Comscore Tracker

[NOVEL] Lovesthesia-BAB 2

Penulis: Ririn Ayu

13-0607 TCX (1)

 

Pagi ini Deska mengendarai sendiri mobilnya untuk pergi ke kampus. Ini hal yang luar biasa dan harus dibanggakan karena normalnya dia menyerahkan urusan perjalanan ini pada Pak Ridwan, pria berusia empat puluh tahunan yang telah bekerja jadi sopir di rumahnya entah sejak kapan Deska sendiri tidak terlalu ingat. Hari ini pria itu izin tidak bekerja karena sedang tidak enak badan makanya mau tidak mau Deska harus pergi sendiri. Pak Ridwan jarang mengambil hari libur jadi tentu saja Deska tidak keberatan apalagi kalau alasannya karena sedang sakit.

Gara-gara sering diantar sopir teman-temannya banyak yang mengira kalau dia tidak bisa mengemudi. Rumor konyol itu juga membuatnya sering ditawari untuk diantarkan pulang oleh gadis-gadis di kampusnya jika Pak Ridwan terlambat menjemput. Padahal Deska jarang mengemudi untuk menjaga kesehatan tangan dan jarinya. Tangannya yang berharga bisa saja terluka kalau digunakan untuk memutar roda kemudi. Selain itu, di jalanan banyak sekali hal buruk terjadi maka akan lebih aman kalau menyerahkan urusan perjalanan pada pegawai profesional dan dia tinggal duduk manis di kursi belakang tanpa risiko apa pun. Kalau pun terjadi sesuatu setidaknya dia tidak ada di zona bahaya.  Dia memang tidak biasa pergi tanpa sopirnya, akan tetapi bukan tidak mampu untuk membawa mobilnya. Dirinya mampu, hanya tidak mau.

Senyuman mengembang di bibirnya, dia benar-benar keren dan luar biasa. Selain tampan, Deska juga tahu kalau dirinya sangat baik hati dan penuh toleransi. Contoh toleransi yang dilakukannya adalah tidak membuka kaca mobil pagi ini. Bukan karena dia tidak ingin mengekspos ketampanan wajahnya, akan tetapi dia tidak mau keberadaannya mengganggu lalu lintas kota yang padat.

Apa hubungannya?

Tentu saja ada hubungannya. Bayangkan kalau sampai gadis-gadis atau ibu-ibu di jalanan ini melihat wajahnya. Mereka mungkin langsung mimisan atau pingsan maka jelas akan muncul kekacauan. Bisa jadi akan terjadi kecelakaan beruntun. Malas juga kalau harus berurusan dengan polisi padahal dirinya sudah sangat berbaik hati. Ketampanannya kadang memang perlu diwaspadai dan disimpan baik-baik demi kemaslahatan umat manusia.

"Wah, ada angin apa sampai Yang Mulia Deska membawa mobil hari ini?" Seorang pemuda menyambut kala Deska baru saja membuka pintu mobilnya.

"Minggir dih, kalau orang lain lihat dikiranya kita pacaran," ketus Deska sambil mendorong pintu mobilnya.

"Kita kan memang pacaran."

"Jijik deh, sana jauh-jauh!" Deska sekarang benar-benar bergidik melihat tingkah sahabatnya itu.

"PMS ya, Neng. Pagi-pagi sudah marah-marah. Sini Bang Seta tenangkan pakai belaian maut," katanya lagi.

"Atur sodaramu tuh, Kres!" Deska mendorong Seta ke arah saudara kembarnya yang sejak tadi memilih diam dan jadi penonton.

"Kresna juga siap jadi pacar Neng Deska!" Seta lagi-lagi menjawab.

Deska hanya bisa mendengus dan memilih pergi dari area parkir. Mimpi apa semalam dia bertemu dua orang menyebalkan itu di tempat ini. Tidak, dia harus meralat teori ini. Mimpi apa dia tahun lalu hingga jadi teman dua manusia menyebalkan ini? Sebenarnya dia lebih berharap kalau pertemanannya dengan Seta dan Kresna juga hanya mimpi semata, dia sudah lelah dengan kelakuan mereka.

Kalau melihat Seta dan Kresna akan memberikan aura berbeda. Entah karena ini efek dari arti nama mereka yang bertolak belakang atau karena tabiat mereka yang jauh berbeda. Suara Seta yang cenderung renyah dan ceria membuat Deska melihat letupan warna putih terang kadang bercampur kilatan-kilatan warna lain. Sedangkan suara Kresna cenderung kelabu atau suram, meski tidak ada hawa jahat dalam perkataannya.

"Ngomong-ngomong kita ke Pinopsida yuk sore ini, mumpung kamu bawa mobil nih!" ajak Seta sambil mengalungkan lengannya di bahu Deska.

"Ngapain?"

"Mainlah, katanya Haysel akan tampil hari ini."

"Haysel, siapa tuh?"

Seta sekarang menatap Deska. Pemuda itu mengerjap beberapa kali, ada ketidakpercayaan di wajahnya.

"Kamu kok cupu sih, Bro?"

Kata-kata Seta cukup membuat Deska mengerang. Cupu katanya, hanya karena dia tidak tahu siapa itu Haysel, Ransel atau apalah itu sekarang dirinya yang begitu sempurna ini mendapatkan hinaan besar. Dia bukan kurang gaul, hanya saja fokusnya akhir-akhir ini bukan untuk bermain. Deska ingin mempersiapkan lomba melukis tahunan itu dengan bersungguh-sungguh. Tahun ini dia ingin memamerkan hasil karyanya di London dan seluruh dunia.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Kamu tahu siapa itu Haysel, Kres?" Deska akhirnya melemparkan pertanyaan pada Kresna.

Kresna yang ditanya langsung memamerkan wajah kaget. Jemarinya langsung terangkat untuk membenarkan letak kacamatanya. Pemuda itu lalu mengangguk dengan canggung seolah-olah ada besi yang menyangga dagunya. Kadang kala kalau melihat Kresna, Deska sering teringat pada wayang. Mentang-mentang namanya mirip tokoh wayang, kelakuannya pun sama-hanya bereaksi kalau disentil.

"Nah kan, saudara kembarku yang cupumanik ini saja tahu soal Haysel. Kamu enggak lebih kamfung, kan?" Seta langsung menyambar seenaknya.

Deska mendengus lalu melirik Kresna. Tidak ada perubahan ekspresi yang mencolok di wajahnya, sepertinya dia tidak tersinggung dengan ucapan Seta. Bisa jadi juga sudah biasa, entahlah dia tahu dan tidak ingin tahu juga. Kalau Deska sendiri sudah biasa menahan kesal dan berupaya sekuat mungkin tidak mendorong Seta ke dalam got terdekat. Matanya kini melirik kunci mobil di tangannya, andai saja kunci ini bisa mengunci mulut Seta juga pasti bakalan menyenangkan.

"Jadi gimana, Bro, kamu ikut kan?" Seta tampaknya belum mau menyerah.

"Aku ada lomba jadi aku mau fokus dulu," tolak Deska sambil memutar kunci mobil di tangannya.

"Nah, karena kamu lomba makanya kuping ajaibmu perlu sentuhan baru. Percaya deh Haysel bakal memberimu banyak inspirasi." Mimik wajah Seta kali ini benar-benar menggoda.

"Males ah!" katanya lagi, meski sejujurnya dia lumayan tertarik dengan Haysel yang sampai dipuji Seta sedemikian rupa. Lagi pula rasanya harga dirinya sedikit terluka saat makhluk bernama Haysel itu lebih terkenal daripada dirinya.

"Kita lihat apa kamu masih malas nanti!"

Seta memasang tawa lebar di bibirnya hingga kelopak matanya menutup separuh. Deska terkesiap saat merasakan kunci mobilnya menggelincir dari tangannya. Ternyata Seta berhasil merebut kunci mobil yang sejak tadi ada dimainkan oleh Deska.

"Aku akan kembalikan nanti di Pinopsida," katanya sambil bergerak menjauh.

"Hei!" Deska benar-benar memekik sekarang. Namun, Seta sudah berlari meninggalkan dirinya dan dia malas untuk mengikuti permainan kekanak-kanakan yang dilakukan bocah itu. Bisa saja Seta akan bermanuver untuk masuk ke fakultas MIPA atau fakultas teknik. Itu pun jika dia masih waras, bisa saja Seta cukup gila hingga masuk ke lapangan sepak bola. Kalau itu terjadi dia bisa saja jadi tontonan pegawai dan mahasiswa yang wi-fi-an gratis di teras rektorat, tidak terima kasih. Memikirkannya saja sudah membuat Deska ingin pesan satu slot liang lahat di area pemakaman terdekat. Namun, semua ini bisa dikendalikan kalau ada satu orang yang menggantikan dirinya untuk mengejar Seta. Saat satu ide cemerlang itu tebersit dalam pikirannya, dia langsung menoleh pada orang di sampingnya.

"Lakukan sesuatu Kres-"

Tidak sahutan hingga Deska menoleh ke lokasi pemuda itu berada sebelumnya. Deska langsung membeku, Kresna mendadak menghilang. Tatapannya hanya jatuh di bagian udara yang kosong-kalau di adegan komik pasti sosoknya hanya berubah jadi garis patah-patah. Kresna tidak ada lagi di sampingnya sekarang dan sialnya dia juga tidak tahu manusia itu pergi ke arah mana. Deska mengangkat tangan untuk memijat pelipis, dua bersaudara itu hanya membuat kepalanya sakit saja dari hari ke hari. Sudahlah, sebentar lagi kuliah dimulai lagi pula nanti dia juga bisa bertemu Seta dan mengambil kembali kunci mobilnya.

Langkah kakinya bergerak cepat, sama sekali tidak peduli ketika berpapasan dengan wajah-wajah asing yang tidak dikenalnya. Area parkir yang ada di celah antara fakultas teknik dan MIPA sudah cukup menyusahkan. Jadi dia juga malas bertatapan atau sekadar melirik ketika berjalan di jalan yang menghubungkan area parkir dan fakultasnya. Heran juga mengapa tidak dibangun area parkir yang lebih luas jadi dia tidak perlu berjalan sejauh ini. sepertinya dia harus mengusulkan beli helikopter pada Kakek jadi bisa langsung turun di lapangan sepak bola yang ada di samping kampusnya dan tidak perlu berjalan jauh.

Untung saja ruangan untuk mata kuliah kali ini ada di lantai satu hingga Deska tidak menggerutu lebih banyak di dalam hati. Saat memasuki ruangan, banyak mata memandang ke arahnya. Ada juga yang memanggil namanya dan Deska hanya menjawab seperlunya. Dia juga melempar senyuman saat beberapa gadis dengan terang-terangan melihatnya sambil memonyongkan bibir dan mengedipkan mata. Tentu saja mereka menyambut senyuman yang dilemparkan Deska dengan pekikan tertahan. Deska menikmati semua perhatian itu dengan berjalan pelan di tengah ruangan sambil mencari bangku yang berada agak di belakang. Dia melakukan sejenis meet and greet dadakan hanya agar ruangan ini lebih bersinar dan bebas dari kesuraman gara-gara pendingin ruangan yang mati belum juga direparasi. Selain itu, jika ada siapa pun yang membutuhkan energi positif dari pesonanya maka mereka bisa meraupnya langsung dari udara.

 Deska memosisikan diri di deretan kursi belakang. Mata kuliah pagi ini adalah sejarah seni rupa, jenis mata kuliah yang sepertinya sengaja ditempatkan di pagi hari agar mahasiswa yang semalam begadang bisa melanjutkan tidurnya yang tertunda. Sejujurnya Deska sendiri tidak paham alasan mata kuliah membosankan itu ada di jam pertama dan kedua, meski dia sendiri juga tidak yakin kalau digeser menjadi agak siang dirinya dan anak-anak lain akan tetap fokus mendengarkan tanpa sekalipun menguap.

Setelah menaruh tas, Deska meraih earphone dan ponsel. Sudah cukup tebar pesonanya, sekarang adalah waktunya dia menenangkan pikiran. Dia menaruh benda itu di dalam salah satu lubang telinga sambil memutar musik dari playlist. Dia juga mengambil buku sketsa dari dalam tasnya. Dia lebih memilih memfokuskan telinganya pada suara musik yang teratur selama menunggu dosen datang karena kelas ini sungguh berisik. Suara berisik itu tidak hanya mengganggu telinga, tetapi juga kesehatan matanya. Suara teman-temannya menimbulkan pecahan-pecahan warna tidak beraturan yang membuatnya pusing.

"Rajin sekali!" Suara itu terdengar bersamaan dengan bunyi kursi yang digeser.

Deska yang baru saja menggoreskan satu garis di atas permukaan sketchbook miliknya langsung menoleh. Dia menemukan wajah tidak asing di sana. Seseorang yang memiliki kadar mengesalkan kurang lebih sama dengan Seta.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Lovesthesia-BAB 3

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya