namanya.?”

“Aditi.”

“Oooh ....”

Rupanya tadi orang itu ingin meyakinkan bahwa dirinya adalah benar Aditi. Aditi meringis lalu tanpa sadar menggigit kacang tanpa ingat mengupas kulitnya dulu. Ya, Tuhan. Dosa apa aku ini?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Lemon Lime: Bab 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya