Comscore Tracker

[NOVEL] Lemon Lime: Bab 5

Penulis: Imelda A. Sanjaya 

Perjodohan yang Terancam Gagal

 

Aditi pulang dan mendapati Ibu mendadak punya kalung emas baru. Ada mata berliannya segala. “Beli di mana, Bu?” Aditi curiga.

“Ini hadiah perkenalan dari calon besan,” kata Ibu sambil menyentuh kalungnya terus, tidak puas-puas.

What? Mereka ke sini?”

“Ibunya Soo Yeung dan neneknya. Mereka diantar sekretarisnya Soo Yeung. Eh, mereka bawa kue-kue juga lho ...,” Ibu melirik meja makan di mana tumpukan kotak-kotak kue dari bakery bermerek bertengger di sana. Tempat yang tersisa di meja makan itu dihuni buah-buahan impor dalam keranjang parsel. Satu keranjang lagi dipangku Abang yang sedang menonton TV sambil menggerogoti pir. Keluarganya mudah disogok.

“Mereka bilang apa, Bu?”

“Kalau dari terjemahan sekretarisnya sih mereka suruh kita main-main ke rumahnya di Ragunan. Ibunya Soo Yeung berharap sekali pernikahannya bisa dipercepat.” Ironis, pikir Aditi kelu. Anaknya malah mentah-mentah menolak tawaran pernikahan itu.

“Eh, iya. Kita ke sana aja besok. Kamu kan libur kuliah dan kerja, kan?”

“Iya sih ... tapi ....”

“Pokoknya besok dandan rapi, kita pakai taksi atau Grab. Angga kamu ikut juga!” Ibu berbalik dan melotot pada Angga. Bang Angga menggeleng kuat-kuat. “Ogah! Aku besok mau pacaran!”

“Mau bawa apa ke sana sebagai hadiah perkenalan balasan, Bu?” ledek Aditi. “Semur jengkol?” 

“Ide menarik. Tapi sekarang lagi nggak musim jengkol. Biar nanti Bapak cari duku sama rambutan di pasar induk dan ibu bikin semur daging sama rendang.”

“Niat amat ...,” gerutu Aditi. “Kalo pas kita datang mereka lagi pergi bagaimana?”

“Kita telepon dulu, dong, Sayang. Tuh, nomornya sudah ada di notes. Omong-omong kamu dari mana? Kok baru pulang?”

“Dari kencan.” Jawab Aditi pendek sambil mencomot apel merah. 
Ibu melotot, “Sama siapa?” kecurigaan ibu mengesalkan Aditi.

“Sama calon suami kesukaan ibu lah ....”

Yang bikin Aditi makin kesal adalah saat mendengar jawabannya, ibu malah mendesah lega.

***

Ternyata untuk mengimbangi kalung berlian cantik dari Nyonya Park, Ibu sudah mempersiapkan bros perak peninggalan Nenek. Bros itu bermata zamrud dan dulu didapat Nenek dari seorang noni Belanda, sahabatnya sewaktu di Lembang dulu. Meski Aditi bersikeras kalau sayang memberikan barang peninggalan Nenek kepada keluarga Park, Ibu tetap ngotot. Katanya, itu investasi yang sepadan. Pagi-pagi Ibu sudah menyuruh Aditi ke mal untuk mencuci bros itu di gerai perhiasan perak sekalian membeli keranjang untuk buah. Repot sekali, pokoknya. 

Bang Angga sudah dari pagi disiksa Ibu. Ia diminta merajang bawang dan cabe untuk bumbu rendang. Angga terpaksa menurut karena Ibu mengancam tidak akan meminjamkan motor Bapak kepada Angga untuk kencan hari ini kalau masakan Ibu tidak selesai sebelum sore. Motor Angga jelek, menurut Angga tidak pantas dipakai kencan.

Pulang dari mal, Aditi langsung menata buah-buahan pasar induk dalam keranjang dan membungkusnya dengan plastik wrapping. Setelah masakan hebohnya matang, Ibu menyuruh Angga memesan taksi dan meluncurlah seorang ibu berkebaya, seorang bapak berbaju batik dan putrinya yang malang— yang hari itu terpaksa memakai gaun terusan— ke daerah Ragunan.

Kedatangan mereka sudah ditunggu di rumah besar yang dijaga satpam, seekor anjing dan dikelilingi kamera CCTV. Kontras dengan pengamanan yang mirip benteng, keluarga itu penuh senyum ramah, setidaknya dua dari empat orang yang menyambut mereka tersenyum lebar. Nyonya Park cantik, anggun dan langsing. Dia yang tersenyum paling tulus. Caranya bicara juga keibuan dan lembut. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ibunya Aditi. Sang mertua, nenek Soo Yeung sopan sekali tapi sedikit jaim.

Seorang cowok berkulit seputih kulit Soo Yeung tapi tidak berkacamata—yang ternyata adiknya Soo Yeung— malah tampak berbinar-binar dan menyapa mereka dalam bahasa Indonesia yang lebih bagus daripada punya kakaknya. Cuma satu orang yang tersenyum saja tidak dan terus-menerus melemparkan pandangan bosan saat mengantar mereka masuk. Soo Yeung. 

Barang-barang bawaan diterima dengan sopan dan langsung dibawa masuk oleh pembantu rumah tangga. Saat obrolan basa-basi itu ketahuanlah kalau Nyonya Park cuma menetap sementara di Jakarta sampai urusannya beres. Sebentar lagi juga pulang katanya sambil menatap Aditi penuh harap. Urusan pernikahankah?

Ibu buru-buru mengeluarkan perhiasan balasan kepada calon besan yang langsung dijawab “Ah, tidak perlu. Itu kan kewajiban kami bla..bla..bla..” tapi mata mereka kagum juga saat melihat bros perak antik itu. Mungkin dalam hati mereka pikir kami mencurinya di mana begitu, pikir Aditi sebal. Memang sih, itu satu-satunya barang berkelas yang ada di rumah mereka. Selain itu, mulai dari kursi, gorden sampai penghuninya semuanya kelas kampung.

Saat obrolan panjang lebar itu, Shin Yeung menarik Aditi ke beranda belakang yang menghadap kolam renang. “Kamu jadi menikah dengan Hyung?”

“Hyung? Siapa?” 

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Shin Yeung tertawa, “Hyung itu artinya kakak laki-laki. Soo Yeung.”

“Oh, mungkin nggak.”

“Kenapa?”

“Dianya nggak mau.” Aditi terus-terang.

“Masa, sih? Padahal kamu lumayan manis, lho.” Kata Shin Yeung berbaik hati.

“Makasih.” Sudah lumayan cuma manis lagi. Pujiannya bener-bener basa-basi.

“Dan rumah ini bisa jadi milik kamu kalo kamu jadi menikah sama Hyung.”

“Kok bisa?” Aditi menyesal tidak bisa menutupi nada tertarik dalam kalimatnya. Sumpah, siapa yang bisa tahan mendengar rumah sebagus ini bisa dimiliki begitu saja? Tapi terlihat matre pada perkenalan pertama kayaknya kurang bagus buat image-nya.

“Iya, Soo Yeung suka sama rumah ini tapi karena dia warga asing dia tidak diperkenankan membeli, cuma bisa menyewa. Kalau kamu menikah dengannya dia pasti punya alasan untuk beli rumah ini. Pakai nama kamu pastinya.” 

“Jelek amat sih cara kamu membujuk aku?” Aditi protes. Shin Yeung tergelak. Tawanya menawan. Duh, kenapa bukan orang ini aja yang dijodohin sama aku? Lebih enak diajak ngobrol. Batin Aditi.

“Aku cuma berusaha supaya kami bisa memenuhi permintaan terakhir Abôjikkeso biar beliau tenang di alam sana. Itu aja. Soo Yeung biasanya patuh sama Ômonikkeso tapi kali ini dia membangkang. Mungkin karena pacarnya. Eh, maaf, ya. Kelepasan, nih.”

“Aku sudah tahu, kok.” Aditi membalas dengan santai. Aditi sendiri tidak yakin Shin Yeung benar-benar kelepasan bicara. Tampaknya ia sengaja memberi petunjuk bahwa Soo Yeung sudah memiliki ‘seseorang’.

“Kalau Soo Yeung menolak, aku bersedia kok menggantikannya.” Lanjut Shin Yeung tanpa ragu. Mau-tidak mau pipi Aditi memerah. 

“Lucu ....”

I’m not kidding you now.” Shin Yeung tersenyum ringan. Saat itu tanpa diminta mereka menoleh ke belakang bersamaan karena merasa diawasi. Dan kebetulan sekali, Soo Yeung sedang berdiri bersandar pada tiang, kira-kira lima meter di belakang mereka.

“Apa dia bilang kalau pacarnya sempurna?” bisik Shin Yeung pada Aditi sambil melirik kakaknya.

“Iya, begitulah.”

“Cewek yang malang ...,” gumam Shin Yeung geli. 

“Sebentar ... dia nggak bilang kalo pacarnya cewek ...,” gumam Aditi pura-pura bingung. Ia lalu mengedipkan mata kepada Shin Yeung. Shin Yeung tergelak dan merangkul bahu Aditi sejenak dengan akrab.

Aditi lalu masuk ke dalam dan melintasi Soo Yeung tanpa melirik sedikit pun. Shin Yeung menyusulnya tapi ketika berpapasan Soo Yeung menangkap lengannya,

“Tampaknya kamu akrab dengan Aditi, ya?” tanyanya curiga.

“Katanya kamu nggak suka. Buat aku boleh, dong.” Balas Shin Yeung cuek dan meneruskan langkahnya. Soo Yeung terdiam sejenak lalu menoleh ke dalam ke tempat di mana Aditi lagi-lagi mengobrol dan tertawa bersama Shin Yeung. Pemandangan yang memuakkan.

Acara makan malam dimulai dengan menampilkan sepuluh macam hidangan Korea. Ada umbi teratai kukus dengan wijen, ada juga panggangan lengkap dengan daging dan arangnya yang membara di atas meja. Kalau Aditi tidak salah dengar, makanan itu namanya bulgogi. Shin Yeung malafalkannya dengan penekanan pada huruf ‘l’ secara berlebihan. Mungkin memang begitu cara mengejanya. Semua makanan Korea itu rasanya lumayan juga, apalagi bulgogi yang rasanya mengandung kacang, wijen dan kecap. Enak. 

“Jadi kapan pernikahan akan dilaksanakan?”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Lemon Lime: Bab 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya