Comscore Tracker

[NOVEL] Lovesthesia-BAB 1

Penulis: Ririn Ayu

18-3915 TSX

 

"Sempurna!" ucap Deska sambil mengusap rambutnya yang jatuh di atas dahi. Senyuman menenuni bibirnya sementara dia terus menatap cermin.

"Oh, Deska kenapa wajahmu semakin tampan, setiap detik kamu jadi makin ganteng saja!"

Deska tampan dan dia tahu itu. Pemilik wajah itu bahkan berani bersumpah kalau ketampanan miliknya dari jenis yang dinamis. Wajahnya tidak pernah berada di derajat yang sama karena ketampanannya naik satu tingkat setiap harinya. Pokoknya semakin hari dirinya semakin ideal dari berbagai sudut. Selain tampan, dia pun sempurna. Sungguh dirinya adalah makhluk tanpa cela. Dia sendiri menyadari kesempurnaan dirinya itu dengan pasti. Makanya dia mencoba meningkatkan semua aspek dalam dirinya hingga maksimal.

Untung saja, tinggi badannya tidak naik terus dan tubuhnya berhenti tumbuh sejak tahun lalu. Kalau tidak, mungkin dia bisa menyentuh ring basket dengan ujung jari telunjuk. Terlalu tinggi juga tidak akan menarik, lebih pas di ukuran ini. Cukup dengan tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter sudah membuatnya mencolok di kerumunan.

"Juga body panas yang bikin kelepek-kelepek!" katanya lagi sambil mengusap otot perutnya yang melekuk setelah sedikit mengangkat ujung bawah kausnya.

Sekarang pemuda itu mulai mematut kemeja baru warna hitam yang melapisi kaos warna senada di dalamnya. Senyumannya mengembang di bibir. Deska harus menutupi bagian perut dalam-dalam karena masih peduli kondisi lingkungan sekelilingnya. Rasanya tidak bisa membayangkan terjadinya banjir darah mimisan juga air liur saat para gadis mulai menggila karena menatap roti sobeknya. Hmm, semua itu bukan pilihan yang menyenangkan untuk dipikirkan. Jujur, dia takut kala sampai dibuatkan arca di kampus dan disembah bersama oleh para gadis. Sesungguhnya, dia tidak perlu dipuja apalagi diberikan sesajen dan sejenisnya, hanya perlu dikagumi saja.

Selain tingkat kegantengan dan tinggi proposional yang terus menanjak naik setiap hari, Deska juga memiliki kekayaan yang tidak pernah berkurang, bahkan kata pengelola keuangan di rumahnya harta itu semakin menumpuk dan bisa diwariskan sepuluh keturunan nanti. Tanpa perlu bertele-tele lagi, intinya Deska itu cakep, kaya dan memesona. Sungguh kriteria yang sangat klise untuk cowok zaman sekarang.

Mungkin semua orang akan mengamini soal ini, kalau saja mereka tidak tahu kalau Deska punya satu hal istimewa. Hal yang membuatnya naik satu tingkat dari sempurna jadi luar biasa. Namun, ada satu kelebihan yang membuatnya luar biasa. Deska bisa melukis apa pun yang dia dengar.  Deska bisa warna saat mendengarkan musik atau orang yang berbicara. Kelebihannya itu bukan dusta, dia bahkan sudah memeriksakan dirinya pada para ahli. Mereka menyimpulkan kalau Deska memiliki kelainan saraf unik yang hanya dimiliki empat persen dari keseluruhan populasi dunia. Orang menyebutnya sebagai sinestesia. Lebih tepatnya dia menderita chromesthesia, kelainan-atau bisa juga disebut kelebihan-yang membuat Deska mampu melihat warna secara spontan ketika mendengarkan musik atau suara apa pun.

Kelebihan itu membuatnya diterima ke Fakultas Seni Lukis di salah satu universitas ternama tanpa melalui tahap seleksi. Bahkan orang bilang kalau universitas itu beruntung mendapatkan dirinya karena dengan kemampuannya dia bisa masuk ke Pratt Institute dengan mudah. Hari ini dia akan berangkat ke kampusnya. Hari yang tepat untuk tebar pesona dan membiarkan warga kampus itu tahu soal ketampanan dan kesempurnaannya yang tiada tara.

Deska yang masih sibuk di depan cermin langsung terkesiap kala mendengar kala ketukan pelan terdengar dari luar pintu kamarnya. Dia berdeham pelan sebelum menjawab.

"Masuk!" katanya.

Seorang wanita paruh baya muncul dari daun pintu yang terbuka. Pakaiannya rapi dan bersih, wajahnya juga terlihat cerah. "Mas Deska sudah ditunggu Bapak, Ibu dan Mas Ahdhar untuk sarapan di bawah!"

Deska tersenyum. Suara wanita itu  menghasilkan warna cokelat tua seperti biasanya. Tidak ada yang menarik sekaligus tidak ada emosi yang terlihat. Warna yang membosankan sekaligus menenangkan di matanya. Mungkin karena semua orang di rumah ini tahu kalau dia bisa melihat warna-warna dalam suara jadi mereka menjaga nada bicara juga seberapa keras volume yang dikeluarkan. Semua itu dilakukan dengan dalih kalau untuk menjaga suasana hati majikannya yang sensitif itu agar tetap netral, akan tetapi Deska tahu benar bukan itu alasannya. Pemuda itu menatap bayangannya di cermin, tepat di bagian bola matanya. Tangannya kanannya mengepal. Alasan mereka bersikap ala robot itu adalah salahnya. Mereka hanya berpura-pura seolah-olah semua itu memang etiket umum yang harus diterapkan untuk karyawan yang membantu di rumahnya.

Kadang Deska berpikir kalau saja dulu dia tidak marah pada salah satu pegawai di rumah karena menaikkan nada suaranya, apakah semuanya akan berakhir sama? Apakah semua orang-selain keluarganya-bisa berpikir kalau chromesthesia yang dideritanya hanya berupa sedikit kelebihan bukan sejenis cara untuk mengetahui isi hati orang lain? Apakah mereka semua akan berhenti membicarakan manik mata ebony miliknya yang katanya mirip mata hantu?

"Mas Deska?"

Deska tersentak kala suara wanita itu terdengar lebih keras. Pemuda itu langsung menoleh dan memasang senyuman. "Bilang aku segera turun ya, Bi!"

"Iya, Mas."

Deska tidak perlu menoleh lagi karena wanita itu sudah menutup pintu. Dia buru-buru meraih tas, membukanya dengan cepat untuk menjejalkan ponsel, dompet dan Bluetooth earphone ke dalamnya. Setelah itu, Deska langsung memelesat keluar dari kamarnya. Kakinya menapaki anak tangga pelan.

"Pagi, Ma," katanya sambil melayangkan ciuman di pipi mamanya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Pagi juga, Sayang!" ucap wanita itu menimpali lalu menepuk bahu Deska.

Deska langsung menarik kursi dan memosisikan dirinya di samping Ahdhar yang tampak sibuk dengan ponselnya. Mungkin dia sedang memantau laporan kerjaan di perusahaan. Sementara itu, ayahnya juga sibuk dengan koran di tangan. Tipikal bapak-bapak pekerja pada umumnya, sarapan bersama koran. Sementara itu mamanya akan sibuk melayani suami serta dua anaknya satu per satu, di pagi seperti ini hanya Deska yang tidak sibuk. Bukan masalah juga, setiap orang punya hidup masing-masing. Dia hanya perlu mengunyah tanpa banyak bicara, makan secukupnya agar tetap kuat dan semakin tampan.

"Apa kamu jadi ikut Sunny Art Prize tahun ini, Ka?" Suara ayahnya terdengar ketika Deska baru saja menaruh tas di kursi kosong di sampingnya.

Deska melirik ayahnya. Warna-warna cider memercik saat ayahnya bicara. Dia bisa merasakan kehangatan dan perhatian dalam warna itu meski suara ayahnya terkesan tegas.

"Jadi, Pa. Aku akan daftar akhir bulan ini untuk ikut," sahut Deska sambil mengulum senyuman.

"Terus kapan berangkat ke London?"

Deska mengangkat bahu. "Entahlah, soal berangkatnya masih belum tahu. Lagi pula aku belum punya lukisan yang bisa kupakai untuk daftar."

"Buat kalau begitu!"

"Lakukan yang terbaik yang, Sayang. Mama nanti ikut deh ke London kalau Deska pameran di sana," sahut Mama lagi.

"Tentu. Mas Ahdhar juga boleh ikut kalau mau."

"Memangnya kamu yakin bakalan menang dan bisa pameran di sana?" Pemuda itu menimpali dengan suara dingin dan tampaknya tidak mau repot-repot menoleh.

"Mau taruhan?" Deska tidak mau kalah.

Kakaknya itu mendengus. "Makan saja sarapanmu!" ucapnya sambil menaruh roti bakar berlapis selai nanas yang tadi ada di piringnya ke piring Deska.

"Cih, pelit!"

"Bagaimana kalau taruhan saja sama Mama?"

Deska yang semula hendak mengambil roti di piringnya langsung bergidik. "Ogah. Paling-paling Mama cuma mau tidur bareng, kan? Aku udah dewasa, Ma."

"Oh, ya?"

Deska tidak sempat menjawab karena jitakan kakaknya kini sudah sampai di kepalanya. Dia hanya bisa mengaduh pelan meski tawa mamanya kini meletup keluar dan ayahnya juga diam-diam menyembunyikan senyuman. Ada warna-warna merah muda bercampur cokelat yang memercik di meja makan sekarang. Deska menyukai warna-warna itu karena dia tahu dari warna itu ada kasih sayang yang terlepas ke udara dan semua itu tertuju padanya. Dia hanya harus memenangkan lomba ini dan mengadakan pameran di London karena tahun ini dia sudah mencapai usia minimal untuk memasuki Sunny Art Prize. Bukan hanya masuk dan berpartisipasi, akan tetapi dia akan jadi salah satu pemenang tahun ini. Delapan belas tahun dan lukisan buah tangannya yang dipajang. Setelah itu, hidupnya akan makin sempurna.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Lovesthesia-BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya